Rina, Uni Iffah dan Dunsanak Palanta RN Terutama para pendukung dan
pemilih JK-Win

 

Kalau ditanya soal sigi manyigi saya sehubungan "kalah telak" nya jagoan
kita telah banyak dibahas apa dan bagaimananya oleh para sanak2
dipalanta seperti oleh Kanda Tasril Moeis, Ibu Dr muda yang diBandung,
Ronald dan banyak lagi. Lalu bagaimana dengan saya sebagai pendukung
JK-Win

 

Jujur saja saya memang sedih atas kekalahan JK ini, sedih bukan Ia tidak
menjadi presiden atau minimal bertarung diputaran kedua tapi cara-cara
kalahnya menurut saya sangat sulit saya terima. Tapi sebelumnya jika ada
yang bertanya (paling tidak orang terdekat saya) kenapa saya menjatuhkan
pilihan sama JK, maka jawaban saya dari berbagai pertimbangan yang
paling sederhana salah satunya adalah seandainya JK yang urang sumanda
kita ini terpilih jadi Presiden tentunya sedikit banyak ranah minang
akan lebih diperhatikan pembangunan dari segala aspek kehidupan baik
fisik maupun mental  atau paling tidak sedikit banyak ada kedekatan
emosional Pak JK dengan ranah minang yang berdampak "lebih bergairahnya"
denyut pembangunan secara ekonomi di ranah minang dengan segala potensi
baik SDA dan SDM yang dimiliki di ranah minang. Logika saya sederhana
saja seperti halnya juga SBY jadi Presiden yang berasal dari sebuah
Kabupaten kecil dan kurang terkenal di Jawa yaitu Pacitan, semenjak
beliau jadi Presiden daerah kecil itu jadi terkenal disaentero
Nusantara, apapun ceritanya tentunya Pak SBY dengan ikatan emosionalnya
dengan tanah kelahirannya lebih sedikit memperhatikan kampungnya walau
tidak secara berlebihan dan serba wah tapi Pacitan sekarang saya pikir
tentu berbeda dengan Pacitan sebelum Pak SBY jadi Presiden
pembangunannya disegala sector.

 

JK ada benarnya yang meanalisa terlambatnya pencitraan beliau bukan itu
saja juga didorong factor internal dari Golkar sebagai perahu terbesar
yang mengusung beliau jadi Presiden (baca pendapat Tasril Moeis) dan itu
sangat wajar saja karena beliau adalah Ketua Umum Golkar. Sebagai contoh
coba bayangkan oleh para sanak yang mendukung JK, selesai Pilpres
tanggal 8 Juli besoknya diberitakan dikoran salah satu Wali Kota yang
merupakan elit Golkar dan Ia menjadi Walikota karena Golkar saat ditanya
wartawan "Pak pilih siapa" tanpa beban sang Walikota ini mengajungkan
dua jarinya sambil tersenyum kepada sang wartawan dan berkata "kita
pilih yang terbaiklah" Sungguh sesuatu yang menyakitkan bagi Pak JK saya
pikir. Memang hak seeorang untuk menentukan pilihannya jatuh kepada
siapapun dan itu dilindungi oleh undang-undang kebebasan masyarakatnya
untuk memilih siapa saja, tapi rasanya jika seorang elit Golkar dan
public figure seperti Walikota ini secara terbuka terang-terangan
memilih SBY kurang pantas lah menurut saya dari etika dan moral Ia
berpolitik. Seandainya jika pilihannya jatuh pada SBY cukup dia saja
yang tahu bersama Tuhan tanpa harus diumbar kepada masyarakat banyak,
menjadi lain persoalannya jika sang Walikota yang nota bene elit Golkar
ini ketika ditanya wartawan "Pilih siapa Pak" dengan pasti dan tegas
menjawab " Ya JK dong" dan itu sesuatu yang wajar karena JK diusung
Golkar dan Ia Elit atau bagian dari komitmen partai yang berlambang
Golkar ini menyukseskan JK_Win untuk menjadi Presiden walaupun
seandainya nanti kalah tapi paling tidak komitmennya sangat jelas dan
pasti sebagai elit Golkar.

 

Saya sendiri tidak tahu berapa banyak elit Golkar baik pusat dan daerah
yang menggunakan perahu Golkar untuk menjadi entah itu Gubernur,
Walikota dan Bupati didepan Pak JK sebagai Ketua Ummunya memang mereka
tampil gagah secara fisik dengan jas kebesaran Golkar yang berwarna
Kuning tapi sesungguhnya hatinya bewarna biru, merah entah warna
apalagi. Memang ada yang bilang pada saya "Itulah Politik Jepe"..ehemmm
semudah dan senaif itukah politik. Menurut saya politik itu masih
mempunyai ruang atau ranah yang lebar bagaimana berpolitik yang sehat,
menurut logika dan kewajaran untuk bagian-bagian tertentu yang memang
seharusnya begitu dilakukan contohnya jika elit Golkar apapun ceritanya
tentunya akan mendukung dan memilih JK.

 

Elit-elit GGolkar didaerah memang ada benarnya terasa kurang
pencitraannya atau mempopulerkan JK kelapisan masayarakat banyak (grass
root). Mereka punya segalanya jaringan, uang dan kekuasaan tentu lebih
terasa mudah pekerjaan untuk mempolerkan dan membangun citra JK-Win ke
masyarakat banyak jangankan mereka Elit ini saya sendiri sebagai
pendukung JK yang tidak ada kepentingan "Siapa dapat apa" menurut
catatan saya minimal 10-15 orang saya pengaruhi (terutama orang Minang
di Pekanbaru ini) untuk memilih Jk-Win dengan berbagai argument, alasan
dan pertimbangan yang saya berikan secara sederhana dan mereka
tertarik.Faktanya akibat tidak totalnya elit Golkar di Riau ini dan
daerah lainnya setelah penghitungan suara dikantong-kantong  Golkar
seperti Riau dan Sumbar suara JK-Win jauh anjloknya dan tidak mampu
bersaing dengan suara SBY. 

 

Ada benarnya jika masyarakat dilapisan bawah suaranya begitu mencair dan
mengambang, mereka memang secara tradisional adalah pemilih Golkar,  ini
hanya dalam arti tanda gambar kalau  partai mereka Golkar jika sudah
menyangkut pilihan Presiden atau Caleg bisa saja masyarakat secara
tradisional adalah Golkar tulen ini akan memilih Presiden atau calegnya
diluar Golkar dengan berbagai pertimbangan seperti ada hubungan saudara,
teman dan lain sebagainya. Ini kita bisa buktikan di tahun 2004 ketika
Pileg masih memilih tanda gambar maka Golkar keluar sebagai pemenang.
Dari pengamatan saya pemilih tradisional ini seperti Bapak-Bapak,
Ibu-Ibu, kakek-kakek dan Nenek-Nenek pensiunan PNS hati mereka sama
Golkar tapi pilihan mereka cendrung ke SBY. Bagi mereka Golkar itu Pak
harto dan pak Harto adalah Golkar titik, bisa jadi juga ada pengaruhnya
ketika Pak harto telah wafat maka Golkar hanya tinggal kenangan manis
bagi mereka. Tapi tentunya suara-suara tradisional Golkar ditingkat akar
rumput ini bisa lebih maksimal lagi digarap oleh para elit-elit Golkar
yang memegang posisi penting di pemerintahan secara moral politik mereka
bertanggung jawab semaksimal mungkin agar JK-Win lebih popular dan
citranya meningkat dimata para pendukung Golkar ini,tapi kenyataan baik
diatas kertas dan menurut logikanya paling tidak JK-Win suaranya
dikisaran 25-30 %. Alih-alih menjadi nomor dua dan ikut berlaga pada
putaran kedua (suara SBY dapat ditekan berdua kurang 50 % gabungan Mega
dan JK) bersaing dengan Mega-Pro saja jauh dari harapan. Jika bicara
Mega-Pro maka dari perolehan suaranya sudah maksimal dan memang
segitulah yang mereka bisa garap dan partai PDI-P bersama Elit dan Grass
Grootnya sangat konsisten.

 

Saya memang suka mengamati apa yang terjadi dilapisan bawah dimana
disinilah suara yang paling banyak,  sambil melaksanakan pekerjaan saya
yang sering turun ke masyarakat, faktanya Tim sukses, Tim kemenangan
atau apapun namanya bersama elit-elit Golkar serta partai koalisinya
kurang betul mensosialisasikan JK-Win terutama dimasa-masa kampanye
ibaratnya tidak ada denyut yang nyata dari mereka ketingkat masyarakat
bawah untuk mempolerkan dan membangun citra JK-Win, habis sudah jika ini
tidak dilakukan faktanya dilapisan masyarakat banyak yang saya
perhatikan memang sosok SBY sangat popular dipandang dari sisi apapun
"Tongkrongan fisiknya, gaya bicaranya, bahasa tubuhnya, kecerdasannya,
keintelektualnya, cara berbicaranya yang santun dan lain sebagainya
memang mumpuni".

 

Tim sukses, Tim kemenangan JK-Win yang saya amati memang asyik maksyuk
saja berdebat dari televise ke televise dari media ke media itu tidak
lebih kepada "tebar pesona" aktualisasi diri untuk menunjukan
kecerdasan, keintelektualan, cara berpikir dengan berbagai analisa dan
tingkat pengetahuan yang mumpuni ketika berdebat dengan Tim Sukses kedua
calon Pilpres yang lain. Menjadi pertanyaan saya seberapa besar
pengaruhnya saling debat Tim sukses ini mempopulerkan Presiden dimata
masyarakat bawah (grass root) yang nota bene inilah suara rill yang
perlu digarap habis-habisan yang didukungnya (saya pikir lebih cendrung
mempopulerkan Tim Sukses dari pada Presiden yang didukung dalam acara
debat yang sangat seru dan berbicara dengan bahasa-bahasa yang tinggi).
Dari pengamatan saya di desa-desa ketika berbicara dengan masyarakat
bawah ini sedikitpun mereka tidak menyimak acara-acara debat Tim Sukses
untuk  mempengaruhi pilihan mereka dan wajar saja "tidak termakan oleh
otak" mereka apa yang didebatkan Tim Sukses tersebut ditelevisi.

