Ma  Rang Lapau nan Basamo,

Ambo raso indak ado rumiknyo doh kok tuka-pandapek dan komunikasi antaro
Angku Bandarost jo Angku Avenzora dikatangahkan di Lapau dari pado
dierakkan ka jalua paribadi.  Rasonyo banyak nan ka dapek kito patiak
nantinyo, kalau pokok-pokok topik ko dikatangahkan dan ditarimo dengan
hati tanang, apolai karano ado disinyalirnyo hambatan komunikasi antar
generasi ["generation gap"].

Karano  topiknyo pakai kato asiang agak gadang, "Quo Vadis" dan di
dalamnyo banyak kato-kato asiang nan mungkin alah acok tadanga di tampek
umum, saroman "hiperbolis" dan "Quo Vadis" tu sandiri misanyo, tapi
mungkin banyak antaro kito nan kurang paham bana apo aratinyo,
barangkali ado rancaknyo kok ditarangkan saketek apo arati nan sabananyo
kato-kato tu, demi untuak kalancaran dan pangaratian Kito nan Basamo nan
banyak manyimak antok-antok di Lapau ko.

Selamat Batuka Pandapek.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], avenzor...@... wrote:
>
> Dear Pak Riri Yang Mulia,
>
> 1. Mohon maaf, saya tidak melihat adanya hal yg perlu disembunyikan
atau ditakutkan dlm komunikasi saya dgn Bpk Epy, shg harus dilanjutkan
via Japri.
>
> 2. Spt yg saya tulis, bhw komunikasi panjang yg saya buka dgn beliau
adalah dlm rangka kami bisa saling mengenal lebih baik, sehingga bisa
dengan TULUS saling menyayangi ibarat spt "bapak dan anak" atau "mamak
dan kemanakan".
>
> Hal ini saya fikir perlu sebagai contoh utk menarik pelajaran bagi
generasi muda (terserah contoh baik kah atau contoh buruk kah) dlm
berkomunikasi antar generasi.
>
> 3. Saya yakin bhw Bpk Epy adalah berjiwa sangat besar untuk ikut
menuntun generasi muda dgn cara beliau sendiri, dan saya sangat
menghargai (dan akan tetap menghargai) apapun cara yang akan beliau
pakai.
>
> 4. Apalah artinya kita saling berkias, saling berpepatah -petitih jika
dibelakang mata kita ternyata hanya  saling menyalahkan. Bukankah lebih
baik kita saling bicara untuk mencapai keputihan hati bersama. Bukankah
selama ini kita sama2 tahu ttg adanya "hambatan komunikasi" antara
generasi, dan juga antara yg dirantau ataupun di kampung?
>
> 5. Bukankah topik quo-vadis yg beliau cuatkan tsb penting bagi kita
semua?
>
> 6. Apapun itu keputusan "moderator" milis, maka akan saya hargai. Dua 
hal yg saya harapkan adalah :
>
> a) beliau tetap diberi kesempatan utk menjawab pertanyaan yg saya
ajukan secara terbuka,....yaitu agar ada keadilan bagi beliau.
>
> b). keputusan moderasi atas topik ini diinfokan secara terbuka.
>
> Salam,
> r.a
> (L, 45-)
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Riri Chaidir" riri.chai...@...
>
> Date: Tue, 28 Apr 2009 10:54:17
> To: [email protected]
> Subject: RE: QUO VADIS GENERASI BARU MINANG??? Re: Bls: [...@ntau-net]
Re: TOUR
>  DE SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi dansusseskan.
>
> Bagaimana kalau yang ini diteruskan di Japri saja?
>
> (Rang Dapua, maaf, ambo one-liner)
>
> Riri
> Bekasi, L 46
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On
> Behalf Of avenzor...@...
> Sent: Tuesday, April 28, 2009 9:54 AM
> To: [email protected]
> Subject: QUO VADIS GENERASI BARU MINANG??? Re: Bls: [...@ntau-net] Re:
TOUR DE
> SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi dansusseskan.
>
> Dear Bpk Epy Buchari Yang Mulia,
>
> 1). Mhn maaf baru reply, terlalu bnyak email kemaren dan krn sdg di
lapangan
>
> 2). Pd dasarnya saya bisa sepakat dgn esensi posting Bpk, tapi mengapa
ya
> kok saya sptnya mendapat kesan adanya hiperbolisme yg TERLALU
berlebihan
> pada tulisan Bpk utk saya?
>
> 3).  Jika boleh bharap, maka yg saya inginkan adalah saya bisa ibarat
> menjadi anak/kemanakan yg baik dan benar  bagi Bpk....dalam arti
setidaknya
> dua generasi yg berbeda bisa berkomunikasi secara manis dan harmonis.
>
> Kata pepatah, "tak kenal maka tak sayang", ...utk itu dalam rangka
agar bisa
> lebih saling mengenal, tolong ijinkan saya utk secara jujur
menyampaikan
> perspektif saya secara terbuka atas perspektif Bpk pd saya.
>
> 4). Jika Bpk ijinkan saya utk jujur, maka nampaknya  kok ada
kecenderungan
> logika linier yg hiperbolis pada dua posting Bpk kepada saya hari ini
(27
> April). Dan, krn  hal tsb tidak saya lihat pd tulisan Bpk pada posting
> lain....maka saya bfikir ada keganjilan pola komunikasi  Bpk pada
saya.
>
> Pertama, atas gurauan saya dgn JePe (+ DLL), Bapak "hakimi". kami
berdua
> secara "berlebihan" tanpa Bpk melihat siapa yg memulai keluar dari
konteks
> (hayo ngaku....kok belum ada yg ngaku...),....... siapa yg ikut arus
keluar
> konteks (saya mengaku ikut arus keluar konteks,.....siapa lagi hayo
> ngaku)..... dan siapa yg mengubah/mperbaiki topik (pd round ke tiga
maka
> JePe mengubah topik sesuai dgn judul diatas ....alias bukan utk Pak
Naim
> lagi, shg saya tidak melihat alasan kuat utk Bpk bisa menghakimi saya
dan
> JePe) .....dan ketika kami bergurau (pd saat  topik sudah berubah)
tiba2 Bpk
> menjadi "hakim" yg hiperbolis dlm "menegur".
>
> Kedua, demikian juga dgn postingan ini, tiba2 Bpk bertindak spt "hakim
yang
> bijak", .... tapi bagi saya sang hakim spt emosional (tapi sok
bijaksana)
> sehingga telah kehilangan logika dan kata-kata utk membacakan vonis.
>
> Pernyataan Bpk pada frase "....berpotensi menenggelamkan minang
> kembali"..... saya fikir terlalu CEPAT dan BELUM TENTU BISA Bpk TERIMA
kalau
> pd dinamika yg sama  kalimat yg sama saya hadapkan pd Bpk.
>
> Bpk comot paragraf penutup tulisan saya tanpa Bpk melihat alur logika
yg
> saya mulai alirkan sejak pd paragraf awal. Dan Bpk coba kuliti saya
hingga
> leluhur (dan pendahulu) segala. WAH LUAR BIASA....saya masih belum
menemukan
> alasan kenapa seperti terlalu enteng lidah Bpk menghakimi
saya...hingga
> mempertanyakan pendahulu saya segala.
>
> 5). Pada dasarnya yg Bpk sampaikan ttg pola dan kehebatan orang Minang
> adalah bukan hal baru bagi saya,....tapi dari cara Bpk menyampaikan
dan dari
> pola Bpk menggununakannya sptnya saya mendapat indikator bhw Bpk
cenderung
> menggunakan filosofi tsb dgn pola "menghakimi" orang.
>
> Teori filosofi (termasuk filosofi Minang) adlh dpt diibaratkan spt
bangunan
> rumah,....mulai dari pondasi hingga final-finishing. Ibarat membangun
rumah,
> maka setelah itu  perlu kita sadari utk apa rumah itu
dibangun,.....maka
> demikian juga dgn filosofi minang,.... utk apa filosofi itu
> ditegakan......bagi saya pribadi adalah untuk MENJAGA DAN
MEMPERTAHANKAN
> segenap harkat dan martabat Orang Minang (termasuk pendahulu saya yg
bapak
> sebut).
>
> Janganlah kita gunakan filosofi minang utk sekedar ber-JAIM (jaga
image) ria
> belaka.....atau berpola "saya tahu, saya bisa,....anda bicara saya
jawab,
> ....anda menyerang saya tangkis etc....etc". Tapi marilah kita gunakan
utk
> betul2 menjaga harkat dan martabat Minang.
>
> Untuk itu, ....maka keberanian berjuang dan berkorban (dlm segala
bentuk)
> dlm menegakan kebenaran  (juga spt yg Bpk sebut militan) adalah salah
satu
> indikator telah mendarah dagingnya suatu filosofi dlm diri seseorang
(dlm
> hal ini adalah anak/kemanakan minang).
>
> Seperti itullah saya diajarkan oleh pendahulu saya. Saya tidak pernah
di
> suruh menghapal, tapi saya dituntun utk berani dan teguh dalam
> mempertahankan adat dan agama. Utk bisa menjadi berani, maka semua
syarat
> keberanian haruslah saya penuhi.....dan utk bisa menjadi teguh, maka
semua
> niat keteguhan haruslah saya wujudkan.
>
> Sampai di situ, mohon ijinkan saya bertanya apakah sama kaji kita,
Pak?
>
> Adalah omong kosong utk mengatakan bhw hidup berfilosofi tapi takut
> berkorban utk menjaga dan mempertahankan filosofi tersebut.
>
> Jgnlah gunakan filosofi (dan juga agama) hanya utk sebagai perhiasan,
> tameng,  ataupun gagah2an belaka,....dan jangan gunakan filosofi (atau
> agama) utk melindungi diri ketika salah,..... melainkan gunakanlah
filosofi
> (dan agama) agar tidak berbuat salah.
>
> Berkaitan dengan salah, jangan lah pula kita "sok bijaksana"  ketika
suatu
> perjuangan dan pengorbanan diperlukan utk menegakan kebenaran dan ke
adilan.
> Di satu sisi, harus berani mengatakan salah, karena di sisi lain
adalah hak
> si salah utk mendapatkan peringatan atas kesalahannya.
>
> Demikian pula dlm menyampaikan kebenaran,   ......nyatakanlah pula
kebenaran
> pd si benar, karena si benar juga mempunyai hak mendengar bhw
kebenaran yg
> telah dia coba tegakan adalah sudah dia laksanakan.
>
> 6). Dalam konteks silang pendapat dlm menilai pihak2 yg terlibat dlm
Tour,
> maka pada posting saya tsb saya cuatkan pemikiran perlunya kita adil
thdp
> semua, yaitu melalui cara mencari data yg baik ttg perbedaan pendapat
yg
> ada. Dgn demikian, kita tidak hanya menyalah-nyalahkan jajaran PEMDA
Sumbar
> membabi-buta, atau sebaliknya menyalah-nyalahkan MenBudPar....atau
diam saja
> saat diancam MenBudPar.
>
> Jika dari data yg ada mmg kita yg salah, maka mari kita mengaku jujur
dan
> terima konsekuensi. Jika ternyata sebaliknya, maka saya sepakat kita
TIDAK
> PERLU TAKUT atas ancaman mentri tsb...dan sebaliknya kita harus berani
utk
> menuntut sang menteri memperbaiki pernyataannya (inilah yg saya
> hiperboliskan ke dalam istilah boikot)
>
> Ungkapan Bpk yg ibaratnya hanya sampai pada kata "kita tergopoh-gopoh
dlm
> melaksanakan event tsb" bagi saya bukanlah solusi dan pembelajaran yg
baik.
> Kata GOPOH hanyalah simpton, belum menggambarkan akar permasalahan.
Banyak
> audien (peserta milis) yg brgkali membutuhkan pencerahan yg detail
mengapa
> terjadi GOPOH tersebut, ....shg wisdom yg terdapat dlm suatu tatanan
> filosofi perlu diejawantahkan ke dalam usaha nyata berupa mencari
berbagai
> dinamika empiris yg mudah dimengerti.
>
> Mari kita  bayangkan berapa kemungkinan kecelakaan pd event tsb? Plz
hitung
> jumlah pelintasan jalan, dan mulut gang yg ada di sepanjang rute, dan
coba
> banyangkan berapa tenaga yg harus disediakan oleh pemda sumbar utk
menjaga
> semua mulut gang tsb?
>
> Bisa di bayangkan jika tiba2 seekor anjing berlari keluar dr mulut
gang
> ketika pembalap sdg sprint?
>
> Jika hanya anjing yg keluar, maka pembalab dan anjing menjadi
berpotensi
> celaka, sdgkan jika yg keluar adalah anak kemanakan kita.....silahkan
> bayangkan sendiri apa yg terjadi.
>
> Terlalu banyak hal yg detail perlu jadi pembelajaran, ...dan itu
belumlah
> diulas secara cukup dlm majelis kita ini. Yang ada selama ini hanyalah
> ungkapan general yg cenderung menghakimi secara tidak adil dan sangat
> subjektif.
>
> 7). Sampai pada butir 6, saya fikir saya telah coba utk membuka
komunikasi
> panjang dgn Bpk, dengan tujuan agar kita bisa saling mengenal pola
bahasa
> dan komunikasi kita masing2,....shg akhirnya kita bisa saling
menyayangi
> seperti "bpk dan anak" atau "mamak dan kemanakan",....setulus hati
guna masa
> depan generasi Minang kita.
>
> Mudah2an Bpk tidak kaget, dan juga tidak tersinggung.
>
> 8). Jika Bapak tidak keberatan, maka tolong ijinkan saya untuk sedikit
> meneruskan tulisan ini dgn membuka diskusi baru tentang Quo Vadis
Generasi
> Baru Minang, sesuai dgn perspektif dan sinyalemen yg Bapak ungkapkan.
>
> Kriteria apa yg Bpk pakai utk "menghakimi" saya (dlm hal ini brgkali
bisa
> sebagai sampel generasi berumur 40-50 thn) seperti itu?
>
> Apakah krn saya masuk kriteria Bpk sbg "militan" kemudian generasi
saya
> dianggap sbg quo vadis? Bukan di ranah minang dari dulu sdh
diberlakukan
> penahapan "kebenaran tegak sandirinya"?
>
> Maaf ya Pak, lagi2 saya menemukan indikator emosional pd tulisan Bpk
atas
> sinyalemen quo-vadis ini.
>
> Bagaimana kalau kita bangun kriteria nya dan lalu sama2 kita uji,
generasi
> mana yg quo-vadis ? Generasi saya atau generasi Bpk, ....atau generasi
lain?
>
> 9). Mohon maaf karena gaya bhs yg terlalu langsung saya pakai sekali
ini.
> Hal ini bukan karena saya tidak menghormati Bpk atau juga ikut
menghakimi
> Bpk, ........tapi saya sengaja menunjukan gaya bahasa lain dlm
berkomunikasi
> (dlm hal ini adalah kemerdekaan berkomunikasi antar generasi).
>
> Salam,
> r.a.
>
> (L, 45-, sdg di Tanah Datar).
>
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> -----Original Message-----
>
> From: bandarost epybuch...@...
> Date: Sun, 26 Apr 2009 18:09:21
> To: [email protected]
> Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita
berpatisipasi
>
>  dansusseskan.
>
> Ck, ck, ck, ck, ck........luar biasa dan sangat "militan". Sabaaaar,
>
> sabaaar  dong bung...kalau kuping tipis tidak bisa menerima kritik,
>
> sekurangnya cerna dulu dong omongan orang...introspeksi...khan baru
>
> minggu lalu milis ini memuat kekhawatiran bagaimana "tergopoh-
>
> gopoh"nya kita dalam persiapan  event ini..."semangat" dan "harga
>
> diri" beginilah yang berpotensi akan menenggelamkan Minang kembali.
>
> Kelebihan dari para leluhur dan founding fathers asal Minang masa lalu
>
> adalah kehebatan diplomasinya...bukan ancam mengancam sampai-sampai
>
> "ganti-mengganti" seperti ini.....Gampang amat tersinggung sih...?
>
> Quo Vadis generasi baru Minang...mana kematangan jiwa, keluasan
>
> pandangan, kedalaman ilmu, kecerdasan, dan kearifan & kebijaksanaan
>
> yang sudah dicontohkan para pendahulumu...??
>
> Maaf dan Wassalam,
> Epy Buchari (L-66)
> Ciputat Timur
>
> On 27 Apr, 07:23, avenzor...@... wrote:
>
> > Hahaha....sapakat ambo jo Bpk, .....sekalian aja kita ganti Mentri
kali
> ya......hahaha...
>
> > Salam,
> > r.a
>
> > Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> > -----Original Message-----
>
> > From: zul amri amry1...@...
> >
> > Date: Mon, 27 Apr 2009 07:44:17
>
> > To: [email protected]
>
> > Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita
berpatisipasi
> dan
> >
> >  susseskan.
> >
> > Jangan takut dengan ancaman , toh tahun depan belum tentu menterinya
sama
> dengan yang sekarang ini . Atau ada wacana untuk memindahkan Tour ini
ke
> Bali ??
> >
> > zul amry piliang





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke