HUJAN TURUN TERLALU PAGI
  Oleh ; K Suheimi
   
  HUJAN  turun  terlalu  pagi. Pagi  jadi  kelabu,   seperti kelabunya  hati 
ini. Mendung masih menggelantung, seakan-akan  tidak mau  beranjak,  tidak mau 
meninggalkan tempatnya. Awan  belum  lagi tersibak, matahari seakan-akan tidak 
mau menampakkan dirinya. Kabut begitu  tebal.  Biasanya di pagi seperti itu, 
gunung  Merapi  dan Singgalang  tampak  cerah. Tetapi pagi ini,  udaranya  
redup,  angin bertiup,  itik dan ayam basah kuyup, tidak lagi terdengar  
kokoknya.  Semuanya diam, semuanya bisu, murai pun tidak berkicau. Alam 
bagaikan  menyimpan satu kedukaan.
  Rumah  Sakit  itu diliputi mendung, semua  berwajah  muram, semua  tertekur 
dan satu-satu ada yang terisak,  menahan  tangis dalam  sedu.  Sedu sedan 
diiringi linangan dan tetesan  air mata yang mengalir  di pipi tidak terasa. 
Badanku basah kuyup ditimpa  hujan, tetapi  asinkah  air  hujan yang turun di 
pagi itu?  Terasa  asin karena bercampur dengan air lain yang juga mengalir di 
pipi  ini. 
  Pelan-pelan dan secara sembunyi saya seka air yang  mengalir di pipi itu, 
saya saksikan satu pemandangan yang memilukan. Di pembaringan itu dia 
tergeletak, umurnya terlalu muda, baru menginjak  21 tahun. Biasanya dia pakai 
kerudung  putih dan  baju putih sebagai perawat, namun hari ini dia tidak 
memakai semua itu lagi.  Dia terbaring di pembaringan, diam, bisu,  bibirnya  
kebiruan, dia bertambah kurus, dan benjolan itu, benjolan yang ada  di leher  
kirinya  itu, kentara sekali  terlihat,  berbenjol-benjol, merah kebiruan, 
menakutkan dan tampaknya ganas sekali.
  Hari  itu dia baru selesai menjalani operasi untuk  yang  kedua kalinya. 
Operasi yang kedua ini, bukan operasi pada  benjolan yang ada di lehernya, 
tetapi operasi pada perutnya. Perutnya  sakit melilit  di  sebelah kanan, 
semula diduga  usus  buntu,  ternyata bukan.  Dokter bedah baru tahu setelah 
membuka  perutnya.  Rongga perutnya  sudah ditumbuhi oleh penjalaran-penjalaran 
tumor  yang berasal  dari  tenggorokannya. Karena terlalu luas  tidak  mungkin 
semua tumor itu diangkat, hanya sebagian kecil yang diambil untuk diperiksa di 
laboratorium.
  Dia  tampak letih, dia tampak lesu, lebih-lebih ketika  disadarinya bahwa dia 
bukan menderita usus buntu, tetapi kanker tenggorokan yang dideritanya selama 
ini, itulah yang telah menjalar ke mana-mana. Menyadari semua itu, kondisinya 
cepat sekali  menurun. Dia  tidak bisa makan, dia tidak mau minum dan dia tidak 
bisa  tidur. Kadang-kadang dia tidak sadarkan diri, kadang-kadang dia 
menggigau, wajahnya  pucat,  tulang-tulangnya pada menonjol,  kurus  sekali, 
tidak seperti dulu.
  Dulu,  tawanya renyah, setiap pasien kenal dengan  dia,  dia mudah senyum, 
dia tidak pernah mengatakan lelah atau cape, sekalipun  tengah  malam  disuruh 
mengangkat  atau  membersihkan  serta menolong  pasien, atau sedang membantu di 
samping  meja  operasi. Dia  begitu  cekatan,  tangannya lincah dan  dia  
ringan  tangan. Karenanya  dia  sering dijadikan contoh dan  suri  teladan  
bagi teman-temannya. Dia sering menggantikan temannya sesama  perawat untuk 
jaga malam, sifatnya suka dan ingin selalu menolong,  menolong  apa  yang  
dapat ditolongnya,  meringankan  beban  sesama teman-teman.  Maka  
teman-temannya  selalu  berkata,  dia  adalah tempat  kita  meminta tolong, dan 
tidak sedikit pun  tampak  kerut mukanya kalau kepadanya dimintakan bantuan dan 
pertolongan. Semua  pasien selalu menanyakannya, dia sederhana,  namanya mudah 
diingat, sesederhana orangnya. 
