Saya
berpendapat, blanket guarantee itu artinya semua masalah perbankan—kesulitan
cash flow, rugi, dan sebagainya—pada akhirnya ditanggung APBN. Ini artinya
ditanggung seluruh rakyat. Saya tidak mau kesalahan bankir-bankir itu
dibebankan ke rakyat. Itu menzalimi rakyat.

Yang ngotot itu Gubernur Bank
Indonesia dan Menteri Keuangan.

wassalam,
harman St.Idris

 
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/06/01/WAW/mbm.20090601.WAW130468.id.html
Jusuf
Kalla:
Jangan-jangan Mau
Mempermalukan Saya
DIA
punya kenangan tersendiri tentang kantor redaksi majalah Tempo. Lima tahun
lalu, sebelum pemilihan presiden, Ketua Umum Partai Golkar itu berkunjung, dan
ia terpilih menjadi wakil presiden—mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. 
Senin
pekan lalu, dengan pengawalan jauh lebih ketat dibanding lima tahun silam—meski
tetap longgar untuk ukuran wakil presiden—ia kembali bertandang ke kantor Tempo
di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. 
”Ruang
ini penuh berkah,” kata Jusuf Kalla, 67 tahun—calon presiden yang berpasangan
dengan Jenderal Purnawirawan Wiranto. Kali ini statusnya penantang Yudhoyono.
Didahului makan siang dengan menu biasa—nasi sayur asam, ayam goreng, ikan
bumbu pedas, dan tempe goreng—Jusuf Kalla satu jam lebih meladeni pertanyaan
tuan rumah. Petugas protokoler Istana Wakil Presiden awalnya meminta pertemuan
hanya diikuti belasan orang, tapi pada akhirnya ruang rapat redaksi, tempat
pertemuan digelar, sesak oleh awak redaksi Tempo. 
Kalla
didampingi Sekretaris Wakil Presiden Tursandi Alwi, juru bicara tim sukses
JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi, dan beberapa pendukungnya. Seperti biasa, Jusuf
Kalla menjawab pertanyaan dengan lugas, dan tanpa off the record. 
Mengapa
Anda memutuskan berpisah dengan SBY? 
Saya
sebenarnya siap berkoalisi lagi. Tiga kali saya bertemu SBY membicarakannya.
Beliau setuju, tapi dengan sejumlah syarat. Kalau melanjutkan koalisi, masa
perlu syarat-syarat lagi? Itu menandakan beliau mungkin mempunyai pandangan
lain. Itu hak beliau. Kami hormati. Jadi, kalau begitu, kami jalan sendiri
saja.
Apa
saja syaratnya?
Banyaklah.
Misalnya, calon yang diajukan bukan ketua umum partai. Secara tersirat,
sebenarnya beliau hanya ingin melanjutkan koalisi Demokrat-Golkar, bukan
SBY-JK. Calon yang diajukan juga harus loyal. Sebenarnya loyal tidak masalah,
tapi pada negara, bukan pribadi. Apa pernah saya tidak loyal?
Golkar
juga diminta mengajukan lima nama. Aneh, kalau memang mau melanjutkan koalisi,
mengapa minta lebih dari satu nama? Jangan-jangan ini mau mempermalukan saya.
Bagi Golkar, ini tidak sesuai dengan rapat pimpinan nasional yang telah
memutuskan satu nama.
Apa
yang Anda katakan ketika menyatakan berpisah?
Tidak
ada perpisahan resmi sebenarnya, karena memang begitulah politik. Tapi, ketika 
saya
serahkan surat resmi di Istana, kami berdua terharu. Sampai kita peluk-pelukan
berdua: kenapa akhirnya begini?
Slogan
kampanye Anda ”Lebih Cepat, Lebih Baik” membuat SBY tersinggung?
Ya,
katanya seperti itu. Padahal, yang saya maksud lebih cepat lebih baik bukan
masalah pribadi. Ini menyangkut kepemimpinan, pengelolaan bangsa, dan program
pemerintah. Bisa tercapai lebih cepat kan lebih baik? Jangankan negara, salat
pun lebih cepat lebih baik. Namanya politik, masa kita mau bilang ”lebih
lambat, lebih baik”? 
Saya
tidak pernah memperhatikan partai lain, saya selalu memperhatikan diri saya.
Jangan, dong, mengontrol apa yang mau kita bilang. Itu kan tidak bagus? Namanya
kampanye, kita harus jual yang terbaik, kan? Kita harus menjual solusi.
Itu
menohok SBY, yang dikenal lambat karena terlalu banyak pertimbangan....
Masing-masing
orang kan berbeda, kita maklum saja. 
Rapat
kenaikan BBM sampai perlu dilakukan 12 kali?
Ya,
mungkin dibutuhkan pertimbangan yang matang. Saya pikir itu gaya hati-hati yang
baik. Mungkin belum tentu efektif, tapi penuh kehati-hatian itu penting juga.
Dalam
beberapa kasus Anda berseberangan dengan Boediono, waktu itu Gubernur Bank
Indonesia. Misalnya soal blanket guarantee setelah muncul kasus Bank Century?
Saya
berpendapat, blanket guarantee itu artinya semua masalah perbankan—kesulitan
cash flow, rugi, dan sebagainya—pada akhirnya ditanggung APBN. Ini artinya
ditanggung seluruh rakyat. Saya tidak mau kesalahan bankir-bankir itu
dibebankan ke rakyat. Itu menzalimi rakyat.
Berdasarkan
pengalaman pada 1998, blanket guarantee itu justru merugikan, tidak memberikan
hal positif. Saya lalu kasih data, statistik, grafik, kepada Gubernur Bank
Indonesia dan Menteri Keuangan. Saya bilang tidak, karena bisa menimbulkan
krisis kedua. Semua negara yang memberikan blanket guarantee, seperti
Singapura, Malaysia, dan Thailand, pertumbuhan ekonominya minus.
Siapa
yang mengusulkan blanket guarantee?
Macam-macam,
Kadin, pihak perbankan, semua memberikan usulan. Yang ngotot itu Gubernur Bank
Indonesia dan Menteri Keuangan.
Sikap
SBY bagaimana?
Menteri
Keuangan mengatakan (sikapnya) sudah disetujui Presiden. Saya lalu setuju, tapi
hanya Rp 2 miliar. Itu bukan blanket guarantee, tapi jaminan perbankan. Kepada
Gubernur Bank Indonesia saya bilang, jangan seenaknya saja: mengawasi perbankan
tapi mengorbankan rakyat.
Apa
alasan Gubernur Bank Indonesia?
Katanya
untuk kestabilan moneter, agar perbankan jalan. Itu cara normatif: ciri-ciri
monetaris. Saya bilang tidak.
Bukankah
BI tidak perlu datang ke presiden?
Ini
menyangkut jaminan negara, artinya rakyat yang menjamin. Akibatnya, kita bisa
kekurangan anggaran pendidikan, kesehatan, perbaikan jalan. Sama seperti
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, rakyat harus menanggung 50 tahun.
Bisa
dibilang itu titik balik hubungan Anda dengan SBY?
Saya
tidak mengatakan itu. Tapi, untuk persoalan itu, saya memang keras sekali.
Sampai ada yang taruhan: siapa yang benar, Wakil Presiden atau yang lain.
Kenyataannya sampai sekarang perbankan tetap aman.
Direktur
Utama Bank Century dipenjarakan setelah itu?
Ya.
Saya juga yang memerintahkan agar dia ditangkap. Waktu itu Bank Indonesia
mengatakan tidak bisa karena tidak ada hukumnya. Saya bilang, mengapa tak bisa.
Polisi harus mencari (dasar) hukumnya.
Dalam
hal apa lagi perbedaan Anda dengan Boediono?
Dalam
banyak hal saya selalu ingin pemerintah itu mencari jalan. Menteri dan Wakil
Presiden kan harus memiliki target. Target itu harus diraih dengan segala
upaya. Kalau ada aturan yang tidak sesuai, aturannya yang diperbaiki, bukan
targetnya yang dihentikan. Nah, Pak Boediono itu taat aturan. Itu gaya eselon
dua atau kepala biro. Kalau menteri, seharusnya bikin terobosan.
Apakah
SBY tidak pernah menengahi perbedaan Anda dengan Boediono?
Secara
terbuka SBY tidak pernah memberikan pandangan.
Dalam
proyek monorel, Anda dan Boediono juga bertentangan?
Proyek
monorel itu proyek DKI yang diresmikan pada zaman Ibu Mega. Waktu itu Boediono
Menteri Keuangan, dan saya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Kemudian
proyek ini terbengkalai. Perusahaan private partnership tidak punya kemampuan
finansial. Mula-mula biayanya US$ 800 juta. Saya bilang itu kemahalan, bisa
turun jadi US$ 400 juta. 
Untuk
transportasi publik, pemerintah harus terlibat. Caranya dengan memberikan
jaminan untuk pemerintah DKI. Lalu DKI menjamin ke investor, itu harus punya
penumpang sekian. Karena mereka tak punya hak menjamin, Menteri Keuangan harus
menjaminnya. Jadi, Menteri Keuangan itu menjamin pemerintah DKI, bukan menjamin
swasta.
Bagaimana
soal listrik?
Kalau
kita tidak membangun pembangkit listrik dua tahun lalu, tahun ini Indonesia
gelap-gulita. Subsidinya bisa Rp 100 triliun karena memakai diesel. Saya dulu
bilang, bangun pembangkit listrik dengan batu bara. Listrik ini luar biasa,
dalam satu tahun bisa kembali modal. Subsidi untuk listrik Rp 80 triliun pada
1998. Dengan membangun senilai itu, subsidi langsung turun menjadi Rp 10
triliun. Tapi, karena tak punya uang, ya harus meminjam dulu dengan jaminan
negara. Itu tanda tangani saja, pembayarannya pasti tak akan (melewati masa)
jatuh tempo.
Waktu
itu dianggap menabrak undang-undang?
Bukan,
cuma keputusan presiden atau malah keputusan menteri. Saya bilang, ubah saja
aturannya. Dalam waktu satu hari, aturan berubah. Mereka yang menolak dulu
berpikir bahwa pemerintah jangan campur tangan. Semua diserahkan ke pasar.
Ciri
neoliberal?
Saya
tak bilang begitu, ya. Yang bilang itu Anda.
Anda
memang cepat, tapi keputusannya dianggap menguntungkan perusahaan-perusahaan
keluarga Anda?
Siapa?
Coba tunjukkan!
Bosowa
Energi dalam proyek listrik itu?
Bosowa
itu IPP (independent power producer alias pengembang listrik swasta). Itu siapa
saja boleh. Masa, bisa dibilang diskriminasi? Justru kita harus angkat topi
pada pengusaha yang mau mengambil risiko. Kita harus hormat pada kemenakan saya
yang mau ambil risiko itu. (Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla, memimpin Grup
Bosowa, yang berencana membangun pembangkit listrik di Sulawesi Selatan—Red.)
Bukaka
Teknik juga pernah menangani proyek menara listrik?
Itu
juga IPP, boleh-boleh saja, dong. Bukaka itu perusahaan pertama di Indonesia
yang mampu membuat menara listrik. Anda boleh bangga. Dulu menara listrik itu
diimpor, sekarang tidak. Garbarata (jembatan antara terminal dan pesawat) juga
begitu. Kalau kita bicara kemandirian, mestinya Bukaka dapat bintang.
Bisnis
mengandalkan pasokan informasi paling cepat. Bukankah perusahaan keluarga
diuntungkan dengan posisi Anda?
Apa
contohnya? Kalau khawatir tanpa contoh, kan tak enak?
Kasus
helikopter yang dulu hendak disewakan ke Badan Penanggulangan Pengungsi?
Helikopter
itu bukan milik pemerintah, milik sendiri. Masa, tidak boleh berdagang milik
sendiri?
Bisnis
keluarga Anda itu dikritik Boediono....
Coba
tunjukkan satu yang saya campuri. Jangan lupa, bisnis keluarga saya 95 persen
berurusan dengan masyarakat. Cuma 5 persen yang mungkin tender dengan
pemerintah.
Kalau
famili tidak boleh berbisnis lagi, itu bahaya sekali. Latar belakang saya
pengusaha, adik pengusaha, bapak pengusaha. Sama saja dengan Pak SBY: beliau
jenderal, bapaknya tentara, mertua tentara, adik tentara, anak juga tentara.
Kita tak bisa mengatakan itu kolusi atau nepotisme, kan?
Jadi,
apa batas keluarga pejabat bisa berbisnis?
Selama
tidak melanggar hukum. Selama dia mengikuti aturan tender. Jangan lupa,
informasi tentang tender itu terbuka sekali.
Kalau
Anda menang, apa yang akan berubah?
Kecepatan
dan pertumbuhannya. Kami sanggup mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen,
asalkan melaksanakan terobosan. Kita percepat infrastruktur, percepat proses
bisnis yang lambat.
Target
Anda berapa hari doing business?
