Berita ini terasa investigatif sekali. Dibandingkan dengan berita media lain,
berita seperti ini akan mengurangi spekulasi tdk perlu, termasuk terhadap
pernyataan "aneh" Presiden SBY.
Jawa Pos, Sabtu, 18 Juli 2009 ]
Bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton Dirakit di Kamar 1808
Libatkan Warga Asing, Simpan di Tas Laptop
JAKARTA - Tim Densus 88 Mabes Polri menduga peledakan bom di Hotel JW Marriott
dan Hotel Ritz-Carlton kemarin pagi (17/7) melibatkan warga negara asing.
(WNA). Aksi pengeboman itu dirancang secara rapi dan dilakukan secara
berkelompok. "Lebih dari empat orang. Mungkin dua menginap. Yang lain datang
bergantian menyuplai bahan-bahan. Tapi, itu baru analisis awal, masih
didalami," kata sumber Jawa Pos yang menangani kasus tersebut tadi malam.
Bom yang meledak di Pub Tentakel, lobi Hotel JW Marriott, pada pukul 7.47 dan
di Restoran Airlangga, Hotel Ritz-Carlton, pada pukul 7.50 itu dilaporkan
sebagai aksi bom bunuh diri. Tubuh peledak remuk, namun muka mereka masih bisa
diidentifikasi. Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) memastikan
hal itu berdasar olah TKP, analisis, dan pemeriksaan saksi-saksi.
"Bisa ditegaskan itu bom bunuh diri dan dua pelakunya saat ini sedang dalam
pendalaman (identitasnya)," kata BHD dalam keterangan persnya di depan Hotel
Ritz-Carlton tadi malam. Kapolri kemarin datang ke TKP bersama hampir seluruh
petinggi Polri. Antara lain, Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara,
Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji, Kabaintelkam Irjen Pol Saleh Saaf, Kapolda
Metro Jaya Irjen Pol Wahyono, dan Kadivhumas Polri Irjen Pol Nanan Sukarna.
Di tempat yang sama, hingga tadi malam, personel Detasemen Khusus 88 Mabes
Polri masih bekerja keras mengungkap peledakan bom itu. Kesatuan berlambang
burung hantu itu membentuk pos komando di lantai tiga Hotel Ritz-Carlton. Tim
Densus 88 langsung dipimpin Kepala Densus 88 Brigjen Saut Usman Nasution.
Mereka menarik seluruh regu Densus dari daerah. "Ada dua regu yang ditarik dari
Lampung, Jogjakarta, dan Jambi. Mereka sekarang sudah di Jakarta," imbuh sumber
dari Mabes Polri tadi malam.
Sehari sebelum bom terjadi, tim Densus berkonsentrasi di Lampung dan Jambi.
Penyebabnya, hasil penyidikan dan pengejaran tersangka teroris di Cilacap
mengarah ke dua lokasi luar Jawa itu. Densus yakin, jaringan Cilacap terkait
dengan peledakan JW Marriott. Apalagi bom yang meledak itu identik dengan
penemuan bom di rumah Baridin, Dusun Mlela, RT 18, RW 06, Desa Pasuruhan,
Kecamatan Binangun, Cilacap, pada Selasa ( 14/07).
Baridin masih belum tertangkap. Polisi menduga dia adalah mertua Noordin M.
Top.
Sebagian anggota tim Densus sudah mengamankan saksi-saksi kunci yang selamat
dari pengeboman itu. "Untuk saksi, ada petugas resepsionis hotel, ada tamu.
Mereka dilindungi di lokasi yang dirahasiakan," kata sumber itu.
BHD menjelaskan, pelaku yang diduga meledakkan bom di Hotel Ritz-Carlton
relatif bisa dikenali karena kondisi mukanya masih utuh. Sementara pelaku di
JW Marriott, batok kepalanya lepas. "Tapi dari kulit mukanya, dengan peralatan
yang dimiliki Polri, nanti masih bisa diidentifikasi," terangnya.
Identifikasi terhadap dua korban yang diduga menjadi pelaku bom bunuh diri itu
dianggap penting. Sebab, lanjut Kapolri, pihaknya bisa mengungkap siapa di
balik aksi pengeboman tersebut. "Pelaku masih dalam proses penyisiran. Kami
akan telusuri, tangkap, dan tindak tegas," tegas lulusan Akpol 74 itu. BHD
juga belum memastikan identitas kewarganegaraan dua pelaku tersebut.
Menurut Bambang, selain dua bom yang meledak, polisi menemukan satu bom aktif
dengan jenis yang sama di kamar 1808 Hotel JW Marriott. Bom tersebut lantas
berhasil diurai dan dijinakkan oleh tim Gegana Polri sekitar satu setengah jam
setelah peledakan terjadi.
Bom yang berhasil diurai di kamar itu berbahan utama black powder dan berjenis
low explosive. Namun, untuk menimbulkan efek mematikan, pelaku menggunakan mur
dan campuran gotri. Teknik ini mirip dengan yang digunakan kelompok militan
jaringan Noordin M. Top.
Kapolri menjelaskan, kamar 1808 menjadi posko kelompok pengebom. Mereka check
in di hotel bintang lima itu sejak 15 Juli. Namun, dia hanya menyebut inisial
penyewa kamar, yaitu NA. Saat disebut nama Nurdin Aziz, Kapolri menjawab,
"Saya tidak mau berandai-andai untuk pengungkapan."
Berdasar hasil olah TKP yang dilakukan, lanjutnya, sembilan korban tewas. Di
antara total 55 korban luka, 18 orang adalah WNA dan kini masih menjalani
perawatan.
Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna menambahkan, pelaku diduga
memasukkan bom ke dalam tas laptop. "Mungkin dipereteli dulu, baru dirakit di
dalam hotel," katanya. Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos dari berbagai
sumber, Nurdin menggunakan identitas KTP untuk check in. Dia membayar deposit
langsung untuk tiga hari ke depan. Karena menggunakan uang dolar cash, Nurdin
diharuskan membayar tiga kali lipat.
Tarif sehari di kamar 1808 seharga USD 105. Untuk menginap tiga hari (pada
15-17 Juli), Nurdin membayar langsung USD 1.000. Itu merupakan harga promo
untuk Juli. JW Marriott, Kuningan, mempunyai 297 kamar dan 29 suites.
"Menurut pengakuan resepsionis, tamu 1818 tidak menggunakan credit card," kata
sumber Jawa Pos yang menolak identitasnya dikorankan.
Dari kamar itu, Nurdin merakit dan mengomando jaringannya. "Di kamar 1818 masih
ditemukan skema berupa catatan tangan dan sebuah ponsel," ujarnya. Tamu-tamu
Nurdin tidak datang bersamaan. "Kami sedang telusuri CCTV di lorong lantai
18," imbuhnya.
Berdasar hasil pengamatan sementara, setiap tamu yang datang menemui Nurdin
menggunakan topi dan kacamata hitam. "Di JW Marriott, style tamu seperti itu
(topi dan kacamata hitam) sangat wajar," katanya. Di manakah Nurdin? Ada dua
keterangan yang berbeda. Salah seorang sumber Jawa Pos menyebut bahwa Nurdin
sempat meloloskan diri. "Saat dilacak, kamar terkesan ditinggalkan
tergesa-gesa," tuturnya.
Namun, sumber yang lain menyebut, Nurdin justru diduga menjadi pelaku bom di
Ritz-Carlton. "Dia mempunyai akses yang lebih leluasa menuju Ritz-Carlton,"
katanya. Akses itu, antara lain, bisa melalui lorong bawah tanah yang
menghubungkan lobi JW Marriott dengan basement Ritz-Carlton.
Jenis bom yang dipakai bukan combustive (membakar), namun deflagrasi
(menghancurkan). Jenis itu dapat dilihat dari gorden (tirai) yang tidak
terbakar sampai habis di Restoran Airlangga Ritz-Carlton. Dalam klasifikasi
bom, ada dua jenis yang menonjol. Yakni, menggunakan potassium chlorate,
pentaerythritol tetranitrate (PETN), dan bahan ANFOS (ammonium nitrate fuel oil
solution).
"Dalam konteks ledakan ini, dimungkinkan bahwa jenis bom yang dipakai adalah
bom perpaduan antara combustive dengan deflagrasi. Tujuannya hanya untuk
memberi shock effect yang besar dengan tujuan mengesankan bahwa terorisme masih
ada di Indonesia," jelasnya.
Berdasar pantauan koran ini, sebenarnya ketatnya pengamanan JW Marriott,
Jakarta, bisa dilihat dari aturan di situ yang melebihi hotel lain mana pun.
Mobil yang masuk hotel harus melewati jalan khusus untuk pemeriksaan. Di pos
pemeriksaan itu mobil seperti berada dalam kerangkeng. Selama pemeriksaan,
palang besi yang kukuh terkunci di depan mobil. Palang besi di belakang mobil
juga ditutupkan. Dengan demikian, kalau sampai ditemukakan barang yang
mencurigakan, mobil tidak bisa lari.
Pemeriksaan itu sangat teliti. Termasuk harus membuka kap mesin mobil. Tidak
ada pemeriksaan di hotel lain yang sampai membuka kap mesin. Di pinggir jalan
di depan lobi pun mobil dilarang berhenti atau parkir. Mobil yang berhenti di
pinggir jalan umum itu langkun diusir oleh petugas hotel.
Padahal, jalan itu bukan milik hotel. Sampai-sampai banyak orang yang kesal.
Direktur TV One Karni Ilyas termasuk orang yang pernah komplain soal
''penguasaan'' jalan umum oleh Marriott.
Hingga kini, sumber tersebut masih belum habis pikir mengapa dalam pemeriksaan
di hotel-hotel hanya menggunakan detektor logam. ''Sebab, biasanya bahan-bahan
dibawa secara terpisah, baru kemudian dirakit di dekat tempat sasaran,''
urainya.
Salah satu caranya ialah menyelundupkan bahan-bahan itu melalui cairan.
Misalnya, bahan yang paling berbahaya, yakni lead acid (campuran antara natrium
acid dan nitrat), bisa dicampurkan dengan cairan. ''Nanti sekilas seperti
sebotol susu. Berwarna putih. Sepintas tak bakal dicurigai,'' tuturnya.
Begitu di dalam, cairan tersebut dibiarkan, kemudian disaring. ''Paling lama,
dua hari lead acyd sudah siap digunakan. Begitu pula bahan-bahan yang lain,''
katanya. Modus itu pernah digunakan para aktivis Jamaah Islamiyah ketika
menyelundupkan bahan-bahan bom dari Jawa ke Poso. (rdl/fal/ano/aan/iro)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---