Nasip persepak bolaan di Ranah, dari ma lo ka bisa Juara?? Dari tampek tingga sajo ndak beres.. apolai gaji, dan latihan... --------------------
Senin, 08 June 2009 Sewa Kontrakan Habis PADANG-SINGGALANG --Sejak pemerintah melarang dana APBD dikucurkan bagi klub sepakbola, klub-klub perserikatan di Indonesia hidupnya kembang kempis. Sudah banyak klub yang bubar. Sementara di Padang, pemain PSP harus angkat kaki dari mess. Penyebabnya, tak ada lagi uang membayar kontrakan. Pemain PSP Padang yang tinggal di mess, harus angkat kaki, karena masa kontrak sudah habis pada Minggu (7/6). Pemain lokal bisa pulang ke rumah mandehnya, tapi pemain asing kini kalangkabut. "Semua masalah soal PSP akan kita atasi, gaji dibayar, mess kita carikan, PSP milik bersama, bukan hanya milik Padang tapi juga Ranah Minang," kata Walikota Padang, Fauzi Bahar tadi malam. Menurut dia, "barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang,". Di mata Fauzi, beban berat PSP, seharusnya disikapi sama tatkala kesebelasan ini berjaya. "Kita bangga saat mereka menang, seharusnya kita sama-sama memikirkan jalan keluar ketika ada masalah," pintanya. Ia ingin bolakaki di Padang maju pesat, seperti juga bidang lainnya. "PSP didirikan oleh para senior kita dengan semangat yang tinggi, tidak saatnya kita mencaci-maki pengurus, karena ini masalah kita bersama, beri kami masukan," katanya lagi. " Memang, rumah itu hanya untuk setahun, satu musim kompetisi, nanti dicarikan jalan keluar kompetisi berikut," kata Pj Ketua PSP Deno Indra Firmansyah tadi malam. Rp20 juta setahun Memang dari pantauan Singgalang sejak kemarin beberapa pemain lokal PSP yang masih menghuni mess tim telah 'terusir' di rumah yang dipergunakan untuk menginap pemain selama musim kompetisi Divisi Utama 2008/2009. Rumah kontrakan ini berada di Jalan Ombilin No 15 Padang. Rumah itu disewa hanya selama satu tahun sebesar Rp20 juta. Tiga 3 pemain asing masih bisa diberi waktu oleh pemilih rumah. Itu pun, hanya untuk dua hari saja. Pemain asing itu Daniel Ogochukwu Nwankwo (Nigeria), Cisse Mamaodou (Guenia) dan Wandjou Olivier (Kamerun). Sementara satu legiun asing lainnya Noah Romuald (Kamerun) dikabarkan telah ke Jakarta beberapa hari lalu. "Kami telah diminta untuk mengosongkan rumah ini. Bagi kami sah-sah saja karena bisa kembali ke rumah orang tua, tapi tiga pemain asing bagaimana," kata Jumaidi Rais. Tadi malam beberapa pemain lokal masih mencari rumah dan berencana menumpang sementara di rumah teman-temannya. Seperti Alwis Docos. Anak Malalo itu berencana untuk sementara terpaksa menumpang di rumah temannya jelang dapat rumah kos. "Rencana saya untuk sementara menumpang dulu ke tempat teman. Menjelang tempat kos didapatkan," kata bek kanan PSP itu. Disebutkan Docos, untuk pemain asing pemilik rumah masih memberikan toleransi selama dua hari. "Awalnya pemain asing ditempatkan di salah satu kamar di sisi belakang, tapi pemain asing mambana ke punya rumah maka diberi kamar di depan yang biasanya mereka tempati. Tapi itu hanya selama dua hari saja," tutur Docos kepada Singgalang tadi malam. Begitu juga dengan Yusra Antoni dan Rivelino. "Saya kembali ke tempat kos lama saya. Itu pun kalau masih ada yang kosong," ujar anak Matur, Kabupaten Agam itu. Sedangkan Rivelino kabarnya akan menumpang di rumah orang tua Fajar Subrata yang juga teman satu timnya di PSP. Ditambahkan Yusra Antoni, pemilik rumah marah karena aliran PAM ke rumah itu diputus. Akibat menunggak sekitar 9 bulan. Belum lagi, rekening listrik pun beberapa bulan menunggak. Kata pemilik rumah PSP harus bertanggungjawab soal pemutusan aliran PAM itu, begitu juga dengan tunggakan listrik. Melihat kondisi pemain PSP itu semakin lengkap penderitaan. Padahal hak atau gaji mereka sebagai pemain yang diikat dengan perjanjian kontrak masih ada sekitar 5 bulan lebih lagi. Terusir dari mess, merupakan puncak dari berbagai persoalan yang dihadapi pemain PSP selama berlaga di Divisi Utama. Penderitaan yang dialami pemain sebelumnya, pernah terlunta-lunta di Bandara Cengkareng, Banten selama 7 jam gara-gara tak punya uang untuk membeli tiket ke Padang. Selama putaran kedua Divisi Utama, pemain Pandeka Minang (julukan PSP) hanya diberi nasi bungkus. Sementara tim profesional lain di Indonesia, tiap hari makan dihidangkan dan dikelola perusahaan catering. 102 http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=1990 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
