Dear Pak Muzirman Yang Mulia, 1. Terima kasih atas komunikasi Bpk.
2. Saya sangat sepakat dgn filosofi "berjenjang naik, bertangga turun". Dalam kehidupan sehari-hari, sayapun selalu berusaha duduk pd kesadaran akan pentingnya menjalankan filosofi tersebut. Dlm pelajaran yg pernah saya terima dulu, pepatah itu bahkan dijelaskan pada saya bukan hanya dlm konteks (katakanlah) "strategi perang", tetapi juga sbagai tuntunan utk mengunyah kata TAWAKAL. 3. Sebagai suatu strategi, maka tentu faktor TIMING adalah menjadi variabel penting, dan utk memenangkan peperangan tentu bukan hanya strategi itu satu2nya yg harus kita miliki dan/atau bisa kita jalankan. Banyak filosofi Minang lainnya yg juga mengandung strategi perang. Bahkan, seperti yg pernah saya tulis di RN beberapa waktu lalu, saya sangat KAGUM pd filosofi Minang yg dlm istilah saya pribadi saya sebut KOMPREHENSIF dan BERLAPIS. Di luar "pakem" yang dipakai org secara umum dalam mentafsirkan pepatah, maka saya menemukan setiap pepatah Minang selalu (let me say) "menyentuh delapan mata penjuru angin",....dan menjadi 9 makna ketika si pemakai pepatah tsb bisa "meletakannya" dalam dirinya sendiri. 4. Bkaitan dgn TIMING, maka diskusi ttg Tour yg masih (plz ijinkan saya utk mengatakan) "subjektif pro dan kontra", dan saya anggap adalah (maaf) sangat "kontra produktif". Utk itu saya berfikir perlu ada suatu strategi utk "membalikan" situasi dari "kontra produktif" menjadi "produktif kembali". Utk hal itu, maka pada tulisan tsb saya telah menggunakan teori "pengendalian api", yaitu melemparkan bom-api agar semua api segera mati. Dgn saya keluarkannya kata BOIKOT, maka saya berharap semua "api yg kontra produktif" menjadi padam, dan suatu semangat baru ttg PENTING nya Tour tsb bagi kita menjadi menjadi tumbuh ke permukaan dgn lebih subur. Dlm teori sosial, hal ini umum juga dikenal sebagai "single enemy",....dimana saya ambil posisi antagonis mejadi si buruk rupa melalui pernyataan itu. 5. Frase "dengan segala keterbatasan info", adalah gaya menulis yg umum dipakai orang utk "being low profile" dan untuk membuka ruang diskusi bagi lawan bicara. Bahkan dlm teori strategi komunikasi politik, jika ada lawan bicara yg menggunakan "frase" tsb maka itu bisa jadi indikator bagi kita bhw sesungguhnya dia sangat sarat dgn informasi dan data yang dia butuhkan utk membuat suatu statement ataupun kesimpulan. Frase all-out adalah harus kita baca dgn arti: kinerja "telah dilakukan sesuai dengan segala daya-upaya yg dimiliki oleh individu/kelompok/institusi" tsb. Kita tentu harus FAIR dalam mengukur kinerja tsb. Sederhanya, tentu kita sepakat bhw kinerja org yg belum terlatih adalah tidak boleh kita bandingkan dgn kinerja org yg sdh terlatih. Dgn kata lain kinerja Pemda adalah tidak sama dgn Kinerja Dept. Kebetulan dalam 3 bulan terakhir ini saya mendapat banyak kesempatan utk kembali bisa berada di kampung halaman kita, dan kebetulan pula saya mendapat kesempatan utk berinteraksi dgn kawan2 Pemda. Kebetulan pula salah satu mayor saya adalah sustainbale tourism planning (regional scale/antar negara), sehingga selama ini saya sedikit banyaknya mempunyai interaksi yg cukup dgn kawan2 di Kementrian BudPar. Hal lebih detail ttg kondisi di Budpar rasanya sudah saya tuliskan juga saat me-reply tulisan Pak Nanang. 6. Utk pertanyaan Bpk no. 2, saya fikir sdh saya jawab sekaligus di atas ya. 7. Filosofi "sa salah salah nan ketek, yang salah nan gadang, tapi yg harus meminta maaf adalah yg ketek pada yang gadang", adalah satu filosofi Minang yag diajarkan pada saya sejak usia sangat dini. Pada saya diajarkan bhw filosofi tsb adalah filsosofi kuatnya "ikatan bathin" dalam suatu keluarga inti. Bidang pariwisata adalah bersifat multi disiplin dan multi sektor, sehingga kita selalu membutuhkan semua pihak yang harus mampu bekerja sama dgn baik, benar dan terencana. Ibarat suatu keluarga maka tentu ada Bpk dan Ibu, alias harus ada hirarki pembagian tugas agar tidak "centang-parenang". Kementrian ibarat Bpk yg mencari uang, dan Pemda ibarat sebagai Ibu yg memasak, dan stake holder lain adalah ibarat anak-anak dan kemanakan dgn tugasnya masing2. Maaf, saya selipkan sedikit ttg kondisi kepariwisataan : a). Karena bersifat multi disiplin, maka semua org berhak ikut dan perlu utk diikutkan, ...dan semua orang pada dasarnya "bisa". Namun demikian tetap perlu seorang "arranger" agar musiknya terdengar indah. Sangat sayang, "arranger" inilah yang sangat langka di Indonesia. Penyebabnya adalah : karena sejarah pendidikan pariwisata di Indonesia hanya fokus pada akomodasi dan travel manajemen. Itupun umumnya hanya utk tingkat D3 dan S1, alias kedalam studi belum optimal. Kalaupun dlm 5 thn belakangan ini cukup banyak yg membuka program pasca sarjana nya, namun belum menunjukan hasil yg optimimum, karena pengajarnya sendiri yg masih terperangkap dlm bidang dasar awal mereka. Sehingga, kalau kita baca tesis2 yang ada jadi "ngambang". b). Kondisi itu diperburuk oleh "tidak pas" nya sistem administrasi negara. Sektor pariwisata adalah setidaknya tergolong "jangka mengah", artinya kita bicara rentang waktu setidaknya 7 thn ke atas (umumnya perlu 9 tahun fase inisiasi). Sdgkan administrasi kita bicara 5 thnan dgn pola "ganti pimpinan maka ganti kebijakan",....shg terjadi discontinued-planning yg diikuti discontinued budget. Lebih pusing lagi kalau sudah bicara budgeting,....pariwisata dijadikan salah satu tulang punggung ekonomi, tapi dlm konteks mengalokasikan budget selalu dihitung dari prosentasi PAD yag dikalkulasi hanya dari jumlah retribusi tempat wisata (alias direct money). Semua berawal dari ego sektoral dlm berebut budget, dan keterbatasan pemahaman SDM serta minimnya disiplin dan konsistensi. Barangkali segitu dulu ya Pak. Mohon koreksi kalau ada yg salah. Salam, r.a Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Muzirman -- <[email protected]> Date: Tue, 28 Apr 2009 20:18:56 To: <[email protected]>; rantaunet<[email protected]>; MuzIrman Irman<[email protected]> Subject: [...@ntau-net] QUO VADIS GENERAISI MINANG, tanya sanak Ricky. Sanak Ricky, saya copypaste sbg. kan reply sanak t . Dgn memborbardir nya postingan2 sanak, menjadikan saya ingin belajar dan pencerahan pada sanak, serta bertanya : Yang saya pertanyakan adalah berimplikasi terhadap taktik dan kepiawaian kita menghadapi pusat spt kasus terkait : dulu kita sdh "pemberontak", dan seorang teman senior dr Sumut berkomentar pada saya, " padang itu pemberontak yaa". ide2 yg bersifat "offensive" yg sanak lontarkan membuat saya berpikir kembali dgn keyakinan yg saya miliki?Saya tetap yakin, Ada penyelesaian yg "berjanjang naik, bertanggo turun" Pertnyaan nya adalah:: 1.Bgmn sanak mendefinisikan pemda dan masyarakat minang sdh all-out, apa indicator nya? Mohon penjelasannya.sanak sendiri mengatakan infonya terbatas, "dgn segala keterbatasan info". 2.Dgn all-out nya, jika memang menteri mengancam mari kita boikot, apapupun alasan nya "mempertahankan martabat Minang, apakah tidak terlalu tergesa-gesa . 3."Sa salah yg ketek, yg salah yg gadang, dpl Menbudpar", saya bingung bgmn sanak berdefinisi spt itu. Bgmn mekanisme nya? Terimakasih dulu atas responnya. Wass. Muzirman Tanjung. -------------------------------------------------------------------------- Dear Majelis RN Yang Mulia, Sebelum MenBudPar mempermalukan masyarakat Minangkabau dgn aksi ancamannya, maka brgkali ada baiknya kita semua meminta klarifikasi dari sang Mentri : 1...................... Dengan segala keterbatasan info yg saya dptkan dan percaya atas info ttg kesiapan kawan2 Pemda dan masyarakat kita, ....maka saya PERCAYA bhw PEMDA dan MASYARAKAT MINANG telah bekerja all-out melebihi kemampuan mereka. Jika memang Menteri BudPar mengancam, maka MARI KITA BOIKOT acara tour tsb. Sa salah, salah yg ketek, yang SALAH adalah yang GADANG,....dlm hal ini tentu MENBUDPAR itu sendiri. Salam, r.a --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