  Dia selau dipanggil Erni. Hari  ini Erni tidak bisa tertawa lagi, tidak ada 
lagi  senyum yang  menghias  bibirnya,  tidak ada  lagi  kelincahan  geraknya. 
Dipanggil  namanya pun, seperti tidak didengarnya lagi,  dia  tidak acuh dan 
tidak peduli lagi dengan keadaan sekelilingnya. Nafasnya sesak, suaranya 
hilang, keringat membasahi muka dan bajunya.  Dia tampak sedang menahan sakit 
yang hebat, keningnya menyeringit dan dari sana terpancar peluh. Hari  demi  
hari berlalu dengan cepat,  setiap  datang  hari baru, bagi Erni bukan berarti 
datang dan timbulnya harapan,  tetapi hari  baru  baginya berarti keparahan dan 
 sakitnya pun  bertambah larat.  
  Kadang-kadang  dia tidak sadarkan diri,  kadang-kadang  dia tahu  dan menyapa 
kita yang datang, tetapi suaranya  tidak  terdengar.  Dia  seakan-akan  minta 
tolong, dia  seakan-akan  minta  diringankan  beban dan deritanya. Tetapi semua 
dihadapkan ke  ketidakberdayaan. Terakhir dokter angkat bahu, tidak ada lagi 
jalan, tidak mungkin untuk  diobati lagi. Erni dan keluarga minta diizinkan 
pulang  ke kampung ke Kuraitaji. Di Kuraitaji, di sebuah desa yang tenang, 
tempat  dia dilahirkan , tempat dia dibesarkan dan  tempat  dia bermain, tempat 
dia pernah bergembira ria, berlari  ke sana  ke mari,  tertawa  cerah bersama 
teman-teman.  Di sana  pulalah,  dia menghabiskan sisa-sisa harinya yang 
terakhir, dan di sana dia akan menutup mata, pergi untuk selama-lamanya, 
meninggalkan dunia yang fana  ini. Dan di sana pulalah dia minta dikuburkan. 
Permintaan  terakhir  untuk pulang ke Kuraitaji  itupun  dikabulkan oleh dokter.
  Sementara dia di pembaringan, kakaknya  berusaha  mencarikan obat  ke  lereng 
gunung Merapi, ke rumah seorang  dukun.  Pertama minum obat dukun seperti ada 
perbaikan dan angsuran, tetapi seminggu  kemudian sakitnya semakin dan 
bertambah parah, dia  tidak  bisa lagi  duduk, dia tidak kuat lagi menggerakkan 
tangan  dan  kakinya, dia tidak bisa lagi menelan makanan dan dia tidak sanggup 
lagi  meminum  minuman.  Dia tidak kuat lagi berjuang melawan  kanker  yang 
bersarang di tubuhnya.
  Dan tibalah hari itu, tanggal 16 April 1992, terjadilah  apa yang selama ini 
tidak diingini, terjadilah apa yang selama ini dikhawatirkan, hari yang membawa 
duka yang sangat dalam. Erni  yang telah  beberapa bulan menanggung 
penderitaan, akhirnya  menghadap ke Yang Satu, pergi untuk selama-lamanya, 
pergi untuk tidak akan  kembali lagi.  Dia meninggal karena sudah banyak 
penyakit yang  bersarang di tubuhnya. Semua tidak menyangka, semua tidak 
menduga bahwa  dia pergi  begitu  cepat,  usianya terlalu muda,  dia  terlalu  
baik. Kerjanya selama ini selalu menolong dan meringankan beban  orang, melalui 
 tangan-tangannya  banyak yang  telah  terselamatkan  dan banyak  yang sudah 
tertolong, tetapi di saat dia butuh  pertolongan, seakan-akan semua tidak 
berdaya, semua tidak bisa menolongnya. 
  Sebetulnya semua orang mau, ingin dan bersedia  menolongnya, namun  tidak 
satu daya dan upaya pun yang dapat membebaskannya  dari derita  penyakitnya  
itu. Penyakit kanker, penyakit  yang  sangat menakutkan dan penyakit yang mudah 
sekali merenggut nyawa,  penyakit  yang menyebar dengan sangat cepat dan ganas. 
 Penyakit  yang sampai  hari  ini, membuat dokter angkat  tangan,  penyakit  
yang belum  ditemukan obatnya, penyakit yang membuat  orang  bertekuk lutut,  
penyakit  yang menyebabkan manusia menyerah  dan  pasrah. Tiada  daya  dan 
tiada upaya. La haula wala Kuata  illa  billahil 'azidhul aziim. 
  Di hari ini hanya satu kata yang dapat diucapkan  "Innalillahi  wa inna 
illahi Raajiun". Milik Allah kembali  lagi  kepada-Nya. Semua tertekur, semua 
tersedu, semua kehilangan, kehilangan orang  yang sangat disayangi, kehilangan 
orang  yang  senantiasa ingin  menolong,  kehilangan putri terbaik di  usia  
yang  sangat muda. 
  “Erni,  hari ini engkau pergi, engkau yang masih  bersih  dan suci,  engkau  
belum lagi digeluti oleh dosa-dosa  di dunia  ini. Umurmu  sangat  pendek, 
tetapi telah memberikan  arti  yang  sangat dalam  bagi sesama yang pernah 
mengenalmu. Engkau hanya  sebentar mampir  di dunia,  tetapi jasamu sangat 
besar. Engkau  adalah  orang yang  terbaik  yang  pernah kami kenal. Ya  Tuhan, 
 kenapa  Engkau kirimkan dia kepada kami, kalau untuk Engkau ambil kembali 
dengan cepat?  Kami tidak mengerti apa mau-Mu dan  rahasia  apa  yang 
terkandung di balik semua ini. Mengapa tidak Kau biarkan dia  lebih lama lagi 
bersama kami? Kami ingin rasakan keramahannya, senyumnya,  kepeduliannya  dan 
kebaikannya. Ya Allah,  dia  orang  baik, terimalah  dia sebagai hamba-Mu yang 
terbaik, tempatkan dia  dalam golongan  hamba-hamba-Mu  yang  Kau cintai.  
Tempatkan  dia  pada tempat  yang  sebahagia-bahagianya, pada  tempat  yang  
semulia-mulianya. Ampunilah segala dosa-dosanya dan maafkan segala 
 kekeliruan dan kesalahannya. Berilah dia kesenangan di akhirat kelak, sebagai  
ganti kesenangan, yang tidak pernah dirasakannya  selama hidup di dunia ini. 
Amin, amin.”
  Semula  Erni cuma mengatakan dia ada amandel. Itu  kan  biasa, semua orang 
kebanyakan menderita amandel. Dimakannya obat,  namun amandel  itu tidak 
kunjung mengecil. Sampai selang  beberapa  tahun, dia mulai sukar menelan. Dia 
pergi ke ahli THT, dianjurkan  untuk operasi. Sebetulnya, sesudah operasi 
amandel, biasanya orang segera sembuh, tetapi tidak demikian halnya dengan 
Erni. Betapa  terkejutnya dia, betapa terkejutnya dokter yang merawatnya, 
betapa terkejutnya  keluarga  dan betapa  terkejutnya  teman-teman  sama-sama 
perawat.  Semua terkejut, semua tercengang dan semua diam,  semua bisu, sewaktu 
hasil laboratorium menunjukkan bahwa Erni  menderita kanker.  Kanker yang 
diidapnya itu sejenis tumor  yang  sangat ganas, dan cepat menyebarnya.
  Memang,  dalam  waktu yang tidak begitu lama,  benjolan  yang tadinya  hanya  
di  tenggorakan, menyebar ke  leher  dan  rahang. Tampak lehernya membengkak 
dan rahangnya tidak simetris. Dia  dianjurkan  berobat dan rontgen  ke  
Jakarta.  Sebagai perawat  dia tahu, apa itu kanker, bagaimana ganasnya dan  
akibat apa yang akan di- tanggungnya. Begitu dia membaca fonis bahwa yang 
diidapkannya  suatu kanker tenggorokan, dia  terisak,  tangisnya tertahan.  
Dicarinya  setiap orang yang pernah   dikenalnya,  dan disalaminya, dia pamit, 
dia minta maaf, dia ingin pergi  berobat ke  Jakarta.  Saya betul-betul lupa 
pada wajahnya di saat dia  berkunjung ke rumah.
  Betapa  terkejutnya  dan jadi penyesalan  sampai  hari  ini, sewaktu  Erni 
dengan lemah berkata, “Semua orang telah  melupakan Erni.” Bagaimana tidak akan 
lupa, dia tampak kurus sekali, loyo dan wajah pun  berubah.  Saya  menyesal, 
kenapa dia  tidak  saya  tegur, padahal  dia  datang hanya untuk pamit  kepada  
kami  sekeluarga, sedangkan  saya pada waktu itu tidak ada di rumah. Hari  itu  
dia pamit untuk pergi ke Jakarta. Kami lepas dia dengan rasa  terharu diiringi 
doa, semoga kepergiannya itu akan membawa kesembuhan.
  Sekembalinya dari Jakarta, tampak dia sedikit sembuh,  bengkak  yang  
dilehernya mulai mengecil, tampaknya dia  sudah  mulai biasa  kembali,  dikira 
sudah sembuh betul,  sampai  kami  mulai melupakan penyakitnya. Ternyata  
itupun tidak terlalu lama. Beberapa  bulan  kemudian terbetik berita, Erni 
dioperasi lagi, tetapi di perut. Waktu  akan dioperasi, semula diduga usus 
buntu, karena dia mengeluh  sakit di  perut  sebelah kanan bawah, tetapi 
ternyata  kanker  itu  telah menyebar  luas  di seluruh perut. Dokter ahli 
bedah  tidak  dapat membongkar  semua  tumor itu, hanya mengambil  sedikit  
jaringan. Sewaktu  jaringan  itu diperiksa, ternyata memang  benar  kanker yang 
sudah menyebar luas.
  Erni kesakitan, namun dia tampak pasrah, penyakit itu  telah menggerogotinya  
sampai  ke semua rongga perutnya, dia  tidak  punya harapan lagi. Dengan 
pertimbangan yang berat dia minta pulang dan diizinkan,  karena tidak ada lagi 
pengobatan yang dapat diberikan. Di rumahnya di Kuraitaji, Erni terbaring 
lunglai.  Tubuhnya tinggal  lagi kulit pembalut tulang, batuknya tidak kunjung  
henti, nafasnya  sesak, panasnya tinggi. Dia mulai beralih  pada  dukun, yang  
selalu saja memberikan harapan dan harapan.  Namun  harapan tinggallah  
harapan, sakitnya semakin larut. Setiap  yang  datang menjenguk,  tidak  tahan  
melihat deritanya.  Kami  datang,  kami terharu  dan  kami tersedu. Erni yang 
terbaring  sekarang,  bukan Erni yang dulu lagi. Setahun yang lalu dia tampak 
segar,  lincah, penuh  tawa dan keramahan, tetapi kini yang terbaring adalah  
sosok tubuh  yang  lunglai rapuh dan tidak lama lagi mungkin  akan  pergi 
meningalkan kita semua. Memang beberapa hari kemudian Erni 
 pergi untuk selama-lamanya dengan goresan kenangan yang dalam untuknya.
  Dalam  buku harian yang ditulisnya 4 tahun yang  lalu,  dia mengukir namanya 
ERNI MAYANA.  “Erni artinya hidup, Mayana artinya  mati. Erni tidak lama hidup, 
sebentar lagi akan mati,”  tulisnya.  Kami semua memarahinya waktu membaca 
tulisannya itu,  kenapa Erni  membikin  tulisan yang bukan-bukan. Tetapi entah  
kenapa  dia mengartikan  namanya  begitu, entahlah, mungkin dia  lebih  tahu. 
Atau  Tuhan menggerakkan tangannya membikin itu.   Kita  yang tidak kunjung 
mengerti akan apa yang akan terjadi.
  Sekarang barulah kami mengerti akan makna apa yang ditulisnya itu. Di  hari 
kepergiannya itu, si Ibu hanya berucap, “Tuhan,  dia anakku yang terbaik, 
kenapa Engkau berikan ia padaku, kalau untuk Engkau  ambil  kembali?” 
Pertanyaan itu tinggal  pertanyaan,  dan kita  tahu,  semua tahu, burung-burung 
pun tahu, bahwa  tidak  mudah mendapat jawaban dari atas sana.
             Erni orang yang terbaik yang pernah saya kenal, pergi terlalu 
cepat, usianya sangat muda, namun kanker itu, kanker itu telah merayap ke 
mana-mana, sehingga Erni tidak berdaya, dia jatuh dan dia pergi.  Hujan turun 
terlalu pagi, seperti turunnya hujan di  pagi itu, 16 April 1992. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke