Kriuknya Dendeng Baracik Emy
Kompas, Minggu, 19 April 2009 | 03:10 WIB
Agnes Rita SulistYAwati
Daging sapi itu dipotong kecil-kecil. Begitu garing dan kering daging diolah
sehingga sangat renyah ketika digigit.
Makanlah daging dengan irisan tomat, bawang merah, dan cabai hijau, maka
terciptalah rasa kecut, pedas, dan gurih dalam sekali santap. Nikmat!
Itulah sajian dendeng baracik di kedai Ny Emy. Nama kedai itu, Dendeng Baracik
Emy, terletak di kaki Gunung Talang, tepatnya di Kecamatan Gunung Talang,
Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Bila berkendara dari Kota Padang menuju ke
Sawahlunto, lihatlah ke kanan jalan dekat SMP Negeri 1 Gunung Talang. Kedai
berwarna merah jambu itu terletak sekitar 25 meter saja dari sekolah tersebut.
Di kedai yang cukup lapang itulah, pelbagai jenis makanan dihidangkan. Sebagian
besar lauk adalah makanan khas Sumatera Barat, seperti gulai ikan, rendang, dan
kentang balado. Tetapi, sepiring dendeng baracik-lah yang menjadikan rumah
makan ini berbeda dari kedai nasi lain di Sumatera Barat.
Dendeng baracik mempunyai rasa gurih dan renyah bila digigit. Rasanya
mirip-mirip keripik paru walaupun tidak sekering keripik itu. Memakan dendeng
baracik disarankan tidak hanya daging keripiknya saja, tetapi juga bersama
racikan yang ditawarkan Ny Emy, pembuat dendeng ini.
Menu ini dihidangkan dalam piring kecil. Di piring itu beberapa iris daging
diracik bersama irisan tomat, bawang merah, dan cabai hijau. Tomat, bawang
merah, dan cabai hijau semuanya disajikan mentah sebagai ramuan menyantap
dendeng. Karena masih mentah, tomat mengeluarkan air yang menyumbangkan rasa
kecut yang segar pada racikan dendeng. Air itu kemudian bercampur dengan
dendeng, cabai hijau, dan bawang sehingga aroma dendeng ikut terbentuk. Begitu
daging, tomat, bawang, dan cabai sudah dirasakan lidah, terciptalah sensasi
menikmati dendeng dengan cara berbeda.
Nasi hangat yang disajikan menambah selera untuk menyantap dendeng ini. Bila
Anda menyukai rasa pedas, sambal yang dibuat dari cabai merah dan bawang juga
disiapkan untuk melengkapi selera.
Selain dengan sambal, dendeng juga bisa dipadu dengan gulai ikan, kuah rendang,
atau rebusan daun singkong. Bila Anda pencinta petai, kedai ini juga
menyediakan petai bakar yang dimasak bersama dengan kentang goreng balado.
Bila perut lapar, apalagi ditambah dengan cuaca Gunung Talang yang sejuk,
menyantap dendeng ini merupakan pilihan tepat.
”Rasanya gurih. Dagingnya renyah. Kalau dicampur dengan tomat, cabai, dan
bawang, timbul rasa gurih, asam, dan pedas sekaligus. Benar-benar nikmat,”
tutur Iwang, salah satu penikmat dendeng baracik.
Seporsi dendeng dijual Rp 10.000. Sebelum mampir kedai, jangan lupa tengok jam
Anda. Bila waktu sudah melewati pukul 15.00, bisa-bisa dendeng sudah ludes.
Maklumlah, dendeng ini banyak diburu penikmat kuliner. Sejak mulai siap
disajikan sekitar pukul 11.00, menu ini banyak dicari pengunjung kedai. Bila
sudah kehabisan, dendeng bisa dicari pada hari berikutnya karena kedai ini buka
saban hari.
Para pemburu dendeng tidak hanya datang dari Solok dan sekitarnya. Penikmat
kuliner dari Padang, Sawahlunto, Pekanbaru, hingga Jakarta banyak yang menjadi
pelanggan tetap dendeng baracik.
Di salah satu tembok kedai, terpampang foto artis Ira Wibowo dan Katon
Bagaskara ketika singgah ke kedai ini. Kedua artis ini memang sempat mampir
merasakan dendeng baracik.
”Mereka mampir Februari silam setelah mengikuti peresmian lokomotif uap di
Sawahlunto,” ujar salah satu pegawai kedai.
Resep mertua
Dendeng baracik sesungguhnya bukan menu asli milik Emy Salmah. Resep ini
diambil Emy dari almarhum mertuanya, Darwis. Tahun 1980, Darwis meracik dendeng
seperti yang disajikannya saat ini dan dijual di kedai yang ada di Kayu Aro,
Solok.
”Dulu, dendeng ini tidak disebut dendeng baracik. Hanya dendeng begitu saja.
Dendeng itu juga tidak dijual sebagai makanan spesifik di kedai milik mertua
saya,” papar Emy.
Emy mencicipi pertama kali dendeng ini saat dia hamil. Rasa kecut yang
dihasilkan dari air tomat bercampur dengan daging dendeng yang kering
menimbulkan rasa yang pas saat dia tengah hamil.
Ketika itu, belum tebersit niat Emy membuka kedai dengan menu dendeng baracik
karena saat itu Emy tengah sibuk mengurus bisnis kue bolu.
Setelah orangtua Emy meninggal, kedai warung nasi warisan orangtua ikut
terbengkalai. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara yang masih tinggal di
kampung, Emy berpikir untuk menghidupkan kembali kedai itu. Empat tahun silam,
kedai nasi mulai dipegang Emy.
Mulailah ia memikirkan menu khas yang bisa menarik pembeli singgah ke kedai..
Di situlah terlintas ide untuk menghidangkan menu dendeng seperti yang
disajikan mertuanya puluhan tahun silam. Dia menggunakan nama dendeng baracik
seperti yang tampak dari papan nama tempat makan itu. Terbukti, nama itu
berhasil menarik perhatian pembeli yang ingin kembali lagi ke situ setelah
mencicipi.
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo!
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---