Saya
sanggup 50 hari. Malaysia kan 30-an? Soal izin, terutama, kita percepat. Soal
kemampuan bank mempercepat kredit. Soal aturan, hukum, akan saya periksa dengan
detail. Dulu itu saya tangani, tapi kemudian dipindah ke Menteri Koordinator
Perekonomian.
Berapa
modal Anda jadi presiden?
Pada
2004 kami termasuk yang paling kecil biayanya, tapi bisa menang.
Berapa
sih dana minimum agar terpilih?
Ya,
tergantung. Sama saja dengan makan, kita bisa kenyang dengan nasi bungkus Rp 20
ribu, juga bisa tidak kenyang dengan makanan Jepang Rp 1 juta. Pada 2004 ,
total biaya yang kami keluarkan Rp 120 miliar. Sekarang dua kali lipatnyalah.
Itu karena semua mahal, termasuk iklan di media massa.
Kenapa
tidak memilih Prabowo yang kaya sebagai pasangan?
Kami
memilih yang cocok, bukan yang banyak uangnya. Lagi pula, beliau ingin jadi
presiden waktu itu.
Bagaimana
peluang Anda menjadi pemenang?
Ha-ha-ha....
Begini, terus terang saya surprise dengan dukungan satu minggu terakhir ini.
Banyak yang mengira pemilihan presiden itu penjumlahan suara hasil pemilu
legislatif. Ini keliru sekali. Pemilihan presiden itu soal figur. Mulai dari
leadership, track record, kemampuan, kaya, macam-macam. Ditambah faktor
politik, berapa partainya. Partai pun tidak semua loyal. Kami ini Pasangan
Nusantara, itu kan berarti kulturalnya melebar. Ditambah lagi hubungan-hubungan
keagamaan. Jadi, kami yakin mempunyai kemampuan.
Di
Golkar, Anda juga tidak didukung penuh. Misalnya Aburizal Bakrie menggelar 
pertemuan
membahas percepatan Musyawarah Nasional Golkar?
Saya
harus mengklarifikasi, tidak ada satu pun pembicaraan tentang musyawarah
nasional dalam pertemuan itu. Mereka hanya membahas solidaritas membantu
SBY-JK. Memang ada pihak yang berkampanye, nanti kalau diadakan musyawarah
nasional, dukung-dukunglah. Musyawarah nasional kira-kira November-Desember.
Anda
tidak melihat Aburizal, Akbar Tandjung, dan Agung Laksono yang dikenal sebagai
Trio Alpha ingin menggusur Anda?
Mau
trio-trio apalah, ya..., silakan aja. Kalau kami menang, mau apa mereka?
Alasan
mereka kan tidak mau Golkar menjadi oposisi nanti....
Kalau
kami menang, kan tidak menjadi oposisi? Itu salah pemikirannya, belum
bertanding sudah merasa kalah.
Suasana
kabinet sekarang seperti apa?
Sudah
agak lama tidak ada sidang kabinet.
Tidak
diundang lagi?
Kalau
di paripurna, saya diundang. Kalau yang terbatas, saya tidak tahu, cuma lihat
di koran. Namanya wakil kan terserah presidennya. Ndak usah maksa-maksa. Kalau
memang tidak boleh, ya sudah.
Apakah
tidak sebaiknya Anda nonaktif sebagai wakil presiden?
Saya
dipilih berdua oleh 70 juta orang. Kalau saya diangkat, boleh saja. Ini kan
dipilih, rakyat bisa marah kalau kami mundur.
Oke,
tolong jawab dalam kalimat singkat: mengapa JK-Wiranto layak dipilih?
Karena
dengan pengalaman, kami sanggup membuat bangsa ini menjadi lebih baik.
 
Jusuf Kalla Lahir: Watampone, Sulawesi Selatan, 15 Mei
1942 Pendidikan: Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar, 1967 | The
European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977)
Karier: 2004-2009: Wakil Presiden RI | 2001-2004: Menteri Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat | 1999-2000: Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI |
1968-2001: Direktur Utama NV Hadji Kalla | 1969-2001: Direktur Utama PT Bumi
Karsa | 1988-2001: Komisaris Utama PT Bukaka Teknik Utama | 1988-2001: Direktur
Utama PT Bumi Sarana Utama | 1993-2001: Direktur Utama PT Kalla Inti Karsa |
1995-2001: Komisaris Utama PT Bukaka Singtel International


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke