Sanak Ricky Avenzora dan para sanak sa palanta,
Rasanya ada beda yang agak besar antara teori dan filsafat. Teori termasuk 
dalam ranah ilmu, sering berkisar pada pengalaman dan data emperik, sedangkan 
filsafat termasuk ranah pemikiran spekulatif, dan pernah disebut sebagai mater 
scientarum, ibunya ilmu.
Menurut para pakarnya -- antara lain Prof Dr Franz Magnis-Suseno -- dalam 
filsafat kita mempertanyakan segala sesuatu, sampai pada causa prima, faktor 
penyebab yang paling dasar. 
Filsafat mengajar kita untuk berfikir secara mendasar, kritis, komprehensif, 
dan konsisten. Sewaktu saya menjadi mahasiswa tahun pertama di UGM tahun 1955 
-- jadi 54 tahun yang lalu -- profesor saya, Notonagoro, menunjuk tiga cabang 
filsafat yang harus kami pelajari, yaitu: logika, etika, dan estetika.Dalam 
tahun-tahun belakangan, saya membaca sendiri berbagai buku filsafat, yang 
lumayan banyak membantu saya dalam memahami gejolak dunia yang sungguh ruwet 
ini.
Memang ada masalah klasik tentang hubungan antara filsafat dan iman, dalam arti 
ada bidang-bidang kehidupan yang jangan sampai difilsafatkan, seperti enam 
rukun iman dan lima rukun Islam. Orang Kristen menyelesaikan masalah ini dengan 
rumusan credo ut intellegam, yang kira-kira berarti berimanlah terlebih dahulu, 
baru berusaha untuk mengerti.Memfilsafatkan iman bisa menyebabkan kita menjadi 
syirik, murtad, atau kafir. Naudzubillah min zalik. Namun untuk hal-hal di luar 
iman, Islam rasanya malah mendorong kita untuk berfikir.
Menurut penglihatan saya, dalam pengertian di atas, kita orang Minang belum 
terbiasa berfilsafat. Kita terbiasa berpepatah petitih, Saya sudah membaca buku 
Prof Mr Moh Nasrun yang berjudul 'Filsafat Minangkabau', dan agak repot saya 
mencari apa yang beliau maksudkan dengan 'filsafat Minangkabau' itu.
Dalam hubungan itulah, saya bisa faham mengapa Prof Dr Bahder Djohan (alm) 
pernah menyarankan agar di Sumbar ini didirikan sebuah fakultas filsafat, yang 
sampai sekarang belum juga terwujud. [Mungkin inilah salah satu sebab mengapa 
rumusan ABS SBK yang utuh tak kunjung selesai juga, karena mencari titik temu 
dari dua sistem nilai yang mempunyai paradigma yang sangat berbeda, sangat 
memerlukan kemampuan berfikir filsafati, karena tidak bisa diselesaikan hanya 
dengan kemahiran semantik belaka].
Saya bersyukur sewaktu mengetahui ada beberapa anak muda Minangkabau yang studi 
pada Fakultas Filsafat UGM di Yogyakarta. Mudah-mudahan mereka bersedia 
mencurahkan waktu dan pemikirannya untuk ikut membenahi kesimpang-siuran 
pemikiran kita, yang sudah berlangsung selama kl 206 tahun (1803-2009). Sekedar 
catatan, tahun 1803 adalah tahun pertama gerakan Paderi, yang mengeritik 
berbagai aspek adat Minangkabau pra-Islam.
Agak terlalu berat beban saya kalau Sanak meminta agar saya mengarahkan yang 
muda-muda, apalagi dalam bidang filsafat, karena saya sendiri juga masih sarat 
dengan banyak pertanyaan dengan keminangkabauan kita yang demikian sarat dengan 
paradox dan kontradiksi. 
Beban berat ini akan lebih tepat diemban oleh beberapa guru besar urang awak, 
yang sudah banyak menulis tentang Minangkabau, seperti Prof Dr Taufik Abdullah, 
Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Amri Marzali, dan Prof Dr Syafri Sairin, yang 
alamat email beliau-beliau saya cantumkan pada kolom cc di atas.
Menurut penglihatan saya, di Padang juga ada guru besar yang berminat kepada 
filsafat, yaitu Prof Dr Shofwan Karim dari Universitas Muhammadiyah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta) 


--- On Thu, 5/21/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi (PLUS)
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 4:12 PM


Dear Pak Saaf Yang Mulia,

1. Terima kasih atas dorongan Bpk agar saya "mencoba" menulis buku. Insya ALLAH 
akan bisa terwujud. 

2. Benar Pak ttg aliran filsafat,.... memang banyak sekali aliran filsafat yg 
telah dituliskan orang sebagai TEORI. 
Namun demikian, saya fikir kita sama2 sepakat bhw TEORI FILSAFAT hanyalah jalan 
bagi kita utk MEMULAI belajar ttg berbagai filsafat. 

Ketika dlm belajar FILSAFAT seseorang TELAH SAMPAI ke ujung nya (terserah mau 
ujung yg mana yg dia capai sesuai dengan hidayah ALLAH pada dia),......berbagai 
aliran filsafat yang diperkenalkan pada dia saat baru belajar itu adalah sudah 
(dan harus) menjadi "LEBUR" dalam suatu KESIMPULAN yang BULAT. 

Jika belum bisa lebur, maka berarti kesimpulan nya belum bulat,....dan jika 
belum bulat maka berarti dia belum sampai.

Saya yakin kita juga sepakat bhw BULAT nya suatu makna dan hakekat dlm suatu 
filsafat adalah bukan hanya berarti bisa mendudukan suatu perkara atas HAKEKAT 
KEJADIAN nya, tapi juga bisa mendudukan KEGUNAAN. dan MANFAAT nya pada hidup 
dan kehidupan serta kelanjutan hidup dan kehidupan manusia serta seisi alam 
semesta ini. 

3. Sadar akan hal tersebut di atas, dan menghargai segala kelebihan pengetahuan 
serta pengalaman yg Bpk miliki, maka pada posting saya terdahulu itu saya USUL 
kiranya kami yang muda-muda ini BISA Bpk ARAHKAN utk bisa lebih produktif dlm 
berdiskusi di RN ini. 


Salam,
r.a 
L, 45, JKT. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Dr.Saafroedin BAHAR" 
Date: Thu, 21 May 2009 01:27:42 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi (PLUS)






Sanak Ricky Avenzora dan para sanak sa palanta,
Terima kasih atas tanggapan Sanak.Sintesa memang perlu.
Bicara tentang filsafat, ada banyak aliran, yang juga tak mudah untuk 
disatukan. Akan besar manfaatnya jika Sanak memilih salah satu aliran, dan 
membuat sintesa Sanak berdasar aliran filsafat yang Sanak anut.
Sepanjang mengenai saya, secara berkecil-kecil saya sudah menulis pandangan 
saya secara komprehensif tentang masalah keminangkabauan ini, dalam buku yang 
saya tulis bersama Ir Mohamad Zulfan Tadjoeddin, MA (2004), "Masih Ada Harapan: 
Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara", Yayasan 
Sepuluh Agustus, Jakarta. Kalau saya tak salah, buku ini masih ada dijual di 
Pustaka Anggrek, Kampung Jawa, Padang, atau di kios buku Bandara Minangkabau.
Agar adil, perlu juga Sanak baca sebuah buku lain, tulisan seorang datuk -- 
kawan saya -- yang membalas buku saya itu dengan sebuah buku pula.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta) 


--- On Thu, 5/21/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi (PLUS)
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 3:07 PM


Dear Pak Saaf Yang Mulia,

1. Terima kasih banyak atas penjelasan Bpk. Saya sepakat dengan apa yg Bpk 
jelaskan skrg ini. Saya fikir rentang perspektif kita sudah mempunyai titik 
temu.. 

2. Dalam konteks berfikir filsafati, maka rasa nya memang ada 
kekurangseimbangan antara proses analisa dan proses sintesa. Memang sudah 
terlalu banyak ANALISA yang KITA (baca: saya + bapak + semua yg lain) lakukan. 

Terserah sudut pandang yang kita pakai (sesuai dengan latar belakang dan 
rentang perspektif masing2), maka semua analisa tersebut saya fikir punya nilai 
dan manfaat sendiri-sendiri.

3. Kembali pada yang telah Bpk sampaikan pada penjelasan Bpk ini, maka kalau 
boleh saya mau usul "bagaimana kalau setelah ini diskusi kita" diarahkan untuk 
melakukan SINTESA dari semua masalah dan analisa nya.

Jika kita hanya terus menganalisa dan terjebak dlm "mempertentangkan" sudut 
pandang analisa, maka saya khawatir kita tidak akan maju2 dlm melangkah. 

Salam,
r.a 

Mari kita susun mozaiknya bersama agar mencapai gambar yang indah dan sesuai 
serta terbaik utk kita bersama,,....pada masa kini,....pada hari esok,.....dan 
pada masa yang mendatang. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Dr.Saafroedin BAHAR" 
Date: Thu, 21 May 2009 00:30:31 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi (PLUS)






Assalamualaikum w.w. Sanak Ricky Avenzora dan para sanak sa palanta,
Langsung saja, begini tanggapan saya.
 
1)  Tentang 'adat salingka nagari' . Memang menunjukkan heterogenitas 
Minangkabau sampai saat ini. Hanya ada satu kekurangannya, yaitu heterogenitas 
itu tidak -- atau belum -- dikaitkan dengan kebutuhan untuk mengadakan 
'networking', jejaring, kerjasama, yang juga merupakan suatu trend kuat pada 
zaman kini. Sebagai akibatnya, maka orang Minang tidak mampu menyusun tenaganya 
untuk bersaing dengan suku-suku bangsa lain, sangat mirip dengan orang Arab.
2) Saya setuju sekali kita harus membedakan antara adat dan perilaku masyarakat 
dalam adat. Namun perlu kita ingat, bahwa tentang adat itu sendiri ada empat 
macam adat [adat nan sabana adat;adat nan teradat;adat nan diadatkan; dan adat 
istiadat]. Yang jadi masalah adalah belum adanya kesepakatan tentang apa 
rincian setiap jenis adat ini. Tidak jarang terjadi adat yang teradat disangka 
sebagai adat nan sabana adat. Kan kacau jadinya.
Mengingat kompleksnya masalah Minangkabau ini, rasanya diperlukan kemampuan 
berfikir filsafati secara mendasar dan mendalam, baik untuk memahaminya maupun 
-- atau apalagi -- untuk mencari alternatif solusinya yang tepat untuk zaman 
ini. Berfikir secara parsial dan fragmentaris, seperti selama ini, hanya akan 
menyebabkan kita berputar-putar pada posisi yang sama.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta) 


--- On Thu, 5/21/09, ricky avenzora <[email protected]> wrote:


From: ricky avenzora <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi (PLUS)
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 12:43 PM







Dear Pak Saaf Yang Mulia,
 
1. Tulisan Bapak ini sangat menggugah semangat saya,.....pola tulisan yang ini 
terlihat sangat berbeda dengan pola tulisan Bpk yang lain yang selalu saya baca 
 selama hampir 4 bulan ini mengikuti RN. 
 
2. Tanpa bermaksud "manantang matoari" ataupun "manggarami lauik", maka saya 
mohon ijin untuk ikut berpandangan ....yang nampaknya mencari  titik-temu 
dengan esensi pandangan Bapak. Jika Bapak ijinkan,.... maka ada dua hal dari 
esensi tulisan Bpk ini yang ingin saya cari titik temunya, yaitu tentang 
bagaimana kita memaknai  "adat salingka nagari" dan tentang bagaimana kita 
sebaiknya membedakan "adat" dan "perilaku orang/masyarakat dalam melaksanakan 
adat" (dlm pola bahasa saya selama ini sering saya sebut sebagai BIAS). 
 
3. Berkaitan dengan adat salingka nagari, .....apakah kondisi yang sepertinya 
sudah bersifat GIVEN bagi kita generasi Minang saat ini itu adalah memang 
mengajarkan kita untuk berfikir terkotak-kotak......sehingga dengan kata lain 
bisa disebut sebagai suatu kelemahan bagi kita di Minangkabau ? 
 
Bagaimana kalau keberadaaan adat salingka nagari tersebut kita maknai sebagai 
berikut :
 
a. Adat salingka nagari adalah menunjukan heterogenitas yang sangat tinggi. 
Bukankan semua teori modern dewasa ini sangat MENGHARGAI HETEROGENITAS yang 
TINGGI? 
 
Mulai dari teori2 ilmu pasti (spt ekologi, lingkungan, hingga teori 
relativitas serta teori fisika kuantum)  dan berbagai teori 
sosial-ekonomi.......semua membuktikan bhw kondisi optimun terbaik serta 
termapan dari suatu sistem adalah ketika tercapai suatu heterogenitas elemen 
sistem dan fungsinya.  
 
Jika paradigma tersebut bisa kita terima, maka barangkali tugas kita saat ini 
adalah mencari jalan bersama untuk menjadikan potensi "social capital" berupa 
adat salingka nagari tersebut bisa menjadi motor utama dalam mencapai mimpi dan 
cita-cita bersama. 
 
Saya yakin bahwa konsep lokalitas adat salingka nagari adalah modal dasar yang 
sangat kuat untuk menjadi pondasi pembangunan yang luar biasa di ranah minang 
yang kita cintai. Saya membayangkan, ...ibarat sebuah rumah besar dengan 
tonggak pondasi yang begitu banyak adalah rumah yang sangat kuat dan tahan 
gempuran. Apalagi jika saya mencoba membayangkan dalam konteks ilmu politik dan 
pertahanan negara yang Bpk sangat ahli di dalam nya. 
 
4. Berkaitan dengan BIAS dalam melaksanakan adat, tolong ijinkan saya untuk 
mengambil contoh AL-Quran dan Hadist sebagai kasus ekstrim. 
 
Saya yakin kita sama-sama setuju bahwa tata nilai yang ada dalam Al-Quran dan 
Hadist adalah TIADA CACAT nya. Namun demikian, kita juga sama-sama tahu betapa 
banyak perilaku orang-orang muslim yang sangat jauh keluar dari rel yang 
menjadi acuan hidupnya. 
 
Jika retorika tersebut bisa diterima, maka saya fikir kita perlu membedakan 
antara tata nilai di dalam adat dengan perilaku masyarakat dalam melaksanakan 
adat tersebut.  Bagi saya pribadi, ...saya fikir yang perlu kita rubah itu 
adalah perilaku nya, bukan adat nya. 
 
Selama kita masih mencampur adukan soal tata nilai dengan pola perilaku 
masyarakat dalam tata nilai tersebut, maka semua mimpi dan cita-cita kita 
tersebut akan sangat sulit tercapai (jika tidak ingin dikatakan gak bakal 
tercapai). Bukankah pepatah telah mengajarkan agar kita tidak berlaku "buruk 
muka cermin dibelah" ?
 
Mohon maaf atas pilihan kata dan kalimat yang tidak tepat atau tidak berkenan 
bagi Bpk.
 
Salam,
r.a
 


--- On Thu, 5/21/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi
To: [email protected]
Cc: "Dr Mochtar NAIM" <[email protected]>
Date: Thursday, May 21, 2009, 5:58 AM








Waalaikumsalam w.w. Sanak Fitr Tanjuang dan para sanak sa palanta,
Dari tinjauan ilmu politik, masyarakat banyak ko tabagi dalam duo bagian 
gadang, nan dinamokan elite nan jumlahnyo saketek, dan massa, nan jumlahnyo 
gadang.
Kakuatan politik talatak di tangan elite, karano disitulah bakumpuanyo pitih, 
kakuasaan, koneksi, kamampuan manajemen, dan juo kaahlian manyusun strategi, 
taktik, dan teknik baorganisasi.Baa juo dima kakuasaan banyak, di sinan pitih 
banyak, dan sabaliaknyo dima pitih banyak ka sinan pulo malakoknyo kakuasaan.
Di ma duduaknyo massa ? Massa  ko hanyo bondong aia bondong dadak sajo, kama 
angin kareh ka sinan inyo pai, karano umumnyo massa indak punyo punyo pimpinan, 
dan indak punyo struktur, dan indak punyo kakuasaan sarato indak punyo pitih, 
hampia saroman jo itiak pulang patang, ikuik sia nan bajalan dimuko.
Baa urang awak ? Indak usah dibuktikan bana, urang awak ko labiah banyak 
marupokan massa sajo, jarang nan mamacik tampuak pimpinan sabagai elite nan 
manantukan nasib bangso. Lapisan elite biasonyo dipacik dek urang Jawa, disusul 
kini dek urang Batak (!), urang Palembang, atau kini urang Bugih. Urang awak 
nan dahulu jadi elite, antaro tahun 1945 -1955, adolah urang Minang istimewa, 
produk dari suatu kurun sejarah nan istimewa, generasi 1920-an. Sasudah tu, 
maluncua taruih manaruih, sampai kini.
Baa mako sampai baitu urang awak ko ? Kalau kito pikia-pikia, mungkin karano 
budaya Minangkabau indak punyo konsep kekuasaan, 'egalitarian' kato pak Muchtar 
Naim, nan biasonyo jadi kebanggaan kito. Salain itu urang awak indak pulo 
basalero bana ka kekuasaan jo kekayaan, tapi bangga kalau diagiah sapiriang duo 
piriang kekuasaan dan kekuasaan dek nan bakuaso, misalnyo diangkek jadi 
mantari. Cito-cito urang awak kan paliang tinggi jadi mantari sajo, kan? [Apo 
indak paralu ditinjau baliak apo nan kito banggakan ko? Egaliter, tapi 
hanyo bak pasia ditapi lauik, indak ado apo-aponyo]. 
Urang awak juo indak suko baorganisasi nan punyo pimpinan, kalau baorganisasi, 
indak banyak nan amuah baiyo bana bakarajo sacaro badisipilin, banyak nan 
'angguak anggak dalam duo tangah tigo, unjuak nan indak babarikan', 'papek di 
lua runciang di dalam', 'suko manembak di ateh kudo', 'indak baluluak maambiak 
cikaurau'. Mungkin itulah sababnyo organisasi urang awak ko indak ado nan 
kuwaik. 
Jadi baa dalam kompetisi politik kini ? Kito kan samacam manunggu 'rimah-rimah 
politik' sajo, mudah-mudahan ado urang awak nan diangkek jadi mantari,atau 
dirjen, dan nan samacam tu. Atau sekedar ikuik bangga, karano nan sadang 
bakuaso tu adolah 'urang sumando' awak.  Indak ado samo sakali jejaring 
(network) urang awak  nan operasional dan saliang mandukuang untuak maju, 
saroman 'dalihan na tolu' di urang Batak. 
Saparati kito liek, tautamo dalam babarapo tahun balakangan ko, kalau ado 
surang sajo urang Batak di suatu tampek, dalam wakatu singkek inyo akan 
batambah manuruik deret ukur, karano tiok urang Batak diharuihkan dek adatnyo 
untuk mahelo duo orang Batak lain nan bakaik margo jo inyo sabagai marga 
hula-hula  dan marga boru. 
Di awak, susunan sarupo indak ado. Sacaro pribadi ambo mandapek kesan bahaso 
dari segi tatanan bamasyarakat adat Minang memang indak dirancang untuak 
mampasatukan urang Minang, apolagi untuak saliang tolong manolong, saroman nan 
dilakukan dek urang Batak. 
Kito diaja untuak bapikia dalam ukuran mikro, saparati dapek dilek dalam 
pepoatah
'Adat salingka nagari'. Pangalaman ambo 'baminang-minang' sajak tahun 1966 -- 
43 tahun -- sabana susah bana mampasatukan urang awak ko. Hampia samo jo 
susahnyo mampasatukan urang Arab. 
Kalau ado urang awak ko maju dalam karier, biasonyo adolah karano usaho 
surang-surang, indak ado bantuan terstruktur dari urang Minang lainnyo. Baru 
kalau alah berhasil, rami-rami kito mangatokan: 'inyo tu urang awak mah'. Baa 
kalau gagal ? Sampai rangik indak ado nan kamanyapo doh, baitu bana kaadaannyo.
Budaya urang Cino -- nan mampunyoi akar dalam ajaran Kong Hu-Cu -- sangaik 
mamantiangkan hubungan kekeluargaan suku/clan, nan kalau ambo indak salah 
disabuik she. Di dalam she ko, ado hubungan struktural nan ketat antaro 
kakak-adiak, nenek moyang- bapak ibu - dan anak. Caliaklah film-film Kungfu.
Nan khusus adolah urang Yahudi, walaupun manganuik adat matrilineal sarupo 
urang awak, tapi sabana kuaik persaudaraannyo, walaupun alah batebaran di 
saluruah muko bumi. Baa mako baitu ? Iko paralu kito palajari. 
Nampak dek ambo -- antaro lain -- karano adat matrilineal urang Minang 
dikaikkan jo bidang pertanian sajo, dan dilimbagokan dalam harato pusako tinggo 
sarato jo sistem waris mawaris dan silang sangketo nan takaik jo itu. 
Karano katurunan samakin banyak sadangkan tanah sagitu ka sagitu juo, mako 
makin batambah tahun makin batambah silang sangkeko. 
Nampaknyo di urang Yahudi indak baitu. Bukan tanah dan harato pusako tinggi nan 
mereka pentingkan, tapi kualitas sumber daya manusianyo. Mereka mamiliah karier 
dalam bidang industri dan perdagangan, keuangan dan perbankan, sarato musik, 
media massa, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Salamo ko jarang mereka 
nan bergerak di bidang pertanian nan baru mereka tangani sasudah tabantuak 
negara Israel dalam tahun 1948.
Jadi baa lai ? Manuruik pandapek ambo, salamo kito alah pueh diri jo 'adaik 
lamo pusako usang' sajo, indak amuah maadokan kaji ulang dima posisi kito dalam 
abaik ka 21 nan sabana kancang parubahannyo dek ilmu pengetahuan jo teknologi, 
dan indak amuah pulo mambuek tarobosan dari kabuntuan nan ado salamo ko,  jan 
bamimpi bisa masuak jadi elite Indonesia ko jo kakuatan sandiri.
Kalau maju surang-surang tantu bisa, dan alah banyak dilakukan dek urang awak. 
Hanyo hasilnyo adolah sampai tingkek mantari jo eselon satu sajo.[Pak Hatta 
jadi wapres itu suatu pengecualian.]
Ringkasnyo, kalau kalompok-kalompok suku bangso Indonesia lainnyo -- saparati 
Jawa, Batak, Palembang, Bugih, atau Cino -- punyo tatanan organisasi nan ketat 
dan sacaro basamo-samo maatur strategi dan taktik untuak marabuik kakuasaan di 
lapisan elite, urang awak sabana nyaman hiduik di tataran massa sajo, sambia  
manunggu 'rimah-rimah kakuasaan' nan diagiahkan urang lain ka urang awak sacaro 
perseorangan.
Kalau memang itu nan kito inginkan, keadaan kini alah sasuai tumah jo sistem 
nilai dan struktur sosial kitu. A juo lai.
Talabiah takurang mohon maaf.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta) 

--- On Thu, 5/21/09, Fitr Tanjuang <[email protected]> wrote:


From: Fitr Tanjuang <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Tentang Gamawan Fauzi
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 4:27 AM



AslmWrWb
 
Mak Saaf,
di milis lain nan ambo ikuti, adoh analisa model iko.
Baso nan manantukan sia nan ka manang pemilu ko indak awak2 nan rakyat badarai 
ko doh.
Tapi kelompok2 minoritas nan solid sarato ciek suaro.
 
Logikanyo, kalau rakyat badarai ko suaronyo iyo badarai2 ka saluruah calon, 
sadang kelompok iko suaronyo taarah.
Misalnyo adoh 170juta pemilih sadang 150juta pacah 3 masiang2 50juta.
Kalau kelompok ko bisa ciek suaro walaupun jumlahnyo hanyo 10j, inyo bisa jadi 
penentu sia nan ka manang.
Kok kito liek lobi yahudi di USA, iyo bana pulo rasonyo.
Hanyo sajo ambo baru mandanga kalau ruponyo adoh pulo di nagari kito.
 
Kelompok tu minimal adoh 4,
1. pengusaha peranakan Cino jo penguasaan ekonominyo
2. kelompok NU nan taat ka kiyainyo
3. PKS nan militan ka ustadznyo
4. PDS jo kelompok kristennyo.
 
Tapi NU lah bakurang pengaruhnyo dek lah pacah (atau dipacah dek Gus Dur).
PDS pun alun nampak bana kekuatannyo doh.
 
Jadi tingga kelompok 1 jo 3. 
 
Nah, Sofyan Wanandi lah mendukung JK, sadang PKS ka SBY. 
 
Baa tu manuruik mak Saaf. Iyo bana analisa tu?
 
Cieklai, urang Minang indak masuak etongan doh, dek suaronyo indak bisa 
disatukan.
Caliak se lah milis ko...:)
 
Wassalam
fitr tanjuang
lk/34/Albany NY 

 
On 5/19/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:


















--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke