Terima kasih penjelasannya Pak.. paling tidak sudah ada counter dari kader PKS, jadinya cukup berimbang bukan ? biar kita menilai mana yang lebih masuk akal dan layak dipercaya Mengenai artis dangdut kata suamiku gambar artis dangdut yang sedang berjoget (silahkan klik link kemarin) kemungkinan berlangsung di padang karena jelas terlihat ada gambar wakil walikota padang di backgroundnya. Mungkin dangdutan ini di lakukan ketika kampanye pemilihan walikota dulu...Padang bo'... regards sari
--- Pada Kam, 4/6/09, Ronald P Putra <[email protected]> menulis: Dari: Ronald P Putra <[email protected]> Topik: [...@ntau-net] Re: FYI: Menakar Kekuatan Politik PKS Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 4 Juni, 2009, 4:21 AM Karena sanak kita bertanya ttg benar tidaknya, maka saya mencoba menjawab. Mohon ma'af saya tidak kuduang dgn maksud ada ketersambungan cerita, dan ini bukan utk diperdebatkan karena saya hanya akan menjawab sekali ini saja dan tidak akan diperpanjang. Semoga bermanfa'at... Mengomentari tulisan Fathuddin Ja’far, MA ini mengingatkan saya thp beberapa tulisan senada menjelang pileg yg lalu. Saya rada agak susah mengkaunter dgn data akurat thp tulisan dibawah karena kandungan subjektifnya sangat dominan sekali, sementara sebuah tulisan dikatakan ilmiah dan debatable jika kandungannya benar-benar objektif. Ini terlihat dari penggunaan kata "tercium", "mendengar selentingan", "mengukur keikhlasan beramal (padahal itu hanya mutlak urusan Allah)", "carut marut dan keropos (tanpa ada bukti yg jelas apa siapa dan bgmn)", adalah bukti bahwa tulisan ini minim dari data kuantitatif. Tak terukur sama sekali. Sayang, dengan gelar MA, Fathuddin Ja’far tidak bisa menjadikan tulisannya menjadi sesuatu yg ilmiah dan teruji secara angka dan data. Sayang sekali, padahal kalau ada data lengkap, kan bisa di konfrontir... Coba, bagaimana mau mengkonfrontir "tercium" "selentingan" "ukuran keikhlasan", dll ? Materi yg disampaikanpun terlalu gemuk, semua ditampilkan, berkonotasi negatif dan tidak ada ruang sedikitpun utk hal yg positif. Padahal, kalau dikatakan sebuah analisa, harusnya berimbang data yg disampaikan antara negatif dan positifnya. Sering kita lihat pada resensi-resensi yg ditulis atas sebuah buku, atau film misalnya. Disamping menyampaikan kelemahan-kelemahan, penulis juga memberikan beberapa masukan yg positif. Beberapa hal yg ingin saya kaunter antara lain: - mengatakan internal PKS dgn carut marut dan keropos, kayaknya jauh panggang dari api. Karena, satu-satunya partai yg tidak pernah ada konflik internal dan perebutan kekuasaan didalamnya, hanya PKS. Bahkan PAN yg terlahir dari Bpk Reformasi pun tdk lepas dari intrik yg melahirkan PMB. Saya tdk tahu nanti bagaimana dgn Sutrisno Bachir, apakah akan bikin partai baru atau cukup mundur saja. Sebutkanlah barisan parpol lain dengan segala intrik didalamnya bahkan sampai bikin partai sempalan/tandingan, dan kita akan menemukan bahwa PKS tidak ada dalam barisan itu. - Sapto Waluyo, dalam tulisannya di surat kabar nasional, hanya mengkritisi cara berkomunikasi para elit partai yg tidak terkoordinasi dgn baik. Satu ngomong ini, satu yg lain ngomong itu sehingga konstituen jadi bingung. Ini yg dikritisi Sapto Waluyo. Tapi sdr Fathuddin Ja’far menggereknya ke arah lebih dalam seakan-akan Sapto Waluyo sependapat dgn dia akan hal-hal negatif yg dikemukakan dalam tulisannya. Ini persis spt apa yg terjadi pada buku Islam Illusi yg dikeluarkan oleh Jaringan Liberal, dimana kemudian org-org yg namanya dicantumkan sbg peneliti di dlm buku tersebut, memprotes bahwa mrk tdk pernah melakukan penyelidikan sedemikian rupa dan tidak pernah di ajak berunding utk membicarakan methodology penelitian. - Suara PKS turun karena tidak disukai ? Fakta mengatakan bahwa dari semua parpol lama yg ikut pemilu, maka hanya dua parpol yg suaranya naik: PD dan PKS. Saya malah berani mengatakan bahwa pemenang pemilu bukan PD, tapi SBY dan PKS. Karena pilihan masy. thp PD lebih karena faktor SBY, berbeda dgn pilihan masy. thp PKS. Ternyata ada lebih dari 8 juta masy. yg bisa memahami pilihan pilihan kebijakan politik yg dilakukan elit PKS, dan delapan juta bukan angka yg sedikit ! - Penyanyi dangdut ? bahkan media yg antipati pada PKS pun belum pernah menelurkan berita bahwa dalam kampanye PKS ada penyanyi dangdut berjoget ria di atasnya, dimana sdr Fathuddin Ja’far mendapatkan berita ini ? kenapa tidak disebutkan sekalian sumber beritanya ? - 10 tahun dan PKS tdk pernah melakukan reformasi apapun ? sejarah mencatat bahwa anggota dewan di daerah-daerah dan pusat yg paling garang melawan korupsi adalah alegnya PK/PKS dan sejarah juga mencatat bahwa dari hanya sekian gelintir aleg PK/PKS, ternyata dana grafitasi dan uang-uang yg tdk tahu juntrungannya, yg mereka kembalikan ke kas negara adalah jauh lebih besar dari partai yg punya aleg puluhan/ratusan di dewan pusat dan ribuan di total dewan daerah. Bisa saja kita paparkan lebih jauh ttg peran mrk dalam menelurkan UU yg berpihak pd umat Islam dan UU yg menjegal penguasaan ekonomi oleh asing. Seorang penulis, tdk seharusnya mengangkangi sejarah dan data. - partai Islam lainpun memiliki Majelis syura, dan keputusan ada pada majelis syura tersebut. PKS secara berkala melakukan Pemilihan Raya (pemira) utk memilih para kadernya utk duduk di Majelis Syura tersebut, Mereka beranggotakan 99 orang dari total 33 provinsi dan saat ini diketuai oleh Ust. Hilmi Aminuddin. Keputusan Partai ada pada Majelis Syura ini, bukan pada komentar-komentar para elit PKS. - pengungkapan mengenai uang-uang haram dalam kampanye pun tidak jelas pada kasus apa dan dimana. Kita bisa check di pengadilan mana yg menyidangkan uang-uang haram kampanye PKS, sampai saat ini belum ada. Dan beberapa hal lain yg sebenarnya dengan sangat mudah di jawab krn tulisan sdr Fathuddin Ja’far bertentangan dgn sejarah. Bagi saya, yg sampai saat ini masih simpati pada PKS, mencoba memahami bahwa ketika para Jama'ah Tarbiyah dikampus-kampus dan dilembaga-lembaga Islam pd th 80-an memutuskan untuk mendirikan partai politik sebagai hasil dari sebuah referendum, maka jalan yg ditempuh selanjutnya akan penuh onak dan duri. Sejak awal berdiri (PK) sampai sekarang, beragam dukungan dan kritik telah diterima oleh para kader dan elitnya, semuanya dijadikan sebagai motivator utk memperbaiki diri dan partai untuk menjadi lebih baik ke depannya. Tidak bisa dipungkiri, pro dan kontra adalah hal keseharian dari sebuah partai politik, bukan hanya PKS. Kenapa ? karena tidak semua orang memiliki akses yg luas atas proses perumusan kebijakan politik dari sebuah partai politik. Tidak semua keputusan politik, latar belakang pengambilan keputusan tsb, tmsk strategi yg melekat di dalamnya bisa dan harus disosialisasikan kepada simpatisan atau masyarakat banyak. Bukan berpolitik namanya kalau begitu. Sehingga wajar kemudian ada yg nggak paham, nggak ngerti, bingung, atau malah bisa memakluminya, dlsbnya. Itu sesuatu yg sangat-sangat wajar saya kira. Karena jika semua masyarakat sudah setuju dan sejalan dgn segala kebijakan suatu parpol dan tidak satupun muncul kritik, maka, buat apalagi ada parpol ? karena otomatis apa yg menjadi visi dan misi dari parpol tsb sudah tercapai. Tatanan Masyarakat yg diharapkan sudah terbentuk, berarti tugas sudah selesai. Terakhir, Allah SWT memberi kita hati, akal dan pikiran. Dengan itu kita bisa membaca tanda-tanda zaman dan perilaku keseharian para tokoh parpol. Dengan itu kita bisa membuat pilihan pilihan yg masuk dalam rasio akal dan tentram di dalam hati. Sejarah mancatat bahwa, ketika para Sahabat Nabi ingin mengetahui perilaku keseharian seseorang, mereka berbaur dengan mereka bahkan menginap di rumah mereka utk mendapatkan informasi yg utuh. Demikian juga halnya dgn para tokoh parpol saat ini, kita tdk perlu dengan mudah mempercayai berbagai macam tulisan negatif atau positif sekalipun. Kita cukup memperhatikan tindak tanduk para kader atau tokoh tersebut di lingkungan kita. Bagaimana keseharian mereka, thp keluarga dan masyarakat, sholat di masjid atau tidak, dll parameter yg bisa kita pakai. Dgn demikian, kita bisa lebih objektif dan lebih adil dalam bersikap. Saya pribadi lebih memilih cara "on the spot" ini dari pada membaca berbagai macam tulisan ttg mrk, krn lebih real dan nyata. Mohon ma'af jika kepanjangan dan bagi yg tdk berkenan, saya hanya ingin meluruskan sesuatu yg saya rasa menyimpang dan tidak adil. Dan saya bisa mempertanggung jawabkan tulisan saya ini dihadapan sanak semua dan dihadapan Allah SWT kelak dikemudian hari. wassalamu'alaikum, Ronald P Putra, 37th Depok Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya. http://id.mail.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
