Maksudnya merantau baik,namun implementasi yang salah.alasan klise akan
selalu dikumandangkan : ah ngapain di kampung hanya ke sawah,begitulah
pikiran kita maupun anak 2 kini semasa.karena tidak percaya akan
kemampuannya serta tidak percaya kepada ALLAH SWT.
Bak pepatah mengatakan Usaha dulu baru dapat hasil,namun kini sangat jarang
anak muda mau jadi petani.

Pada 4 Agustus 2009 22:55, Dapua RN <[email protected]> menulis:

>  KOMPAS/DEWI INDRIASTUTI
>
> Seorang pekerja melintas di kawasan proyek pembangunan kembali Istana
> Pagaruyung di Batusangkar, Sumatera Barat, Senin (13/7). Mencari pekerjaan
> menjadi salah satu alasan masyarakat Minangkabau untuk merantau keluar dari
> nagarinya. [Lihat Gambar Ustano Pagaruyuang
> http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/01/0330458/rantau.surau.lapau.di.minangkabau#
> ]
>
>
>
> Sabtu, 1 Agustus 2009 | 03:30 WIB
>
> Dewi Indriastuti
>
>
>
> Ini contoh anak muda Minangkabau. Deni (30) merantau ke Bandung setelah
> menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di Bukittinggi, Sumatera
> Barat. Tujuannya memperoleh pendidikan tinggi yang lebih baik. Setelah itu,
> ia bekerja di Jakarta. Alasannya, peluang kerja di Jakarta lebih banyak dan
> kondisi kerja lebih menantang.
>
>
>
> Bisa jadi tipikal anak muda seperti Deni ini semakin banyak. Keengganan
> pulang kampung setelah lulus kuliah bukan karena alasan gengsi, melainkan
> menyambut tantangan yang lebih berat di rantau.
>
>
>
> Bukan juga melupakan kampung halaman. Setiap hari raya Idul Fitri, Deni
> beserta adik dan kakaknya—yang juga merantau ke Jakarta selepas SMA—pulang
> kampung.
>
>
>
> ”Di rumah orangtua di Bukittinggi ada enam kamar kosong. Kamar ini akan
> penuh saat Lebaran karena kami, enam bersaudara yang semuanya merantau,
> pulang ke rumah,” kata Deni, Kamis (30/7).
>
>
>
> Rantau menjadi tradisi yang kental di Minangkabau, selain lapau dan surau.
> Rantau, lapau, dan surau menjadi bagian dari perjalanan hidup laki-laki di
> tanah yang menerapkan sistem matrilineal atau garis keturunan ibu itu.
>
>
>
> Hans van Miert dalam bukunya berjudul Nasionalisme dan Gerakan Pemuda
> Indonesia 1918-1930 menyebutkan, untuk orang Minangkabau, bepergian berarti
> mengikuti tradisi lama yang dinamakan rantau.
>
>
>
> Artinya, meninggalkan daerah sendiri untuk mencari pengetahuan atau karena
> pertimbangan ekonomi dan nantinya pulang dalam keadaan sudah lebih matang
> dan/atau lebih kaya.
>
>
>
> Elizabeth E Graves dalam bukunya, The Minangkabau Response to Dutch
> Colonial Rule Nineteenth Century, menyebutkan, merantau adalah interaksi
> paling penting antara penduduk nagari dan dunia luar. Rantau berlaku di mana
> saja, selama di luar wilayah nagari tempat asalnya. Nagari adalah wilayah
> pemerintahan setingkat desa.
>
>
>
> Rantau merupakan petualangan pengalaman dan geografis. Secara sadar
> memutuskan meninggalkan rumah dan sanak saudara untuk mencoba merantau,
> mengadu peruntungan.
>
>
>
> Motif utama
>
>
>
> Ada dua motif utama merantau, yakni melanjutkan pendidikan dan mencari
> pekerjaan. Untuk urusan pekerjaan, perkembangan merantau nyatanya
> menimbulkan kekhawatiran. Hal itu tergambar dari perbincangan Kompas dengan
> warga Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, dan Silungkang, Kota
> Sawahlunto.
>
>
>
> Pandai Sikek dan Silungkang, yang dikenal sebagai sentra tenun di Sumbar,
> selama ini mengandalkan kaum perempuan untuk menjaga keberlangsungan hidup
> tenun. Semakin banyak perempuan yang merantau untuk bekerja berdampak pada
> berkurangnya jumlah penenun.
>
>
>
> Amril, pemilik usaha tenun di Silungkang, menuturkan, tanah di daerahnya
> tandus. ”Sebanyak 70 persen penduduk sini ada di perantauan. Sisanya, 30
> persen, ada di kampung. Mau tidak mau harus bisa menenun supaya bisa hidup,”
> katanya.
>
>
>
> Contohnya Azwar, yang pernah merantau ke beberapa kota di Pulau Jawa. Ia
> akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Silungkang. Dengan keahlian
> menggulung benang—agar siap ditenun—Azwar dapat menghadapi hidupnya.
>
>
>
> Rasmi, pemilik usaha tenun di Pandai Sikek, menyampaikan kekhawatiran yang
> tak jauh beda. Kota Bukittinggi— yang tak jauh dari Pandai Sikek— menjadi
> semakin modern, ditandai dengan munculnya supermarket, kafe, hotel, pusat
> perdagangan serupa mal, dan restoran makanan cepat saji. Modernitas ini
> membutuhkan tenaga kerja yang juga berasal dari nagari sekitar.
>
>
>
> Tsuyoshi Kato dalam buku Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau
> Traditions in Indonesia menuliskan, kecenderungan paling penting dalam
> praktik merantau Minangkabau adalah penyertaan perempuan karena perempuan
> mencari pendidikan yang lebih tinggi.
>
>
>
> Surau dan lapau
>
>
>
> Perubahan proses tradisi juga terjadi pada surau dan lapau. Selama ini,
> surau menjadi tempat anak laki-laki hingga beranjak remaja dan dewasa untuk
> tidur, mengaji, belajar ilmu agama, bela diri, dan belajar ilmu pengetahuan
> lain. Di surau, bocah laki-laki menjalani proses pematangan diri sebelum
> akhirnya dewasa dan merantau.
>
>
>
> Sosiolog Universitas Andalas, Padang, Rinaldi Ekaputra berpendapat, simbol
> surau saat ini menjadi gambaran indah masa lalu. Surau semata-mata menjadi
> tempat ibadah. Meski demikian, peran surau untuk proses pendewasaan anak
> laki-laki itu bisa jadi masih kental di daerah yang jauh dari perkotaan.
>
>
>
> Perkembangan makna justru terjadi pada lapau. Warung kopi yang banyak
> terdapat di seluruh wilayah Sumbar itu semula memiliki konsep ekonomi.
> Pranata utang terjadi di lapau, yakni barang dapat diambil lebih dulu dan
> baru dibayar saat panen tiba.
>
>
>
> Konsep ekonomi masih mendominasi lapau yang berderet di sepanjang jalan
> raya Padang-Padang Panjang. Lapau di situ menjadi tempat beristirahat sambil
> membelanjakan uang.
>
>
>
> Lama-kelamaan, fungsi lapau bergeser menjadi semacam media pertemuan
> informal serta tempat pertukaran informasi dan ekonomi. Lapau demikian
> biasanya menyediakan televisi dan permainan, seperti kartu.
>
>
>
> ”Bapak-bapak nongkrong di warung kopi setelah shalat isya atau magrib.
> Bicara tidak terstruktur,” kata Rinaldi.
>
>
>
> Lapau pula yang akhirnya ”mendidik” kaum laki-laki di Sumbar untuk terbiasa
> menyampaikan pendapat, bertukar pikiran, berdebat, tetapi tetap menghargai
> pendapat orang lain. Pembicaraan di lapau biasanya terpengaruh kondisi
> termutakhir. Misalnya, tahun 2009 ini, isu pemilihan umum presiden-wakil
> presiden menjadi topik hangat di lapau.
>
>
>
> Dengan surau, lapau, dan rantau, bumi Minangkabau menyiapkan anak-anaknya
> menghadapi kerasnya kehidupan.
>
>
>
>
> http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/01/0330458/rantau.surau.lapau.di.minangkabau
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke