*Kutipan dari Harian Republika.

Kamis, 25 Juni 2009 pukul 01:52:00*
Partai Islam dan Partai Nasionalis

*Bustanuddin Agus*
(Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Andalas Padang)


Pemilu legislatif telah usai dan hasilnya sudah sama maklum. Menyusul
pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres dan pilwapres) langsung oleh
rakyat dua bulan lagi. Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), capres
incumbent, dengan style penuh kehati-hatian , tapi sungguh suatu kejutan dan
kontroversial (terutama di mata parpol-parpol yang telah menyatakan
berkoalisi dengan Partai Demokrat) mendeklarasilakan Boediono jadi cawapres
pendampingnya. Menurut biasa dan logika lurus tentu partai koalisi peraih
suara yang termasuk banyak serta dapat pula dijadikan figur untuk meraup
sura lebih banyak yang akan dipilih.

Tapi logika politik SBY ternyata lain sama sekali. Rupanya SBY membaca
lembaran sejarah perpolitikan Indonesia bahwa suara umat Islam, dari Pemilu
ke Pemilu, belum pernah jadi pemenang di Republik ini. Partai Masyumi di
kala itu hanya mampu meraih nomor dua setelah PNI. Hamzah Haz memang pernah
jadi Wapres (semasa Presiden Megawati), tapi pemilihan dan pengangkatan
keduanya dilakukan oleh MPR, bukan langsung oleh rakyat. Berdasarkan
pengalaman itu SBY (juga cawapres yang lain) tampaknya berani "bertaruh"
bahwa suara yang mengatasnamakan Islam tidak akan menang.

Hasil Pemilu baru-baru ini makin menunjukkan suara partai Islam tidak
termasuk tiga besar. Yang berhasil meraup tiga besar adalah Partai Demokrat,
Partai Golkar dan PDI-P. Partai Islam hanya termasuk sepuluh besar. Rumor
partai-partai Islam yang telah menyatakan berkoalisi dengan SBY akan menarik
diri dan membangun poros tengah jilid dua ternyata hanya angin lalu.
Pertimbangan praktis (dan prinsip kasik ilmu politik “demi kekuasaan”),
kalau tidak dapat kursi cawapres, kursi menteri pun jadi, ternyata lebih
dominan dari pertimbangan ideologi.

Setelah melalui pembicaraan yang alot, Prabowo Subianto (bekas komandan
Kopasus, pasukan elit negeri ini, Ketua dewan penasihat Partai Gerindra),
pada hari yang sama akhirnya (sebelumnya bersikukuh menjadi capres saja)
juga mau menerima sebagai cawapres, pendamping capres Megawati Soekarnoputri
(Ketua Umum PDI-Perjuangan yang pernah menjadi Presiden dan pernah kalah
dalam persaingan dengan SBY dalam pilpres putaran kedua yang lalu). Yusuf
Kalla (JK) yang jabatan Wapresnya hampir berakhir tidak mau lagi jadi
pendamping SBY dan pas, SBY juga tidak mau lagi menggandengnya jadi cawapres
periode kedua. JK telah lebih dahulu mendeklarasikan diri jadi capres dengan
Wiranto (Ketua Umum Partai Hanura) sebagai cawapresnya. Wiranto adalah bekas
sejawat JK di Partai Golkar dan hengkang dari partai tersebut serta berhasil
meraih suara pemilih legislatif sehingga termasuk sepuluh besar peraih
suara. Kedua pasangan yang bergerak cepat ini telah menggalang dukungan,
seperti dari kiyai-kiyai pesantren Jawa Timur. Tampaknya karena watak bisnis
JK yang suka bergerak cepat ini, SBY (yang mengutamakan kehati-hatian) tidak
mempriotaskannya jadi cawapres.

Jadi dalam pasangan (salah satu) yang akan berlaga Juli yang akan datang
masih wajah-wajah lama dan, nota bene, tidak ada lagi yang dari kalangan
(partai) Islam atau berbasis pendukung dari kalangan Islam. Ketiga pasangan
tentu sudah memperhitungkan bahwa yang mewakili Islam tidak perlu digandeng
untuk meraup pencontreng. Hal ini tak usah mengherankan karena masalah
ideologi tetap tidak menarik kalau dibawa ke khalayak yang lebih luas.
Apakah ideologi tidak penting?

*Ideologi masih relevan*
Menghadapi Pemilu yang lalu terdengar komentar bahwa tak masanya lagi
perbedaan didasarkan kepada ideologi. Perbedaan antar partai yang relevan
diusung dikatakan hanya perbedaan program. Kalau dicermati lebih serius,
dalam skala yang lebih luas dan lebih mendasar, pertimbangan ideologi
(nasionalisme, sekularisme, Islam dan lain-lain) lah yang bermain di
belakang pengelompokan negara dan orientasi politik. Negara-negara Barat dan
banyak negara-negara maju, seperti Jepang dan Korea, memilih ideologi
sekuler bagi negaranya. Banyak negara dan partai yang berideologi
nasionalis. Negara-negara Muslim juga ada yang memasang ideologi Islam bagi
negaranya, seperti Iran, Saudi Arabia dan Pakistan.

Ideologi berperan untuk memberi semangat dan sumber energi bagi warga negara
dan pemimpinnya untuk berjuang membangun dan mempertahankan negara. Ideologi
berbeda dengan sekedar ilmu pengetahuan. Sekedar pengetahuan biasa dilanggar
oleh yang punya pengetahuan itu sendiri, apalagi oleh yang tidak mengetahui.
Ideologi mengandung semangat, jiwa juang, kecintaan dan persatuan. Dan
ideologi yang didasarkan kepada agama punya semangat, kecintaan dan
kekompakan yang lebih tinggi dari ideologi yang tidak dikaitkan kepada
agama. Berjuang demi negara (nasionalisme) lebih luas dan lebih jauh dari
demi harta dan anak istri. Berjuang demi kemanusiaan (humanisme) juga lebih
luas dan lebih mendasar dari sekedar demi negara. Kemudian demi Tuhan dan
demi agama jauh lebih dalam, lebih kuat dan lebih tahan lama lagi karena
didasarkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan untuk kehidupan dunia akhirat
pula. Istilah jihad dan syahid dikaitkan dengan demi agama dan demi Tuhan,
tidak kepada yang demi negara dan kemanusiaan. Karena itu kata demi Tuhan
dan agama diganti oleh nasionalisme dan humanisme dengan demi negara dan
demi kemanusiaan .

Secara teologi, teori atau keyakinan (das Sollen), menurut yang berakidah
(ber philosophy and way of life) Islam, ideologi Islamlah yang lebih kuat
dan lebih dalam dari ideologi nasionalis, kemanusiaan dan lainnya. Tapi
dalam kenyataan (das Sein) banyak yang tidak demikian. Ketika suara dan
selera massa jadi tolok ukur (minimal dalam perjalanan perpolitikan
Indonesia), partai-partai yang tidak mengusung jargon Islamlah yang menang.
Alasan-alasan Tuhan, agama, akhirat tampak tidak menarik lagi bagi anak
bangsa ini. Yang menarik bagi selera massa alasan-alasan yang praktis:
lapangan kerja, peningkatan penghasilan, kesejahteraan, keamanan dan juga
kebebasan.

Di Barat, ideologi sekuler yang meminggirkan agama dan Tuhan dalam kehidupan
bernegara, resmi diusung dan diproklamirkan sebagai ideologi mereka. Sejarah
Barat di Abad Pertengahan yang trauma dengan ulah Gereja Katolik yang
dinilai sebagai biang korok mereka tenggelam dalam The Dark Ages, menjadikan
Barat memproklamirkan sekularisme.

Lain halnya dengan di Indonesia. Kehidupan beragama telah menyatu dengan
adat dan budaya suku-suku bangsa yang ada. Kentalnya peran agama dalam
kehidupan bernegara dapat dibacara dalam Pembukaan UUD 1945. "Berkat rahmat
Tuhan Yang Maha Kuasa", sila-sila Pancasila, apalagi sila Ketuhanan Yang
Maha Esa, ada departemen khusus yang mengurus urusan-urusan yang langsung
menyangkut agama. Semuanya ini menunjukkan bahwa bangsa (dan negara
Indonesia harus pula) adalah religius, bukan negara sekuler yang tidak
mengakui dan meminggirkan agama dan Tuhan.

Para intelektual dan pemimpin mampu hendaknya membedakan antara ajaran agama
dan perilaku sebagian pemimpin, apalagi penganut. Sebagai ajaran, Islam
adalah pedoman hidup yang diajarkan oleh Tuhan Pencipta untuk keselamatan
semesta. Umat dan sebagian pemimpin dalam realita sosial (secara sosiologis)
ada (bahkan banyak) yang memperalat agama untuk kepentingan pribadi dan
kelompok. Karena itu dari segi ajaran (teologis), kita hendaknya tetap
meyakini bahwa ajaran agama penting dan urgen dipedomani dalam kehidupan
pribadi dan bersama.

Bukankah amat banyak bencana dan kekacauan kalau manusia (rakyat apalagi
elit dan kelompok) telah merasa atau mau jadi Tuhan Yang Maka Kuasa dalam
kehidupan ini. Mau kaya, berkuasa, dan benar sendiri tanpa mempedulikan
ajaran Tuhan dan agama, adalah perilaku Firaun-Firaun. Kekuasaan mereka
ditunjang dengan ekonomi, media massa, teknologi, persenjataan canggih dan
kekuatan struktural. Invasi semena-mena ke negara lain, besarnya gap antara
negara/kelompok kaya dan negara/kelompok miskin, terkurasnya sumber daya
alam negara miskin, pencemaran lingkungan dan global warming adalah diantara
kefasadatan akibat ulah tangan manusia tidak mau jadi khalifatullah untuk
menebarkan rahmatanlil'alamin, tapi ingin jadi Tuhan Yang Maha Kuasa itu
sendiri.

Karena alasan-alasan tersebut dan karena partai-partai yang didukung oleh
bangsa Indonesia yang religius dan berfalsafahkan Pancasila, maka
(seyogyanya) hanya ada dua kelompok partai di Indonesia, yaitu partai Islam
dan nasionalis. Keduanya menjujung tinggi kehidupan beragama di Indonesia.
Tidak ada kekuasaan atau partai sekuler yang menabrak ajaran agama dalam
undang-undang, peraturan dan kebijakan yang ditempuh. Negara harus ikut
membangun dan menggairahkan kehidupan beragama untuk keselamatan bersama.
Wabillahit taufiq wal hidayah.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke