Assalamualaikum Wr Wb

 

Dunsanak Palanta RN yang Budiman

 

Sepintas saya telah membaca postingan Mak Ngah di Hape saya melalui
fasilitas GPRS tentang hiruk pikuk orang berjualan atau pedagang asongan
diseputar Sicincin, wah kalo saya reply postingan Mak Ngah melalui Hape
saya bisa jebol keypad Qwerty hape saya jadi melalui email ini lebih
enak dan lincah saya bercerita seputar hiruk pikuk pedagang asongan di
sepanjang jalan lintas Sicincin. Ya banyak yang mereka jual dan tak
luput dari pengamatan saya jika pulang ke rumah orang tua saya dari
Pekanbaru ke Padang ini "kudu wajib" saya harus mampir di Sicincin
semuanya saya borong sebut saja Pisang jantan (Ini kesukaan Ibu saya),
bika, tebu, kerupuk ubi selebar tadah gelas kopi yang dikasih cabe,
sala, jagung rebus dan aneka makanan atau jajanan pasar/tradisional. Nah
yang paling istimewa bagi saya adalah telur asin Sicincin. 

 

Telur Asin Sicincin bagi saya selalu "ngangeni" untuk dinikmati berasal
dari itik/bebek sawah yang mencari makan secara alami, telurnya memang
tidak terlalu besar jika dibandingkan telur asin di jawa yang bebek atau
itiknya di angoni (dipelihara dikandang) kuning telurnya merah tembaga
dengan putih yang bersih. Rasa telur asin Sicincin ini bagi saya pas
gurih dan asinnya, ini sangat berbeda dengan telur asin dari jawa
semisal telur asin Brebes atau Tegal yang dikenal sebagai sentra
penghasil telur bebek yang asinnya bagi lidah saya "kebangetan" tapi
jika sebagai menu tambahan buat makan nasi saya pikir tidak masalah,
bermasalah bagi saya jika dimakan begitu saja alias digado dalam bahas
minang "dikudo-kudok sajo bulek-bulek makaN talua asin dari Jawa ini
"..ya asin banget.

 

Berbeda dengan telur asin Sicicin yang gurih dan asin yang pas sangat
enak jika "dikudok-kudok sajo", bisa dipastikan minimal 2 atau 3 butir
menjelang dari Sicincing ke Padang atau Sicincin ke Pekanbaru saya
habiskan. Harga telur asin yang dijual oleh Ibu2 asongan ini dengan
baskom dan dijunjung diatas kepala bervariasi mulai dari Rp 1.500 s/d Rp
2.000/Butir. Variasi harga ini terbentuk "Siapa yang membeli" maksud
saya jika kita berkendaraan apalagi bergaya mentereng dengan kaca mata
baju bagus seperti kelas Sosialite harganya bisa ditawarkan bahkan Rp
2.500/Butir tapi ini masih wajar saya pikir. Saya yang membawa mobil
mungkin karena tampang dan gaya saya "lebih seperti sopir"  biasanya
mereka menawarkan ke saya sekitar Rp 2.000,- saya tidak akan menawarnya
lagi walau jika saya tawar Rp 1.750/Butir saya yakin mereka pasti akan
menjualnya, ya sudah tidak ada salahnya berbagi rejeki apalah artinya
uang sebesar Rp 250 selisih harga yang ditawar, iba kita melihat ibu2
tersebut yang berlari kesana kemari ditengah cuaca panas dan hujan dari
mobil ke mobil yang berhenti mulai dari pagi sampai malam menjelang.

 

Paling serunya jika kita memberhentikan mobil maka mereka begitu sigap
berlari menuju pintu kaca mobil kita dan saling berebutan, tapi
nampaknya sudah ada perjanjian tidak tertulis dari mereka siapapun yang
pembeli yang kita pilih mereka tidak saling "berkelahi" (damai-damai
sajalah), beginilah sebuah episode ketika saya berhenti sejenak di
Sicincin untuk membeli telur asin kegemaran saya serta jajanan lainnya

 

"Pak ..pak Talua asin Pak..masih angek-angek ko.." kata seorang Ibu

"Pak..pak ambiak lah talua asin ambo agak duo..bagi-bagi pak..rajaki tu"
kata ibu yang lain

"Iyo Pak...bara buah dek apak 10 buah..bagi-bagi Pak..ambialk lo jo ambo
agak 3" kata ibu yang baru muncul belakangan

 

Ya sudah akhirnya saya mengambil sebuah keputusan yang adil, adil itu
belum tentu merata, begini adil yang tidak merata itu

 

Jika saya membeli 10 Butir maka Ibu pertama yang sampai dikaca pintu
mobil saya maka saya ambil 5 butir, lalu ibu yang lain saya ambil
masing-masing 3 dan 2 butir, dengan harga Rp 2.000/butir tanpa
menawarkan lagi saya serahkan Rp 20,000 pada Ibu yang pertama dan
tentunya mereka telah paham atas pembagian uang tersebut sesuai dengan
jumlah telur masing-masing yang laku. Ibu-ibu yang lain pun berteriak
saling berebut kekaca pintu mobil saya

 

"Pak..pak pisang jantan, perkede jaguang, sala-sala."

"Pak..pak..bika..bika..ambiak juo lah Pak..angek2 tapuang bareh karambia
mudo..lamak ko Pak"

 

Wah..bingung deh...akhirnya saya juga membeli panganan tersebut seperti
pisang jantan, bika dan sala, paling tidak saya jika berhenti di Sincin
menghabiskan uang minimal Rp 40.000 untuk semua jajanan khas Sicincin
yang "di jojokan" oleh Ibu-Ibu.Itupun masih ada yang datang dan
",memaksa" untuk membeli dagangannya, semua itu saya saya hargai  segala
usaha mereka tanpa harus kita berkata kasar atau menyinggung perasaan
mereka, cara saya menghindar yang terbaik adalah dengan bercanda dan
pasang senyum pada mereka

 

"Ha..alah..yo Buk..caliak lah ..lah sagarobak tundo isi oto ambo jo
talua asin, pisang jantan, bika"..

"Pitih ambo lah tingga sasuku tigo bilih lai..ha..ndak do lai"

"Beko joa lo ambo bali bensin oto lai..."

 

Ibu2 itu biasanya senyum-senyum saja dan dapat memaklumi lalu biasanya
mereka mundur teratur, jika saya jadi mereka saya dapat memahami
psikologi mereka dalam bahasa yang sederhana "apa salahnya saya coba
juga menawarkannya..siapa tahu Bapak itu ingin menambah beli telur
asin..."  ya namanya usaha  

 

Selesai sudah sebuah sekuel di Sicincin membeli Telur asin dan jajanan
pasar lainnya, kendaraan saya pacu seperti biasa istri saya siap membuka
dan mengupaskan telur asin dan menyodiorkan kemulut saya dengan
Pas..saya tetap kosentrasi membawa mobil, sodoran demi sodoran telur
asin dari Istri saya ke mulut, saya santap dengan lahap dan saya sangat
menikmati gurih dan asin telur itik Sicincin ini. Dan saya tuntaskan
dengan sedotan air mineral  yang pakai pipet lagi-lagi Istri saya dengan
setia menyodorkannya ke mulut saya...dan itu selalu pas berlabuh
dimuluit saya..tidak pernah meleset..he..he..he

 

Telur Assin Sicincin..memang enak, nikmat dan gurih..dan itu didapatkan
dengan situasi hiruk pikuk Ibu-ibu yang "berjojo" di jalan lintas Pasar
Sicincin..ibarat pertarungan Head to Head antara Valentino Rossi dan
Lorenzo di Sirkuit Catalunya..begitu seru dan penuh sensasi mereka
bertarung, begitu juga hiruk pikuk ibu-ibu ini dalam berebut mengejar
konsumen..seruuuuu..abissss..lah  ya..dan saya menikmatinya.

 

Wass-Jepe (Pku, 44, Chaniago)

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke