(163)
SMA NEGERI BIRUGO BUKITTINGGI
Mochtar Naim
Alumni 1951
Sempena Pertemuan Para Alumni
SMA-Negeri Birugo Bukittinggi
Di TMII Jakarta,
Minggu, 31 Mei 2009
I
HUBUNGAN saya sebagai alumni SMA Negeri Birugo Bukittinggi selama ini praktis
hanyalah sebatas nostalgia. Bahwa saya lebih dari setengah abad yl –tepatnya 60
tahun yl—pernah bersekolah di sana, dan tamat th 1951. Saya termasuk alumni
angkatan kedua, yang angkatan pertamanya juga lulus tahun 1951 yang sama, tapi
lebih duluan 6 bulan. Saya memilih Jurusan C, yaitu Sosial-Ekonomi. Saya
kebetulan bersama dengan kawan sekelas, Gustina Ramali dari Kubang Putiah, juga
sesama Banuhampu, terpilih jadi Juara I, yang karenanya saya langsung diterima
di Gadjah Mada, Fakultas HESP (Hukum, Ekonomi, Sosial-Politik) dengan beasiswa.
Saya masih bisa membayangkan bagaimana suasana sekolah waktu itu. Siapa
guru-guru saya dan kawan-kawan sekelas maupun kawan-kawan dekat lainnya. Juga
bagaimana suasana negeri waktu itu yang baru saja keluar dari revolusi fisik
memasuki era politik liberal terbuka, dari RIS ke NKRI. Bagaimana saya dan
banyak siswa lainnya waktu itu ke sekolah hanya dengan “bertengkelek” (teklek,
terompah kayu), pakaian yang suka bertambal, walau bersih dan diseterika. Tapi
lagi musim penghujan, pakaian yang lekat suka masih lembab, karena tak keburu
kering, karena suka-suka pakaian untuk ke sekolah nyaris hanya satu-satunya.
Karena pakaian yang dipakai masih lembab, tahulah, sering tunjuk mengacung ke
atas, minta permisi ke belakang, karena tuntutan alam, apalagi udara
Bukittinggi yang kesohor sejuk.
Dengan bertengkelek, jarak lk 3 km ke sekolah dari kampung, di Taluak,
Banuhampu, ditempuh dengan jalan kaki; dan itupun melalui pematang sawah, jalan
memintas, di paro pertama perjalanan ke sekolah, sambil berlari-lari anjing,
agar cepat sampai ke sekolah, sekaligus pemanas badan keganti olah raga pagi.
Sebagian nostalgia ke masa lalu.
II
Saya harus jujur untuk mengatakan, bahwa selama 58 tahun setelah saya
tamat di SMA Birugo itu, tidak pernah ada saya mendapat kabar apa-apa, baik
dari sekolah maupun dari ikatan alumni SMA Birugo. Saya pernah hanya dua kali
menghadiri pertemuan kangen-kangenan Alumni SMA Birugo. Sekali di kompleks
Gelora Bung Karno dan sekali, belum lama ini, di kawasan Depok di pinggiran
Jakarta.
Seperti selama ini, hubungan batin antara alumni dan alma mater bisa
berjalan begitu saja, tanpa ikatan apapun; tapi juga bisa ada perubahan yang
berarti jika diciptakan sistem jaringan alma mater-alumni bagi perkembangan
alma mater ke depan. Ada suasana kejiwaan yang cukup berbeda antara sekolah
negeri dengan sekolah swasta. Yang negeri, karena milik negara, hubungan alma
mater-alumni, seperti yang kita lihat dan alami sendiri selama ini dengan SMA
Birugo ini. Yang pokok alma mater tidak memerlukan dan tidak tergantung kepada
partisipasi alumni. Lain dengan swasta. Swasta karena harus cari sendiri biaya
dan dana yang diperlukan, ikatan alma mater-alumni relatif kuat. Bagian banyak
dari program ke depan juga mengandalkan kepada bantuan dari para alumni.
Di luar negeri, seperti yang saya lihat sendiri, ikatan alumni-alma
mater ini relatif kuat. Kebanyakan mereka punya media komunikasi berupa buletin
secara berkala tempat menyampaikan berita dan apa saja yang perlu disampaikan.
Tentu saja fund-raising untuk berbagai program, sarana dan prasarana yang
diluncurkan. Melalui itu pula para alumni bisa pula mengajukan berbagai usul
dan saran bagi peningkatan kualitas dan perkembangan sekolah ke depan.
III
Bagaimanapun, dalam suasana pendidikan yang mulai kompetitif seperti
sekarang ini, yang sekolah negeri pun mulai mencari sisi-sisi keunggulan dari
sekolah, entah di bidang akademik, keterampilan teknis, olah raga, kesenian,
dsb. Juga, seperti yang kita lihat contohnya dengan SMA Negeri I Padang
Panjang, dengan berasrama lalu menggenjot siswanya untuk belajar secara
terprogram di selingkar jarum jam, yaitu dengan mengintegrasikan kebutuhan
pendidikan kognitif, psikomotorik dan affektif, atau kebutuhan intelektual,
emosional dan spiritual. Di SMA Negeri I Padang Panjang anak-anak yang tinggal
di asrama lalu dilatih untuk menghafal Al Quran dan melakukan ibadah-ibadah
sunnah, termasuk shalat tengah malam, puasa senin-kemis, dsb. Dengan itu SMA
Negeri I Padang Panjang melejit menjadi SMA Negeri unggulan, Sumatera Barat
maupun nasional.
Terus terang, karena ketiadaan komunikasi dan informasi itu, saya juga
tidak tahu bagaimana kualitas pendidikan di SMA Birugo selama ini. Apakah masuk
yang diperhitungkan atau tidak. SMA Negeri Birugo, walau tertua, dan pertama di
Sumatera Barat, namanya sekarang bukan SMA Negeri I, tapi SMA Negeri II,
Bukittinggi. Tidak tahu saya bagaimana ceritanya. Tapi di Bukittinggi ada
sejumlah SMA yang barangkali satu sama lain cukup kompetitif. SMA Negeri
Birugo, -- Birugo, karena terletak di kawasan Jorong Birugo --, bagaimanapun,
punya nama kesohor. Bukan saja karena yang pertama, dan menempati kompleks
Sekolah Raja yang terkenal itu, tapai juga banyak alumninya yang “jadi orang.”
Saya tak tahu siapa saja mereka-mereka itu. Tapi sederet nama-nama besar yang
pernah jadi menteri, duta besar, profesor, doktor, dsb, keluar dari sekolah
bernama dan ternama itu. ***
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---