aSSwRwB, sANAK SAPALANTA, kelihatnnya sdh ado anggota DPD Bali akan membawa
aspirasi seniman nya ke DP{R utk protes ke dtuaan malaysia ttg kalim tsb.
Masalahanya sekarang kerja nyata yg harus kita selesai kan segera adalah
mengantiospasi kebudayaan kita Miang utk di caplok oleh bangsa lain, usul2
sanak Aslim
Nuhasan utk membuat Enkspoldei Silat minang mari kita dukung, serta meng
inventarisasi kan kebudayaan kita ddl keilhatannya ini kerja besar yg perlu
melibatkan semua pihak, kita harapkan Pemda dgn team nya harusnya telah
memulai hal ini.
Wass. Muzirman Tanjung.23/08/2009 - 17:27 Klaim Tari Pendet, Malaysia ‘KO’ RI? R Ferdian Andi R (*ist*) *INILAH.COM, Jakarta - Klaim kebudayaan Indonesia masih saja terus dilakukan Malaysia. Setelah sebelumnya lagu ‘rasa sayange’, batik, angklung, reog Ponorogo, bunga Raflesia, dan yang terbaru tarian sakral Bali, tari Pendet. Inikah cara Malaysia meng-‘KO’ (Knock Out) RI? * Geram dan marah muncul dari masyarakat Indonesia menyikapi klaim kebudayaan yang dilakukan Malaysia. Berbagai aset budaya nasional dalam rentang waktu yang tak begitu lama, diklaim negara tetangga. Pola pengklaimannya pun dilakukan melalui momentum formal kenegaraan. Seperti melalui media promosi ‘Visit Malaysia Year’ yang diselipkan kebudayaan nasional Indonesia. Klaim-klaim ini seperti menambah deretan panjang kisruh Indonesia versus Malaysia. Mulai persoalan perbatasan Ambalat, hingga persoalan penanganan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Klaim terbaru soal tari pendet seperti mempertegas posisi Malaysia versus Indonesia. Kondisi ini pun menjadikan polemik di internal, ada yang menyikapinya konfrontatif ada pula yang melalui jalur ‘damai’. Salah satunya yang disampaikan pemerhati budaya Edi Haryono. Menurut dia, sudah saatnya RI-Malaysia duduk bersama untuk mendata secara detil mana kebudayaan Indonesia dan mana kebudayaan Malaysia. “Saya sarankan agar Indonesia dan Malaysia duduk bersama mendata kebudayaan masing-masing,” ujarnya kepada *INILAH.COM*, di Jakarta, Minggu (23/8). Menurut pemimpin Theater Bela Studio ini, persoalan seperti klaim tari Pendet oleh Malaysia masih berpeluang terus terjadi dan tidak hanya dari Malaysia, namun negara lainnya di sekitar Indonesia. “Bisa saja, nanti Brunei Darussalam juga mengklaim kebudayaan kita. Ini karena, memang pada dasarnya kita satu nusantara,” cetusnya. Menurt Edi, dalam beberapa kasus pengklaiman budaya RI oleh Malaysia karena ketidaktahuan negara jiran itu atas budaya Indonesia. Budaya yang telah melekat di Indonesia, juga menjadi bagian budaya bagi masyarakat Malaysia yang diperkenalkan oleh orang tuanya sejak kecil. “Seperti pernyataan Anwar Ibrahim yang menegaskan sejak kecil dirinya sudah tahu tentang lagu-lagu dari Indonesia, meski warga Malaysia tidak tahu kalau lagu itu dari Indonesia,” paparnya. Realitas ini setidaknya untuk mendamaikan suasana antara kedua belah pihak. Meskipun, Edi tidak menampik pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia terdapat kemungkinan faktor kesengajaan. “Mungkin saja ada faktor kesengajaan. Makanya, harus duduk bersama untuk mendata kebudayaan masing-masing negara,” tegasnya. Menyikapi klaim Tari Pendet oleh Malaysia, para seniman Bali menggelar aksi protes diikuti oleh berbagai kalangan baik akademisi maupun para politisi. Menurut seniman tari Wayan Dibia, tari Pendet pada awalnya merupakan tarian sakral ritual keagamaan. “Sudah ratusan tahun masyarakat Bali memainkan Tari Pendet,” tegasnya di Denpasar, Bali, Sabtu (22/8). Sementara anggota DPD RI dari Provinsi Bali Ida Ayu Agung Mas menandaskan, pihaknya akan membawa aspirasi seniman Bali kepada pemerintah pusat agar mengeluarkan protes resmi dari lembaga negara di Indonesia. “Dalam waktu dekat kami akan sampaikan protes resmi kepada Kedutaan Malaysia di Indonesia untuk minta klaim itu segera dicabut,” tandasnya seraya mengaku prihatin atas klaim Malaysia terhadap Tari Pendet. Ia pun berharap, agar pemerintah mendata ulang kekayaan budaya nusantara dengan menerbitkan hak cipta. Menurut dia, kasus seperti klaim Tari Pendet hakikatnya yang telah terjadi sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah. “Kasus-kasus serupa sebelumnya, seharusnya menyadarkan pemerintah untuk cepat bertindak,” tegasnya. Persoalan klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia ada baiknya telunjuk Indonesia tak hanya menuding pihak Malaysia semata. Tak salah jika melakukan introspeksi atas ketahanan dan kepedulian bangsa ini terhadap warisan nenek moyangnya. Pasalnya, bagaimanapun, negara harus responsif atas kasus seperti ini. Padahal kasus serupa, bukan kali ini saja. Malaysia benar-benar kembali mempercundangi Indonesia. [E1] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
