Ibu evi dan sanak Zul

Untuak ibu Evi syukurlah buku alah sampai, semoga bisa memenuhi sedikit 
rasa ingin tahu. Untuak sanak Zul, tarimo kasih alah mangirimkan artikel 
ko. Ambo indak punyo kamampuan memberikan tanggapan substansi, karena 
indak menguasai substansinyo. Karena hobby mambaco, ambo baru sampai 
pada tahap membaca berbagai pendapat pro dan kontra mengenai berbagai 
topik, termasuk topik agamo. Karano senang sejarah, ambo baco juo 
perdebatan sejarah misalnyo Wali Songo jo Syeh Siti Jenar. Tapi jujur, 
baru pada tahap mambaco perdebatan sajo, alun tahap mendalami sahinggo 
bisa menilai ma yang bana dan ma yang salah.

Salam

Andiko Sutan Mancayo

zul amri wrote:
> Ubu Evy Nizhamul dan Sanak Andiko Yth :
>  
> Untuk menambah referensi tentang /*Basapa*/ , ambo copypastekan 
> tulisan sdr . Azhari didalam blog beliau yang ditulis th 2008 yang lalu .
>  
> salam : zul amry piliang ( 61 th ) tinggal di denpasar bali.
>  
>
> */_BASAPA: AMALAN BID'AH TASAWUF_/*//
>
> * *
>
> *Oleh: Azhari*
>
> * *
>
> _http://mafahim-azhari.blogspot.com/_
>
> * *
>
> Basapa diadakan setiap hari Rabu setelah 10 Safar ketika bulan mulai 
> naik, dimana pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 Safar 1429 H atau 20 
> Februari 2008, puluhan ribu orang mengunjungi makam Syaikh Burhanuddin 
> di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar (di kenal dengan Syaikh 
> Burhanuddin Ulakan). Pada awalnya mereka mengunjungi makam Syaikh 
> tidak terkoordinir, bisa dilakukan di bulan apa saja. Untuk menyatukan 
> penziarah maka ditetapkan ziarah diadakan pada bulan Safar karena 
> diyakini Syaikh meninggal pada tanggal 10 Safar 1111 H atau 20 Juni 
> 1704 M (sebagian menyatakan tahun 1104 H). Karena ziarah di bulan 
> Safar ini munculnya istilah "BASAPA" (pergi Safar).
>
>  
>
> Syaikh Burhanuddin dikagumi dan dihormati oleh masyarakat Minang, 
> bahkan seluruh Sumatera hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura 
> dan Brunei Darussalam. Beliau di kenal sebagai penganut Tarekat 
> Syattariyah (salah satu aliran Tasawuf), sementara di daerah Jawa 
> sebagian besar masyarakatnya menganut Tarekat Naqsyabandiyah. 
> Kejatuhan pamor Tarekat Syattariyah di Sumatera yang tidak lagi 
> mu'tabarah (di terima) membuat pesatnya perkembangan Tarekat 
> Naqsyabandiyah di Jawa.^Lihat 2, hal 102
>
>  
>
> Nama asli dari Syaikh Burhanuddin adalah Pono, Bapaknya bernama Sampak 
> dan Ibunya bernama Cukup yang beragama Budha. Beliau berasal dari 
> Padang Panjang, kemudian merantau ke Lubuk Alung. Pada masa kecil Pono 
> belajar agama kepada Syaikh Madinah, setelah gurunya meninggal Beliau 
> belajar kepada Abdul Rauf di Singkil Aceh (di kenal dengan Syaikh 
> Abdul Rauf Singkil), Pono kemudian berganti nama menjadi Burhanuddin. 
> Setelah 30 tahun belajar di Aceh Beliau kembali ke Minangkabau dan 
> menyebarkan Islam di Ulakan, dimana sebagian besar masyarakat Minang 
> masih menganut agama Budha.
>
>  
>
> Selama 30 tahun Beliau menyebarkan Islam di tanah Minang, 
> murid-muridnya menyebar ke seantero Minang: Tuanku Bayang di Salido 
> (pakar ilmu sharaf), Tuanku Kubung Tigobaleh di Tanah Datar (pakar 
> ilmu nahwu), Tuanku Padang Ganting di Tanah Datar (pakar ilmu ushul 
> fiqih) dan Tuanku Batu Hampa di Batu Hampa (pakar ilmu tafsir).  
>
>  
>
> Setibanya dari Aceh Beliau memancangkan pohon Cimpago Biru yang 
> dibawanya dari Aceh, pohon ini diyakini tempat makamnya sekarang 
> (Ulakan). Alkisah, ketika jenazah Syaikh selesai dimandikan, dikafani 
> dan dishalatkan tiba-tiba jenazah menghilang. Kemudian terdengar suara 
> shalawat di sekitar pohon Cimpago Biru ketika di lihat maka di bawah 
> pohon telah ada makam lengkap dengan batu nisannya yang bertuliskan 
> nama Syaikh. Makam ini kemudian dipagari dan diyakini sebagai makam 
> Syaikh Burhanuddin.^Lihat 1
>
>  
>
> *Ritual Basapa*
>
>  
>
> Ritual Basapa dimulai ba'da Dzuhur dan mencapai puncaknya menjelang 
> Maghrib, semakin malam suasana semain larut dan syahdu dengan berbagai 
> ritual seperti: dzikir, tahlilan, shalawat, yasinan, ratib saman, 
> barzanji dan do'a-do'a dilantunkan. Masing-masing jama'ah melantunkan 
> dzikir yang berbeda, tergantung dari surau mana mereka berasal. Para 
> penziarah tetap/rutin dari masing-masing daerah, biasanya memiliki 
> surau khusus di sekitar makam.
>
>  
>
> Kelompok jama'ah juga bisa memasuki makam secara bergiliran dengan 
> didampingi oleh Khatib (penjaga makam), keluar dari makam jama'ah 
> mengambil pasir dari makam yang diyakini membawa berkah.
>
>  
>
> Selain ritual di atas, ada juga jama'ah Tarekat Syattariyah yang 
> melakukan "Suluk" yakni shalat selama 44 hari berturut-turut tanpa 
> henti. Biasanya yang melakukan suluk adalah orang-orang tua yang 
> datang jauh hari sebelum 10 Safar.
>
>  
>
> *Tawassul*
>
>  
>
> Berziarah ke makam Syaikh Burhanuddin dan makam-makam para Wali di 
> Jawa bertujuan untuk memohon do'a melalui perantaraan Syaikh dan 
> memperoleh syafaat darinya, hal ini di kenal dengan "Tawassul"
>
>  
>
> Tawassul adalah menjadikan sesuatu sebagai perantara/sarana 
> dikabulkannya sebuah keinginan. Tawassul biasanya dengan berbagai 
> cara, melalui perantara amal shalih, orang yang masih hidup dan orang 
> yang sudah meninggal (kuburan).
>
>  
>
> Tawassul melalui perantaraan amal shalih dibolehkan, misal: melalui 
> shalat, puasa, membaca al-Qur'an, dzikir, membantu fakir miskin dan 
> lain-lain. Misalnya, dengan mengatakan: "Ya Allah, Engkau tahu bahwa 
> aku rajin melakukan tahajjud maka ampunilah dosa-dosaku dengan 
> tahajjudku" ^Lihat 6, hal 80; juga 7, hal 242
>
>  
>
> Tawassul melalui perantaraan orang yang hidup juga dibolehkan, 
> terutama kepada Nabi dan orang-orang shalih. Seseorang yang diketahui 
> shalih, menjaga dirinya dari makan, minum dan pakaian yang haram, ahli 
> ibadah, tawadhu' dan selalu bertaqwa kepada Allah swt, maka diharapkan 
> dari do'anya keinginan kita bisa terkabul. Salah satu contoh kasus 
> ketika saudara Nabi Yusuf memohon do'a kepada Bapaknya Nabi Ya'kub 
> agar dosanya diampui oleh Allah swt.
>
> / /
>
> /Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami 
> terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang 
> bersalah (berdosa). Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu 
> kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha 
> Penyayang"  (Yusuf 97-98)./
>
>  
>
> Tawassul melalui orang mati (kuburan) tidak dibolehkan karena orang 
> mati tidak dapat lagi memberikan manfaat bagi orang hidup. Tawassul 
> melalui kuburan Syaikh Burhanuddin saat Basapa adalah perbuatan 
> sia-sia karena Syaikh Burhanuddin telah meninggal dan tidak dapat lagi 
> memberikan manfaat kepada penziarah, bahkan bisa menjurus kepada 
> kesyirikan. Manfaat yang bisa diperoleh dari Syaikh Burhanuddin adalah 
> dari ilmu-ilmu yang Beliau sebarkan di tanah Minang.
>
>  
>
> Islam mengajarkan untuk langsung berdo'a kepada Allah swt, tidak 
> dibutuhkan perantara ketika manusia berhubungan dengan Allah swt 
> melalui kuburan para Wali, Syaikh dan orang-orang shalih. Manusia 
> berdo'a dan Allah swt akan mengabulkannya, bahkan Allah swt lebih 
> dekat dari urat leher manusia.
>
>  
>
> /Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka 
> (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan 
> orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka 
> itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman 
> kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran// (Al-Baqara: 186)./
>
> / /
>
> Mendatangi kuburan, mendirikan tenda, bermalam (i'tikaf), makan dan 
> minum, serta beribadah adalah perbuatan yang jahiliyah tidak di kenal 
> di dalam Islam.^Lihat 5, hal 62; juga 6 hal 114 Rasulullah saw 
> melarang umat Islam mengadakan perayaan dan beribadah di atas kuburan.
>
>  
>
> /Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan 
> jadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah atasku, 
> sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku bagaimanapun keadaan 
> kalian (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)./
>
>  
>
> /Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Mereka menjadikan kubur 
> para nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah) (HR Bukhari dan Muslim)./
>
>  
>
> Mengambil pasir di makam Syaikh dan meyakini membawa berkah adalah 
> perbuatan syirik, ini sama saja meyakini ada kekuatan selain Allah swt 
> yang mampu merubah baik dan buruknya takdir manusia.
>
>  
>
> Begitu juga, membuat bangunan di atas kuburan perbuatan yang tidak ada 
> sunnahnya, seharusnya kuburan diratakan atau sedikit ditinggikan 
> sebagai tanda bahwa itu kuburan.
>
> / /
>
> /Janganlah kamu meninggalkan gambar kecuali engkau telah 
> menghancurkannya dan tidak pula kubur yang diagungkan melainkan engkau 
> telah meratakannya (HR Imam Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)./
>
>  
>
> *Dzikir Bid'ah*
>
>  
>
> Selain Tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman, banyak Tarekat-tarekat 
> lain di Indonsia tergantung dari metode dzikir masing-masing guru 
> sufi, antara lain: Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Sammaniyah, 
> Alawiyah, Haddadiyah dan Tijaniyah.^Lihat 2, hal 28
>
>  
>
> Meskipun di klaim bahwa dzikir-dzikir yang diajarkan oleh para mursyid 
> (guru) bersambung hingga Rasulullah saw (manqul). Kenyataannya, tidak 
> satu hadits-pun yang menggambarkan Rasulullah saw dan para sahabat 
> berdzikir dengan cara yang mereka amalkan. Dzikir yang dilakukan para 
> pengamal Tarekat biasanya dengan merintih, mengerang, mencabik-cabik 
> pakaian, bertepuk-tangan hingga menari, kemudian mengalami ekstase 
> (mabuk).^Lihat 3, hal 41
>
>  
>
> Ketika mengalami ekstase (mabuk) mereka akan memperoleh 
> bisikan-bisikan Ilahi yang di sebut kasyf (ilmu batin), kasyf ini 
> diperoleh langsung dari Allah swt atau diperoleh melalui Rasulullah 
> saw.^Lihat 4, hal 155, 171-173 Padahal kasyf yang diperoleh suatu yang 
> imajiner dan prasangka-prasangka yang tidak benar.
>
>  
>
> /Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka 
> tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya 
> persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (An-Najm 
> 28)./
>
>  
>
> Tarekat mungkin sebagai bentuk pelarian (zuhud) terhadap kehidupan 
> hedonisme, materialisme dan sekulerisme yang membelenggu kehidupan 
> masyarakat modern, tetapi bagaimanapun Tarekat harus tetap mengacu 
> kepada al-Quran dan assunnah, selain itu jelas tertolak.
>
>  
>
> /Man 'amala 'amilan laysa 'alaihi amruna fahuwan raddun; Siapa saja 
> yang melakukan perbuatan yang tidak termasuk perintah kami adalah 
> tertolak (HR Bukhari dan Muslim)./
>
>  
>
> Wallahua'lam.
>
>  
>
> *Sumber bacaan:*
>
>  
>
> 1.  http://padangmedia.com/, 23 Februari 2008: "Basapa" ke Makam Syekh 
> Burhanuddin.
>
> 2.  Gerakan Politik Kaum Tarekat, Ajid Thohir, Pustaka Hidayah, 
> cetakan I, Mei 2002.
>
> 3.  Menjadi Sufi Bimbingan untuk Para Pemula, Abu al-Najib 
> al-Suhrawardi, Pustaka HIdayah, cetakan I, Agustus 1994
>
> 4.  Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, DR. Ibrahim Hilal, Pustaka 
> Hidayah, cetakan I, Januari 2002
>
> 5.  Sekelumit Rahasia Al-Quran, Mustafa Mahmud, Pustaka Nasional Pte 
> Ltd Singapura, cetakan I, 1990
>
> 6.  Mengungkap Kebenaran dan Kebatilan, Sa'ad Shodiq Muhammad, Pustaka 
> Azzam, cetakan IV, 1978.
>
> 7.  Inilah Akidahku, 'Aidh Abdullah al-Qarni, Qisthi Press, cetakan I, 
> November 2002.
>
>  
>
>  
>  
>
> ------------------------------------------------------------------------
> *Dari:* Evy Nizhamul <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Terkirim:* Rabu, 13 Mei, 2009 12:30:32
> *Topik:* [...@ntau-net] Re: Ba Sapa dan Buku Tarekat Sattariyah di 
> Minangkabau
>
> Andiko Sutan Mancayo,
>
> Sbalunyo Ibu mengucapkan terima kasih atas kiriman buku " Menyigi 
> tambo alam Minangkabau - yang ibu terima kemarin siang. Semga Allah 
> SWt lah yang akan membalas kebaikan Andiko.
>
> Basapa atau suluak -  adolah praktek yang dilakukan umumnya kaum tuo - 
> seperti halnya yang dilakuakn oleh nenek Ibu - pada zaman dulu.
>
> Kemudian ada yang menengarai bahwa ini adalah bentuk peribadan aliran 
> Syiah. Benar atau tidaknya Ibu tidak adakan berpolemik karena tidak 
> memiliki wawasan akan hal ini.
>
> Sekarang ini, di Jakarta pun Ibu pernah melihat bagaimana cara 
> kelompok tarekat ini melakukan peribadatannya. Ada perkongsiannya.
>
> Mudahan-mudahan Ibu dapat memahami lebih lanjut bila telah membeli 
> buku ini.
>
> Satu hal yang menjadi catatan Ibu ketika berkunjung ke Ulakan, 
> kompleks Syeh Burhanuddin itu sangat dan sangat jorok. Sepertinya 
> tidak ada pemahaman bahwa kebersiahan itu adalah sebagaian dari pada 
> Iman....
>
> Terima kasih atas informasinya..Andiko
>
> Wassalam,
>
>
>
> /**  Evy Nizhamul /
> (Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang)
>
> http://hyvny.wordpress.com
> http://bundokanduang.wordpress.com
>
>
>  
>
> <http://www.ranahati-hyvny.blogspot.com/>
>
> <http://www.tambo-hyvny.blogspot.com/>
>
>
> --- On *Tue, 5/12/09, andikoGmail /<[email protected]>/* wrote:
>
>
>     From: andikoGmail <[email protected]>
>     Subject: [...@ntau-net] Ba Sapa dan Buku Tarekat Sattariyah di
>     Minangkabau
>     To: [email protected]
>     Date: Tuesday, May 12, 2009, 11:36 PM
>
>
>     Bertahun lalu, katiko masih ketek-ketek, ambo diajak almarhum kakek jo
>     almarhumah nenek ambo pai Basapa ka Ulakan Pariaman. Pagi-pagi sekali,
>     peserta ba-Sapa alah bakumpua di mungko surau kaum kami. Banyak yang
>     mambao makanan, buah-buahan dan sebagainyo. Anak-anak yang sagadang
>     ambo, mamakai baju rayo, bergembira. Nan ado dalam pikiran wakatu itu
>     hanyolah kami ka pai jalan-jalan ka Pariaman yang pada saat itu, ambo
>     indak tahu dima, tapi manuruik nenek, awak sakalian mancaliak aia gilo
>     (ombak). Di Pariaman, kito pai ka sebuah musajik tuo, meskipun ambo
>     masih anak-anak, taraso juo kekhusukan kakek jo nenek dan rombongan
>     disinan. Ambo pun mancaliak, bukan kami sajo nan pai kasinan. Banyak
>     pulo rombongan dari nagari-nagari lain yang ambo indak tahu. Setelah
>     sampai dan beristirahat, nenek jo kakek ambo, alah sibuk berzikir,
>     baitu
>     juo rombongan nan lain. Ambo sibuk pulo mangincar pisang kaliang nan
>     dibao rombongan dan maincar lamang nan ikuik sato.
>
>     Ambo indak tahu dan alum berfikir, kenapa untuak berzikir, harus pai
>     jauah-jauah ka Pariaman. Cukuiklah tiok subuah di surau kaum kami,
>     nenek
>     jo kakek ambo zikir lamo-lamo beserta jo makmumnyo, sampai matoari
>     tabek
>     manjilek masuak disela papan dindiang surau. Suaronyo bergema,
>     manyajuakkan pagi hari sabalun pai turun ka sawah jo manukak ka
>     ladang.
>     Biasonyo, kalau mereka alah salasai zikir, kakek ambo akan batanyo
>     satu
>     dua, kalau ambo bisa manjawek, inyo akan mambuekkan kudo-kudo dari
>     daun
>     anau "pesok"nyo. Atau sakali-sakali inyo buekkan ambo, pesok daun
>     anau,
>     tapi indak buliah di baka, masih anak-anak katonyo. Samantaro kakek
>     ambo, alah manggabubu asok tambakau nomor 9 nan dilinting jo daun
>     anaunyo.
>
>     Pada bulan-bulan tertentu, surau ambo dikunjungi dek Angku dari nagari
>     Bukik Sangok. Pada saat Angku datang, biasonyo rombongan nenek
>     ambo akan
>     semakin lamo disurau kaum kami, bahkan ado yang indak pulang. Urang
>     sangai hormat ka Angku ko. Tapi yang mambuek ambo sanang, bukan
>     itunyo,
>     tapi tiok batamu ambo acok diagiah pitih saratuih rupiah untuak
>     balanjo...he...he...Sampai kini, ambo indak tahu sia sabananyo namo
>     angku ko.
>
>     Baliak ka Ba-Sapa. Sajak Angku Bukik Sangok maningga, indak ado lai
>     angku-angku lain yang datang ka surau kaum kami. Sairiang jo itu,
>     maningga pulo kakek ambo. Wakatu inyo maningga, kakek ambo didampingi
>     dek nenek ambo ko dan ado yang babisiak, bahwa nenek jo kakek ambo ko,
>     satu guru. Ambo pun indak mangarati apo mukasuiknyo. Sajak angku jo
>     kakek ambo  maningga, nenek ambo tingga sorang dan ndak bisa  lai
>     mengorganisir  urang  Ba  Sapa.  Sampai  kemudian  beberapa  tahun
>     yang  lalu nenek ambo maningga pulo, ambo alun sempat batanyo, ado apo
>     kito basapa dulu itu. penjelasan nenek hanyo, kito baziarah ka makam
>     Syeh Burhanuddin nan kiramaik.
>
>     Pada sebuah kesempatan, ambo sampai di Surau Buya Sasak di tapi batang
>     Kapa di Nagari Kapa, Pasaman. Pada saat itu, banyak ambo mancaliak
>     urang
>     mudo, tuo-tuo dan setengah baya tekun mengaji dalam surau. Surau itu
>     disekat-sekat jo kain yang jadi pambateh antar mereka. Merekapun
>     mambao
>     segala perlengkapan, mulai dari kasua sampai alat masak memasak.
>     Mereka
>     mengaji dan berzikir, indak sajo pada waktu sholad wajib, tapi juo
>     sapanjang wakatu. Ambo mancaliak, mereka hanyo baranti katiko makan
>     sekedarnyo dan katiko pai ka Batang Kapa untuak mandi atau keperluan
>     lain. Ambo danga dari masyarakat, itu namonyo Ba-Suluak.
>
>     Pada lain kesempatan, ambo pernah berkunjung pulo ka seorang tuo di
>     nagari Gasan Gadang. Rumahnyo di tapi pantai, salo manyalo karambia jo
>     nipah, tahampa saketek labuang tampek bakau tumbuah. Ambo mancaliak
>     dimato kapalo dan manungguan baliau berzikir hampiah 2,5 jam. Manuruik
>     urang yang kasinan, baliau ko mempelajari ajaran Syeh Burhanuddin dari
>     Ulakan tampek ambo Ba-Sapa samo nenek dulu.
>
>     Minggu lalu, ambo pai ka toko buku. Panek mancaliak-caliak buku umum,
>     buku agamo dan buku lainnyo, pandangan ambo tatumbuak ka sebuah
>     buku nan
>     bagambar surau yang arsitekturnyo gaya koto piliang. Jatuah ka
>     dalam aia
>     mato, takana maso ketek-ketek, tangiang kaji alih ba ta nan diajakan
>     kakek ambo, tabayang mamak-mamak mangaji malam dan lalok di dapua
>     surau.
>     Tabayang nenek nan manyuruah makan sabalun pai mangaji ka surau
>     Nenggek.
>     Talinteh pulo surau kaum ambo nan alah dirobohkan dan diganti manjadi
>     bangunan tembok tampek ibadah nan bajudul Musholla beserta lengkap jo
>     papan namo.
>
>     Tibo-tibo tagarak hati nak ma ambiak buku yang berjudul  "  Tarekat
>     Syattariyah di  Minangkabau"  karangan  Oman  Faturrahman  nan
>     ditabikkan  dek  KITLV  Jakarta  2009.  Ternyata, buku  ko,  cukuik
>     mambari jalan, untuk mencari jawaban lebih jauh tentang ketidakpahaman
>     ambo  manga  nenek  jo  kakek  ambo maajak Ba-Sapa ka Ulakan
>     Piaman, jo
>     manga Angku Bukik Sangok rutin datang ka surau kayu kaum ambo dan
>     manga
>     nenek, kakek jo kawan-kawannyo berzikir lamo bana. Buku ko bercerita
>     tentang sejarah jo sedikit gambaran ajaran tarekat syattariyah di
>     Minangkabau. Sangat baik bagi anak-anak mudo untuak
>     mengantarkannyo pado
>     pencarian yang lebih jauh dan lebih dalam.
>
>     Salam
>
>     Andiko Sutan Mancayo
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas. Coba Y! 
> Messenger 9 Indonesia sekarang. 
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/maxwell/*http://id.messenger.yahoo.com>
> >


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke