Action please.....! Muchwardi Muchtar, laki-laki, 55 tahun, Bekasi. (utk mengenal dari jauh dapat juga dilihat pada : www.google/muchwardi)
--- On Sun, 8/16/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote: > From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] Re: Pandangan Mochtar Naim ttg pengukuhan filosofi > hidup ABS-SBK > To: [email protected] > Cc: "Gamawan FAUZI SH MM" <[email protected]>, "Prof Dr Taufik > ABDULLAH" <[email protected]> > Date: Sunday, August 16, 2009, 8:16 PM > > Pak Mochtar, > > Saya dapat menerima visi pak Mochtar tentang ABS SBK ini. > Sedikit tambahan sebagai referensi dan landasan hukum, > manfaatkanlah Pasal 18 B ayat (2) dan Pasal 36 A UUD 1945, > serta Pasal 6 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi > Manusia. > > Adalah jelas bahwa wacana di Rantau Net ini -- walaupun > penting -- tidak akan menyelesaikan masalah. Supaya konkrit, > mari kita buat Panitia Persiapan Kongres Minangkabau, dengan > tim inti pak Mochtar,pak Yanuar Muin, pak Farhan Dt Bagindo, > pak Gamawan Fauzi, pak Azmi Dt Bagindo, Haji Buyuang. Jangan > lupakan tokoh sejarawan dan budayawan kita Taufik Abdullah > dan Taufiq Ismail. [Kalau diperlukan saya bersedia untuk > membantu, sepanjang saya mampu.] > > Wassalam, > Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) > > --- On Mon, 8/17/09, Mochtar Naim <[email protected]> > wrote: > > > From: Mochtar Naim <[email protected]> > > Subject: [...@ntau-net] Pandangan Mochtar Naim ttg > pengukuhan filosofi hidup ABS-SBK > > To: [email protected] > > Cc: "Mochtar Naim" <[email protected]> > > Date: Monday, August 17, 2009, 6:59 AM > > > > Kawan2 semuanya, > > Langkah ke depan kita adalah mengukuhkan > > filosofi hidup orang Minang: ABS-SBK sebagai pedoman > hidup > > kita dalam bermasyarakat dan berbangsa serta > bernegara. > > Untuk itu kita perlu menyepakati apa itu ABS-SBK itu. > > Sebagai dan sekadar sumbangan pikiran untuk kita > semua, > > berikut saya salinkan tulisan saya yang saya sampaikan > pada > > 8 April 2008 yl di Padang. Mari kita bahas bersama > melalui > > forum kita ini. Yayasan Bundo Kanduang di Jkt kabarnya > mau > > membawakannya ke sebuah Kongres Rakyat Minangkabau. MN > > > > > > > ABS-SBK: > > DASAR FILOSOFI > > DAN IMPLEMENTASINYA > > > > > > Disampaikan pada > > Rapat Lanjutan Perumusan Kebijakan > > Pemerintah Daerah > > Provinsi Sumatera Barat > > tentang Penjabaran dan Operasionalisasi > > serta Kompilasi Hukum Adat Bersendi Syarak, > > Syarak Bersendi Kitabullah > > dalam Provinsi Sumatera Barat, > > di Gedung Genta Budaya, Padang, > > Selasa, 8 April 2008 > > > > JSR, No. 55, 10 April 2008 > > > > > > I > > > > DI MANAPUN, di Indonesia ini, ada tiga unsur utama > yang > > membentuk budaya setempat, dan budaya Indonesia > secara > > keseluruhan, dewasa ini. Ketiga unsur trilogi budaya > itu > > adalah: Adat, Agama dan Modernisme. Modernisme semula > > berembus dari Barat dan yang sekarang telah > mengglobal. > > Agama, ada unsur-unsur primordialnya yang lahir dari > bumi > > pertiwi ini dan ada yang datang dari luar, baik yang > samawi, > > wahyu, maupun yang ardhi, ajaran dari para pendirinya. > Adat > > adalah kebiasaan yang memola dan membentuk > norma-norma > > kehidupan. > > > > Kendati terdiri dari tiga unsur budaya yang sama, > > orientasinya berbeda antara yang bercorak > “sinkretik” > > dan yang bercorak “sintetik.” Yang bercorak > sinkretik, > > ketiga unsur budaya itu berakulturasi tetapi tidak > > bersenyawa, sementara yang bercorak sintetik > berakulturasi > > dan bersenyawa. Jawa, utamanya, berorientasi > sinkretik, > > sementara Minang dengan praktis seluruh dunia Melayu > dari > > Aceh sampai ke Maluku, dan bahkan Semenanjung Melayu > sampai > > ke Brunai, Sabah dan Pattani di Thailand, dan Moro di > > Filipina, berorientasi sintetik. Karenanya yang > menganut > > filosofi budaya ABS-SBK itu tidak hanya Minangkabau > tetapi > > seluruh dunia Melayu. Orang Minang, sebagaimana juga > dengan > > orang Melayu di manapun, sebagai konsekuensinya, > > adalah orang Islam. Secara kultural dan per definisi > dia > > berhenti jadi orang Minang atau Melayu jika dia tidak > lagi > > Islam, dengan sebab apapun. Sebaliknya, suku dan > kelompok > > etnik manapun yang masuk Islam, dianggap sebagai > masuk > > Melayu, > > dan diperlakukan sebagai saudara, sekurangnya > saudara > > seiman. Sementara di Jawa, karena orientasinya yang > > sinkretik itu, tidak jadi soal, apakah dia Islam atau > tidak, > > dia tetap orang Jawa, dan diperlakukan sama sebagai > orang > > Jawa. Adalah biasa jika dalam satu trah atau > keluargapun ada > > yang Islam, Kristen, Kejawen, dsb, tanpa yang satu > merasa > > risi terhadap yang lainnya. > > > > Dari segi sentuhan sejarah, legenda bahwa ABS-SBK > dipateri > > di Bukit Marapalam antara ketiga unsur kepemimpinan > TTS > > (Tungku nan Tigo Sajarangan, Tali nan Tigo Sapilin), > yaitu > > ahli Adat –penghulu--, Agama –ulama-- dan cerdik > > pan-dai, seusai Perang Paderi, tahun 1820-an, patut > > diverifikasi lebih jauh dalam konteks luasan cakupan > budaya > > Melayu ini – walau traktat atau kesepakatan Bukit > > Marapalam secara antropologi-budaya tetap bisa > dipakai > > sebagai sebuah simbol momentum penyatuan budaya yang > > sifatnya sintetik, khususnya untuk masyarakat dan > budaya > > Minang. > > Filosofi ABS-SBK ini pada dasarnya adalah, kendati > pada > > mulanya bersumber dari tiga lubuk budaya yang > berbeda, > > tetapi ketika bertemu lalu berakulturasi dalam sebuah > > persenyawaan yang baru. Budaya Adat lahir dari > kandungan > > budaya asli setempat tetapi tidak animistik sarwa-roh > dan > > bahkan sifatnya adalah rasional-logis (dengan > adagium: > > “Alam takambang jadikan guru”). Budaya Agama > untuk > > seluruh dunia Melayu jelas rujukannya adalah pada > Islam > > (syarak); sementara budaya luar yang masuk melalui > proses > > pencerahan terhadap sains dan teknologi dalam era > moderen > > ini terutama dari Barat dan yang sekarang telah > bercorak > > global, juga diterima secara terbuka, karena budaya > adat dan > > agama pun juga menghargai dan menjunjung tinggi budaya > sains > > dan teknologi yang sifatnya rasional dan universal > itu. > > > > > > > > > > > > Islam > > > > > > x > > > > > > > > x > > x > > > > > > Adat > > Modernisme > > > > Ketiga unsur trilogi budaya M (Melayu, Minang) ini > > menempatkan I (Islam) secara hirarkis-vertikal berada > di > > atas kedua yang lainnya yang sekaligus berfungsi > sebagai > > penyaring-penentu terhadap kedua yang lainnya itu. > Melalui > > proses penapisan dan penyaringan ini maka Adat pun > terbagi > > dua, “adat islamiyah” –adat yang serasi dengan > Islam-- > > dan “adat jahiliyah –adat yang tidak serasi > dengan > > Islam.” Adat yang serasi dipakai, adat yang tidak > serasi > > dibuang. > > > > Hubungan fungsional yang hirarkis antara I (Islam) dan > A > > (Adat) khususnya telah terungkapkan dalam berbagai > adagium, > > seperti: “Syarak mengata, Adat memakai;” > “Syarak > > berbuhul mati, Adat berbuhul sintak;” “Syarak > > bertelanjang, Adat bersesamping,” dsb. > > > > Sintesis antara adat dan syarak yang sifatnya > > hirarkis-vertikal ini terlambangkan dalam adagium > ABS-SBK > > itu, di mana jika konflik terjadi antara adat dan > syarak > > maka yang dimenangkan adalah syarak. Dan puncak dari > segala > > acuan hubungan antara adat dan syarak ini adalah > Kitabullah, > > yaitu Al Qurānul Karīm, wahyu Allah. Proses > saneering > > (pember-sihan) terhadap adat ini telah berjalan sejak > dari > > zaman Paderi sampai hari ini, yang klimaksnya terjadi > pada > > masa reformasi/ pembaharuan di pertengahan pertama > abad ke > > 20 yang lalu di Minangkabau. > > > > Dalam tarikan nafas yang sama, hal yang sama juga > berlaku > > terhadap budaya luar, khususnya budaya Barat atau > > modernisme, di mana juga berlaku adagium yang sama: > yang > > baik dipakai, yang buruk dibuang. ABS-SBK, tegasnya, > > menja-uhkan diri dari sikap a priori, jangankan > xenofobi. > > ABS-SBK pada dasarnya adalah sebuah filosofi budaya > yang > > sifatnya universal, logis dan terbuka. > > > > II > > > > Berangkat dari dasar filosofi ABS-SBK itu, maka > kon-klusi > > logisnya tidak bisa lain kecuali adalah, apapun unsur > budaya > > yang masuk dan yang telah ada dalam wadah masyarakat > M > > (Minang cum Melayu) tidak boleh bertentangan, dan > harus > > serasi, dengan unsur budaya I (Islam), terutama yang > > menyangkut dengan aqidah dan syari’ahnya. Di sisi > lain, > > Islam atau syarakpun memberi peluang untuk tumbuh dan > > berkem-bangnya adat (‘urf) sejauh tidak > bertentangan > > dengan syarak. Malah dikatakan: Al ‘ādatu > muhakkamah > > (Adat itu sifatnya menghakimi). > > > > Ini sekaligus jadi aba-aba dan rambu-rambu bagi > > masya-rakat, pemerintah dan siapapun, yang berada di > wilayah > > yurisdiksi budaya M yang sintetik itu bahwa secara > > sosio-kultural ada nilai budaya trilogi yang tersimpul > dalam > > ABS-SBK itu yang harus diindahkan di samping > norma-norma > > baru yang masuk sebagai konsekuensi dari kenyataan > bahwa > > Minangkabau atau Sumatera Barat adalah juga bahagian > yang > > integral dari kesatuan wilayah Republik Indonesia. > > > > Kemungkinan konflik dengan undang-undang formal dari > > pemerintah dan negara, sesungguhnya tidak harus, dan > tidak > > perlu, bahkan tidak boleh, terjadi, karena Negara > sendiri > > telah memberi jaminan akan berlakunya nilai-nilai > > sosial-budaya dan agama yang hidup dalam masyarakat > > bersangkutan. Negara sendiri, per definisi, adalah > negara > > yang berketuhanan YME, baik yang dinyatakan secara > gamblang > > sekali dalam Sila Pertama Pancasila, baik dalam > Pembukaan > > UUD 1945, maupun secara eksplisit dibunyikan dalam > Pasal 29, > > bahwa Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Apalagi > NKRI > > bukanlah negara sekuler, tetapi negara beragama. Dan > negara > > menjamin akan pelaksanaan ajaran agama dan > nilai-nilai > > sosial-budaya yang hidup dalam diri dan masyarakat. > > > > III > > > > Implikasi dan sekaligus implementasinya dalam > masyarakat > > Sumatera Barat adalah, ABS-SBK berlaku untuk > masyarakat > > Minangkabau, dan dilindungi oleh Negara, sementara > yang > > bukan orang Minangkabau dan beragama lain, hak > asasinya > > sebagai warganegara dan warga daerah dihormati, dan > secara > > bernegara diperlakukan sama dengan yang lain-lainnya. > > Apalagi ajaran Islam sendiri tegas-tegas mengatakan > bahwa > > tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Lā ikrāha > fid > > dīn). > > > > Dengan demikian, untuk masyarakat Mentawai, dan > masyarakat > > lain-lainnya yang berdomisili di Sumatera Barat, yang > tidak > > beragama Islam, mereka punya hak asasi sepenuhnya > sebagai > > warga negara untuk tetap mengikuti agama mereka > > masing-masing, dengan jaminan penuh dari negara, dan > dari > > prinsip ABS-SBK sendiri. Seperti yang selama ini kita > > hormati. > > > > Pengimplementasian prinsip ABS-SBK terhadap > masyarakat > > Minang dan Melayu lainnya di wilayah hukum Sumatera > Barat, > > tentu saja harus dimulai dengan sikap batin yang > positif > > dari rakyat, masyarakat, dan pihak-pihak pengambil > keputusan > > di ranah eksekutif, legislatif dan yudikatif, dari > perangkat > > pemerintahan, dengan mengindahkan prinsip-prinsip > berikut, > > sebagai konsekuensi logis dari diterima dan > dikukuhkannya > > ABS-SBK sebagai filosofi dasar dan sekaligus pegangan > serta > > pedoman hidup dari diri, rakyat dan masyarakat di > Sumatera > > Barat yang beragama Islam. > > > > Prinsip I: Bahwa ABS-SBK berlaku utuh dan penuh bagi > warga > > masyarakat yang beragama Islam dan yang berkebudayaan > > Melayu/Minang. Terhadap warga yang tidak beragama > Islam, > > agama dan kepercayaannya dilindungi. > > > > Prinsip II: Nilai-nilai adat dan sosial-budaya yang > > terjalin dalam filosofi dasar ABS-SBK dilindungi oleh > negara > > dan hukum negara, sehingga pengimplementasiannyapun > juga > > di-lindungi dan dijamin oleh negara dan hukum negara. > Dengan > > demikian, di samping hukum negara yang berlaku > sepenuhnya di > > wilayah hukum Sumatera Barat, praktek pelaksanaan dan > > pemberlakuan nilai-nilai ABS-SBK juga berlaku > sepenuhnya dan > > dilindungi oleh negara, dan bertingkat sejak dari > provinsi, > > kabupaten/kota dan nagari. > > > > Prinsip III: Prinsip-prinsip ABS-SBK berlaku pada > semua > > aspek kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, > pariwisata, > > kebudayaan, olah-raga, dsb. Pemerintah Daerah > berkewajiban > > untuk melindungi, memelihara dan melaksanakan > > prinsip-prinsip ABS-SBK itu melalui proses > > perundang-undangan, dan jalur-jalur sistemik dan > > struktural-fungsional lainnya. Nilai-nilai ABS-SBK > sejauh > > mungkin dimasukkan ke dalam sistem > per-undang-undangan > > sehingga tidak perlu ada dualisme, apalagi dikotomi, > antara > > keduanya. ABS-SBK adalah bagaikan garam dari > airlautnya > > kehidupan. > > > > Prinsip IV: Karena ABS-SBK, sebagaimana dengan > nilai-nilai > > budaya lainnya adalah juga berproses menurut waktu, > tempat > > dan keadaan, upaya penyempurnaan dalam perumusan dan > > pengimplementasiannya harus juga terus-menerus > dilakukan, > > dan dibudayakan serta disosialisasikan dalam kehidupan > nyata > > dalam diri dan masyarakat, yang berjenjang dari > kehidup-an > > bernagari, berkabupaten/kota dan berprovinsi. > > > > Prinsip V: Dalam pengimplementasian serta > pelestariannya, > > oleh karena itu, perlu ada lembaga adat dan syarak > yang juga > > berjenjang dari nagari ke kabupaten/kota dan provinsi > yang > > memandu pelaksanaan dan pelestariannya itu. Lembaga > adat KAN > > (Kerapatan Adat Nagari) yang telah ada pada setiap > nagari > > selama ini dapat dijadikan sebagai basis bagi > > penyem-purnaannya menjadi lembaga KAS (Kerapatan Adat > dan > > Syarak) – atau apapun namanya yang disepakati --, di > mana > > unsur kepemimpinan TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan, > Tali nan > > Tigo Sapilin) duduk bersama di dalamnya. Melihat > mas-alah > > adat, agama dan modernisme, oleh karena itu, tidak > harus > > lagi dilihat dan ditangani secara parsial > > sendiri-sendiri tetapi secara terpadu dan > > komprehensif, dengan mengingat spirit yang ada dalam > > filosofi ABS-SBK itu sendiri di mana adat dan syarak > > terjalin dalam satu sistem yang terpadu dan > kom-prehensif. > > > > Prinsip VI: Lembaga KAS yang sama tidak hanya ada di > > Nagari, tetapi juga di Kabupaten/Kota dan Provinsi > yang > > melihat permasalahan adat dan syarak yang sama dalam > > perspektif kabupaten/kota dan provinsi. > Anggota-anggotanya > > bisa merupakan perutusan KAS dari nagari-nagari di > samping > > juga wakil dari lembaga-lembaga professional di bidang > adat > > dan syarak seperti LKAAM, MTKAAM, MUI, Bundo Kanduang, > dsb, > > yang bergerak secara professional dalam masyarakat. > > > > Prinsip VII: Sebuah Kongres Rakyat Minangkabau > mungkin > > perlu diadakan untuk memateri atau membuhul gagasan > filosofi > > dasar dan pengimplementasian dari ABS-SBK ini. *** > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
