<http://esito.web.id/2009/08/107-tahun-bung-hatta-begini-inilah-kami-bung/>
www.esito.web.id

by e.s. ito ~ August 10th, 2009

Tugas sejati para pecundang adalah mengenang. Itulah bakti terbaik yang bisa
kami berikan pada penyuluh zaman. Lainnya, kami hanya menghabiskan waktu
untuk cita-cita pendek dalam rentang usia yang terus memanjang. Kami yang
hidup sekarang, tidak mau mempersulit diri untuk hal-hal yang berada di luar
kepentingan pribadi. Yang kami butuhkan hanyalah kehidupan yang normal;
rumah, mobil, tabungan lebih dari cukup, anak-anak yang bersekolah
internasional dimana pelajaran sejarah dihapuskan, istri dan kalau bisa dua
atau tiga orang simpenan mahasiswi. Itulah kehidupan yang sebenarnya Bung,
bukan jenis impian muluk-muluk yang kau miliki. Dan coba bayangkan; mana
mungkin kami mau membujang sebagaimana kau hingga usia 43 tahun hanya demi
cita-cita Indonesia merdeka? Hahaha Bung, di zaman sekarang ini, kami akan
mencurigaimu menyukai sesama jenis.

Intermezo dari rutinitas hidup Bung, adalah liburan bukan penjara. Makanya
kami tidak habis pikir, kenapa kau sia-siakan hidupmu di Belanda dengan
menentang semua kesenangan yang tersedia disana? Kenapa pula kau mau
menginap di hotel Prodeo hanya untuk sebuah impian Indonesie Vrij. Ah
pleidoi mu di masa sekarang tidak akan mengubah apa-apa. Sebab, yang kau
tidak akan pernah mengerti di zaman kami ini, hukum sudah pasti bisa
diperjualbelikan. Bagi kami Belanda adalah surga, bukan neraka dimana api
penyucian bisa mengantarkanmu ke nirwana. Kami tidak akan menentang
kesenangan yang tersedia, kami akan menikmati sehabis-habisnya. Canabis,
ecstasy, mushroom; semuanya tersedia untuk saudara tua. Jadi tidak salah kan
Bung, bila sekarang kami bertanya-tanya; kenapa dulu semua kesenangan ini
kau lewatkan hanya demi sebuah absurditas Indonesia Merdeka?

Exorbinte Rechten, hak-hak istimewa gubenur jenderal, telah mengirimmu ke
neraka Boven Digoel. Bukan tempat yang enak, bahkan hingga saat ini. Tetapi
kau ini Bung, memang gandrung menyiksa diri. Kau biarkan kapal putih
menyeret dirimu menuju camp interniran itu. Kau habiskan hari-harimu bersama
orang-orang terhukum lainnya sembari memelihara cita-cita yang absurd tadi.
Kau bunuh rasa bosan dengan bercocok tanam. Dan yang aneh, kau ulurkan
persahabatan dengan suku asli sana, orang kaya-kaya. Kau menolak
bekerjasama, berasmu dijatah, laukmu cuma ikan asin. Sungguh, bagian hidup
yang tidak akan pernah kami cita-citakan. Dengar Bung, bagi kami Boven
Digoel dan Papua itu bukan lagi tempat pembuangan tetapi sumber pemasukan.
Belanda telah lama pergi, gubernur jenderal tidak ada lagi; kami lah
pemegang tunggal hak-hak istimewa Exorbinte Rechten. Itu sebabnya kami bebas
tanpa kendali di Papua. Kami tidak perlu mengulurkan persaudaraan dengan
manusia Papua, sebab kami hanya butuh alam nya. Jakarta saat ini Bung, hanya
butuh tembaga, gas, emas dan hutan; coba lihatlah, manusia Papua tidak masuk
dalam komoditas yang kami butuhkan. Kalau ada yang keberatan tinggal kirim
polisi dan tentara; seenak hati kami bicara, “hei, ko OPM ya! Kitorang kasih
mati baru ko tau rasa!” Bung, pada zaman kami ini, yang menang adalah yang
praktis bukan yang idealis.

Kau akan menjadi orang gila yang asketik di zaman kami ini, Bung. Dan itu
jelas akan membuat kesal semua orang. Kenapa sih, kau tabah betul
berlama-lama di Banda Neira. Bersama Sjahrir kau jadikan tempat pembuangan
itu sebagai tempat plesiran. Kau hanya membuang-buang waktu sembari terus
mengulang-ngulang makan malam bersama Tjipto Mangunkusumo, terus
mengulang-mengulang…ya ampun…apa kalian tidak bosan seperti itu?  Kau dan
Sjahrir sama saja, betah berlama-lama dengan anak-anak sana, mengajari
mereka dengan ilmu yang standarnya jauh di bawah sekolah internasional.
Itulah mimpimu yang tidak masuk akal; di zaman ini yang perlu kau sadari
Bung, bahwa bekal ilmu itu tidak berarti banyak bila kau tidak punya uang
yang cukup untuk anakmu. Ya, semua anak perlu sekolah tetapi hanya sedikit
anak yang mendapatkan pendidikan yang baik. Sisanya, ya Bung, kita masih
perlu lebih banyak kuli dari mereka yang tidak terdidik. Kita perlu cukup
massa demonstran bayaran dari orang-orang bodoh. Itu sebabnya, pendidikan
itu harus eksklusif, tidak terjangkau, setiap kursi ada harganya sebab bila
tidak demikian; bagaimana mungkin segelintir manusia bisa tetap memperbudak
lebih banyak manusia di bumi Indonesia tercinta ini? Jadi, bila kau hidup di
zaman kami ini Bung, solidaritasmu hanya akan berakhir di kolong jembatan.
Kami yang wangi ini, tidak akan sudi menjengukmu.

Di Pegangsaan 56, kau dan Soekarno pada bulan puasa itu membikin gara-gara.
Ah, proklamasi, omong kosong itu bikin revolusi. Dan revolusi itu bikin
pembangunan koloni terhenti lima tahun lamanya. Mari Bung, kami ajarkan cara
kami; tidak usah ada proklamasi seharusnya sehingga revolusi tidak perlu
terjadi. Biarkan tangan terampil Belanda merawat bangsa ini, memang mereka
mendapatkan semua kekayaan alam kita tetapi masa sih kita tidak dapat
sisanya? Dan itu jumlahnya bukan tidak sedikit kan Bung? Demikianlah cara
pintar kami mengelola nusantara ini Bung. Yang mulia bukanlah proklamasi
tetapi investasi. Dengan cara seperti itu kami tidak perlu keluar keringat,
biarkan bangsa asing yang menggali, biarkan mereka membawa hasilnya ke
negeri mereka dan kami, tentu saja masih bisa menikmati sisa-sisanya.
 Tetapi kau dan Sukarno menolak kompromi, betapa angkuhnya. Kau tidak akan
bisa hidup di zaman kami Bung. Kami tidak perlu mengenang proklamasi, dan
yah, kami sudah mulai melupakannya. Upacara bendera sudah tidak wajib lagi
di sekolah-sekolah yang telah mengganti kata “merdeka” dengan “Yes Sir”.
Anak-anak kami tidak perlu lagi hormat pada Sang Saka Merah Putih, biarkan
mereka memuja Sang Sakaw Meraih Putaw.

Bung Hatta, bagi kami hidupmu adalah rentetan mimpi buruk yang sekuat tenaga
akan kami hindari. Bagimu prinsip adalah harga mati sedangkan bagi kami,
prinsip itu tergantung pada kompromi. Hanya karena prinsip yang kami tidak
peduli, kau mundur sebagai wakil presiden. Bah, mengundurkan diri demi
prinsip? Itu sama sekali tidak ada dalam kamus manusia Indonesia modern.
Sekarang eranya kompetisi, plutokrasi yang indah bagi kami yang berduit. Kau
tidak harus mundur karena prinsip, sebab pada prinsipnya, ya, tidak ada
prinsip. Kami tidak akan pernah mau mengorbankan kehidupan nyaman kami yang
dibiayai oleh rakyat berakhir begitu saja karena makhluk aneh bernama
prinsip. Tidak, kami dan tentu saja, anak, istri dan simpanan-simpanan kami
tidak siap untuk hidup melarat. Di zaman ini, mereka yang melarat tidak akan
terpandang. Dan itulah anehnya zamanmu itu Bung, orang-orang melarat kok
banyak mendapat posisi terhormat di mata rakyat?

Bila saja pada tanggal 12 Agustus 1902 di kampung Aur Tajungkang, bukan anak
yang kelak diberi nama Mohammad Attar yang keluar dari perut Ibunda Saleha.
Tentunya 107 tahun berjarak waktu ini, kita tidak terjebak dalam penyesalan
mendalam. Kita hanya mampu mengenang, pertanda kita masih jadi pecundang.
Kita tidak memberi tempat hidup bagi nilai-nilai Hatta dalam keseharian
kita. Kita menginginkan surga tetapi enggan melewati api penyucian bernama
pengorbanan. Kita menghirup nafas kemerdekaan tetapi jiwa kita terpenjara.
Kita enggan menengok sejarah sebab itu hanya akan menghambat rutinitas kita.
Kita satu bangsa, tetapi sudah berbeda lingua franca; yang berkuasa
menumpahkan darah demi seceret air. Bila pada hari ini, jalan hidup yang
telah ditempuh oleh Hatta tidak masuk akal bagi kita maka selamanya kita
akan menjadi kuli dari kuli bangsa lain.  Sampai saat ini, begini inilah
kami, Bung!

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke