PELAJARAN DARI SEORANG PENGAYUH BECAK Keluar Stasiun Metro Bawah Tanah Vishwa Vidyalaya pulang dari South Extension kemaren hari sudah menjelang sore. Bus asrama dari dan ke kampus tidak beroperasi seperti biasa karena masih dalam suasana liburan, oleh karena itu saya dan dua orang teman lainnya memutuskan dari stasiun ini naik feeder minibus yang ke Mukherjee Nagar saja karena kebetulan routenya juga melewati kompleks asrama.
Menjelang naik minibus yang sedang parkir, seorang tukang becak mendekati kami. "Rickshaw Lady, Rickshaw, not many since morning" katanya dengan bahasa yang agak belepotan. Sebelah kaki saya yang sudah ditangga minibus jadi tertahan. "Hei, naik rickshaw saja yuk", saya ajak teman-teman. Mereka keberatan, "Panas", mereka bilang, "lagipula jadi lebih mahal". Saya tertegun, secara ekonomis memang sih, naik Metro feeder bus yang notabene milik pemerintah hanya 5 Rupee, bertiga cukup 15 Rupee. Sementara naik becak paling tidak butuh 20 Rupee, karena jarak 2 atau 3 km dengan bus terasa sangat dekat, tapi kalau dengan becak itu sudah lumayan jauh, apalagi dipanggang terik matahari begini. Saya jadi ragu, tapi tatapan mata tukang becak itu tidak dapat saya abaikan begitu saja. Saya maklum, ratusan becak yang mangkal di depan stasiun bawah tanah Vishwa Vidyalaya yang bersebelahan dengan pintu gerbang utama kampus University of Delhi ini membuat persaingan antar becak sangat kompetitif. Bapak tua ini tentu kalah cepat kalau harus mengejar penumpang. Saya juga dapat mengerti alasan keberatan teman-teman karena kami memang sangat kepanasan. Akhirnya saya mengalah dan mengambil jalan tengah, saya bilang, "Oke, kalian naik bus saja ya, biar saya yang naik rickshaw". Saya melangkah pergi mengikuti si Bapak ke becaknya. "Lady, tujuannya kemana?" si bapak tua bertanya. "Dhaka Housing Complex di Indra Vihar", jawab saya lambat-lambat. "Oh, itu kan kompleks Houses for Women milik University", potong si bapak cepat, saya tersenyum dan mengangguk. "Asrama Lady yang di Ambedkar Ganguly House?" si bapak tua bertanya ramah. Saya menggeleng, "Bukan pak, saya yang di International House". Si Bapak tersenyum lagi, "Oh, itukan bangunan asrama yang paling depan, yuk, silakan", katanya ramah. Si Bapak langsung menaiki becaknya dan saya juga langsung menaiki bangku tempat penumpang yang cukup tinggi dibelakang. Becak langsung melaju ditengah keramaian jalan raya. Suhu panas sore yang 44 derajat celcius membuat keringat si Bapak tua cepat bercucuran. Lalu lintas yang padat juga membuat ia sedikit kewalahan. Mendengar nafas tuanya yang ngos-ngosan mengayuh becak, muncul juga perasaan bersalah. Kalaulah ini bukan hubungan antara tukang becak dan penumpangnya, mau rasanya saya berganti peran, biarlah si Bapak tua yang ringkih ini yang duduk santai di belakang dan saya yang mengayuh sepeda di depan... Becak disini yang bangku penumpangnya dibelakang sangat besar bahkan bisa mengangkut 3 orang sangat kontras dengan tubuh mungil si Bapak Tua. Menghindari air mata yang hampir menetes, saya mencoba mengalihkan perhatian kepada becak yang saya naiki. Saya terkejut, ternyata becak ini tidak seperti becak lain yang umumnya kotor dan berdebu. Becak pak Tua ini sangat bersih dan kelihatan sangat terawat. Plastik pembungkus kursi kayunya juga terlihat mengkilap. "Pak, rickshaw bapak sangat bersih dan terawat", tak tahan saya untuk tak memuji. Bapak tua melengok ke belakang dan tersenyum. "Thanks, Lady. Hanya rickshaw ini yang saya punya, jadi saya harus merawatnya agar penumpang nyaman, lagipula saya mencari makan dari rickshaw ini", jawabnya dan menatap kembali ke depan sambil terus mengayuh. Masya Allah.., di tengah kesederhanaannya, ia men-syukuri apa yang dia punya dan merawatnya dengan perasaan, dan masih memikirkan kenyamanan orang lain. Saya tertegun sendiri. Sampai di depan pagar kompleks saya minta berhenti. "Tidak masuk ke dalam?" tanyanya bingung. "Tak usah pak", jawab saya tersenyum. Biasanya kami penghuni ketiga asrama di dalam cukup memberi kode ke petugas security pintu gerbang utama dan becak atau bajaj akan diizinkan masuk sampai ke bangunan asrama kami masing-masing. Tapi hari ini tidak usah. Biarlah saya berjalan kaki ke dalam, toh hanya beberapa puluh meter lagi karena bangunan asrama saya letaknya juga paling depan. Kasihan badan pak tua sudah mandi dengan keringatnya sendiri. Walaupun punya uang pas, saya sodorkan saja kertas lembaran 50 rupee. Dia mencari uang kembalian, saya tersenyum dan menggeleng, "tidak usah pak". Bapak tua tersenyum, terharu, mengucapkan terima kasih lalu memutar becaknya untuk mencari penumpang berikutnya yang entah ada entah tidak karena hari sudah senja. Melihat dia menjauh, saya masih terpaku berdiri, sampai-sampai petugas security pintu gerbang datang menghampiri karena khawatir sesuatu telah terjadi. "Ada masalah?" tanya mereka sambil mendekati. Saya menggeleng, tersenyum dan mengucapkan terima kasih sambil melangkah masuk gerbang dan berjalan menyusuri taman dalam menuju bangunan asrama. Masih terngiang suara pak tua, "Hanya rickshaw ini yang saya punya, jadi saya harus merawatnya agar penumpang nyaman, lagipula saya mencari makan dari rickshaw ini". Ingatan saya pun melayang kepada ummi saya waktu di kutub selatan sana. Seorang wanita tua yang tegar, imigran asal Palestina. Kegetiran hidup mengingatkan mereka akan nilai-nilai yang berharga. SINCE IT IS IMPOSSIBLE FOR US TO HAVE EVERYTHING WE LIKE THEN TRY TO LIKE EVERYTHING WE HAVE... Ibu dan almarhum bapak saya juga selalu mengajarkan hal yang sama Kita tidak mungkin memiliki semua yang kita inginkan Karena KEINGINAN dan KEBUTUHAN juga tidak selalu seiring sejalan Jadi syukurilah apa yang sudah di berikan Tuhan Disana nanti hati akan menemukan kedamaian ........... Wassalam New Delhi, 25 Juni 2009 Rita Desfitri Murai Kukuban --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