 

Tentu sangat berbeda jika Tim Sukses ini turun lansung ke akar rumput
mempopuler JK-Win,  ini betulah rasanya yang kurang dan sangat
disayangkan Elit Golkar di daerah yang punya jabatan strategis seperti
Gubernur, Walikota dan Bupati tidak "fight" secara total bisanya hanya
"mengacungkan dua jari" ketika ditanya wartawan tentu hal ini sangat
menyakitkan bagi JK sebagai pribadi maupun Ketua Umum Golkar. Saya
sebagai "Tim sukses indenpenden" tanpa ada kepentingan "Siapa dapat apa"
telah berusaha secara maksimal dengan turun lansung ke akar rumput untuk
mempolerkan JK-Win dengan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah mereka
pahami paling tidak mereka mendengar apa yang saya sampaikan dan membuat
mereka sedikit ragu-ragu untuk menentukan pilihan dan tentunya disaat
mereka ragu karena saya mempolerkan dan mengajak mereka memilih JK
tentu ada kecendrungan mereka agar memilih JK-Win.

 

Pesta telah usai hasilnya sudah diketahui JK-Win nomor 3 jika saya jadi
JK maka saya telah merasa sepi dalam keramaian, bukannya Golkar
mengevaluasi kekalahan ini tapi memanasnya lebih kepada memperebutkan
kursi Ketua Umum dari JK dengan agenda mempercepat Munaslub.Bagi saya
sebagai pendukung JK (bukan Golkar) kalau ini dikatakan "Beginilah
Politik" ya sudah tapi sungguh masih susah sekali saya menerima
cara-cara berpikir yang sehat.Jika banyak dari dunsanak RN ini pendukung
JK yang masih tetap bangga dengan sosok JK ini paska kekalahannya
sayapun termasuk masih tetap bangga dengan JK, sayapun ikut larut
bersama Pak JK-Win yang sepi dalam keramaian.

 

Pak JK telah mengucapkan selamat via telpon buat Pak SBY terobati juga
hati ini ketika Pak SBY dengan wajah sumringah, sejuk dan damai
menyambut suara Pak JK malah Pak SBY masih mengharapkan tenaga Pak JK
untuk bersama-samanya membangun negeri ini tentunya pada posisi bukan
lagi sebagai wakilnya. Pak SBY seperti kata Pak JK dalam debat
terakhirnya dibawah burung garuda foto orang  dikiri kanan boleh diganti
dan itu Pak SBY hanya perlu menurunkan foto Pak JK dan menggantinya
dengan Boediono, selamat buat pendukung SBY.

 

Pak JK telah menelpon Pak SBY dengan hapenya, saya berharap juga Pak JK
menelepon Pak Harmoko  agar turun gunung membenahi Golkar, siapa tahu
Pak Harmoko inilah yang bisa mengusir "Hantu-hantu" yang bernaung di
pohon beringin, hantu-hantu yang telah berselingkuh tidak mendukung dan
memilih JK, hantu-hantu yang menggunting dalam lipatan, hantu-hantu yang
menusuk Pak JK dari belakang. Jika Pak JK memenuhi janjinya seandai
tidak terpilih akan pulang kampung dengan tangan terbuka kita tunggu
beliau dikampung ranah minang tercinta sebagai urang Sumando. Selamat
berjuang Pak JK,  Presiden hanya sebuah pilihan dari berbagai pilihan
untuk berjuang demi bangsa, negara dan segenap masayarakat Indonesia
yang lebih sejahtera, adil dan makmur, semoga Allah selalu memberikan
rahmat, hidayah, kesehatan bagi Pak JK, Ibu Mufidah dan keluarga

 

Wass-Jepe (Pendukung dan Memilih JK dalam Pilpres)

 

 

 

-----Original Message-----

From: rinapermadi [mailto:[email protected]] 

Sent: Monday, July 13, 2009 11:07 AM

To: 'hanifah daman'

Subject: RE: [...@ntau-net] Re: FW: P E Y E K

 

 

Cubolah kito tanyoan ka pengamat nan berkompeten di dunia sigi ka sigi
nan

berdomisili di Pakan tan dih Ni. Baa pulo pandapek liau nan di Pakan tan

tun.

 

Wassalam

Rina, 32, batam

 

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke