Ass.Wr.Wb,
Dunsanak di Rantau net, khususnya untuk JEPE,

Seputar Sinabang dan Layang-layang. 
Kalau berkisah  tentang Sinabang atau Simeleu di Aceh , takana pulo ambo jo  
kawan ambo namonyo Hardi, YS. Kini sedang menyelesaikan studi DOKTOR nya dalam 
bidang Kimia organik di Australia, Hardi adalah Dosen di Univ. Tadulako juga 
dan merupakan salah satu putra Sinabang keturunan Minangkabau yang fasih 
berbahasa Minang (leluhurnya dari Maninjau Agam).
.. 
Hardi ditugaskan pemerintah di Palu sejak tahun 2003, Sewaktu bencana Tsunami 
di Banda Aceh, beliau pulang ke Banda Aceh beserta istri dan anaknya kira-kira 
berumur 2 tahun untuk melihat  keluarga kondisi pasca Tsunami,  sekaligus juga 
bermaksud mau pamit pada keluarga di Sinabang, karena akan melanjutkan study di 
Australia. tapi begitulah "Malang Tak Dapat Do Tolak Mujur Tak dapat Diraih", 
sewaktu terjadi gempa susulan di Aceh termasuk di Simeleu, Istri dan putra 
Hardi wafat di bawah reruntuhan puing bangunan, sementara Hardy sendiri 
tersebut selamat, dan sekarang melanjutkan studinya di Australia.

Satantang jo  carito  Layang-layang, Masih kuat dalam pangana ambo, wakatu 
ketek Ambo acok mahabihkan wakatu bamain layang-layang di tanah kelahiran ambo 
di Labuah Basilang  Payokumbuah, Biasonyo kami main di Tanjuang, di sawah nan 
bahih di" sabik" jo di' Iriak"  Nan acok dimainkan kawan-kawan adolah  
"Layang-layang Maco" sarupo jo Maco Bada, biasonyo untuak Aduan, 
"Danguang-Danguang" babunyi badanguang, dan Layang2 Ikua Baikua (layang-layang 
darek)". 

Tapi dipatandingkan adolah layang-layang Darek nan baikua. biasonyo ikuanyo 
tabagi 2 pulo : "Ikua Papek"/ Rato dan Ikua Panjang". 
Tasabuik pulo banyak ragamnyo rakek layang-layang: Umpamo " Bondo, Gagak (warna 
kertas hitam semua), Kinantan sirah tandan (warna kertas putih, tandan merah), 
Cimporong, Murai, Sarasah, Banda, Salempang, Salendang, Bulan dimano pemberian 
namo iko berdasarkan "performace" karateh nan digunokan. Mungkin ado nan lain, 
silahkan ditambahkan?

Kok nan rancak iyo,, layang-layang "BINGKAI LAMO"nan tabuek dari "Samia" 
Batuang bekas penjemuaran tembakau.  "Sangaik Batuah" karano acok kali manang, 
biasanya  bingkainyo warna hitam karena disimpan di ateh "loteng rumah gadang"

Ado pasan mamak ambo mangatokan  "KOK INGIN  NAIAK DAN TINGGI SARUPOLAH  JO 
LAYANG-LAYANG HARUS MANANTANG ANGIN" . 

Apo makasuiknyo tu sanak JEPE

Wassalam,
Ramadhanil Pitopang      

--- Pada Sen, 1/6/09, Jupardi <[email protected]> menulis:

Dari: Jupardi <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] LAYANG-LAYANG MARAK SINABANG .. By : Jepe
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 1 Juni, 2009, 11:50 AM




 
 






LAYANG-LAYANG MARAK SINABANG 

By
: Jepe 

   

   

Masih seputar layang-layang, kali
ini saya bercerita sebuah pengalaman bermain layang-layang di Sinabang ibu kota
Kabupaten Simeulue-NAD ketika saya bekerja disebuah NGO Jerman dalam tugas
kemanusiaan membantu para masyarakat yang terkena korban tsunami dan gempa yang
dahsyat pada tanggal 26 Mei 2004 dalam proyek rehabilitasi dan rekoveri
perumahan masyarakat yang luluh lantak dengan bahan kontruksi perumahan
sederhana layak huni memakai kayu kelapa. Sebelum cerita layang-layang,  memang
tidak aneh lagi sebuah joke yang berkata, “Jika ada kehidupan di Bulan
tak pelak lagi orang Minang akan mengambil kapling disana” begitulah jiwa
merantau orang Minang kemanapun didelapan penjuru mata angin ini akan
dijelajahi oleh suku kita ini baik untuk mencari ilmu, berdagang dan bekerja
diberbagai sektor . 

   

Sangat mudah kita temui dan mungkin
cukup banyak orang Minang yang berada di Sinabang bahkan telah berakar beurat
dengan anak cucu mereka berada di Ibu Kota Kabupaten Simeulue ini, rata-rata
mereka berasal dari Pariaman.Perantau Minang lazimnya berusaha dan mencari
hidup disanarata-rata sebagai pedagang  apakah rumah makan atau kedai kebutuhan
sehari-hari, ada juga yang menjadi nelayan dan bekerja di kantor-kantor
pemerintah (PNS). Bahkan bahasa sehari-hari atau bahasa pergaulan di Sinabang
rada-rada bahasa Minang pasaran yang mudah kita pahami bercampur dengan bahasa
daerah Simeulue, khusus di Sinabang jika kita berbahasa Minang maka rata-rata
penduduk Sinabang paham apa yang kita maksud. Karena keterikatan secara
emosional dalam agama mayoritas (99 % Islam kecuali pendatang semisal dari
Pulau Nias atau Batak Kristen) dianut penduduk Simeulue adalah Islam (99 % 
kecuali pendatang semisal dari Pulau Nias atau Batak Kristen).  Perantau Minang
sangat mudah beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk tempatan. Bukan hal
yang aneh lagi jika para perantau Minang mendapatkan jodoh dengan penduduk
Simeulue dan diacara pesta pernikahan disamping adat penduduk setempat yang
hampir mirip dengan adat-adat pesta kebanyakan daerah pesisir di ranah kita
seperti Pariaman, pakaian kedua pengantinnya juga sangat kental dengan pakaian
adat Minang pesisir begitu juga tata acara secara adat mulai saat berunding,
uang jemputan dan lain sebagainya.Itulah sekilas tentang orang awak di
Sinabang. 

   

Nah diakhir pekan saya disamping
memancing di laut dangkal berkarang, tidak lupa juga saya larut dengan penduduk
tempatan bermain layang-layang, apalagi ketika peringatan 17 Agustusan sudah
dipastikan ada lomba layang-layang puncaknya menyediakan hadiah kerbau, oh ya
di Simeulue ini sangat banyak ternak Kerbau masyarakat dan ini menjadi status
social di masayarakt Simeulue, jika satu kaum mempunyai banyak kerbau maka naik
jugalah status sosialnya dimata masyarakat. Setiap ada perhelatan baik pesta
perkawinan atau acara-acara adat lainnya tidak lengkap rasanya jika tidak
membantai kerbau. Setiap hari raya I’dul Korban maka rata-rata yang
disembelih adalah kerbau. 

   

Layang-layang Marak, begitu
masyarakat menyebut jenis layang-layang yang sering dimainkan setiap sore atau
dalam acara lomba 17 Agustusan dilapangan terbuka. Tidak jauh berbeda atau 
malah persis bentuknya dengan layang-layang Darek di ranah minang,  perbedaan
layang-layang marak ini tidak dikasih ekor, pantat (Minang: Tandan)
layang-layang ini yang berbentuk segi tiga sama kaki dibiarkan begitu saja
tanpa diberi ekor baik yang pendek maupun yang panjang lazimnya layang-layang
darek diranah minang. Pada ujungnya (kepala) layang ini dikasih rambu-rambu
warna warni menarik dan bunyio dengungan dari karet dan bilah yang dibuat
sedemikian rupa ketika ditiup angin diudara maka dia akan bergetar dan
mengeluarkan bunyi dengungan.Lombanya hampir sama kriterianya dengan lomba
layang-layang darek di ranah minang intinya siapa paling tinggi saat juri
berkata TAHAN.  Layang-layang akan “tagak Tali” sampai ketinggian
maksimal sesuai dengan “kehebatan”  layang-layang marak yang dibuat
oleh tangan yang ah;I dengan  penuh perhitungan keseimbangan dan
prinsip-prinsip aerodinamika yang hanya berdasarkan kehalusan jiwa serta
pengalaman yang panjang saja bagaimana membuat layang marak yang siap menjadi
juara.  

   

Layang Marak ini memang tidak
seindah layang-layang darek kita yang berlenggang lenggok diudara dengan ekor
pendek dan panjangnya berjuntai, tapi lenggang lengkok tanpa ekor dan bunyinya
sangat menarik juga disaksikan diudara. Saya dulu mempunyai dua buah layang
marak yang saya pesan khusus pada penduduk lokal yang pintar membuat
layang-layang marak ini. Jika ada kesempatan setiap sore ketika angin cukup
saya ikut bergabung dengan penduduk lainnya bermain layang-layang marak apakah
dipinggir pantai atau dilapangan terbuka disekitar Sinabang, boleh dikatakan
jika musim layang-layang marak maka langit Sinabang begitu marak berwana warni
dengan lenggang-lenggok serta dengungan layang marak. 

   

Ketika layang-layang marak saya
membubung keangkasa, saya lalu larut dalam suasana dan suka membayangkan dan
kadang-kadang membuat hati saya begitu sedih dan rindu pada anak-anak dan istri
saya yang berada di Pekanbaru yang begitu sangat jauh dari Sinabang. Dalam hati
saya hanya bisa berteriak,  

   

“wahai layang-layang Marak ku
yang sedang terbang tinggi sampaikanlah salam rindu, sayang dan cinta buat
anak-anak dan istri saya nun jauh disana, apakah diketinggian itu kau bisa
menatap jauh ke Pekanbaru..kau lihatkah anak-anakku sedang sekolah atau bermain
dihalaman rumahku, kau lihatkah istri ku lagi memasak atau sekedar menangangkat
jemuran dihalaman rumah dan apakah kau bisa menatap istriku lagi hamil berat
anak keempat kami yang kami dambakan seorang laki-laki..bisakah kau menjawab
layang-layang marak ku yang terbang tinggi yang kau sampaikan melalui getaran
benang yang aku pegang..ini,  

   

Ahhh..terlalu susah memang
menyembunyikan perasaan rindu jika jauh bekerja sama keluarga, tapi rinduku
paling tidak sedikit bisa ditekan dengan memainkan layang-layang Marak
Sinabang. 

   

Pekanbaru, 1 Juni 2009 

   

   

   






 






      Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di 
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke