Utk lbh berimbang nya cerita kita , mari kita dengar juga pihak wartawan
berbicara. masalahnya apa yg dpt kita lakukan utk kedepan. Kurang nya ke
terilibatan wartwanlokal, yg berarti kurangnya expose Sumbar di layar TV.
KIta harapan wartawam asing dr Team pembalan LN banyak meng expose Sumbar,
yaa bgmn kita tahu? Jkt bermain di "atas" saja,.. mencuekkan kita..yg
berarti tidak/kurang mempromosikan potential kepariwisataan kita. Itulah
sanak " kalau awak bansek" tu , inyo caliek sabalah mato se nyo.(APBD awak
60 +/- berasal dr Jkt.,). Ini harus menjadi cambuk kita utk lebih bekerja
keras, membangun nagari awak.
Jangan terlalu banyak berharapan dari tetesan Pusat.
InsyaAllah. Mungkin sanak2 ada yg wartawan, silahkan ber embuk utk
mengajukan petisi/protes ke pak Menteri Pariwisata. Kira2 bgmn tanggapannya.

Wass. Muzirman Tanjung.
-------------------------------
Minggu, 03 May 2009
Wartawan Kacangan,di Tour de Singkarak

Khairul Jasmi Betapa bangganya kita sebagai orang Minang dengan iven balap
sepeda internasional, Tour de Singkarak 2009. Apalagi melihat iklannya di
televisi. Sedikit saja terdengar bunyi talempong di layar kaca itu,
perhatian kita langsung tersita. Apalagi, ada iklan khusus. Negeri awak
diperhitungkan orang rupanya. Kemudian datanglah hari pesta itu. Ratusan
orang berdatangan dari Jakarta dan berbagai negara. Kalikan saja berapa hari
mereka di sini dan berapa uang mereka belanjakan. Alamat akan maju juga
wisata Ranah Minang. Tapi, sebagai pemimpin redaksi koran lokal, saya
menerima cerita tentang luka di hati. Cerita teman-teman dan adik-adik saya
di lapangan. Sebagai wartawan, mereka tak kalah profesional dengan wartawan
Jakarta. Liputan mereka lebih dalam, bahkan lebih luas dibanding koran
Jakarta. Tapi, teman-teman saya, anak-anak Padang dianggap wartawan kacangan
di rumahnya sendiri oleh Departemen Pariwisata nan congkak itu. Jakarta
memang congkak sejak dulu kala, sejak zaman Belanda. Saya bisa berdebat dan
mempertahankan argumentasi saya soal kecongkakan Jakarta itu, dari masa ke
masa. Sejarah bangsa ini membuktikan, betapa pusat kekuasaan dan
orang-orangnya selalu merasa hebat dan selalu minta dilayani. “Jakarta
centris, Java centris”, sama dengan Belanda memberlakukan Indonesia dengan
“Eropa centris.” Departemen Pariwisata dan Kebudayaan bersama jajarannya ke
bawah, tidak saja melecehkan wartawan tapi juga pemerintah daerah. Tanyalah
pada gubernur Sumbar, apa Pemprov diajak secara serius? Apakah
instansi-instansi lain diajak ikut serta? Wartawan RCTI Gusfen Khairul
pagi-pagi menelepon saya, ia kesal dengan panitia dan EO Tour de Singkarak.
“Peran media dan wartawan lokallah yang membuat masyakat menerima acara ini,
kenapa pers lokal diabaikan?” katanya. “Ya, sampai tadi malam memang begitu
(wartawan lokal diabaikan), perlu langkah bersama untuk hal ini,” tulis
Pemred Padang Ekspres, Firdaus dalam SMS-nya kepada saya. “Kalau untuk Padek
(Padang Ekspres) memang sangat dirasakan tak dianggap. Mereka lebih
menghargai wartawan yang datang dari Jakarta,” kata Redpel Padang Ekspres,
Revdi Irwan Syahputra. “Benar sekali, EO kurang beres, koordinasi tidak
jalan, jadi saling lempar tanggung jawab, Pemprov dan Dinas Pariwisata
kurang lancar pula komunikasi,” kata wartawan Trans TV, Jhonedy Kambang.
“Saya dan Fery sedang di Bukittinggi meliput atas inisiatif sendiri pakai
travel, makan sendiri,” kata Dede Amri, wartawan olahraga Singgalang yang
bertugas khusus untuk liputan Tour de Singkarak tersebut. “Awak setuju. Kita
adalah tuan rumah di negeri sendiri yang harus mereka hargai sebagaimana
kita menghargai para tamu. SDM dan karya pers pusat dan daerah seimbang,
bahkan kita lebih unggul,” tulis wartawan Antara, Hendra Agusta. “Betul,
awak tidak dianggap sedikitpun,” kata Korlip Haluan, Jhon Edward Rhony.”Ibo
ati awak, Bang,” (sedih hatiku, Bang), jawab korespoden Tribun Pekanbaru,
Young Ster Twin. Menurut dia, wartawan dioper-oper kiri-kanan. Malah ia
mendengar temannya bercerita, “untuk apa wartawan lokal, sebab wartawan
Jakarta kan sudah ada meliput.” Robi Leo, orang yang ditunjuk oleh EO pusat
untuk mengkoordinir wartawan di Padang, lelah, babak belur dan makan hati.
Ia diberi kuasa, tapi kakinya diikat. Bak ayam di lesung padi. Menurut dia,
Jakarta pada 5 April lalu telah meminta daerah (Dinas Pariwisata) untuk
mengkoordinir wartawan lokal. Robi kemudian sudah mengajukan daftar wartawan
dan apa saja yang perlu dipenuhi. Tapi, dipending-pending terus. Malah
sampai H-2 juga belum ada kepastian. Kadinas James Hellyward juga sudah
penat dan lelah mengurus banyak hal. Seharusnya urusan wartawan tak bagian
dia lagi, tapi anak buahnya. Kabarnya, anak buahnya, yang diserahi mengurus
wartawan tak bekerja maksimal. Lantas H-1, urusan wartawan media lokal
diserahkan ke Humas Pemprov. Tapi, kata Kepala Humas Suhermanto Raza, sehari
menjelang acara, dari mana dana untuk transportasi dan akomodasi wartawan
akan diambilkan. Dari awal Humas memang tidak dilibatkan sama-sekali.
Sebagai Humas dalam acara itu, tak ada SK-nya. Tapi, karena ini acara daerah
dan demi nama baik daerah, kata Suhermanto, ia minta wartawan lokal untuk
tetap meliput. “Ini perintah atasan pada saya, maka saya laksanakan
semaksimal mungkin,” kata Suhermanto pula. Begitulah, akomodasi dan
transportasi untuk wartawan lokal peliput tetap saja tak ada. Meski begitu,
wartawan lokal, demi cinta Ranah Minang dan panggilan tugas jurnalistik
tetap meliput, meski bahan-bahan liputan dari panitia tak pernah didapat.
Wartawan lokal yang di lapangan memang seperti beruk di rimba, cari buaian
sendiri, cari makan sendiri dan tidur sendiri di dahan kayu di mana suka.
Bagi mereka tak soal benar, sebab kepuasan batin sudah didapat. Wartawanlah
namanya, tak kayu jenjang dikeping. Akan halnya Singgalang, sebagai media
partner, meliput acara itu habis-habisan dengan space yang cukup, sehalaman
atau setengah halaman dengan berita dan foto di halaman utama. Sebagai media
profesional, kami akan meliput sebanyak-banyaknya sampai tuntas.Namun
sebagai wartawan lokal, saya pribadi tersinggung dan sedih teman-teman saya
di lapangan dianggap kacangan. Kini adalah hari-hari gegap gempita Tour de
Singkarak, iven pertama yang amat dibanggakan hadir di Ranah Minang.
Selamatlah kepada pejabat pemerintah pusat. Terimakasih pada Departemen
Pariwisata dan Kebudayaan yang telah ‘menghitung’ Sumbar sebagai salah satu
provinsi penting dunia wisata. Para pembalap dan segenap rombongan
ikutannya, berbelanjalah di kampung kami. Tinggalkan uangmu di sini,
kenang-kenanglah kamiselamanya. Ketika iven usai, negeri ini akan senyap
kembali. Kami para wartawan akan terus bekerja dan bekerja, meski para
pejabat sudah tidur pulas di balik selimut tebalnya.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke