IKAN GABUS, SAYA, SAHABAT DAN IBU SAYA

By : Jepe

 

 

Minggu kemaren  saya berjumpa dengan Prof  dr H. K Suheimi, SpOG atau
akrab saya panggil Pak Emi di lantai 6 RS PMC yang sekaligus tempat
kediaman beliau. Seperti biasa diakhir pekan minggu kedua  setiap
bulannya kami berkumpul untuk menumpah ruahkan  dan mengekpresikan jiwa
seni yang kami miliki sebut saja bernyanyi, menari dan berpantun.
Silahkan "suka-suka" bernyanyi diiringi dengan organ tunggal tanpa rasa
malu intinya kami bersuka ria sejenak melepas ketegangan serta kesibukan
kerja masing-masing yang mendera setiap harinya. Selepas menyanyi
silahkan menari apakah membawakan tarian indang bersama-sama atau
sekedar ber  chaca ria suka-suka dengan istri masing-masing mengikuti
gerakan dari kawan kami yang pintar membawa aneka tarian.

 

Disela-sela berkesenian tersebut saat rehat sejenak saya terlibat
diskusi yang sangat menarik dengan Pak Emi seputar ikan gabus, intinya
Pak Emi begitu antusias bercerita tentang ikan "primitive" ini apa dan
bagaimana terutama segala manfaat dari ikan gabus yang sangat luar biasa
bagi dunia kesehatan. Pak Emi menuangkannya dalam sebuah tulisan yang
menarik dan perlu dibaca untuk menambah wawasan kita terutama hal-hal
yang menyangkut ikan gabus di dunia kedokteran. Saya tidak perlu
jelaskan lagi seputar manfaat ikan gabus ini karena Pak Emi dalam
tulisannya yang berjudul "Ikan Gabus Hama ?" dengan bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami menerangkan seputar ikan gabus ini mulai
dari kandungan protein ikan gabus yang tinggi dan bermutu,  sebagai
sumber ekstrak albumin yang bermanfaat bagi dunia kedokteran sampai
segala manfaat dan faedah yang terkandung dari ikan gabus buat kesehatan
ibu hamil serta anak-anak atau balita.

 

Pak Emi lalu bertanya pada saya intinya "Anda punya pengalaman menarik
seputar Ikan Gabus Andi, memang saya telah baca komentar anda di rantau
net terhadap tulisan saya dan sangat menarik sekali cara-cara anda
menangkap ikan gabus di alam bebas, bisa anda ceritakan atau tulis lagi
jika ada pengalaman lain seputar ikan gabus ini". Atas pertanyaan Pak
Emi yang penuh tantangan ini pikiran saya lansung melayang pada masa
anak, remaja di Air Tawar serta disaat survey di hutan terutama
hutan-hutan gambut yang selalu berair di Riau. Ikan gabus atau dalam
bahasa Minangnya disebut Ikan Bakok atau Rutiang bukan sesuatu yang
asing lagi bagi saya pada masa-masa tersebut boleh dikatakan sudah
menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya.

 

Sebelum saya bercerita tentang ikan gabus dimasa anak-anak dan remaja,
jika ingat ikan ini saya ingat pada seorang sahabat saya, namanya Harwo,
Ia adalah seorang sarjana kehutanan UGM  warga keturunan cina yang telah
berakar berurat menjadi penduduk kota Pekanbaru. Kami dulunya sama-sama
bekerja disebuah perusahaan industri kehutanan yang cukup ternama di
Riau ini dan mempunyai hobi dan "kegilaan" yang sama yaitu memancing,
tiada hari diakhir pekan kami lewati untuk memancing disungai-sungai
besar di Riau sebut saja sungai Kampar dan Sungai Siak. Sahabat saya ini
bahkan "bela-belain" membeli sebuah kapal kayu bermesin diesel merek
dong peng dikenal juga dengan sebutan "Pong Pong"  yang diparkir
ditepian sungai siak berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya di jalan
tanjung Medang. Pong pong inilah kendaraan kami menyusuri hulu sungai
Siak untuk memuaskan dahaga hobi kami memancing ikan-ikan khas sungai
Siak sebut saja baung, silais, juaro, tapa, gesoh termasuk juga ikan
gabus diseputar rawa-rawa bibir sungai Siak.

 

Tentang Ikan Gabus  sahabat saya yang telah pindah ke Jogja ini
bercerita pada saya bahwa dia sebagai orang Cina begitu yakin akan
manfaat yang luar biasa dari protein yang dikandung dalam ikan tersebut.
Bagi sahabat saya ini ikan gabus boleh dikatakan menu utama bagi
anak-anak yang balita, hampir tiap hari istrinya jika berbelanja ke
pasar tradisonal (seputar pasar bawah Pekanbaru) mencari ikan gabus ini.
Harwo bercerita pada saya ikan gabus ini sebagai campuran nasi tim buat
anaknya yang masih balita. Ikan gabus tersebut setelah dibersihkan untuk
menghilangkan amisnya dikukus (steam) atau direbus dengan air dicampur
sedikit bawang putih yang dihaluskan dan serta garam halus yang
berkualitas, setelah matang daging ikan gabus dipisahkan dari tulangnya
lalu dicampur bersama nasi tim buat anaknya. Sahabat saya ini juga
bercerita betapa "hebat" segala manfaat dari kadar protein yang
dikandung ikan gabus ini terutama buat perkembangan otak anaknya yang
balita, faktanya terlepas dari factor genetic orang tua anak-anak
sahabat saya ini yang sejak balita konsumsi ikan gabusnya cukup tinggi 2
orang  anaknya pintar-pintar dan selalu menjadi juara satu di tingkat SD
sebelum kami berpisah disamping itu anak-anaknya  mempunyai bakat seni
yang hebat diusia anak-anak seperti bermain piano dan biola serta
melukis intinya apapun les-les tambahan diluar sekolah anak sahabat saya
ini selalu dapat menyerap dan menangkapnya dengan kemampuan olah pikir
yang mumpuni (cerdas).

 

Pengalaman sahabat saya ini tentunya menjadi guru yang baik juga bagi
saya, sayapun menceritakan pada istri saya manfaat ikan gabus buat
perkembangan otak balita, walau tidak rutin tiap hari paling tidak dua
kali seminggu nasi tim buat anak-anak saya yang berusia balita kami
campur daging gabus ala sahabat saya ini dan satu hal lagi yang banyak
mamanfaatnya bagi perkembangan otak balita adalah daging belut., hampir
sama dengan daging ikan gabus cara membuatnya menjadi nasi tim dan ini
menjadi santapan rutin juga bagi anak sahabat saya ini yaitu nasi tim
ikan gabus dan belut.

 

Ingat ikan gabus tentunya saya akan mengenang Ibu saya dimasa saya kecil
dan remaja bersamanya di Air Tawar Padang. Ikan gabus hasil tangkapan
saya dialam terbuka seperti kolam (Minang : Tabek), rawa-rawa liar
(alami) serta di parit-parit diseputar rumah saya ketika itu masih
banyak terdapat rawa-rawa dengan tumbuhan yang dominant rumbia serta
mansiang menjadi menu kami sehari-hari. Apalagi disaat musim hujan dan
banjir maka ikan gabus ini keluar dari sarangnya pada malam hari
berpindah dari suatu tempat ketempat lain.Ikan ini bergerak bahkan
melintasi jalan yang tergenang air disaat banjir yang mulai surut
makanya salah satu cara saya bersama teman-teman untuk mendapatkan ikan
gabus ini selain dari hasil pancingan adalah dengan jalan "Mancatuak". 

 

Apa itu "mancatuak", malam hari selepas Magrib berbekal lampu petromak
(Minang : Strongkeng) dan parang/ladiang kami menyusuri parit-parit
kecil, tali air sepanjang jalan, rawa-rawa dangkal yang tercipta saat
musim hujan. Ikan-ikan gabus yang berseliweran pindah serta bergerak
dari suatu tempat ketempat pada malam hari inilah yang kami "catuak"
(tebas)  dengan parang. Ikan gabus ini jika terkena cahaya lampu
petromak dalam kegelapan malam dia akan diam terpaku tidak bergerak lalu
salah satu dari teman saya mendatangi pelan-pelan dengan timing yang pas
saat berada pada jangkauan ayunan maka ikan ini ditebasnya dengan parang
tanpa ampun,  jika sasarannya tepat ikan gabus ini terbelah dua badan
dan kepalanya lalu salah seorang dari teman kami menangguknya agar tidak
hanyut dibawa air ikan yang terbelah ini. Ikan-ikan gabus dari hasil
"mancatuak" ini kami masukan kedalam ember, lalu kami terus bergerak
mencari ikan gabus lainnya sampai jam 11 malam. 

 

Setelah mendapatkan hasil yang banyak lalu kami bagi-bagi untuk dibawa
pulang kerumah masing-masing. Nah ibu saya tentu telah siap buat
keesokan harinya untuk memasak ikan gabus ini. Malam itu biasanya ikan
tersebut saya bersihkan dari sisiknya yang cukup banyak lalu dikasih
garam dan perasan jeruk nipis oleh ibu saya. Ibu saya dalam memasak ikan
sangat jarang sekali menggorengnya, masakan Ibu saya yang  menjadi
favorit dikeluarga jika ikan gabus ini hanya tiga cara saja ibu saya
memasaknya. Masakan pertama adalah asam pedas (pangek) ikan gabus, kedua
adalah palai kukus sedangkan yang ketika adalah palai  bakar ikan gabus.
Bumbu dan bahannya untuk ketiga jenis hidangan dari ikan gabus itu
hampir sama saja, saya pikir atas nama orang minang para ibu-ibu,
mande-mande, tetua  bahkan kaum lelaki di ranah pasti sudah hapal dan
tahu persis bagaimana membuat asam pedas atau pangek ikan, masalah rasa
enak dan tidaknya tentu "lakek tangan" yang berbicara.

 

Asem pedas ikan gabus ibu saya sangat mengundang selera makan begitu pas
rasa pedas dan asamnya yang didapat dari cabe keriting yang digiling
sangat halus serta rasa asam dari asam kandis atau bisa juga dari asam
belimbing telunjuk (belimbing wuluh) lalu ditingkahi rasa eksotik daun
kunyit serta daun jeruk purut. Ibu saya memasak asam pedas ikan gabus
ini dengan belanga dan bumbunya diracik serba manual. Dibelakang rumah
saya Ibu saya menyediakan tungku berbahan bakar kayu disanalah dia
memasak asam pedas dengan belanga yang sudah tua dan menghitam ini. Ibu
saya selalu mencampurnya dengan sayuran berupa kacang panjang tanpa di
potong dilipatkan menjadi dua bagian lalu ditarok sedemikian rupa
didalam belanga bercampur dengan ikan gabus serta kuah asam pedas. Jika
sudah masak..mmm..karena mengundang selera begitu berebutnya saya dan
adik-adik saya memakannya baik ketika makan siang maupun makan malam,
apalagi Ibu saya selalu mengutamakan beras tetap harus nomor satu walau
makan dengan samba lado, hanya dua saja jenis beras yang berkualitas
yang dibeli oleh Ibu saya saat itu kalau tidak beras Solok (Cupak atau
Talang) satu lagi beras Ampek Angkek Bukit Tinggi yang terkenal. Beras
ini jika dimasak begitu bersih,harum, wangi, tahan lama diperiuk atau di
dandang dan tidak berair. Kembangnya sangat sempurna jika beras ini
dimasak masih ingat istilah yang diberikan oleh Ibu saya ini untuk
kembang beras yang dimasak ini, Ibu saya mengatakan "Kambang bareh ko
rancak ditanak sarupo kambang bungo limau" (benar nggak begitu ibu-ibu
rantau net).

 

Model kedua dan ketiga Ibu saya memasak ikan gabus ini yaitu palai kukus
dan bakar hampir sama saja dengan asam pedas tapi bumbu-bumbu tersebut
tidak tergenang air, dalam keadaan basah sedikit berair bumbu-bumbu
tersebut dilumuri pada ikan gabus yang telah dibersihkan lalu dibungkus
dengan daun pisang sedemikian rupa. Cara memasaknya dikukus dengan
dandang satu lagi  dibakar dengan menarok diatas kuali sampai daun
pisang tersebut hangus bagian luarnya untuk menandakan kalau palai sudah
matang. Ibu saya tetap mencapurnya dengan kacang panjang setiap daun
bungkusan palai ikan gabus ini. Rasanya tentu mengundang selera juga
(Minang : Tabik salero), jika palai yang dikukus bumbunya sedikt beriair
maka palai dibakar bumbunya mengering bersatu dengan ikan gabus..ehemm
saya yang lagi menulis ini lansung diresponnya ubun-ubun saya
"mangaranyam" serta terbit air liur saya jika mengenang masakan ibu saya
yang special ini.

 

Itulah seputar pengalaman saya dengan ikan gabus atau di ranah kita
dikenal dengan sebutan Bakok atau Rutiang yang bisa saya bagi para
pembaca sekalian terutama buat Pak Emi yang "memaksa" saya untuk
bercerita serta berbagi pengalaman seputar ikan gabus, semoga bermanfaat
dan menambah wawasan.

 

Pekanbaru, 14 Juni 2009

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke