Wassalam, Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
Padang Ekspres, Minggu, 16 Agustus 2009 , 08:52:00 Jurusan Sastra Daerah Minangkabau FSUA Pelatihan Musik Tradisi untuk Guru BAM Kehadiran guru-guru mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) yang kerap dicaplok dari guru-guru bidang studi lain, memberi kesan mata pelajaran tersebut tidak begitu penting. Belum lagi persoalan kurikulumnya yang sering juga tidak jelas. Alih-alih menjelaskan persoalan ini, Jurusan Sastra Daerah, prodi bahasa, sastra dan budaya Minangkabau, Fakultas Sastra Unand, mengadakan seminar dan workshop dengan tajuk Pengenalan dan Pelatihan Musik Tradisional Minangkabau kepada Guru-guru BAM. Acara ini diadakan selama 2 hari, Jumat sampai Sabtu (14-15/8) kemarin. Ketua Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Dra Reniwati M Hum, menjelaskan, “Acara ini merupakan kontribusi jurusan terhadap guru-guru BAM. Di mana kebanyakan guru-guru tersebut juga banyak yang alumni sastra daerah. Jadi sekalian sebagai upaya meningkatkan kualitas mereka terhadap bidang studi yang mereka ajar tersebut.” Kegiatan ini bermula dari semiloka tahun lalu yang salah satu materinya membahas persoalan-persoalan pengajaran BAM di SD, SMP, dan SMA. “Permasalahan yang sering kita temui pada mata pelajaran tersebut di sekolah-sekolah, gurunya sering diambil dari guru-guru bidang studi yang lain. Sehingga tidak ada spesifikasi guru untuk itu. Sehingga materi yang diajarkan kadang tidak sesuai dengan tujuan kurikulum. Belum lagi kurikulumnya kadang terlalu padat, dan tidak tepat sasaran,” jelas Reniwati lebih lanjut. Diikuti oleh guru-guru BAM SD dan SMP di kota Padang, Pariaman, dan Padangpariaman, acara digelar dalam 2 sesi. Sesi pertama, Jumat (14/8), ceramah tentang musik tradisi oleh Khanizar M Si. Sebagai diskusi awal Khanizar membicarakan seputar seni tradisi Minangkabau dari segi bentuk dan cirinya. Dalam makalahnya Khanizar menyebutkan bahwa berbicara tentang seni tradisi selalu mengingatkan kita pada sesuatu yang berbau masa lampau, semisal talempong pacik, pupuik tanduak, sampelong, saluang pauh, dan sebagainya. Begitu pula dengan seniman tradisi yang sering diidentikkan dengan manusia kuno dan kolot. Tak jarang penampilannya dianggap seperti dukun kampung. “Anggapan semacam itu pada kurun waktu tertentu mungkin bisa dibenarkan, dan tidak bisa begitu saja disalahkan sebab mereka berpijak pada pemikiran lama. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa seni tradisi merupakan waujud seni yang mempunyai cirri khas keadaan dengan pertumbuhan dan perkembangan tata kehidupan masyarakat,” ungkap Khanizar, yang juga dosen di jurusan Sastra Daerah. Selanjutnya, pada sesi kedua, Sabtu (15/8), guru-guru BAM itu dilatih untuk memainkan alat-alat musik tradisi, seperti talempong, canang, dan sebagainya. Pelatihan ini diberikan oleh Irwandi, seniman tradisi, dibantu anggota Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) Fakultas Sastra Unand. (Gusriyono) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
