Iyo baitu Tan MenanSopir acoklupo bahwa dia pemimpin, ditangannya banyak nyawa 
yg bisa di selamatkan

Terima Kasih



Prof.H.K.Suheimi, SpOG(K)

--- Pada Sen, 22/6/09, Rudi Antono <[email protected]> menulis:

Dari: Rudi Antono <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] Re: BANGKAI OPLET
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 22 Juni, 2009, 7:30 PM



Iyo memang jauah bedanyo caro rang awak jo rang lua Pak Dotor.
Aturan kalamak diwaden lah jadi biaso di nagari ko. Iko pangalaman pribadi se 
di caritokan. Sabulan patang dibukittingi, cameh2 manumpang oto carry dari aua 
ka pasa ateh. Dibatam labiah kurang cando itu pulo (indak generalisir do). Tapi 
pasti ado pulo nan elok tantunyo.

Turatik supir baraik di new zealand iyo taraso di ambo Pak Dotor, kutiko turun 
dari bus itu (citylink), diagiahnyo jalan sampai manyubarang. Satiok panumpang 
turun oto, batarimo kasih ka si supir. Iyo, arago maargoi dijunjuan tinggi, 
labiah lo dari budaya urang timur (mungkin).

Mudah2an budaya ko bisa kito terapkan, paliang tidak, dari kito2 se dulu Pak 
Dotor.

Wassalam

Tan Menan - Batam

 

--- On Mon, 6/22/09, suheimi ksuheimi <[email protected]> wrote:

> From: suheimi ksuheimi <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] BANGKAI OPLET
> To: [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], [email protected], 
> [email protected]
> Date: Monday, June 22, 2009, 10:02 PM
> 
> 
> 
> BANGKAI
> OPLET
>   
> Oleh :
> Dr.H.K.Suheimi
>   
>   
>       Dilembah anai
> saya saksikan pemandangan yang mengerikan itu, seharusnya
> sesampai di lembah anai saya ingin menyaksikan
>  pemandangan  cagar alam yang luar biasa indah dan
>  mengagumkan.  Liku-liku  air  yang
> gemericik di celah-celah  bebatuan,  mengeluarkan
> buih yang halus di sepenjang lembah anai, hutan yang lebat
> dengan monyet  yang berjuntaian, serta jalan yang
> berliku-liku menambah asyiknya  memandang dan menikmati
> lembah yang  betul-betul  indah itu. Tapi di
> sebuah kelok di dekat cubadak bungkuk, kami saksikan bangkai
>  oplet yang sudah remuk, hancur luluh berantakkan,
>  tidak tahu  lagi bagaimana bentuknya, atapnya
> sudah tercampak,  mukanya sudah terlipat ke belakang,
> tempat duduknya hancur, pecahan  kaca
>  tersebar  di mana-mana. Sehari sebelumnya oplet itu
> berlaga  kambing  dengan sebuah Bus yang besar,
> kecelakaan tak bisa  di hindarkan  lagi, oplet itu
> terseret sejauh 30 meter, penompang  yang di dalamnya
> tergilas terjepit dan serpihan-serpihan daging  serta
> tetesan  darah pun bertebaran di mana-mana. Sejumlah
> korban  pagi itu  tergeletak  di pinggir
> jalan. Sekali lagi  lembah  anai  nan permai
>  di  sirami darah dan di tebari bangkai.
>  Bangkai  manusia ataupun  bangkai mobil,
> bahkan pernah bangkai kereta api.  Kalau ingin kita
> mencoba mengumpulkan sudah berapa jumlahnya nyawa yang pergi
>  di lembah anai ini, sudah berapa orang yang
>  cacat  disitu dan  sudah berapa pula
> bangkai-bangkai mobil, kereta  dan  sepeda motor
> yang bergelimpangan di tempat yang justru semua orang ingin
> menikmati  kesejukannya, ke asriannya, ke
>   hutan  belantaraannya. 
>   
>       Namun disitu pula kengerian demi
> kengerian ber gentayangan, belum habis satu datang lagi yang
> lain, seperti tak henti-hentinya.  Ya Tuhan,
>  kenapa, kenapa ini harus terjadi?. Salahkah
>  orang  yang membuat  jalan  yang
> berliku, salahkah pendakian  dan  penurunan,
> salahkah  belokkan yang tajam?. Salahkah rambu-rambu
> yang ada  di tiap  kelokkan  itu, salahkah
> cermin cembung yang terpampang  di banyak
>  kelokkan?. Kalau semua itu tidak bersalah, lalu
>  siapakah yang  salah?  dan apakah yang
> salah?. Merinding  bulu  kuduk  ini
> menyaksikan bangkai mobil dan bangkai manusia bergelimpangan
>  di sepanjang jalan di lembah anai. 
>   
>       Waktu
>  kami di Australia dan New zealand, seminggu
>  mengelilingi pulau itu memakai mobil, memang tidak
> banyak tanjakkan  dan tidak banyak kelokkan dan juga
> tidak banyak bertemu dengan mobil-mobil  di sepanjang
> pulau itu. Jalannyapun bagus dan banyak  yang lurus.
>  Tapi sopirnya, sopirnya itu selalu dan sangat
> hati-hati. Dia sadar di tangannya banyak menompang nyawa
> penompang.  Sedikit saja kekeliruan dan kelalaiannya
> akan berakibat fatal bagi penompangnya. Kalau ada saja mobil
> yang akan mendahului, dengan segera sang  sopir ini
> memperlambat kendaraannya, lalu menepi  kepinggir
> jalan. 
>   
> Di kampung saya, sudah memekik klakson
> dibelakangnya pertanda ada yang ingin mendahului, tidak di
> berinya jalan dan kesempatan,  bahkan gas makin di
> tancapnya, kalau ada yang  berniat  mau memotong.
>  Tidak jarang saling mengadu kekuatan mesin  mobil
>  dan ber  pacu-pacu  di jalan Raya, seperti
> jalan raya itu dia  yang punya. Dia tak mau tahu,
> mungkin orang yang ingin mendahului  ini karena
>  ada  keperluan yang mendadak, ingin menolong
>  orang  yang sedang kesakitan mau melahirkan, atau
> sedang membawa orang  sakit dan  ber
>  macam-macam keperluan yang  harus
>  diburukannya.  Kedua mobil  itu berlomba,
> tidak mau kalah, sehingga resiko untuk berlanggar tak
> dapat di elakkan. Maka kalau di hitung-hitung,  lebih
>  tinggi  angka kematian yang di sebabkan oleh
> kecelakaan  daripada yang di sebabkan oleh karena
> peperangan. Kasihan demikian  banyak nyawa  yang
> melayang, hanya di sebabkan oleh  karena
>  kecerobohan dan ke tidak sabaran
> pengemudi. 
>   
> Pengemudi  dia adalah pemimpin
> didalam mobil yang  di  kendarainya,  di
> tangannya tergantung keselamatan  penompangnya.
>  Dan sebagaimana  dan dimanapun; selalu di katakan
> setiap kamu  adalah pemimpin  dan setiap pemimpin
> kelak akan di mintakan  pertanggung jawabnya terhadap
> apa-apa yang di pimpinnya. 
>   
> Darah  telah menetes di lembah anai,
> serpihan  daging  telah terserak dimana, mana,
> bangkai telah bergelimpanggan, baik  bangkai
>  manusia  maupun bangkai kenderaan. Lembah anai
>  tempat  yang indah  itu telah lama menjadi
> saksi bisu tentang  kehancuran  dan kemusnahan
>  dan  ke binasaan. Belum cukupkah
>  korban-korban  yang bergelimpangan itu?. Akankah
> di tambah dan bertambah banyak  juga korban-korban
>  yang akan datang?. Siapa tahu mungkin  adik,
>  saudara,  teman dan entah siapa lagi, semua kita
> ndak  tahu.  Semua korban  yang  jatuh
> itu, jadi korban yang sia-sia,  hanya  karena
> kelalaian, sekali lagi karena kelalaian. 
>   
> Tugas  kita  sebagai
>  penompang  diatas  kenderaan,  agaknya
> adalah untuk selalu memberi tahu dan mengingatkan
> kalau-kalau ada sopir  yang lalai, lalai akan batas
> kecepatan, lalai akan  rambu-rambu  yang  di
>  langgar, lalai dan tak ingat bahwa  dia
>  sedang bertanggung jawab membawa banyak penompang.
> Mari sama-sama saling mengingatkan, jangan biarkan sang
> sopir mengantuk, jangan biarkan sang sopir menerawang dan
> jangan biarkan dia melalaikan kenderaan yang di percayakan
> padanya. 
>   
> Untuk  semua itu saya teringat akan
> sebuah  Firman  suci_Nya dalam Al-Qur'an surat
> Yaa Siin ayat 6 :"Agar kamu memberi  peringatan
>  kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah
>  di  beri peringatan, karena itu mereka
> lalai". 
>   
>   
> B.
> Tinggi   21 Desember
> 1992
> 
>        
> Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
> Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda
> sekarang
> 
> > 
> 
> 
> 


      





      Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Lengkap dengan segala yang Anda sukai 
tentang Messenger! http://id.messenger.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke