Kepada Pegiat,  Peminat dan Penikmat Wisata Sumbar yth ..
 
Untuk segera merealisasikan View 'GEOWISATA SUMBAR', berikut kami dari
MAPPAS meyampaikan cuplikan ttg artikel Geowisata,  Potensi Geowisata
Sumbar dan hal yang terkait dengan kegeowisataan
Bahan-Bahan ini sebagai dasar untuk membuat 'Complete Handbook Geowisata
Sumbar" nantinya.
 
Masukan dari Khalayak civitas wisata Sumbar Sangat di harapkan..
 
Wassalam
 
Dedi Yusmen
MAPPAS
 
Sumber:www.geotour.wordpress.com
Menggali Akar Geowisata
Oleh Budi Brahmantyo
Geowisata (geotourism) adalah kosakata yang relatif baru dalam
kepariwisataan nasional. Istilah itu kurang populer dibanding ekowisata
(ecotourism), atau agrowisata misalnya. Namun demikian, di dalam UU No.
9/1990 tentang Kepariwisataan, selain wisata agro, baik ekowisata maupun
geowisata memang tidak disebut-sebut.
Apa itu geowisata atau geotourism? Istilah geotourism muncul tak lebih
tua dari pertengahan 1990-an. Seorang ahli Geologi dari Buckinghamshire
Chilterns University di Inggris bernama Tom Hose diperkirakan menjadi
orang yang pertama aktif memperkenalkan istilah itu. Ia misalnya menulis
di Geological Society pada 1996 suatu makalah berjudul "Geotourism, or
can tourists become casual rock hounds: Geology on your doorstep".
Apakah wisata yang berkaitan dengan kebumian baru dirintis sejak tahun
1990-an itu? Tentu saja tidak. Sejak para ilmuwan menjelajah berbagai
tempat di atas Bumi ini, terutama di Abad ke-18, para ahli geologi sudah
terbiasa menggabungkan bussiness and leisure secara bersamaan. Dalam
ekskursi geologi ke lapangan, rombongan geologiawan telah terbiasa
menikmati indahnya pemandangan, keunikan bentang alam dan batuan,
asyiknya menyusuri sungai dan pantai, atau mendaki perbukitan, di
samping pekerjaan utamanya mencatat proses-proses geologis.
Tetapi untuk konsumsi umum, mungkin dapat diperkirakan bahwa kegiatan
geowisata mulai berkembang sejak maraknya para turis beransel (back-pack
tourists) pada 1980-an. Satu makalah yang ditulis oleh Jane James 1993
di sebuah konferensi bertema "Memasyarakatkan Ilmu Kebumian" di
Southampton, Inggris, misalnya, masih menggunakan istilah pariwisata
geologis (geological tourism) alih-alih geotourism.
Tom Hose yang diikuti kawan-kawan geologiawan lainnya di Eropa
jelas-jelas mendasarkan geowisata berbasis kepada geologi. Mulai dari
Eropalah itulah kemudian muncul istilah "taman bumi" (geopark), yaitu
kawasan konservasi yang melindungi peninggalan alamiah objek geologis
yang unik, langka, berharga, menarik, dan penting.
Di bawah jaringan UNESCO, di Eropa sudah terbentuk 21 taman bumi yang
menjadi daya tarik dan tujuan geowisata utama. Di Asia sudah dirintis
oleh Cina yang kemudian diikuti Malaysia. Taman bumi Pulau Langkawi,
Malaysia, sejak 2006 resmi menjadi taman bumi pertama di Asia Tenggara
di bawah jaringan UNESCO. Indonesia yang memiliki banyak keunikan
fenomena geologis, tertinggal jauh dari negeri jiran itu.
Jika Eropa, diikuti Australia, berpijak pada geologi sebagai basis
geowisata, Amerika Serikat sedikit lain. Dengan dukungan Yayasan
National Geographic yang sudah sangat mapan dan terpandang, Asosiasi
Industri Perjalanan Amerika TIA mendefinisikan geowisata sebagai suatu
wisata yang memperkenalkan dan mengembangkan karakteristik geografis
objek daya tarik wisata, termasuk lingkungan, budaya, estetika, pusaka,
dan masyarakatnya.
Dengan cakupan yang luas, geowisata AS dari sisi objek, tak ada bedanya
dengan ekowisata. Indonesia sendiri lebih cenderung mengikuti versi
Eropa dan Australia.
Ekowisata
Jika di AS geowisata identik dengan ekowisata, di belahan benua lain,
geowisata ditempatkan sebagian bagian dari wisata alam minat khusus yang
prinsip-prinsipnya mengikuti kaidah-kaidah ekowisata. Geowisata sebagai
bagian dari ekowisata bagaimana pun harus tunduk pada prinsip-prinsip
berwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sesuai
Kesepakatan Quebec 2002.
Pertemuan Puncak Ekowisata Sedunia yang diselenggarakan di Quebec,
Kanada, pada akhir Mei 2002 itu memuat kesepakatan bahwa pelaksanaan
ekowisata yang memanfaatkan objek kawasan alami yang relatif belum
terganggu dan umumnya dilindungi, harus menjadi alat konservasi dan
pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Kesepakatan Quebec 2002 untuk ekowisata ini diturunkan sebagai kaidah
pengembangan wisata alam alternatif yang harus bercorak mendukung
konservasi alam, bersifat edukatif dan memberi pengetahuan bagi
wisatawannya, memberi manfaat ekonomi dan budaya bagi masyarakat
setempat secara berkelanjutan, dan kecil dampak negatifnya pada
lingkungan.
Ekowisata harus melibatkan masyarakat setempat bukan sebagai objek,
tetapi sebagai pemandu ataupun pelaku utama pengadaan fasilitas yang
sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan, misalnya. Di lain pihak, harus
ada tenaga ahli yang tidak hanya bertindak sebagai pemandu, tetapi
sebagai interpreter yang akan memberikan wawasan ilmu pengetahuan
tentang objek ekowisata.
Di balik itu semua, manajemen yang baik menjadi kunci keberhasilan
aktivitas ekowisata. Seluruhnya harus dikemas dalam konsep-konsep
berwisata yang tetap mengedepankan kesenangan. Lebih dari itu,
pengutamaan keselamatan.
Geowisata Jawa Barat
Jawa Barat telah menyusun sembilan kawasan wisata unggulan (KWU).
Kesembilan KWU itu adalah: 1. Wisata Industri dan Bisnis
Bekasi-Karawang, 2. Agrowisata Purwakarta-Subang, 3. Budaya Pesisir
Cirebon, 4. Alam Pegunungan Puncak, 5. Perkotaan dan Pendidikan Bandung,
6. Kria dan Budaya Priangan, 7. Ekowisata Palabuhanratu, 8. Rekreasi
Pantai Pangandaran, dan 9. Minat Khusus Jabar Selatan.
Di semua KWU bisa saja berkembang wisata lain yang mungkin identik.
Geowisata bahkan bisa fleksibel untuk beberapa KWU. Daya tariknya
sebenarnya bisa terentang mulai dari laut, pantai, sungai, perbukitan
hingga puncak pegunungan. Geowisata bisa berkembang di Jawa Barat pada
KWU 4 sampai 9. Di luar pembagian KWU, geowisata Jabar dapat
dikelompokkan menjadi empat tema, yaitu gunung api, kars, dataran
sungai, dan pantai.
Tetapi tanpa interpretasi, keseluruhannya memang hanya suatu wisata
alam, pasif, dan kering tak bermakna. Yang diperlukan adalah proaktif
mempromosikannya. Kepekaan dan perhatian terhadap masalah lingkungan di
masyarakat Barat/Eropa menjadi pegangan kita dalam mengelola
ekowisata-geowisata.
Ketika kesan bahwa eko-geowisata Indonesia dikelola secara baik itu
tertangkap, informasi langsung tersebar dan selanjutnya kita tinggal
menunggu kedatangan kunjungan berikutnya. Tapi hati-hati, tentu hal yang
sama dengan dampak sebaliknya bisa terjadi jika berkesan buruk dan
mengecewakan.***
Penulis, pengajar GL4022 Geowisata di Prodi Teknik Geologi, ITB dan staf
KK Geologi Terapan, FITB, ITB dan anggota KRCB dan IAGI.


 
-----
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke