Saudara Mudy Situmorang yth,

Terima kasih atas respons Anda yang cepat, sebagai bahan kajian untuk kita 
semua. Saya kurang tahu apakah studi mengenai Perang Paderi, incl tentang 
Tuanku Imam Bonjol, ada diteruskan oleh perguruan tinggi di Medan atau di 
Padang, atau tidak. 

Menjelang adanya studi tersebut, bersama beberapa teman, saya telah mendorong 
terbentuknya Lembaga Kajian Gerakan Paderi, sekarang diketuai oleh Bp Drs 
Sjafnir Aboe Nain Dt Kando Maradjo. Dari Prof Gusti Asnan saya mendapat 
informasi bahwa buku Christine Dobbin -- yang ulasannya dipandang paling 
lengkap tentang hubungan antara aspek ekonomi, Islam, dan gerakan Paderi -- 
merupakan buku wajib di Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Mengingat tampilnya kembali wacana yang saya kira telah dapat diselesaikan 
dengan baik dalam sarasehan yang mengikutsertakan wakil dari tiga komunitas 
terkait di gedung Arsip Nasional tersebut, saya telah mendorong Gebu Minang 
untuk menerbitkan seluruh makalah serta kesimpulan sarasehan Perang Paderi 
tersebut.

Saya setuju dengan saran Anda agar masalah ini kita 'istirahatkan' dulu selama 
bulan Ramadhan ini.

Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 



--- On Wed, 8/19/09, Mudy Situmorang <[email protected]> wrote:

> From: Mudy Situmorang <[email protected]>
> Subject: Re: [...@ntau-net] Re: Memfitnah Imam Bonjol Melalui Petisi Internet
> To: "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]>, [email protected]
> Cc: "Warni DARWIS" <[email protected]>, "Ir. Raja Ermansyah YAMIN" 
> <[email protected]>, "Batara HUTAGALUNG" <[email protected]>, "Lies 
> Suryadi" <[email protected]>
> Date: Wednesday, August 19, 2009, 3:49 AM
> Sebenarnya Pak Saaf ini
> paling saya hormati. Sekalipun ambo sadar betul Pak Saaf
> benar-benar kesal pada ambo. Kata Pak Saaf:
> "'Petisi' bung Mudy Situmorang ini sudah kuno
> dan tak relevan untuk ditanggapi lagi."  Tapi koq
> terus saja ditanggapi....?
>  
> Baru kemarin rasanya Pak Saaf dengan bijak berkata
> kepada saya:
> Sent: Monday, October 1,
> 2007 11:32:31
> "Akhirulkalam, saya juga berterima kasih
> atas`persetujuan Sdr terhadap saran saya agar masalah
> sejarah ini dikaji di perguruan tinggi, di Padang dan
> Medan."
> 
> Ternyata yang keluar adalah Seminar Paderi di Gedung
> Arsip Nasional Januari 2008. Dengan salah satu tulisah
> "ilmiah" dari Prof. Drs. Suwardi, M.S. 
> Mengutip rekomendasi "ilmiah" beliau 
> (http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=36):
> "V. REKOMENDASI
> 1. Masyarakat Melayu Riau menentang peredaran Buku
> Tuanku Rao dan Greget Tuanku Rao karena tidak
> sesuai dengan fakta sejarah.
> • Mendesak Pemerintah RI (Kejaksaan Agung) supaya kedua
> buku tersebut dilarang terbit dan buku yang masih beredar
> ditarik kembali.
> • Karena dinilai adanya unsur pembohongan publik, maka
> kepada aparat penegak hukum untuk mengusut dan menindak yang
> terlibat sesuai dengan ketentuan yang berlaku."
> 
> Syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia telah
> memasuki era reformasi. Jika tidak, niscaya Bang Basyiral
> mendahului saya masuk penjara.... 
> ps: saya sama sekali tidak mengenal beliau selain dari
> buku-bukunya.
>  
> Seingat saya sudah lama benar tidak ada berita tentang
> masalah ini. Saya pun sudah hampir lupa. Sampai beberapa
> hari silam, 6 Agustus 2009 jam 16:59 muncul tulisan dari
> muslimdaily.net berjudul:
> "Fitnah Atas Imam Bonjol Masih Beredar,
> Kepahlawanannya Digugat Pemuda Samosir" 
> http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/3829/fitnah-atas-imam-bonjol-masih-beredarkepahlawanannya-digugat-pemuda-samosir. Tulisan
> ini disebar luaskan ke berbagai blog, antara lain dikutip
> oleh swaramuslim.net seperti dibawah. Yang isinya tentu saja
> mengacu pada tulisan "ilmiah" dari Seminar yang
> sekarang menjadi "Sarasehan" yang menjadi
> permusyawaratan/perwakilan. Bedanya, tak kuat menghadapi
> argumentasi Bang Basyral yang arif bijaksana, kali ini yang
> jadi sasaran tembak si "Pemuda Samosir", yang
> tentunya diharapkan lebih kampungan. Mungkin inilah disebut
> Pak Saaf "Mengingat masih dihidup-hidupkannya
> 'petisi' bung Situmorang ini ". 
>  
> Lalu masa Pak Saaf rela saya dibilang memfitnah....
> Saya tidak merasa memfitnah. Saya punya kewajiban untuk
> menjelaskan kepada publik bahwa saya TIDAK MEM-FITNAH, yaitu
> menjelaskan kajian saya, yang ternyata belum terkaji dalam
> kajian-kajian Sarasehan Arsip Nasional Pak Saaf. Sebelumnya
> harapan saya sesuai kesepakatan dengan Pak Saaf, para
> akademisilah yang berwenang mengkaji secara bebas-nilai atas
> semua tulisan-tulisan sejarah yang diperdebatkan. Namun
> ternyata kajian yang demikian itu tidak pernah ada. Yang ada
> hanyalah upaya pembungkaman sejarah, dengan cara-cara orde
> baru, dan mungkin sebentar lagi ada cara-cara pembungkaman
> orde reformasi.
>  
> Dengan segala hormat, kalau berkenan Pak Saaf
> menjelaskan bagian mana yang non-sense, dan bagian mana dari
> "Sarasehan 2008" yang harus saya hormati. Karena
> yang "meng-hidup-hidupkan" bukan saya, dan
> kesimpulan kajian saya masih belum berubah: Tuanku Imam
> Bonjol tidak memenuhi persyaratan menjadi Pahlawan Nasional
> Republik Indonesia. Kalau memang buku-buku dan tulisan dari
> M. Radjab, Rusli Amran, Abdul Qadir Djailani, Basyral
> Harahap, Suryadi, termasuk posting-posting di RantauNet,
> juga di  http://groups.yahoo.com/group/sejarahkita
> harus dilarang beredar (atau setidaknya tidak boleh dibaca),
> dan saya harus menjelaskan sendiri kajian saya dari
> sumber-sumber tersebut, tentu saya bersedia, demi
> menjelaskan bahwa saya tidak memfitnah (walaupun jauh lebih
> mudah kalau masing-masing membaca sendiri dan para ahli
> sejarah -tentu juga Gebu Minang-membuat
> kesimpulannya).
>  
> Hanya saja, kalau diperkenankan, biarlah saya menunda
> sejenak kajian saya, agar jangan kita masuk bulan puasa
> dengan panas hati dan suasana tak nyaman. 
>  
> Walau berbeda janji, namun sama dirasa. Walau jauh
> dihati, namun dekat di jiwa. 
>  
> Walau beda pikiran dan hati, Pak Saaf selalu saya
> hormati.
>  
> 
> Kalau Pak Saaf marah pada ananda, mohon dimaafkan.
> Selamat menunaikan ibadah puasa.
>  
> Regards,
> Mudy
> Nasionalis Demokrat 
>  
>  
>  
>  
> 
> 
> 
> 
> From:
> Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
> To:
> [email protected]
> Cc: Warni
> DARWIS <[email protected]>; Ir. Raja Ermansyah
> YAMIN <[email protected]>; Sdr Mudy Situmorang
> <[email protected]>; Batara HUTAGALUNG
> <[email protected]>
> Sent: Sunday,
> August 16, 2009 15:43:34
> Subject: Re:
> [...@ntau-net] Re: Memfitnah Imam Bonjol Melalui Petisi
> Internet
> 
> Assalamuaalaikum w.w. Buya dan Sanak Fitr,
> 
> 'Petisi' bung Mudy Situmorang ini sudah kuno dan
> tak relevan untuk ditanggapi lagi. Saya adalah salah seorang
> yang ikut memprakarsai sarasehan Perang Paderi tanggal 22
> Januari 2008 di gedung Arsip Nasional, Jakarta, dengan
> mengundang komunitas Batak [diwakili Bp
>  Bismar Siregar S.H.] dan konunitas Melayu Riau (diwakili
> a.l. oleh Bp Azaly Djohan S.H. dan Prof Suwardi, M.S.]
> 
> Dalam seminar tersebut telah diperoleh kesepakatan bahwa
> tidak ada struktur komando terpusat dari tentara Paderi.
> Setiap tuanku -- yang sekaligus merupakan pemimpin agama dan
> panglima perang -- mempunyai wilayahnya sendiri. Wilayah
> Tuanku Imam Bonjol adalah di Bonjol, seperti juga wilayah
> Tuanku Tambusai adalah di Tambusai.
> 
> Serangan ke tanah Batak dilakukan oleh para tuanku yang
> berasal dari tanah Batak sendiri, karena itu tidak dapat
> dipertanggungjawabkan kepada Tuanku Imam Bonjol. Lagipula,
> menurut Prof Taufik Abdullah, gagasan kepahlawanaan Tuanku
> Imam Bonjol telah diperkenalkan sebelum Perang Dunia Kedua
> oleh Drs Mohammad Hatta di Negeri Belanda, jauh sebelum
> keluar keppres tahun 1973 tersebut.
> 
> Mengingat masih dihidup-hidupkannya 'petisi' bung
> Situmorang ini pasca sarasehan di gedung Arsip Nasional
> tersebut, saya akan
>  mengusulkan kepada Gebu Minang untuk menerbitkan seluruh
> makalah dan kesimpulannya kepada publik.
> 
> Kepada sdr Mudy Situmorang yang memulai seluruhnya ini saya
> harap menghormati hasil sarasehan bulan Januari 2008
> tersebut dan menghentikan seluruh nonsens ini.
> 
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 
> 
> --- On Sun, 8/16/09, buyamasoedabidin <[email protected]>
> wrote:
> 
> > From: buyamasoedabidin <[email protected]>
> > Subject: [...@ntau-net] Re: Memfitnah Imam Bonjol
> Melalui Petisi Internet
> > To: [email protected]
> > Date: Sunday, August 16, 2009, 12:34 PM
> > Ananda Fitr Tanjuang
>  ...
> > Alah dibaco wae tu tulisan si Jeffry Hadler 
> > atau si Christine Dobine tu ...
> > Bia se lah tu karajo urang engak tu mah ...
> > ananda Fitr Tanjung ...
> > elok tanyoan ka Pak Saaf ..
> > jo Pak Taufik Abdullah ...
> > 
> > Wassalam
> > BuyaHMA
> > 
> > Pada 16 Agustus 2009 08:51, Fitr
> > Tanjuang <[email protected]>
> > menulis:
> > 
> > 
> > AslmWrWb
> > 
> > Dari swaramuslim.com.
> > Apo paralu dihadang dan baa caronyo?
> > 
> > 
> > Wassalam
> > fitr tanjuang
> > lk/34/albany NY
> > 
> > ----------
> > 
> > Memfitnah Imam Bonjol Melalui Petisi Internet
> > 
> > http://swaramuslim.net/posting/more.php?id=6152_0_19_0_M
> > 
> >
>  
> > Katagori : Prokontra
> > Oleh : tim editor 08 Aug 2009 - 3:00 pm
> > 
> > Kepahlawanan Imam Bonjol  digugat oleh sekelompok
> orang di
> > dunia maya.
> > Melalui sebuah seruan petisi di internet sang pembuat
> > membuat
> > tuduhan-tuduhan kepada sang pahlawan sekaligus Mujahid
> Asy
> > Syahid
> > 
> > (insya Allah) Imam Bonjol allahuyarham. Surat petisi
> yang
> > ditujukan
> > kepada pemerintah Republik Indonesia ini mendesak
> agar
> > Pemerintah
> > Republik Indonesia segera membatalkan pengangkatan
> Tuanku
> > Imam Bonjol
> > sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, dan
> meluruskan
> > sejarah
> > 
> > Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, sejarah tanah
> > Sumatra, dan
> > sejarah Republik Indonesia.
> > 
> > Tuanku Imam Bonjol, yang diangkat sebagai Pahlawan
> > Perjuangan
> > Kemerdekaan dengan Surat Keputusan Presiden Republik
> >
>  Indonesia No.
> > 
> > 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 Nopember 1973, difitnah
> telah
> > berkhianat
> > pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung,
> membantai
> > keluarga
> > kerajaan, memimpin invasi ke Tanah Batak yang
> menewaskan
> > lebih satu
> > juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan
> menewaskan
> > 
> > Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas masuknya
> > Kerajaan Belanda
> > di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau.
> > 
> > Di dalam petisi itu juga dihubung-hubungkan latar
> belakang
> > Tuanku Imam
> > Bonjol yang dianggap memiliki kaitan dengan gerakan
> Wahabi
> 
> 
>        
> New Email names for you!  
> 
> Get the Email name you've always wanted on the new
> @ymail and @rocketmail.
> 
> Hurry before someone else does!


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke