Gunung Padang bukan saja tersohor dengan kuburan Siti Nurbaya, tapi juga
benteng dan meriam peninggalan Jepang. Bagaimana riwayat situs bersejarah
itu kini? Siang itu, panas matahari begitu terik. Jika bukan warga kampung
itu, mendaki Gunung Padang di paneh garang, cukup membuat napas ngos-ngosan.
Selama pendakian, keringat mengucur deras. Tidak sadar,  begitu sampai di
puncak, baju ini telah kuyup mandi keringat.   

Namun, rasa lelah sirna sekejap, menyaksikan indahnya keelokan alam dari
"atap" Padang. Hamparan laut membentang, dengan gugusan pulau, menyejukkan
mata memandang. Suasana puncak Gunung Padang, seakan membawa Anda berkelana
ke tempoe doeloe. Sebuah benteng dan meriam, seolah menjadi prasasti betapa
Padang termasuk kota kuno. Sayangnya, situs itu tak terawat, lapuk dimakan
zaman. Meriam bersejarah yang sedianya menjelma menjadi magnet wisatawan,
kini hanya tinggal impian. Dipromosikan pun tidak, apalagi dijual ke
seantero negeri.  

Di sana, terdapat enam unit benteng peninggalan Jepang, dan satu unit
meriam. Keenam benteng tersebut dibangun sekitar 1943, di zaman penjajahan
Jepang. Benteng itu pula, menjadi saksi bisu romusha (kerja paksa) di Kota
Padang. Namun, tak satu pun warga setempat tahu, dari mana tenaga romusha
itu didatangkan. Sebab, ketika pembangunan benteng dilakukan, Gunung Padang
menjadi tempat tertutup bagi masyarakat sekitar. Bentuknya unik. Atapnya
terbuat dari semen. Sebagian berbentuk petak, sebagian lagi bundar, dengan
tinggi 1-2 meter. Di dalamnya, terdapat ruangan dengan luas 1 hingga 3
meter, serta mempunyai kamar.

Kamar tersebut digunakan untuk menyimpan senjata dan peristirahatan serdadu
Jepang, kala itu. Ketika Padang Ekspres memasuki benteng Jepang tersebut,
terasa suasana magis. Seolah-olah ada penghuni gaib di setiap lorong benteng
Jepang, apalagi ditambah suasana pengap dan dan lembab di dalamnya. Ya,
membuat bulu roma merinding. Satu unit meriam lainnya di Gunung Padang,
mempunyai panjang 7 meter dengan ketebalan 17 cm, buatan Inggris tahun 1940.

Meriam tersebut tertancap kokoh di basement (lantai dasar) dengan posisi
moncong mengarah ke laut. Seolah-oleh meriam tersebut siap menembaki
sasarannya perairan Samudera Hindia kala itu.  Menurut Syahbudin, 70,
penjaga meriam menceritakan, sekitar 1965, meriam tersebut masih aktif, dan
seluruh peralatannya lengkap. Saat itu, meriam ini masih bisa berputar ke
sejumlah sudut dengan baik. Karena tak ada perawatan, ditambah tangan jahil
yang mencuri sebagian besi meriam untuk dijual, lengkap sudah
"penderitaannya".

"Ayah mertua saya mengatakan, meriam ini belum ada satu kali pun digunakan
tentara Jepang. Sebab, ketika pembangunan benteng baru selesai tahun 1945,
Jepang kalah perang oleh Sekutu. Sehingga benteng dan meriam yang telah
dikerjakannya dengan menggunakan tenaga romusha, ditinggal begitu saja,"
tuturnya. Ditambahkan Syahbuddin, perawatan pemerintah terhadap benteng dan
meriam dilakukan saat pengembangan Gunung Padang sebagai kawasan wisata dan
pembuatan film Siti Nurbaya tahun 1986-1987.

"Setelah itu, Pemko tidak ada lagi merevitalisasi secara menyeluruh, kecuali
pengapuran tahun 1990," tukasnya.  Masyarakat setempat pernah mengajukan
proposal kepada Pemko membersihkan moncong meriam dan benteng, namun hingga
kini belum ditanggapi. "Sangat disayangkan kalau situs sejarah ini, lapuk
dimakan usia," pungkasnya. (cr12)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/37325/105/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke