Uni Evy sarato sanak dipalanta sekalian,

Saya kira point-point yang Uni Evy sebutkan di bawah benar adanya. Selama ini 
inti dari berlusin2 studi etnografis yang sudah dilakukan terhadap masyarakat 
Minangkabau adalah untuk mengetahui bagaimana sih efek penggabungan sistem 
matriarchate dan Islam yang dipraktekkan oleh komunitas Minangkabau dalam 
kehidupan mereka? Tentu saja masing2 menekankaan peneliannya pada berbagai 
aspek--politik, sosial, ekonomi, bahkan juga pskikologi seperti Dt. Tan 
Pariaman itu. 
Saya coba menanggapi beberapa komentar Uni Evy menurut nomor urut di bawah.

1. Ambivalensi.... Memang demikian adanya. Saya memaknai KONSEP ABS-SBK itu 
seumpama GARIS DEMARKASI dalam gencatan sejata sebuah perang. 'GARIS DEMARKASI' 
antara adat dan Islam itu pada hakikatnya tetap sebuah 'titik api' yang terus 
punya potensi untuk bergejolak. selalu ada usaha untuk melanggarnya, tapi pada 
saat yg sama selalu pula ada usaha untuk mempertahankan 'garis demarkasi' itu.

2. Ketahanan sistem matrilineal Minang. Ya...justru uniknya di Minangkabau 
bahwa 'energinya' datang dari dalam, dari perdebatan di antara sesama orang 
Minang sendiri. Silang pendapat di antara orang Minang sendirilah yang membuat 
sistem itu selalu ingin ditinjau kembali di satu pihak tapi di lain pihak ingin 
dipertahankan. Oleh karena itu tak mengherankan misalnya, Datoe'Sanggoeno Di 
Radjo pada 1923 menulis buku KITAB PERTJATOERAN 'ADAT LEMBAGA ALAM MINANGKABAU: 
AKAN PELAWAN NOOT E.H. RASOEL GL. H. ABDOEL KARIM AMROELLAH, DANAU.  JANG 
DIKELOEARKANNJA DALAM KITAB PERTIMBANGAN 'ADAT LEMBAGA ORANG ALAM MINANGKABAU 
DJIID 1 (Fort de Kock: Snelpersdrukkerij Agam). 

3. Pentingnya Ibu sebagai insan yang didahulukan memang cocok antara 
matrilineal dg Islam. Tapi dari aspek2 yg lain mempelihatkan dikotomi. Oleh 
sebab itulah mengapa seorang Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tak henti 
menghujat adat Minangkabau, mengharamkan dirinya balik ke ranah tempat 
ibundanya dilahirkan, dan memilih mati di Mekah di negeri orang.

4 &5. Analisis Dt. Tan Pariaman... Beliau ini memang seorang dokter dan 
psikolog. Tentu saja dia punya metode sendiri untuk penelitian ini. Yang 
menarik adalah salah satu kesimpulannya bahwa LELAKI MINANG CENDERUNG TIDAK 
FOKUS PADA SATU BIDANG TERTENTU DALAM MEMILIH PEKERJAAN, MAKSUDNYA, SUKA 
PINDAH2 PEKERJAAN, KADANG DIKAKOK IKO, SUDAH TU LAH DIKAKOK LO NAN LAIN (indak 
ado nan maadok), YANG MENURUTNYA ADALAH SALAH SATU REFLEKSI DARI KEGELISAHAN 
JIWA YANG KHAS MINANG ITU, YANG OLEH SEORANG PSIKOLOG DISEBUT 'MINANG KOMPLEKS'.
Saya kira dalam batas tertentu mungkin ada benarnya. Coba lihat refleksi 
keadaan psikologis lelaki Minang itu dalam lagu-lagu Minang yang sedih itu, 
misalnya, juga dalam banyak pantun seperti dibahas secara semiotik oleh R.J. 
Chadwijk, 'TOPIC IN MINANGKABAU VERNACULAR LITERATURE'(PhD dissertation 
University of Western Australia, 1986). Coba kita pikirkan apa sebenarnya 
hakekat pulang basamo yg sangat mentradisi di kalangan perantau Minang? Yang 
jelas perantau Minang bukan seperti perantau Irlandia. Kalau saya ndak salah 
ada studi perbandingan antara perantau Minang dan perantau Batak (oleh Usman 
Pelly?)  

Sekian sedikit komentar dari saya. Mungkin rang cadiak pandai, niniak mamak nan 
gadang basa bartuah di lapau ko bisa menambahkannya.

Wassalam,
Suryadi
====================  

Assalamualaikum Wr. Wb 

Sanak Suryadi serta dusanak sapalanta nan ambo hormati 

Setelah membaca resensi Sanak atas tulisan  Jeffrey Hadler, dalam judul buku 
”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and 
Colonialism”, jika sekiranya berkenan - saya ingin menanggapi hal-hal sebagai 
berikut :
 
1.             Pada kenyataannya Minangkabau secara politis – memang berada 
dalam keter- ombang – ambingan, semenjak suku bangsa ini diobok – obok melalui 
kolonialisme yang mencapai puncaknya pada saat Perang Paderi. Sekalipun ada 
piagam Bukik Marapalam yang memproklamirkan ABS – SBK, kenyataannya tetap 
menimbulkan ambivalensi antara masyarakat yang ingin mempertahankan adat secara 
murni dengan garis matrilineal dan ABS – SBK yang mendudukan garis patrinilial 
dalam system kekerabatan.


2.             Bagi saya, yang menimbulkan ketahanan pada system matrinilial 
sebagaimana yang dipertanyakan oleh Jeffrey Hadler, sekalipun banyak peneliti 
asing yang menelaahnya,  tidak lain karena system kekerabatan hidup jauh 
sebelum kedatangan islam – yang turun menjadi paham dalam hubungan 
kemasyarakatan, sehingga sejauh masih bisa ada hal-hal ditolerir oleh pandangan 
agama, maka system itu tetap dalam masyarakat. 



Jika dikaitkan dengan datangnya masa kolonialisme di Minangkabau pada saat 
Perang Paderi, menurut pandangan saya berdasarkan informasi dari sejarah yang 
kami peroleh di sekolah, maka Perang Paderi terjadi karena adanya  pertentangan 
tokoh adat dengan tokoh pembaharuan dibidang agama. Yang dikritisi adalah 
prilaku keseharian dari tokoh – tokoh adat ketika itu, yang menyangkut moral 
dan etika.Seperti berjudi - mabok-mabokan atau tindakan lainn yang bertentangan 
dengan agama.



NB : Ini ada yang menarik soal perjudian dikala itu - apakah ada persamaan 
dengan jenis permainan KIM yang dilakukan di Jakarta Fair zaman dulu atau 
permainan Kim yang dimasyarakatkan pada acara alumni yang sekolah/ Universitas 
berasal dari Sumbar.

 
3.             Seandainya berpuluh – puluh peneliti asing datang melakukan 
kajian atas ketahanan system kekerabatan ini, garis matrilineal itu akan tetap 
hidup di minangkabau. 
Mengapa ? karena bukan saja adat itu mendarah daging dalam kehidupan 
masyarakat, akan tetapi pula karena ajaran agama – pula yang mendukung  
ketahanan garis matrilineal itu – dimana Islam tetap mendahulukan Ibu sebagai 
insan yang tidak saja dikasihi namun juga dipatuhi.  
 
4.             Saya ingin mengkritisi pernyataan HHB Saanin Dt Tan Pariaman 
dalam Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) menyebut 
istilah ”keduaan” (split personality) untuk menggambarkan kepribadian 
Minangkabau yang menurut dia potensial menimbulkan penyakit jiwa tertentu, 
mulai dari rasa cemas sampai skizofrenia akibat berbagai paradoks yang dihadapi 
dan dipraktikkan orang Minangkabau, akibat adanya penggabungan system yaitu : 
sistem matriarkat sekaligus memeluk agama Islam yang patriarkal.


Walaupun Pernyataan beliau ini agak berlebihan – barangkali cukuplah disebutkan 
asal muasal  kegalauan dan kedendaman pria minangkabau atas situasi social yang 
dialaminya. Ketika tanggung jawab menurut agama, menempatkan pria menjadi 
kepala keluarga– namun ia belum mampu keluar dari posisi sebelumnya yaitu sudah 
terlanjur diposisikan sebagai orang luar..
 
5.             Dengan ada pernyataan HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam 
Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) (butir 4) itu 
sebagaimana yang Sanak referensikan, menimbul pertanyaan saya ;
          - apakah tradisi merantau itu karena kehendak orang tua/ninik mamak 
karena ada pepatah yang berbunyi : “ kerakau madang dahulu …… dst,yaitu pergi 
merantau karena di kampong berguna belum, 

          - atau karena suatu cara untuk menghilangkan ketidak sanggupan 
menghadapi dilemma nya, sehingga menimbulkan kekawatiran berlebihan sebagaimana 
yang dilansir oleh Dt Tan Pariaman ini.  
 
Demikianlah tanggapan saya.


Terlebih terkurangnya mohon dimaafkan. 



Wassalam,



  Evy Nizhamul bt Djamaludin
(Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang)

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 





--- On Sun, 4/19/09, Lies Suryadi <[email protected]> wrote:


From: Lies Suryadi <[email protected]>
Subject: Bls: [...@ntau-net] Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia
To: [email protected]
Date: Sunday, April 19, 2009, 3:38 AM







Tarimo kasih ateh bantuan Sanak Dewis malewakan resensi ambo tentang buku 
Jeffrey Hadler di 'kapau' kito ko. Mudah2an ado manfaaiknyo dek rang lapau nan 
ndak sempat mambaco Kompas. Patang ambo dapek kiriman naskah dari Pusat Studi 
Perang Paderi (dari Pak Syafnir Aboe Nain Dt Kando Maradjo), yaitu naskah 
terjemahan buku J.C. Boelhouwer, seorang pejabat militer Belanda: Kenang2an 
hidupnya di Sumatra Barat 1831-1834, untuak diagiah pengantar. Ambo 
raso kalau Pusat Studi Perang Paderi menerjemahkan pulo buku Hadler ko, mungkin 
banyak manfaaiknyo kapado kito masyarakaik Minang.
 
Wassalam,
Suryadi  

--- Pada Ming, 19/4/09, Dewis Natra <[email protected]> menulis:


Dari: Dewis Natra <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia
Kepada: "RantauNet" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 11:42 AM



Resensi buku dari Kanda Suryadi,
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/19/0416563/resistensi.nasab.ibu.terbesar.di.dunia
Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia
Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB 

SURYADI

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through 
Jihad and Colonialism” • Penulis: Jeffrey Hadler • Penerbit: Cornell University 
Press, Ithaca, London, 2008 • Tebal: xii + 211 halaman. Buku ”Muslims and 
Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” 
adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai 
masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat..

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat 
diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil 
mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History 
of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah 
direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan 
kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak.











      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke