Hercules Jatuh di Magetan
Dradjad: TNI Salah Satu Korban Neoliberal
Buktinya, Indonesia minim industri strategis yang bisa menghasilkan alutsista 
sendiri.
Jum'at, 22 Mei 2009, 12:48 WIBUmi Kalsum, Elly Setyo Rini
  

 
 VIVAnews - Pengamat ekonomi Dradjad Wibowo menilai selama bertahun-tahun TNI 
telah menjadi salah satu korban ekonomi neoliberal. Kondisi itu tercermin dari 
minimnya industri strategis yang dibangun di dalam negeri.

"Karena dalam pandangan mereka (neoliberal), negara tidak harus membangun 
industri strategis mereka sendiri," kata dia saat diskusi "JK-Win Untuk 
Indonesia Adil dan Sejahtera: Ekonomi Kemandirian Versus Ekonomi Neoliberal" di 
Menteng Jakarta Pusat, Jumat, 22 Mei 2009.

Dengan tidak bisanya negara membangun industri strategis seperti pengadaan 
alutsista, negara harus membeli alutsista dan barang-barang strategis dari 
negara lain karena Indonesia tidak mempunyai keunggulan kompetitif untuk 
memproduksinya.

Tidak aneh kalau Indonesia sangat mengandalkan alutsista dari luar negeri. 
Makanya ketika terjadi embargo oleh AS beberapa waktu lalu, Indonesia sulit 
mendapatkan suku cadang yang diperlukan, sehingga banyak alutsista yang tidak 
layak lagi. Salah satunya, Hercules TNI yang hanya sedikit yang bisa beroperasi 
dan tidak layak, sehingga memicu terjadinya kecelakaan seperti kasus di Magetan.

"Mereka (penganut neoliberal) lupa bahwa alutsista merupakan keunggulan dari 
sebuah negara," ujarnya. Dradjad menyontohkan negara Irak yang terkenal sebagai 
negara terbanyak tentaranya ternyata kalah dengan Amerika. "Kalaupun kita mau 
lawan Singapura, kita pasti termehek-mehek karena kalah dalam alutsista," kata 
dia.

Liberalisasi dalam ketentaraan tersebut, kata dia, terlihat dalam salah satu 
agenda penting Washington Consensus yakni liberalisasi perdagangan dan 
investasi. Agenda penting lainnya, yakni stabilisasi makro yang konsisten dan 
privatisasi.

"Dengan pilar liberalisasi perdagangan dan investasi, negara tidak perlu 
membuat industri strategis dalam pengadaan alutsista," ujarnya.

Menurutnya, tidak masuk akal jika nyawa tentara kebanggaan Indonesia menjadi 
sangat sepele karena masalah anggaran yang terbatas.

Dradjad juga menyebut, pelaku usaha sebagai korban lain dari neoliberalisme. 
"Sulit sekali pelaku usaha dapatkan kredit dengan bunga rendah," ujarnya. Hal 
itu dikarenakan pada awal tahun ini, pemerintah telah menerbitkan SUN dalam 
dollar dengan yield 11,75 persen.

"Karena negara berani bayar dengan angka yield seperti itu, maka bank tidak 
berani bersaing dengan negara dan akibatnya bunganya harus lebih tinggi," 
ujarnya.

• VIVAnews 




      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke