SBY dan atau versus JK

 

Dulu kita seiring sejalan bergandengan tangan menempuh jalan yang sama,
saya didepan kau sedikit dibelakangku, terkadang kau ku suruh tampil
maju kedepan untuk merintis jalan, tapi ketika kita sampai diujung jalan
dan saat berada dipersimpangan aku ingin melanjutkan perjalanan ini
kedepan sendirian tanpa kau dibelakangku lagi. Sementara kau ingin lebih
cepat lebih bagus menempuh jalan yang berbeda dengan ku dengan
pasanganmu yang lain. Kita tidak bisa lagi dipenghujung jalan ini untuk
lebih cepat lebih bagus melanjutkan jalan yang sama kedepan.

 

Begitulah kira-kira kondisi yang terjadi dua sosok tokoh kita yang telah
memimpin bangsa ini menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode
2004-2009. Susilo Bambang Yudhono (SBY) dan M Yusuf Kalla (JK) memilih
jalan sendiri tanpa bergandengan tangan lagi, keduanya melalui partai
masing-masing maju menjadi orang nomor satu di Negeri ini, banyak juga
dari masyarakat menginkan kedua pasangan ini kembali memimpin bangsa ini
5 tahun kedepan tapi itu tidak terjadi lagi. Banyak factor-faktor serta
berbagai alasan kenapa mereka tidak bisa berpasangan lagi ketika sampai
diujung jalan dan ingin melanjutkan perjalan bahkan beberapa analisa
atau rumor yang beredar ditengah jalanpun kadang-kadang mereka tidak
seirama lagi melangkah dalam memimpin bangsa ini.

 

Salah satu factor kenapa mereka berpisah tidak mau lagi berpasangan
melanjutkan jadi Presiden dan Wakil Presiden untuk masa 5 tahun kedepan
tentunya tidak terlepas hasil dari pemilu legislative yang telah
berlansung pada tanggal 9 April 2009 hasilnya Partai Demokrat yang
dibidani oleh SBY menjadi pemenang .   Kondisi ini tentu sangat berbeda
dengan Pemilu 2004 dimana partai Demokrat yang baru lahir masih jauh
perolehan suaranya dibandingkan partai Golkar saat itu di Pimpin oleh
Akbar Tanjung. Jika kita tarik mundur tahun 2004 Golkar sebagai pemenang
pemilu mengadakan Konvensi untuk menentukan siapa yang akan maju menjadi
Presiden dan yang terpilih adalah Wiranto yang diusung Golkar untuk
bertarung di Pemilu Presiden berpasangan dengan Salahuddin. Hasilnya
Wiranto gagal total bahkan sudah KO di putaran pertama.

 

SBY sadar diri saat itu karena partai Demokrat jauh dibawah Golkar dan
PDI P dengan kharisma dan kepopulerannya saat itu SBY  begitu perjaya
diri maju menjadi Presiden tentunya tidak lepas dengan kecerdikan dan
strateginya dengan mengandeng JK sebagai salah satu elite/tokoh Golkar
menjadi Wakilnya. Strateginya sangat jitu pasangan ini lolos diputaran
pertama Pilpres dan bertarung dengan Megawati yang disusung PDI-P
berpasangan dengan Hasyim Muzadi. Diputaran kedua saat itu Akbar Tanjung
sebagai ketua umum Golkar dan para elitnya meyerukan kepada para
kadernya baik dipusat maupun didaerah dan tentunya menghimbau agar para
pemilih Golkar untuk mendukung (memberikan suara) kepada pasngan
Mega-Hasyim. Diatas kertas secara matematis Mega-Hasyim yang disusung
oleh PDI-P dan didukung penuh oleh Golkar serta partai-partai menengah
dan kecil lainnya tentu akan menjadi pemenang dalam Pilpres putaran
kedua.

 

Tapi itu kemenangan  diatas kertas yang dihitung dengan sederet angka
dan dijumlahkan, tapi fakta di lapangan ditingkat "grass root" massa
ibaratnya seperti bola liar dan mencair, mereka begitu bebas memilih
tanpa harus mengikuti logika berpikir para elitnya "jika presiden yang
kita usung dari Golkar tentunya para pemilih Golkar harus memilihnya'.
Langkah SBY dengan elit Demokrat serta partai lain yang mengusungnya
cukup jitu mengandeng JK sebagai wakil presiden, suara massa pemilih
Golkar yang saat itu menjadi pemenang pemilu Legislatif terpecah
pilihannya, suara mereka tidak bulat buat pasangan Mega Hasyim sesuai
seruan dan himbauan Akabar Tanjung selaku Ketua Umum Partai Golkar.
Hasilnya SBY bersama JK  diputaran kedua Pilpres menjadi pemenang
mengalahkan pasangan Mega Hasyim.

 

Kondisi 2004 tentunya berbeda dengan 2009, SBY yang menjadi presiden
dengan partai Demokratnya semakin popular dimata masyarakat sementara JK
sebagai wakil presiden mengambil alih kendali biduk Partai Golkar dengan
terpilih menjadi Ketua Umum. Hasil pemilu legislative membuat segala
sesuatu menjadi berubah dan berakibatnya mereka berdua tidak seiring
sejalan lagi dalam memimpin bangsa ini 5 tahun kedepan. Partai Demokrat
yang menjadi pemenang Pemilu walau kemenangan ini tidak mutlak tapi
cukup memenuhi syarat SBY lebih perjaya diri untuk maju menjadi Presiden
dan menentukan pasangannya tanpa harus memilih dari wakil dari kader
partai yang berkoalisi dengan Demokrat, pilihan SBY jatuh pada orang
keperjayaannnya selama ini dikabinet yaitu Boediono (non partai).

 

Berpijak pengalaman tahun 2004 Golkar tidak mau bertindak "bodoh" lagi
dengan mengadakan konvensi untuk menentukan calon presiden yang
diusungnya yang terbukti gagal total. Dalam "pakem" politik puncak karir
tertinggi para politikus adalah dapat kursi (duduk) di Parlemen atau
menjadi Presiden  tentunya kursi Presiden ini adalah puncak karir
tertinggi pimpinan partai maka JK sebagai ketua umum dengan perolehan
suara di pemilu legislative berada dibawah partai Demokrat serta
memenuhi syarat  sesuai dengan ketentuan UU dengan dukungan koalisi
partai kecil lainnya maka JK diusung oleh Golkar untuk maju menjadi
Capres seperti halnya dengan Megawati sebagai ketua umum PDI-P diusung
partainya untuk maju menjadi capres.

 

Jika ada yang maju jadi Presiden dari calon indenpenden (non partai)
menurut saya itu mengingkari nilai-nilai atau cara-cara berdemokrasi.
Intinya demokrasi tentunya dari rakyat oleh rakyat  dan kekuasaan dan
kedaulatan itu berada ditangan rakyat ini diungkap dalam sebuah idiom
yang terkenal dalam berdemokrasi "Suara Rakyat adalah Suara Tuhan".
Suara rakyat inilah di tampung melalui wadah yang bernama Partai yang
nantinya rakyat mewakili suaranya pada partai untuk duduk di parlemen
melalui orang-orang yang mereka pilih didalam partai tempat dia
bernaung. Begitu juga untuk menjadi Presiden calon dari partai akan kuat
legitimasinya dibandingkan calon indenpenden yang jika terpilih jadi
presiden bisa jadi dalam menjalankan roda pemerintah tidak efektif dan
efesien karena tidak mendapat dukungan kuat dari parlemen (partai
politik). Jadi rasanya sudah pas ketiga Capres ini bertarung merebutkan
kursi Presiden untuk periode 2009-2014. Jika memang ada suara-suara dari
luar (non partai) ingin menjadi Presiden seakan mampu menyelesaikan
berbagai persoalan bangsa sebaiknya jangan berteriak diluar system
percuma saja itu hanya akan menghabiskan energi,  jalan yang paling baik
dan memang begitu "pakem" dalam berdemokrasi masuklah kedalam system dan
itu adalah partai. 

 

Lihatlah Wiranto dan Prabowo mereka hanya akan menghabiskan energi,
biaya dan waktu jika setiap saat berbicara diluar system dengan berbagai
acara, jika mereka berambisi ingin memimpin negeri mau tidak mau mereka
harus membikin wadahnya atau perahu yang akan mengantarkan mereka
menjadi Presiden. Wiranto akhirnya memproklamirkan partainya yang
bernama Hanura sedangkan Prabowo dengan partainya yang bernama Gerindra.
Tapi suara partai mereka belum signifikan untuk maju jadi Presiden tapi
cukup kuat menjadi wakil Presiden seperti yang kita ketahui akhirnya JK
memilih pasangan Wiranto sementara Mega memilih pasangannya Prabowo.

 

Tanggal 8 Juli 2009 seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai hak untuk
memilih dan tentunya mereka menggunakannya akan berbondong-bondong ke
TPS untuk menyontreng pilihan mereka kepada ketiga  Capres dan
pasangannya ini. Saya sebagai warga negara yang baik kartu tanda pemilih
telah saya kantongi dan  Insya Allah akan menggunakan "satu suara" saya
untuk menentukan pilihan ke salah satu calon. JK atau SB...SBY atau JK,
mereka membuat saya bimbang sementara Mega sudah pasti bukan pilihan
saya. Tapi paling tidak misi "satu suara" saya akan menyelamatkan JK dan
SBY bertarung di putaran kedua. SBY melalui tim suksesnya begitu berani
"mendeklerasikan" bahwa Pilpres ini akan berlansung satu putaran.
Pernyataan ini bisa jadi akan  menjadi boomerang bagi SBY sendiri dan
faktanya begitu dua pesaing SBY yaitu JK dan Mega balik menyerang  baik
itu disampaikan secara sindirin maupun secara  terbuka. Bahkan JK dalam
sebuah debat resmi yang diadakan KPU tanpa tedeng aling berkata kepada
SBY "Satu putaran itu bukan milik Pak SBY saja tapi juga saya dan Bu
Mega" 

 

Bagi saya tanggal 8 Juli  ibaratnya sebuah laga pemanasan saja sedangkan
pertarungan sejati pada putaran kedua yang berlansung tanggal 8
September dan saya tentu berharap pertarungan itu terjadi antara JK
versus SBY. Jika Pilpres ini hanya berjalan satu putaran dan itu
dimenangkan oleh salah satu kandidat dengan suara 50 % plus rasa-rasanya
kurang afdol legitimasinya jika dibandingkan jika berlansung Pilpres
pada putaran kedua. Jika terjadi dua putaran tentunya akan bertarung dua
calon disinilah suara rakyat berbicara "siapa betul yang diinginkan
rakyat menjadi Presiden" apalagi jika salah satunya memenangkan Pilpres
dengan suara 70 % maka legitimasinya semakin kuat.

 

Tapi saya masih meraba-raba kemungkinan yang akan terjadi setelah
pilpres berlansung tentunya yang akan menentukan apakah pilpres akan
berlansung satu putaran atau dua putaran tergantung kepada  seluruh
rakyat Indonesia yang menggunakan hak pilihnya pada hari Rabu tanggal 8
Juli. Saya sebagai salah satu rakyat Indonesia sama dengan rakyat yang
lain dimanapun level mereka berada dalam  tatanan social masyarakat
yaitu hanya memiliki SATU SUARA, mudah-mudahan satu suara saya ini ikut
berpatisipasi mengantarkan JK dan SBY melaju pada putaran kedua Pilpres,
jika selama ini segala prediksi, gonjang ganjing, debat sana sini yang
kecendrungannya Pilpres satu putaran dan akan dimenangi oleh SBY.

 

Dalam debat presiden selama ini moderator sering berkata mengajukan
pertanyaan kepada ketiga kandidat "Indonesia Bertanya" maka tidak ada
juga salahnya saya (kita)  menaruh harapan kepada siapapun yang akan
terpilih nanti dengan berkata "Indonesia Berharap" maka harapan saya
(kita) semua Presiden yang terpilih nanti semoga akan membawa nusa,
bangsa dan rakyatnya hidup lebih baik lagi dari segala aspek kehidupan
sehingga apa yang diamanahkan UUD,   bangsa dan negara  serta segenap
lapisan  masyarakatnya menjadi   sejahtera, adil dan makmur serta
berdaulat semoga terwujud hendaknya.

 

Selamat menggunakan hak pilih anda pada hari Rabu Tanggal 8 Juli 2009,
semoga satu suara anda memilih yang terbaik bagi bangsa ini.

 

Salam Jepe- Pku, 6 Juli 2009

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke