Assalammmualikum w.w. Sudah lama juga saya tidak mampir di palanta karena saya tidak punya kompetensi urusan politik sementara semua orang bicara urusan politik jadi terpaksa pilih jadi pembaca yang budiman.
Bung IJP, Saya tidak punya latar ilmu politik namun saya juga ikut dikancah politik tahun 1998. Motivator saya adalah Pak Amin. Konsekwensi yang saya terima adalah : saya harus rela meneninggalkan kampus karena kebetulan 95% dosen saya adalah Tentara.Jelas saya merupakan orang yang tidak mereka senangi tapi saya tidak perlu menyalahkan mereka. Bukan hanya itu, bahkan saya juga harus kehilangan pekerjaan karena sering meninggalkan kantor tanpa restu dari pimpinan namun saya juga tidak menyalahkan diri sendiri karena murni panggilan hati saya ikut dalam perjuangan. Boleh dibilang juga saya adalah bagian dari manusia korban politik. Itu adalah pil pahit bagi saya namun bukan berarti kematian. Mungkin ini poin pertama yang anda harus catat bahwa kegagalam bukanlah kematian. Dari awal saya sudah menduga kegagalan yang akan anda hadapi dan mengatakan bahwa saya belum percaya pada anda namun saya selalu mengajak keluarga dan anak-anak saya untuk menonton TV bila anda tampil untuk memperkenalkan bahwa anda adalah tokoh muda Minang. Dalam komentar-komentar mereka saya sepakat bahwa anda tidak dapat mengendalikan emosional sehingga anda selalu dalam ketegangan. Mungkin ini point yang harus anda perhatikan. Dalam Pilleg saya tidak dapat mendukung anda karena berada dirantau namun setidaknya saya berharap anda terus maju. Dalam Pilpres saya ikut menukung JK-Win semata-mata karena etnis, sama sekali tidak karena kehebatannya namun saya tidak sependapat bila JK gagal lalu pulang kampung. Bagaimanapun saya mengatakan anda orang-orang pintar yang hebat dan pantas jadi harapan namun nyatanya anda tidak dapat menarik simpati masyarakat Indonesia karena anda kalah cerdik padahal cerdik ini biangnya ada di Minangkabau. Usulan saya agar bung melakukan koreksi dimana yang harus diperbaiki karena menurut saya mencari-cari kesalahan lawan atau mengkambing hitamkan pihak manapun. itu gaya lama. Mohon Ma'af, saya tidak bermaksud mendiskreditkan karena saya bukanlah simpatisan partai manapun namun yang jelas saya adalah bagian dari manusia yang lahir dan dibesarkan di ranah Minang dan menginginkan orang Minang tampil di depan. Suadah capek lihat orang Minang dibelakan Layar terus.?... Semoga anda terus Maju.... Saya ingin orang Minang menampilkan kinerja yang brilian tanpa harus menjelek-jelekan pihak lain. Anda Pasti bisa!..... Zulidamel Jkt 47Th. ----- Original Message ----- From: "Indra Jaya Piliang" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Monday, July 13, 2009 3:03 AM Subject: [...@ntau-net] Re: PENDAPAT SAYA TENTANG KEKALAHAN JK-Win Sanak JP. Timses Nasional JK-Wiranto jumlahnya ada 800-an nama. Ini yang resmi. Yg relawan lbh banyak lagi. Kalau soal debat di tv, memang tugasnya berdebat. Walaupun letih, ditugaskan spt itu oleh Pak Fahmi, Pak Iskandar, dllnya. Masak nggak perlu debat di tv-tv? Andaipun ndak debat, ndak ada tim JK-Win yg tampil, coba bayangkan bgmn pilpres ini. Di Sumbar, korwilnya Pak Nudirman Munir, dllnya. Juga Pak Djasri Marin. Setahu saya, mereka rajin turun. SY juga beberapa kali turun kelapangan. Tgl 6-7 Juli di kampung, tetapi "kaget" juga memang melihat ada pertemuan di PP Muhammadiyah. Evaluasi sedang dilakukan. Lbh dari 80% pemilih sudah menentukan plihan, sblm kampanye digelar. Hanya sedikit yg dipengaruhi oleh masa kampanye. Keajaiban itu memang blm ada. Dlm proses politik, itu harus diterima dg tawakkal. Terima kash atas kerja keras Bung JP. IJP --- On Mon, 7/13/09, Jupardi <[email protected]> wrote: > From: Jupardi <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] PENDAPAT SAYA TENTANG KEKALAHAN JK-Win > To: [email protected] > Date: Monday, July 13, 2009, 2:38 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Rina, Uni Iffah dan Dunsanak > Palanta RN Terutama para > pendukung dan pemilih JK-Win > > > > Kalau ditanya soal sigi manyigi > saya sehubungan > "kalah telak" nya jagoan kita telah banyak > dibahas apa dan > bagaimananya oleh para sanak2 dipalanta seperti oleh Kanda > Tasril Moeis, Ibu Dr > muda yang diBandung, Ronald dan banyak lagi. Lalu bagaimana > dengan saya sebagai > pendukung JK-Win > > > > Jujur saja saya memang sedih > atas kekalahan JK ini, > sedih bukan Ia tidak menjadi presiden atau minimal > bertarung diputaran kedua > tapi cara-cara kalahnya menurut saya sangat sulit saya > terima. Tapi sebelumnya > jika ada yang bertanya (paling tidak orang terdekat saya) > kenapa saya > menjatuhkan pilihan sama JK, maka jawaban saya dari > berbagai pertimbangan yang > paling sederhana salah satunya adalah seandainya JK yang > urang sumanda kita ini > terpilih jadi Presiden tentunya sedikit banyak ranah minang > akan lebih > diperhatikan pembangunan dari segala aspek kehidupan baik > fisik maupun > mental atau paling tidak sedikit banyak ada kedekatan > emosional Pak JK > dengan ranah minang yang berdampak “lebih > bergairahnya” denyut > pembangunan secara ekonomi di ranah minang dengan segala > potensi baik SDA dan > SDM yang dimiliki di ranah minang. Logika saya sederhana > saja seperti halnya > juga SBY jadi Presiden yang berasal dari sebuah Kabupaten > kecil dan kurang terkenal > di Jawa yaitu Pacitan, semenjak beliau jadi Presiden daerah > kecil itu jadi > terkenal disaentero Nusantara, apapun ceritanya tentunya > Pak SBY dengan ikatan > emosionalnya dengan tanah kelahirannya lebih sedikit > memperhatikan kampungnya > walau tidak secara berlebihan dan serba wah tapi Pacitan > sekarang saya pikir > tentu berbeda dengan Pacitan sebelum Pak SBY jadi Presiden > pembangunannya > disegala sector. > > > > JK ada benarnya yang meanalisa > terlambatnya pencitraan > beliau bukan itu saja juga didorong factor internal dari > Golkar sebagai perahu > terbesar yang mengusung beliau jadi Presiden (baca pendapat > Tasril Moeis) dan > itu sangat wajar saja karena beliau adalah Ketua Umum > Golkar. Sebagai contoh coba > bayangkan oleh para sanak yang mendukung JK, selesai > Pilpres tanggal 8 Juli > besoknya diberitakan dikoran salah satu Wali Kota yang > merupakan elit Golkar > dan Ia menjadi Walikota karena Golkar saat ditanya wartawan > “Pak pilih > siapa” tanpa beban sang Walikota ini mengajungkan dua > jarinya sambil > tersenyum kepada sang wartawan dan berkata “kita > pilih yang > terbaiklah” Sungguh sesuatu yang menyakitkan bagi Pak > JK saya pikir. > Memang hak seeorang untuk menentukan pilihannya jatuh > kepada siapapun dan itu > dilindungi oleh undang-undang kebebasan masyarakatnya untuk > memilih siapa saja, > tapi rasanya jika seorang elit Golkar dan public figure > seperti Walikota ini > secara terbuka terang-terangan memilih SBY kurang pantas > lah menurut saya dari > etika dan moral Ia berpolitik. Seandainya jika pilihannya > jatuh pada SBY cukup > dia saja yang tahu bersama Tuhan tanpa harus diumbar kepada > masyarakat banyak, > menjadi lain persoalannya jika sang Walikota yang nota bene > elit Golkar ini > ketika ditanya wartawan “Pilih siapa Pak” > dengan pasti dan tegas > menjawab “ Ya JK dong” dan itu sesuatu yang > wajar karena JK diusung > Golkar dan Ia Elit atau bagian dari komitmen partai yang > berlambang Golkar ini > menyukseskan JK_Win untuk menjadi Presiden walaupun > seandainya nanti kalah tapi > paling tidak komitmennya sangat jelas dan pasti sebagai > elit Golkar. > > > > Saya sendiri tidak tahu berapa > banyak elit Golkar baik > pusat dan daerah yang menggunakan perahu Golkar untuk > menjadi entah itu > Gubernur, Walikota dan Bupati didepan Pak JK sebagai Ketua > Ummunya memang > mereka tampil gagah secara fisik dengan jas kebesaran > Golkar yang berwarna > Kuning tapi sesungguhnya hatinya bewarna biru, merah entah > warna apalagi. > Memang ada yang bilang pada saya “Itulah Politik > Jepe”..ehemmm > semudah dan senaif itukah politik. Menurut saya politik itu > masih mempunyai > ruang atau ranah yang lebar bagaimana berpolitik yang > sehat, menurut logika dan > kewajaran untuk bagian-bagian tertentu yang memang > seharusnya begitu dilakukan > contohnya jika elit Golkar apapun ceritanya tentunya akan > mendukung dan memilih > JK. > > > > Elit-elit GGolkar didaerah > memang ada benarnya terasa > kurang pencitraannya atau mempopulerkan JK kelapisan > masayarakat banyak (grass > root). Mereka punya segalanya jaringan, uang dan kekuasaan > tentu lebih terasa > mudah pekerjaan untuk mempolerkan dan membangun citra > JK-Win ke masyarakat > banyak jangankan mereka Elit ini saya sendiri sebagai > pendukung JK yang tidak > ada kepentingan “Siapa dapat apa” menurut > catatan saya minimal > 10-15 orang saya pengaruhi (terutama orang Minang di > Pekanbaru ini) untuk > memilih Jk-Win dengan berbagai argument, alasan dan > pertimbangan yang saya > berikan secara sederhana dan mereka tertarik.Faktanya > akibat tidak totalnya > elit Golkar di Riau ini dan daerah lainnya setelah > penghitungan suara > dikantong-kantong Golkar seperti Riau dan Sumbar > suara JK-Win jauh > anjloknya dan tidak mampu bersaing dengan suara SBY. > > > > > Ada benarnya jika masyarakat > dilapisan bawah suaranya > begitu mencair dan mengambang, mereka memang secara > tradisional adalah pemilih > Golkar, ini hanya dalam arti tanda gambar kalau > partai mereka > Golkar jika sudah menyangkut pilihan Presiden atau Caleg > bisa saja masyarakat > secara tradisional adalah Golkar tulen ini akan memilih > Presiden atau calegnya > diluar Golkar dengan berbagai pertimbangan seperti ada > hubungan saudara, teman > dan lain sebagainya. Ini kita bisa buktikan di tahun 2004 > ketika Pileg masih > memilih tanda gambar maka Golkar keluar sebagai pemenang. > Dari pengamatan saya > pemilih tradisional ini seperti Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, > kakek-kakek dan > Nenek-Nenek pensiunan PNS hati mereka sama Golkar tapi > pilihan mereka cendrung > ke SBY. Bagi mereka Golkar itu Pak harto dan pak Harto > adalah Golkar titik, > bisa jadi juga ada pengaruhnya ketika Pak harto telah wafat > maka Golkar hanya > tinggal kenangan manis bagi mereka. Tapi tentunya > suara-suara tradisional > Golkar ditingkat akar rumput ini bisa lebih maksimal lagi > digarap oleh para > elit-elit Golkar yang memegang posisi penting di > pemerintahan secara moral > politik mereka bertanggung jawab semaksimal mungkin agar > JK-Win lebih popular > dan citranya meningkat dimata para pendukung Golkar > ini,tapi kenyataan baik > diatas kertas dan menurut logikanya paling tidak JK-Win > suaranya dikisaran > 25-30 %. Alih-alih menjadi nomor dua dan ikut berlaga pada > putaran kedua (suara > SBY dapat ditekan berdua kurang 50 % gabungan Mega dan JK) > bersaing dengan > Mega-Pro saja jauh dari harapan. Jika bicara Mega-Pro maka > dari perolehan > suaranya sudah maksimal dan memang segitulah yang mereka > bisa garap dan partai > PDI-P bersama Elit dan Grass Grootnya sangat > konsisten. > > > > Saya memang suka mengamati apa > yang terjadi dilapisan > bawah dimana disinilah suara yang paling banyak, > sambil melaksanakan > pekerjaan saya yang sering turun ke masyarakat, faktanya > Tim sukses, Tim > kemenangan atau apapun namanya bersama elit-elit Golkar > serta partai koalisinya > kurang betul mensosialisasikan JK-Win terutama dimasa-masa > kampanye ibaratnya > tidak ada denyut yang nyata dari mereka ketingkat > masyarakat bawah untuk > mempolerkan dan membangun citra JK-Win, habis sudah jika > ini tidak dilakukan > faktanya dilapisan masyarakat banyak yang saya perhatikan > memang sosok SBY > sangat popular dipandang dari sisi apapun > “Tongkrongan fisiknya, gaya > bicaranya, bahasa tubuhnya, kecerdasannya, > keintelektualnya, cara berbicaranya > yang santun dan lain sebagainya memang > mumpuni”. > > > > Tim sukses, Tim kemenangan > JK-Win yang saya amati > memang asyik maksyuk saja berdebat dari televise ke > televise dari media ke > media itu tidak lebih kepada “tebar pesona” > aktualisasi diri untuk > menunjukan kecerdasan, keintelektualan, cara berpikir > dengan berbagai analisa > dan tingkat pengetahuan yang mumpuni ketika berdebat dengan > Tim Sukses kedua > calon Pilpres yang lain. Menjadi pertanyaan saya seberapa > besar pengaruhnya > saling debat Tim sukses ini mempopulerkan Presiden dimata > masyarakat bawah > (grass root) yang nota bene inilah suara rill yang perlu > digarap habis-habisan yang > didukungnya (saya pikir lebih cendrung mempopulerkan Tim > Sukses dari pada Presiden > yang didukung dalam acara debat yang sangat seru dan > berbicara dengan > bahasa-bahasa yang tinggi). Dari pengamatan saya di > desa-desa ketika berbicara > dengan masyarakat bawah ini sedikitpun mereka tidak > menyimak acara-acara debat > Tim Sukses untuk mempengaruhi pilihan mereka dan > wajar saja “tidak > termakan oleh otak” mereka apa yang didebatkan Tim > Sukses tersebut > ditelevisi. > > > > Tentu sangat berbeda jika Tim > Sukses ini turun lansung > ke akar rumput mempopuler JK-Win, ini betulah rasanya > yang kurang dan > sangat disayangkan Elit Golkar di daerah yang punya jabatan > strategis seperti > Gubernur, Walikota dan Bupati tidak “fight” > secara total bisanya > hanya “mengacungkan dua jari” ketika ditanya > wartawan tentu hal ini > sangat menyakitkan bagi JK sebagai pribadi maupun Ketua > Umum Golkar. Saya > sebagai “Tim sukses indenpenden” tanpa ada > kepentingan “Siapa > dapat apa” telah berusaha secara maksimal dengan > turun lansung ke akar > rumput untuk mempolerkan JK-Win dengan bahasa-bahasa yang > sederhana dan mudah > mereka pahami paling tidak mereka mendengar apa yang saya > sampaikan dan membuat > mereka sedikit ragu-ragu untuk menentukan pilihan dan > tentunya disaat mereka > ragu karena saya mempolerkan dan mengajak mereka memilih > JK tentu ada > kecendrungan mereka agar memilih JK-Win. > > > > Pesta telah usai hasilnya sudah > diketahui JK-Win nomor > 3 jika saya jadi JK maka saya telah merasa sepi dalam > keramaian, bukannya > Golkar mengevaluasi kekalahan ini tapi memanasnya lebih > kepada memperebutkan > kursi Ketua Umum dari JK dengan agenda mempercepat > Munaslub.Bagi saya sebagai > pendukung JK (bukan Golkar) kalau ini dikatakan > “Beginilah Politik” > ya sudah tapi sungguh masih susah sekali saya menerima > cara-cara berpikir yang > sehat.Jika banyak dari dunsanak RN ini pendukung JK yang > masih tetap bangga > dengan sosok JK ini paska kekalahannya sayapun termasuk > masih tetap bangga > dengan JK, sayapun ikut larut bersama Pak JK-Win yang sepi > dalam keramaian. > > > > Pak JK telah mengucapkan selamat > via telpon buat Pak > SBY terobati juga hati ini ketika Pak SBY dengan wajah > sumringah, sejuk dan > damai menyambut suara Pak JK malah Pak SBY masih > mengharapkan tenaga Pak JK > untuk bersama-samanya membangun negeri ini tentunya pada > posisi bukan lagi > sebagai wakilnya. Pak SBY seperti kata Pak JK dalam debat > terakhirnya dibawah > burung garuda foto orang dikiri kanan boleh diganti > dan itu Pak SBY hanya > perlu menurunkan foto Pak JK dan menggantinya dengan > Boediono, selamat buat > pendukung SBY. > > > > Pak JK telah menelpon Pak SBY > dengan hapenya, saya > berharap juga Pak JK menelepon Pak Harmoko agar turun > gunung membenahi > Golkar, siapa tahu Pak Harmoko inilah yang bisa mengusir > “Hantu-hantu” yang bernaung di pohon beringin, > hantu-hantu yang > telah berselingkuh tidak mendukung dan memilih JK, > hantu-hantu yang menggunting > dalam lipatan, hantu-hantu yang menusuk Pak JK dari > belakang. Jika Pak JK > memenuhi janjinya seandai tidak terpilih akan pulang > kampung dengan tangan > terbuka kita tunggu beliau dikampung ranah minang tercinta > sebagai urang > Sumando. Selamat berjuang Pak JK, Presiden hanya > sebuah pilihan dari > berbagai pilihan untuk berjuang demi bangsa, negara dan > segenap masayarakat > Indonesia yang lebih sejahtera, adil dan makmur, semoga > Allah selalu memberikan > rahmat, hidayah, kesehatan bagi Pak JK, Ibu Mufidah dan > keluarga > > > > Wass-Jepe > (Pendukung dan Memilih JK > dalam Pilpres) > > > > > > > > -----Original > Message----- > > From: rinapermadi > [mailto:[email protected]] > > Sent: Monday, July 13, 2009 11:07 > AM > > To: 'hanifah daman > ' > > Subject: RE: [...@ntau-net] Re: FW: P E Y > E K > > > > > > Cubolah kito > tanyoan ka pengamat nan > berkompeten di dunia sigi ka sigi nan > > > berdomisili di > Pakan tan dih Ni. Baa > pulo pandapek liau nan di Pakan tan > > tun. > > > > > > Wassalam > > Rina, 32, batam > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
