Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sungguh, saya senang sekali dengan tulisan wartawati Kompas Agnes Rita 
Sulistyawaty, yang -- selain mempunyai gaya bahasa yang enak -- mempunyai mata 
jeli untuk mengangkat hal-hal khas Sumatera Barat. Kali ini ia mengangkat 
ketekunan Nenek Sanuar dari Pandai Sikek dalam melestarikan songket Pandai 
Sikek yang terkenal itu. Saya juga baru tahu tentang sejarah songket Pandai 
Sikek itu dari tulisan Agnes ini.
Timbul pertanyaan dalam fikiran saya: apakah Pemerintah Sumatera Barat sudah 
pernah memberikan penghargaan kepada Nenek Sanuar ini ?
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
When wealth is lost nothing is lost, when health is lost something is lost, 
when character is lost everything is lost.
Alternate e-mail addresses: 
[email protected];
Bangkitkan Motif Songket yang Terpendam
 Kompas, Selasa, 28 April 2009 | 03:41 WIB 
Agnes Rita Sulistyawaty
Empat puluh tahun silam, Sanuar sibuk memutar otak. Di hadapannya terhampar 
berlembar-lembar kain songket kuno. Guratan benang kain songket itu sangat 
samar lantaran termakan usia. Pantang menyerah, dia lalu menghubungkan benang 
demi benang kain-kain songket itu dan menjadikannya utuh sesuai motif songket 
aslinya. 
Itulah yang dikerjakan Sanuar dari hari ke hari pada tahun 1970-an. Sebersit 
keyakinan tumbuh dalam diri perempuan yang kini berumur 83 tahun itu. Dia 
merasa harus melestarikan motif tua songket yang diperkirakan berumur ratusan 
tahun itu.
”Tak ada buku tentang motif tua songket yang bisa Nenek (demikian Sanuar 
membahasakan dirinya) jadikan panduan untuk membuat ulang motif tua. 
Satu-satunya jalan adalah menghubungkan motif yang satu dan lainnya dari kain 
yang sama,” katanya.
Rekonstruksi motif dia lakukan terus-menerus. Ia tak ingat jumlah motif yang 
telah dibuat ulang, yang jelas ratusan motif kain songket tua—sebagian kain 
kondisinya sudah terkoyak—telah ”diselamatkan” dari kepunahan.
Saat sebagian pemilik tak lagi memerlukan songket tua, Sanuar justru dengan 
senang hati mengoleksi kain itu. Kerap kali ia membeli songket tua dari 
tetangga atau pemilik yang tak menginginkan lagi kain tenunan tangan itu.
”Bagi Nenek, kain itu sangat berharga karena menjadi contoh motif tua. Begitu 
berharganya, Nenek tidak mau melepas kain tua itu walaupun ada yang menawar 
puluhan juta rupiah,” ujarnya.
Sanuar bercerita, kain tua yang pernah dipakai Rozamon, putri bungsunya, pun 
pernah ditawar orang. ”Kain songket tua itu, selain motifnya bagus, paduan 
warnanya juga indah,” ujarnya.
Tawaran harga juga ditujukan kepada kain tua lainnya, tetapi Sanuar bersikeras 
tak mau melepas kain hasil rekonstruksinya itu meski akhirnya salah satu kain 
tuanya dilepas setelah HM Jusuf Kalla datang ke Pandai Sikek dan langsung 
menyatakan niat membeli kain tersebut.
Selain Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri semasa gadis juga kerap mengoleksi 
songket motif tua. Sanuar mengingat, suatu hari Megawati berlari-lari menaiki 
tangga tokonya. Rupanya, salah satu kain buatan Sanuar telah memikat putri 
Soekarno itu. Berselang sehari, Megawati kembali membeli kain tersebut.
Belajar dari alam
Sanuar lahir di lembah di antara dua gunung: Merapi dan Singgalang. Dia tak 
ingat tanggal lahirnya, tetapi ia masih mengenang kesamaan suasana tanah 
kelahirannya dulu seperti saat ini. Daerah berhawa sejuk itu berada di antara 
ruas jalan dari Kota Padang Panjang-Bukittinggi, tepatnya di Nagari Pandai 
Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Alam yang indah itu diyakini Sanuar menginspirasi nenek moyang ketika 
melahirkan motif-motif songket. Sejumlah motif songket lahir dari alam. Sebut 
saja pucuak rabuang alias pucuk bambu dan itiak pulang patang. Motif tua juga 
mempunyai makna. Pucuak rabuang, misalnya, menandakan orang yang berguna sejak 
muda hingga tuanya.
Beberapa motif dia beri nama lantaran tidak ada buku referensi atau orang tua 
yang bisa mengenali nama motif tersebut. Salah satunya adalah motif 
salapah-salapah atau ruas.
Penjajahan Belanda dan Jepang sejak tahun 1940-an membuat Sanuar kehilangan 
kesempatan belajar menenun. Biasanya, keterampilan menenun merupakan warisan 
turun-temurun bagi putri-putri Pandai Sikek. Para putri dibekali kemampuan 
menenun agar setelah mempunyai anak, sang ibu bisa membuatkan pakaian bagi anak 
mereka.
Apa daya, penjajahan mengubah kebiasaan warga Pandai Sikek. Warga sempat lari 
mengungsi, menghindari kekejaman penjajah yang acapkali membakar rumah 
penduduk. Saat Perang Dunia II pecah, Sanuar sempat mengungsi ke hutan di 
Gunung Singgalang hampir selama dua bulan.
Para ibu berupaya menyimpan songket yang mereka miliki agar tidak musnah 
terlalap api. Songket disimpan di sela batang-batang bambu yang tahan api 
sehingga harta berharga keluarga itu bisa diselamatkan bila api membakar rumah.
Sanuar memperkirakan, kekejaman penjajah juga menghanguskan kain songket yang 
tak sedikit. Karena itu, kain yang selamat menjadi harta yang sangat berharga, 
terutama karena motifnya tua dan langka.
Keterputusan generasi akibat masa perjuangan kemerdekaan itu membuat Sanuar 
mendapatkan keahlian menenun bukan dari ibu, tetapi dari kawan-kawan yang masih 
sempat belajar menenun. Setelah menikah dengan Ahmad Ramli Datuk Rangkayo Sati, 
dia mulai merekonstruksi motif tua. Ahmad Ramli sendiri terkenal sebagai 
pelukis dan seniman ukir, salah satu seni yang juga menjadi ciri khas Pandai 
Sikek.
”Selain membangkitkan ukiran, almarhum suami Nenek itu jugalah yang mendukung 
Nenek belajar menenun dan melestarikan motif tua. Kami membangkitkan kembali 
apa yang terpendam,” kenang Sanuar.
Ahmad Ramli juga mempercantik rumah gadang milik keluarga Sanuar. Dinding rumah 
dari kayu itu dipenuhinya dengan ukiran. Di rumah gadang itu pula, Sanuar 
membuka rumah tenun songket dengan nama ”Pusako”.
Songket yang sebelum kemerdekaan digunakan untuk kebutuhan keluarga mulai 
menjadi penghidupan bagi masyarakat setempat. Ketika awal membuka usaha itu, 
Sanuar dibantu sekitar 100 penenun. Dia mendidik penenun agar bisa menenun 
motif tua yang rumit. Tak jarang, satu kain berukuran 100 cm x 185 cm baru 
selesai setelah tiga bulan. Lamanya proses menenun ini pula yang membuat harga 
songket melambung hingga belasan juta rupiah.
Jumlah penenun itu kini merosot hingga setengahnya lantaran banyak kaum muda 
Pandai Sikek memilih pergi merantau. Ada pula kaum muda yang membawa alat tenun 
mereka ke kota agar bisa tetap menenun di waktu senggang.
”Lumayan, hasil menenun itu bisa untuk uang saku anak-anak atau untuk membayar 
sekolah,” tuturnya.
Sanuar juga menandai pergeseran kualitas bahan tenun. Benang emas yang 
digunakan pada kain tua adalah benang asal Makau. Benang ini mengandung banyak 
emas, kendati berumur ratusan tahun, kilau emas tetap terlihat. Pada zaman 
penjajahan, impor benang terputus. Ini juga yang menjadi faktor penyebab 
terhentinya kegiatan menenun. Setelah penjajahan berakhir, benang emas yang 
masuk ke Indonesia berasal dari India.
Walaupun zaman bergeser, Sanuar tetap konsisten dengan motif tua. Tidak ada 
motif baru yang dikerjakannya. Pada saat penglihatannya menurun, Sanuar tetap 
mendesain seluruh motif, menentukan warna yang akan dipakai, serta ukuran kain. 
Bahan-bahan menenun juga dia sendiri yang memberikannya kepada para penenun.
Songket yang semula hanya berwarna merah, hitam, merah marun, dan kuning, 
belakangan bisa dibuat dengan warna yang lebih beraneka. Terobosan inilah yang 
membuat songket Pandai Sikek dikenal di seantero Indonesia, bahkan sampai ke 
luar negeri.
  
[email protected]
[email protected]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke