Sewaktu melihat foto Pelabuhan Muaro tempo dulu, saya jadi teringat sebuah
kisah kelam tentang pendudukan Bajak Laut Perancis bernama La Meme di Kota
Padang pada abad 17. Menurut Bapak Rusli Amran, La Meme sempat menduduki kota
Padang sekitar 2 minggu.
Berikut sebuah tulisan tentang La Meme.
Le Meme: Sipenabur Kasih alias 'the Pirate'
Tulisan-tulisan
sejarah mengenai pergulatan politik di abad pertengahan tidak banyak
yang menceritakan kisah bajak laut. Padahal keberadaan bajak laut tidak
dapat dipungkiri dalam percaturan politik saat itu. Sebagai kekuatan
alternatif dan antagonis terhadap kemajuan peradaban.
Anehnya,
dari tafsiran-tafsiran mengenai perjalanan para musafir dahulu,
tulisan-tulisan barat banyak mengutip musafir barat yang mengatakan
Aceh sebagai bangsa bajak laut. Sebutan-sebutan tersebut, bahkan oleh
Marco Polo, adalah 'pirate sultanate' dan lain sebagainya.
Memang,
permasalahan siapa yang jadi 'pirate' dan siapa yang tidak, sangat
tergantung siapa yang menjadi penulisnya. Bisa saja, orang-orang Eropa,
bersikukuh menganggap bangsa Nusantara adalah bangsa "pembajak laut".
Dapat dipahami argumentasinya karena keberadaan Eropa dan barbarianisme
yang mereka bawa tampaknya tidak dapat diterima oleh orang-orang di
Nusantara.
Namun, banyak juga tulisan-tulisan yang secara
eksplisit menyatakan bahwa kedatangan Eropa di Nusantara bagaikan pisau
bermata dua. Pertama untuk dalam misi musafir atau tamu dan yang kedua
dalam misi 'pirate' itu.
Dalam sejarah digambarkan bagaimana
Portugis dan lainnya yang menjadi tamu di Nusantara, kemudian membakar
rumah tuan rumah untuk merampok isinya. Hal-hal seperti inilah yang
terjadi; Awalnya sebagai tamu, terakhir jadi perampok.
Kisah Le
Meme, merupakan kisah yang tidak dapat dicongkel begitu saja dari
buku-buku sejarah. Kisah bajak laut ini seperti melengkapi bentuk
peradaban yang dibawa orang Eropa ke nusantara.
Saint Malo
adalah kota kecil mungil di Bretagne, di pantai barat Prancis. Sebagai
kota nelayan dan pariwisata, kota ini juga dikenal sebagai universitas
bajak laut di seantero Eropa paling tidak dalam era antara abad ke-16
sampai dengan abad ke-19. Tercatat alumni universitas antagonis
tersebut memberangkatkan dua kapal pada bulan Mei 1601. Kapal ini
dipersenjatai sedemikian canggihnya untuk ukuran saat itu dan
diberangkatkan oleh De Laval dan De Vitre.
Di kota ini pulalah
lahir Le Meme di tahun 1763. Sejak kecil dia telah dididik dengan
kisah-kisah pembawa tidur mengenai keperkasaan bangsa Eropa yang
merompak dimana-mana dan berperang jika perlu. Semangatnya semakin
menggebu-gebu mendengar kisah kemenangan nenek moyang mereka dalam
merampok tanah orang dengan hasil rampokan yang bernilai tinggi, dan
para nelayan miskin itu pulang dari nun jauh dan menjadi orang kaya.
Cerita inilah yang membuat Le Meme bertekad menjadi orang Eropa sejati
menurut cerita tersebut.
Hal ini dibuktikannya, saat perang
kemerdekaan Amerika dan negerinya, Prancis bermusuhan dengan Inggris,
dia menyempatkan diri merampok kapal-kapal musuh. Namun suatu saat
kapalnya mengalami kekalahan dari Inggris. Le Meme dan anak buahnya
ditawan. Sebagai bangsa Aryan yang diklaim sebagai bangsa yang paling
berkuasa di bumi, penangkapan ini malah membulatkan tekadnya untuk
menjadi raja bajak laut sedunia.
Perang Napoleon memberikan
kesempatan padanya. Dia diserahi tugas untuk memimpn sebuah kapal
dengan kekuatan 12 meriam dan 80 awak dengan pangkalan di Ile de France
en Bourban.
Tekad untuk menjadi pria yang berkuasa dan terkaya
di dunia bajak laut diujudkannya dengan berlayar menuju kepulauan
makmur, yang tanahnya terdiri dari emas bila diairi, negeri yang sopan
dan santun dalam menerima tamu, dan sekaligus negeri yang mudah ditipu,
yakni Nusantara.
Pada bulan Juli 1793, meninggalkan Eropa dengan
hati yang semakin bersemangat. Target pertamanya adalah selat sunda
dengan merampok sebuah kapal yang berisi harta degan nilai yang sangat
tinggi. Kapal yang kebetulan milik VOC ini, memuat harta dan
benda-benda berharga yang dijarah bajak laut Belanda dari padang dan
akan disimpan di sarang mereka; Batavia.
Hari itu, juga sebuah
kapal milik Cina juga berhasil dikuras ditambah lagi sebuah kapal
barang milik Belanda esok harinya. Le Meme bersuka ria dan merayakan
keberhasilannya; menyebarkan 'kedamaian dan kasih' di Nusantara dengan
imbalan hasil rampokan yang bernilai tinggi yang belum pernah
dilihatnya di Eropa.
Sukses ini membuat pemerintah Prancis untuk
menganugerahinya dengan penghargaan tertinggi yakni menaikkan
jabatannya. Dia ditugasi untuk memimpin armada yang lebih perkasa,
dengan awak dan persenjataan yang semakin beragam. Pemerintah Prancis
semakin bersemangat untuk mendukung 'Lasykar Iman' ini, karena akan
membawa Prancis dapat hidup dengan harta 'suci' hasil rompakan tersebut
sebagaimana Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis selama ini.
Dalam
perjalanan mereka untuk yang kesekian kalinya ke Nusantara, mereka
merampok kapal Belanda kembali yang baru saja menguras harta para
penduduk Padang. Di sana dia bertemu dengan Bergman, seorang yang
kemudian berjasa membujuk Le Meme untuk membumi-hanguskan Padang
melalui Bukit.
Gerombolan awak kapal Le Meme yang sudah dibekali
dengan minuman keras itu mendarat di Air Manis, dari sana mereka
mendaki Bukit Padang dan menyerbu kota dari arah itu. Di Puncak bukit
itu terdapat sebuah sarang pertahanan awak Belanda yang sudah
ditinggalkan. Awak Belanda yang biasanya sangat congkak dengan penduduk
pribumi ini, akhirnya lari terbirit-birit dengan pasukan 'kasih' dari
Le Meme.
Tanpa ampun, pasukan Le Meme juga menyerang dengan
rakit-rakit dari Sungai Arau. Terdapat sedikit perlawanan tapi itu
malah membuat Le Meme semakin bersemangat. Awak Le Meme, merampas
hampir semua harta benda yang berharga di kota ini, tidak peduli itu
milik pribumi yang sedang sekarat atau milik bajak laut Belanda yang
sedang sangat dongkol dan jengkel dengan kenyataan ini.
Sebuah
'pohon kemerdekaan' ditanam dan lagu kebangsaan bajak laut Marseillase
pun berkumandang menggantikan lagu-lagu yang hampir sama mengerikannya
sebelumnya. Bajak laut Belanda alias VOC yang sedang berpoya-poya
menikmati diri di Pulau Cingkuk, langsung berhamburan terbirit-birit
mendengar kumandang lagu tersebut. Tujuan mereka adalah Indrapura untuk
kemudian kembali ke sarang di Batavia.
Tak puas dengan emas dan
kain-kain sutera yang bernilai tinggi yang ada di kota Padang,
gerombolan Le Meme yang ribuan itu semakin bersemangat untuk menjarah
daerah kaya lainnya. Kali ini yang kena adalah Natal, di tanah Batak.
Namun,
beda dengan keberingasan Belanda, pasukan Le Meme tidak bermaksud untuk
menculik dan membunuh Belanda yang sudah menyerah. Mereka menghindari
diri untuk menculik dan memerkosa wanita-wanitanya. Kecuali minta
makan, mereka juga tidak sampai melukai penduduk yang menyerah.
Untuk
kemenangan yang mereka raih awak Le Meme memaksakan pembayaran kepada
penduduk Padang. Uang sebesar 70.000 diharuskan dibayarkan kepada
mereka. Anehnya, beda dengan Belanda, awak Le Meme menerima negosiasi
yang akhirnya disetujui sebesar 25.000 ringgit.
Penduduk
golongan Cina melakukan manuver politik untuk menghindari diri dari
tekanan ini. Di Bawah pimpinan Louw Tjoan Ko mereka berkelit dengan
tidak mau membayar harga kemenangan tersebut. Sama saat mereka berada
dalam kekuasaan Belanda, orang-orang Cina sangat paham dalam memainkan
peran politik mereka sebagai golongan niaga.
Bila mereka
mempunyai kesulitan mengontrol pribumi, mereka akan melapor ke pihak
Belanda untuk mengenyahkan pribumi tersebut. Namun saat tiba waktunya
membayar pajak mereka berkelit untuk tidak mau membayar. Mereka akan
menyembunyikan harta mereka di bagian rumah yang sulit untuk dicari.
Saat ada bahaya, mereka melarikan diri terlebih dahulu, meninggalkan
Belanda berperang sendirian melawan musuh. Namun kali ini awak Le Meme
yang tidak suka dengan tipuan ini, membakar rumah-rumah yang tidak mau
membayar. Sebuah kerugian besar karena di rumah itu tersimpan semua
harta karun dan uang yang ditumpuk selama ini.
Puas dengan
kesuksesan yang mereka raih, Le Meme kembali ke pangkalannya di Ile de
France. Tak menyi-nyiakan berlama-lama di laut, mereka menyempatkan
diri untuk menyikat kapal Portugis yang baru saja beraksi di perairan
tersebut.
Beberapa tahun setelah itu, dia dipercayakan kembali
untuk memimpin kapal yang lebih besar. Kali ini kapal-kapal Inggris
yang merompak di lautan lepas atas nama dagang dikuras habis. Le Meme
menjadi jutawan dam menjadi momok bagi siapa saja yang terlibat dalam
dunia bajak laut di daerah gemah ripah roh jinawi nusantara.
Inggris
murka dengan keberadaan mereka. Beberapa kapal perang ditugaskan khusus
menghancurkan kapal-kapal ini dengan pimpinan Grand Hirondelle. Kapal
Le Meme yang usang tidak dapat bersaing dengan kapal Inggris yang lebih
canggih dan lebih cepat. Dia ditangkap dan dipenjarakan di Inggris,
namun kemudian dilepaskan paska perdamaian Inggris-Prancis di Amiens.
Paska kebebasannya, dia menjadi kaya raya seperti yang diimpikan setiap
Eropa di masa kecilnya.
Kesempatan untuk menambah kekayaannya
datang saat perang dengan Inggris berkumandang kembali. Kali ini
kapalnya lebih canggih bernama La Fortuna. Mereka beraksi di Teluk
Bengal kontra kapal-kapal bajak laut Inggris. Dalam waktu singkat
kapal-kapal yang menamakan diri East India Company itu dilumat. Dari
enam kapal pertama digadaikan seharga 1,2 juta franc.
Namun,
nahas, kapal dagang Perancis ini, dengan pimpinan Le Meme, berhasil
dihancurkan Inggris pada tanggal 7 November. Kapal fregat Inggris
tersebut, seakan memberi jalan bagi bajak laut non-Prancis untuk
semena-semena merampas nusantara.
Kesimpulan:
1. Sulit
untuk menandai kapal-kapal bajak laut di abad pertengahan karena setiap
kapal tersebut didukung penuh oleh negaranya. Le Meme oleh Prancis, EIC
oleh Inggris dan bajak laut VOC oleh Belanda dll.
2. Zaman
pertengahan adalah zaman dimana kekerasan dan kezaliman didukung oleh
negara sehingga daerah-daerah merdeka di Asia yang menjadi kontak
dagangnya, kesulitan untuk membedakan antara pedagang dan bajak laut,
sehingga mereka dengan mudah dapat dikuasai oleh asing.
3.
Negara-negara yang mendukung kapal-kapal perompak tersebut dapat dengan
mudah berkelit dari dosa sejarah, karena yang melakukan invasi awal
adalah para bajak laut. Maka dengan alasan untuk merestorasi perusahaan
atau bajak laut yang sudah bangkrut, negara-negara tersebut ramai-ramai
menduduki wilayah yang dikuasai bajak laut mereka. Maka negara tersebut
seperti dihadiahi wilayah dengan cuma-cuma.
4. Negara-negera seperti
Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Spanyol merupakan negara-negara
yang mendukung dan sangat diuntungkan dengan keberadaan bajak laut ini.
Ada simbiosis antara kekuatan negatif dan positif dan melakukan sebuah
upaya kezaliman di muka bumi.
5. Dalam era modern, peran bajak laut
sudah digantikan oleh infiltrasi intelijen yang bertujuan mengobok-obok
sebuah negara sebelum dijajah secara resmi. Menggunakan tangan kotor
terlebih dahulu untuk kemudian menggunakan kekuatan penuh merupakan
cara lama untuk mengkolonisasi sebuah wilayah dalam sejarah peradaban
manusia sesuai dengan hukum-hukum politik yang natural.
Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---