http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2009/07/21/brk,20090721-188174,id.html
Padangpanjang, Kota Sastrawan yang Masih Menawan
Selasa, 21 Juli 2009 | 12:47 WIB
TEMPO Interaktif, Padang - Setelah membaca novel lawas Tenggelamnya Kapal Van
der Wijck karangan Hamka, saya terobsesi ingin menonton pacuan kuda di
Gelanggang Bancah Laweh, Padangpanjang, Sumatera Barat, salah satu latar novel
percintaan yang romantis nan tragis itu.
Saat ada kabar pacuan kuda di sana pada pertengahan April lalu, tanpa buang
waktu, saya meluncur ke Padangpanjang, sekitar 80 kilometer dari Padang, tempat
saya bermukim. Namun, saya datang terlalu pagi karena acara baru dimulai pada
pukul 12.00 WIB. Akhirnya saya berjalan kaki mencari sarapan ke Pasar
Padangpanjang, dekat jalan raya Padang-Bukittinggi.
Samar-samar tercium wangi bunga mawar. Ternyata wangi itu berasal dari kebun
mawar di depan rumah-rumah warga. Di kota ini masih banyak rumah lama dengan
gaya arsitektur awal abad ke-20 dengan fondasi semen dan berdinding kayu dengan
hiasan ukiran kayu di atas pintu yang mirip mahkota Ratu Wilhelmina. Selain
mawar, halaman rumah penduduk ditanami aneka bunga pegunungan, dahlia, gladiol,
dan anyelir merah jambu.
Padangpanjang tak sehiruk-pikuk Bukittinggi, tak terlihat orang bergegas. Dari
segi sejarah, kota kecil ini juga tidak ketinggalan. Sekolah-sekolah Islam
modern pertama di Sumatera Barat lebih dulu tumbuh di kota ini, seperti
Tawalib, tempat sekolah Hamka, dan Perguruan Diniyah Puteri, untuk sekolah
khusus kaum perempuan. Kedua perguruan Islam ini hingga kini masih bertahan.
Pada awal abad ke-20, Padangpanjang juga punya pengaruh yang besar karena
menjadi tempat perlintasan yang strategis antara darek (darat) dan pedalaman
Minangkabau. Saat itu Padangpanjang menjadi tempat lalu lintas ide dan
kemajuan, pusat pergerakan pemuda dan pendidikan Islam, yang tumbuh subur di
Padangpanjang.
Namun, kini Padangpanjang seolah terlupakan. Padahal kota ini sangat menawan,
dikitari Gunung Singgalang dan Gunung Marapi serta menjadi setting cerita
beberapa karya sastra. Sastrawan A.A. Navis menjadikan Padangpanjang latar
sebagian besar karyanya karena ia memang lahir dan besar di kota ini.
Saya segera mencari lapau (kedai makanan) yang agak ramai di Pasar
Padangpanjang sekalian ingin mengetahui topik hangat yang sedang menjadi
pembicaraan para pria tua-muda yang punya hobi nongkrong di lapau itu. Lelaki
Minang sejak dulu memang suka duduk di lapau sehingga lahir istilah politik
lapau dan ota lapau. Dari ota lapau, konon, sastrawan A.A. Navis banyak
mendapatkan inspirasi untuk cerpen-cerpennya.
Saya masuk ke salah satu lapau yang terlihat penuh. Semuanya lelaki, tua-muda.
Perempuan memang tidak akan tertarik nongkrong di lapau, apalagi pagi-pagi
begini.
Dengan sangat sopan, mereka menyapa dan menawari saya ikut makan. Di meja
tergeletak koran lokal terbitan hari itu yang disediakan pemilik lapau. Setelah
menguping, topik obrolan ternyata bukan politik, melainkan kuda pacu yang akan
bertanding siang nanti.
Saya menyudahi sarapan saat asap rokok mulai banyak mengepul. Di sini orang
memang gemar merokok walaupun pemerintah kota sudah mengeluarkan larangan
merokok di tempat umum. Satu-satunya yang bisa diterapkan pemerintah adalah
melarang papan reklame rokok. Jadi tidak satu pun baliho rokok yang terlihat
mejeng di pinggir jalan.
Karena pagi masih panjang, saya memutuskan jalan-jalan ke stasiun kereta api,
sekitar satu kilometer dari pasar. Ini stasiun kereta api pertama yang dibuat
Belanda di Sumatera Barat. Stasiun itu terlihat sepi karena kereta api wisata
hanya beroperasi pada hari Minggu dari Padangpanjang ke Sawahlunto, yang
melewati tepian Danau Singkarak nan cantik. Acara pembukaan rute ini pada tahun
lalu amat meriah; pegawai PT Kereta Api mengenakan seragam layaknya meneer
Belanda.
Pada September mendatang, rute Padang-Padangpanjang akan menyusul dibuka. Ini
jalur yang paling menarik, melintasi jembatan yang tinggi sekali di Lembah Anai.
Sastrawan A.A. Navis pernah mengatakan banyak mendapatkan ide cerita dalam
perjalanannya naik kereta api dari Padangpanjang ke sekolahnya di Kayu Tanam
melintasi jembatan tinggi di Lembah Anai setiap hari.
Bayangkan, setiap hari. Betapa beraninya. Saya saja masih berdebar mengingat
pengalaman melintasi jembatan Lembah Anai yang tinggi dengan kereta api tahun
lalu, benar-benar menegangkan.
Dari stasiun, saya ke pemandian Lubuak Matokuciang untuk melihat bekas kolam
renang buatan Belanda yang berair jernih. Kolam renang itu ternyata masih ada,
di sisi sebuah bukit. Dulu rumah tempat Sjahrir dilahirkan berada tidak jauh
dari Lubuak Matokuciang itu. Apakah mantan perdana menteri itu pernah mandi di
sana? Tidak jelas. Sebab, pada usia empat tahun, ia dibawa pindah keluarganya
dari Padangpanjang.
Kolam renangnya dari semen dan airnya amat jernih, tanpa kaporit.
"Dinamai Lubuak Matokuciang karena air yang keluar itu berbongkah-bongkah bulat
dengan warna sehijau mata kucing," kata Pak Mus, penjaga lubuk.
Sayang, saya tidak bisa melihat air yang keluar hijau mengkilat seperti mata
kucing itu karena kolam sedang penuh air. Namun, kesegarannya terasa di kulit.
Pada pukul 11 siang, saya menuju Gelanggang Bancah Laweh, arena pacuan kuda
yang terletak di sisi bukit kapur dan Bukit Tui. Di jalan, orang berduyun-duyun
datang dari kampung-kampung di sekitar Padangpanjang, seperti Batipuh dan
Gunung Rajo. Masih mirip cerita dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Rupanya acara pacuan kuda ini masih jadi arena pesta rakyat. Tiketnya murah
meriah, hanya Rp 3.500.
Pengunjung, baik orang tua maupun anak-anak, mengenakan pakaian terbaik
layaknya hari raya. Uniknya, para lelaki tua dan muda mengenakan topi koboi,
yang menjadikan mereka mirip koboi Texas.
Ibu-ibu membawa rantang dan nasi bungkus daun untuk bekal makan siang. Bahkan
banyak anak yang bolos sekolah karena ikut orang tuanya menonton pacuan kuda.
Arena pacuan Bancah Laweh cukup luas.
Bendera tiap-tiap daerah yang ikut pacuan berkibar-kibar aneka warna. Merah
warna bendera Agam, kuning Batusangkar, hijau Padangpanjang, kuning-hijau
Pariaman, biru Payakumbuh, putih-kuning-biru Sawahlunto, kuning-biru Padang,
dan kuning-merah Solok. Warna bendera ini sama dengan warna pakaian joki.
Bendera ini menandakan betapa tradisi pacuan kuda sudah ada sejak zaman Belanda.
"Bancah laweh" artinya rawa yang luas, karena dulu gelanggang itu adalah rawa.
Siang itu, dalam sekejap, arena tersebut kembali berubah menjadi rawa saat
hujan tiba-tiba datang dan lapangan dipenuhi air. Ini salah satu tabiat
Padangpanjang: tiada hari tanpa hujan. Pertandingan terpaksa ditunda beberapa
jam, menunggu jalur lintasan disiram pasir agar kuda tidak terpeleset.
Dari atas tribun, saya kembali membayangkan novel Tenggelamnya Kapal Van der
Wijck dan menduga-duga di tribun manakah Hayati duduk gelisah memikirkan
Zainudin. Apakah di tempat saya duduk saat ini, menghadap ke lapangan yang sama
dan menatap bukit kapur yang sama?
"Tribun lama sebelah situ, sudah dirobohkan. Ini tribun baru," kata Sabarudin,
penonton di sebelah, membuyarkan rekaan saya. Sabarudin membawa tiga anak
lelakinya dan satu putrinya menonton pacuan kuda. Di dekat mereka duduk, ada
kantong plastik besar berisi nasi bungkus.
Dulu, menurut lelaki 50 tahun ini, untuk menonton pacuan kuda setahun sekali,
ia lebih sering berjalan kaki dari kampungnya di Gunung Rajo, yang berjarak
sekitar 16 kilometer ke Padangpanjang, karena angkutan umum penuh orang-orang
yang hendak menonton pacuan kuda.
"Jalan kaki dua sampai tiga jam, dan tengah malam baru sampai di rumah,"
ujarnya mengenang. Selain pacuan kuda, saat itu ada pasar malam.
Akhirnya pertandingan dimulai untuk kuda pemula dengan jarak 600 meter.
Kuda-kuda pacu yang tinggi dan besar itu dibawa ke gelanggang. Saya menjagokan
dua kuda betina yang cantik, namanya Mahligai dan Aura Kasih, yang baru berusia
dua tahun serta tampil perdana.
Tidak aneh, saat masuk ke kerangkeng besi untuk start, kuda-kuda itu tampak
stres, bahkan, menjelang start, Mahligai sempat melemparkan sang joki dari
punggungnya hingga terjatuh dan hidung si joki berdarah.
Namun, di tengah derasnya hujan, pertandingan jalan terus. Kuda-kuda berlari
dan penonton bersorak-sorai. "Sirah...! Hijau!" teriak penonton menjagokan
kudanya.
Ternyata Mahligai, kuda jagoan saya, yang mewakili Agam, menang. Kuda cokelat
yang dihiasi guratan putih seperti petir pada dahinya itu menjadi nomor satu
dan jidatnya ditempeli pita kemenangan. Sedangkan Aura Kasih menjadi runner-up.
Banyak yang bersorak saat Mahligai mendekati garis finis.
"Yang teriakannya paling keras itu pasti ikut taruhan," kata Sabarudin. Ia
mengatakan, tidak seperti dulu, kini taruhan dilakukan diam-diam, di luar arena.
"Namanya juga pacuan kuda, apa enaknya kalau tidak pakai taruhan?" kata
Sabarudin. Namun, ia mengaku tidak ikut bertaruh karena hanya ingin menikmati
kenangan masa kecilnya sambil membawa anak-anaknya.
Pertandingan kuda pacu ini berakhir sore saat hujan berhenti. Orang-orang bubar
meninggalkan Padangpanjang, yang kembali lengang.
Febrianti
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---