MEMUKAT KAMI BERKOALISI By : Jepe
Waktu saya anak-anak menjelang remaja, paling tidak ketika SD sampai tamat SMP saya sangat menikmati sekali denyut dan gairah kehidupan nelayan pantai Air Tawar kota Padang. Saat itu peraiaran dangkal sepanjang bibir pantai mulai dari muara Perumnas Air Tawar sampai Muara Penjalinan yang masih alami dan belum tercemar seperti saat ini dengan berbagai sampah, limbah rumah tangga dan pabrik serta kotoran lainnya pantai ini memberikan rejeki yang berlimpah bagi nelayan-nelayan sepanjang pesisir pantai tersebut. Mereka mengandalkan hasil tangkapan ikan di sepanjang perairan dangkal tersebut sebagai mata pencaharian dan penupang kehidupan "asap dapur" sehari-hari. Dihari Minggu dan hari libur sekolah boleh dikatakan saya telah berada di sepanjang pantai tersebut dan larut dengan segala hiruk pikuk kegiatan nelayan. Berbagai cara nelayan menangkap ikan diperairan dangkal tersebut (paling jauh sekitar 5 Km dari garis pantai) mulai dari memancing, memukat (minang : mamukek), jaring, membagan, memayang, menjala sampai mencari kepiting dengan cara yang paling sederhana semua itu pernah saya coba. Mau tahu anda bagaimana menangkap kepiting laut dengan cara paling sederhana begini kira-kira. Saat ombak teduh dan cuaca bagus dipinggir pantai selepas matahari mulai naik menjelang subuh sampai sekitar jam 10 pagi, saya mandi-mandi sambil bermain ombak dengan teman sebaya saya sambil menarok pancing kepiting, sederhana saja pancing kepiting ini kami buat yaitu dari seutas tali pelapah pisang dengan panjang sekitar 1,5 Meter lalu diikatkan pada sepotong kayu atau benda apa saja yang penting bisa mengapung saat ditarok di laut. Lalu pada dasar tali pisang tadi kami ikatkan seekor ikan buntal (Minang : Bonta sejenis ikan yang beracun jika dimakan ) yang sudah sedikit membusuk dan banyak terdapat disekitar bibir pantai hasil tangkapan pukat nelayan yang dibuang begitu saja. Ikan buntal tadi berfungsi sebagai umpan kepeting laut (rajungan), setelah kami tarok pancing tersebut dan terombang ambing dimainkan ombak "lembut", biasanya tidak perlu berlama-lama kepiting tersebut akan mendatangi ikan buntal yang mulai membusuk dengan aroma yang tajam. Kepiting (rajungan) tersebut akan bergelantungan "asyik maksyuk" menikmati bangkai ikan buntal. Saatnya saya menyelam sambil mengurut tali pisang tadi sampai kedasar, ketika kepiting tersebut mulai menyentuh tangan perlu teknik tersendiri untuk menggenggamnya agar tangan saya tidak dijapit oleh senjatanya., caranya diantara dua japit kepiting ini saya pegang lalu saya satukan kedua japit ini sehingga kepiting tidak leluasa lagi memainkan japitnya (dikunci). Setelah pas dalam genggaman tangan lalu saya naik lagi kepermukaan dan berenang kepinggir pantai sambil membawa kepiting rajungan ini. Hasil tangkapan kepiting kami ikat kedua japitnya dengan tali pisang lalu kami timbun dalam lobang dan ditutupi pasir pantai.Begitulah kira-kira kami menangkap kepiting rajungan dengan cara-cara sederhana, jika saatnya lagi musim kepiting hasil tangkapan saya cukup banyak dan biasanya saya bawa pulang dan ibu saya siap mengolah menjadi sup kepiting yang lezat. Seandainya beberapa ekor saja saya bersama teman-teman kepiting tersebut "diselesaikan ditempat" saja dengan membakarnya dengan ranting-ranting kayu, pelepah kering daun kelapa, sabut dan tempurung kelapa atau apa sajalah benda-benda kering yang bisa dibakar asal jangan sampan nelayan saja kami bakar untuk membuat kepiting bakar. (Ahh..jika menonton televisi acara Si Bolang saya selalu merindukan masa-masa seperti ini ketika anak-anak) Saat yang paling seru bagi saya dan teman sebaya lainnya tentunya menunggu pukat ditarik kepinggir pantai, biasanya disekitar bibir pantai tempat ombak kecil memecah sebelum jaring pukat (Minang : Kandua) sampai kedaratan telah ramai dikelilingi anak-anak. Saya bersama teman-teman siap-siap berebut ikan-ikan yang meloncat dari kandua, selalu ada saja ikan-ikan menjelang sampai di bibir pantai berpasir meloncat dari kandua begitu juga yang tersangkut dijaring yang cukup rapat menjelang kandua, biasa kami dibolehkan oleh nelayan untuk mengambilnya tapi dengan catatan kami ikut menarik pukat tersebut saat hendak mencapai bibir pantai (Minang : Pukek Cikang). Serunya, kami saling berebutan menangkap ikan yang berlonjatan ini, ada yang main injak, saling dorong, saling sikut tidak ada yang marah syah-syah saja perlakuan begitu mungkin ini adalah "dunia politik" anak-anak yang bisa mengekpresikan dunia keceriaannya sebebas-bebasnya tanpa harus takut masuk penjara atau ditangkap hansip desa misalnya, Jangan bayangkan dengan sikut menyikut, tohok menohok dan menggunting dalam lipatan seperti dunia politik kita yang kadang-kadang sangat liar bahkan "mematikan", tidak jelas lagi mana kawan mana lawan, sekarang berkawan besok jadi lawan, besok lawan sekarang bisa kawan atau bisa juga menjadi lawan yang abadi. "Dunia Politik" anak-anak bermain untuk mendapatkan "remeh temeh" ikan yang meloncat dari jaring pukat sangat mengasyikan penuh kecerian dan kegembiraan dan semuanya tertawa bahagia, toh diantara kami yang tidak kebagian dapat ikan dalam acara dorong mendorong dan sikut menyikut mungkin karena fisik yang lemah, kalah bersaing nantinya selesai acara yang paling seru ini dari segala rangkaian memukat ikan biasanya kami "bersidang" dan berkumpul bersama lagi membakar hasil rebutan tadi. Tidak ada "koalisi" siapa dapat apa, yang lemah harap minggir, dulu kita kawan sekarang kita lawan ..."hai bocah yang lemah kau tidak sanggup bersaing saat ikan-ikan berlonjatan., terlalu bodohnya kau...minggir sana" tidak ada terikan dan hujatan begitu yang terlontar disaat kami kembali bersama dan menghitung ikan yang telah kami kumpul. Semua larut dalam kegembiraan dan kebersamaan setelah "pesta pukat usai". Kami semua berpikir dengan satu tujuan yaitu bisa menikmati, merasakan betapa gurih dan lezatnya ikan segar yang kami bakar sehingga dapat mengisi perut kami yang lapar menjadi kenyang tidak ada istilahnya silemah akan kelaparan. Ah..jika selalu ingat masa anak-anak itu selalu indah dan menyenangkan penuh damai, tapi jika mengingat pesta demokrasi selesai..entahlah saya jadi ingat sebuah kartun Mice dan Benny di hariang kompas Minggu kemaren yang menggelitik, dilukiskan Benny dan Mice bertengkar dan berkelahi begitu hebat untuk membela partai masing-masing, ehhh akhirnya Si Mice dan Benny kecele ternyata ditelevisi ditayangkan berita elite partai mereka berkoalisi dengan mesra...ahh..bukannya mereka dulu saling hujat menghujat, sikut menyikut sebelum pesta ...pusing deh Benny-Benny dan Mice-Mice melihat perilaku elite partai saat ini yang berkoalisi ria...buat siapa..itu koalisi..apakah memang buat si Beny si Beny..si Mice..si Mice rakyat badarai..entahlah kita tunggu saja ya Benny and Mice. Pekanbaru, 1 Mei 2008 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
