Sanak Arman Bahar, Sanak Suryadi, Bung Andiko, Saya rasa memang sudah saatnya kita menulis sebuah 'buku babon' Sejarah Minangkabau yang benar-benar sejarah, tidak dicampur aduk dengan dongeng dan berbagai mitos. Sudah tentu kita tak perlu melarang para sanak kita yang sudah nyaman dengan dongeng dan mitos.
Mengapa? Oleh karena sejarah dan peradaban itu sangat dekat kaitannya. Dalam buku 'Sejarah Minangkabau' yang ditulis Drs M.D. Buchari dkk dalam tahun 1970 -- 39 tahun yang lalu ! -- dikutip sebuah pepatah (?) Jerman yang berbunyi Ein Volk ohne Geshichte is Ein Volk ohne Kultur, yang kira-kira berarti 'Suatu Bangsa yang tak punya sejarah adalah suatu Bangsa yang memiliki Peradaban'. Wah. Harus diakui, bahwa sampai sampai sekarang kita BELUM mempunyai sebuah buku Sejarah Minangkabau yang benar-benar dapat disebut sebagai sebuah buku sejarah, seperti bukunya Gibbons tentang sejarah Kekaisaran Roma. 'Sejarah' Minangkabau ditulis sepotong-sepotong, dan tak jarang pada tataran yang sangat lokal. Anehnya, tidak banyak yang membahas sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, yang menurut Kongres Kebudayaan Minangkabau di Padang pada tahun 2006 berjumlah sekitar 30-an (!). Saya merasa bahwa pada saat ini sudah lumayan banyak artikel, makalah, bahkan buku tentang sejarah Minangkabau, yang sedihnya belum diintegrasikan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu tidaklah dapat dihindari bahwa wacana di kalangan kita orang Minang tak pernah tuntas, tidak jarang berputar-putar, dan sering menimbulkan emosi yang tidak perlu.Oleh karena itu saya -- sekali lagi -- menganjurkan kepada para sanak yang kompeten dalam penyusunan buku-buku sejarah, untuk memulai penulisan buku babon Sejarah Minangkabau yang komprehensif ini. Saya percaya bahwa jika ditangani dengan sungguh-sungguh, buku babon Sejarah Minangkabau itu akan dapat diselesaikan dalam tempo lima tahun. Jadi pada tahun 2014 sudah akan ada buku yang kita perlukan itu.Dari mana biayanya ? Dari Depdiknas, Deparsenibud, dari Pemda, dari sumbangan kita-kita ini. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" When wealth is lost nothing is lost, when health is lost something is lost, when character is lost everything is lost. Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
