Perempuan, Pelawak, dan Politisi
By : Kanti Anwar

Beberapa waktu lalu, kawan-kawan LFM membahas sebuah fenomena menarik, mengenai 
pelawak perempuan. Kesimpulannya,
perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian.
Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang
mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata
lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah
dunia lelaki.

Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena
perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini
hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi
lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih
sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti
perempuan tercantik yang pernah ada...) 

Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci,
justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak
rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak
yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai
menderita. 

Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya, 
Politik itu seharusnya adalah perihal saling mengalah,
tarik ulur kebijakan agar memuaskan semuanya, namun karena terlalu
didominasi kaum lelaki, kerangka tersebut bergeser menjadi perihal menang 
dengan segala cara.  Sementara itu, Lelaki
yang sebenarnya berpihak kepada hak-hak perempuan dan anak-anak mungkin
segan bersuara karena takut disangka banci, kalaupun nekad lantang
membela akan dianggap remeh dan diabaikan lelaki lainnya. Sehingga, Banyak
gerakan solidaritas beranggapan bahwa perempuan perlu turun tangan
memperjuangkan hak kaumnya sendiri, sekaligus memberi 'sentuhan
feminin' untuk menetralkan politik kembali kepada khittahnya.  Sebaliknya, 
Perempuan
terlanjur jengah masuk ke dunia politik yang kepalang penuh kekerasan
persaingan kekuasaan, merasa itu bukan dunia mereka. 
Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik 
hanyalah: Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan untuk bersikap maskulin, 
setara dengan rekan dan lawan mereka yang lelaki; Perempuan yang mengumbar sisi 
feminin untuk dilecehkan lelaki sekitar, yang penting tenar, tak ada kaitan 
dengan kinerja; Perempuan yang berada di bawah bayang-bayang sosok maskulin 
lain; ayah, abang, atau suami... 
Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua 
arah:
Lelaki
(dan sebagian besar kaum perempuan) cenderung tidak memilih perempuan
walaupun sesungguhnya mereka punya kemampuan yang memadai, semata
karena alasan emosional; sayang sekali mereka adalah perempuan... Sesama
perempuan (dan lelaki yang sadar kesetaraan) cenderung tidak memilih
perempuan karena alasan rasional; kebetulan kemampuan mereka masih
sedikit di bawah lelaki akibat sempitnya kesempatan mengasah diri. 
Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender 
masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota 
legislatif.
Katanya oh katanya oh katanya, rekam jejak anggota legislatif perempuan 
cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena: Perempuan cenderung lebih 
jujur dan alim daripada lelaki;  atau Perempuan yang hanya segelintir ini 
berhati-hati, takut ketahuan macam-macam karena disorot khusus; atau Perempuan 
bekerja cukup lihai dan cerdik, sehingga jejak kebusukan segera tertutupi 
dengan rapi jali. Nah lho! 

Y: The Last Man
(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik
asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia
di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain
hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih
sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang 
tersisa
bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana
perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
Politisi yang juga merangkap ibu rumah tangga (euh, tegaan). Ilmuwati yang 
menyaingi kejeniusan ayahnya (brilian!). Tentara yang tak sudi mati di tangan 
sesama cewek (perkasa). Supermodel yang ganti profesi jadi tukang gali kuburan 
(cihuy). ... dan seterusnya. Kalian
pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari
atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini
karena para perempuan terlanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga
mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia?
Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang
jenis kelamin?
(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur 
tangan perempuan ilustratornya juga...)

***

Perjuangkan nasib kaummu!
Seorang
ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak
melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan
rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus." 
"Ha? Saya?"
saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat
saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga
tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan
mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh." 
"Kamu
itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu
lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang
menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan
kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah
dari anak kandung..." 
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan
masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan
persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih
tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege
pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba
menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar
memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!" 
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena. 

Padahal
saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang
cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit
pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya
menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk
peduli dengan kaum saya sendiri? 

Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah 
itu karena: 
Saya beruntung hidup di antara para lelaki yang menghargai dan menjunjung 
tinggi hak-hak perempuan; atau jangan-jangan malah Saya sial hidup di antara 
para lelaki pecundang yang lebih rendah mutunya daripada perempuan di 
sekeliling mereka; mungkin juga Saya memilih lahan-lahan kegiatan yang tidak 
dilirik perempuan karena tanpa sadar takut kalah bersaing dengan sesama 
perempuan; lebih parah lagi Saya terbebas dari penindasan, hanya semata-mata 
karena kaum lelaki tidak menganggap saya perempuan; tapi siapa tahu justru  
Saya diam-diam mengalami sindroma Putri Padang Pasir...
(merasa bangga menjadi luar biasa dengan kedudukan langka setara dengan
para lelaki, sehingga saya tidak ingin berusaha membantu perempuan lain
mencapai kedudukan yang sama, karena itu akan menurunkan derajat saya
menjadi biasa-biasa saja...) 

Seandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus 
soal perempuan. 
Hak asasi orang-orang kidal. Anak kucing dan hewan terlantar dipelihara oleh 
kelurahan sekitar. Jalur sepeda di jalan raya dan tol lintas kota. Pelarangan 
peredaran MSG. Penghijauan pemandangan kota, baik dengan daun, lumut, jamur, 
atau apa pun yang tumbuh dan berkembang.
Dan saya akan mulai berkampanye sederhana. Tak perlu banyak gaya. Cukup sebut 
nama saya tiga kali! Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"

Yang mana pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. 
Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan. 

***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu. Hm, tak apalah. 
Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?

Aslinya di http://www.bambumuda.blogspot.com

Wassalam,

  Evy Nizhamul bt Djamaludin
(Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang)

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com
  

   
  



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke