-
From: Muzirman -- <[email protected]>
Date: 2009/8/25
Subject: PENDET BUKAN ASLI INDONESIA ? KEBLINGER !
To: [email protected]










25/08/2009 - 07:53
<http://www.inilah.com/berita/politik/2009/08/25/146554/pendet-bukan-asli-indonesia-keblinger/#><http://www.inilah.com/berita/politik/2009/08/25/146554/pendet-bukan-asli-indonesia-keblinger/#>

apa kata budyawan ttg Pendet, knp ya kita ngak tuntut saja lewat pengadilan
international?krn sdh mengkormersial kan.




Pendet Bukan Asli Indonesia? Keblinger!
Mevi Linawati
Radhar Panca Dahana

*INILAH.COM, Jakarta – Walaupun ada Warga Negara Indonesia yang membawa tari
Pendet ke Malaysia, kesenian itu tetap menjadi orisinalitas bangsa
Indonesia. Sehingga, walaupun telah dikembangkan di Negeri Jiran itu, tari
Pendet tetyap tidak bisa diakui sebagai bagian dari budaya Malaysia.*

"Cara berpikir keblinger kalau menyatakan Pndet bukan orisinalitas
Indonesia. Walau kan ada orang yang berpikir bebas, karya memang bisa global
dan internasional," papar budayawan budayawan Radhar Panca Dahana, saat
berincang dengan *INILAH.COM*, di Jakarta, Selasa (25/8).

Radhar tidak mempermasalahkan adopsi atas sebuah kesenian. Menurut dia, hal
itu wajar terjadi, namun tetap saja secara orisinalitas, tari Pendet adalah
asli Indonesia. Hal itu sama dengan Indonesia yang mengklaim wayang sebagai
kesenian dari Jawa, namun tetap saja orisinalitasnya berasal dari India.
Begitu juga Barongsai yang berasal dari China. "Apakah mereka (China dan
India ) itu protes?" kata Radhar

Selain itu, dalam kekuatan kebudayaan, iklan menjadi kekuatan politik juga
ekonomi yang sifatnya *soft power*. Sehingga, tidak mungkin apabila
dipergunakan untuk memerangi negeri asalnya.

"Misalnya tari Pendet dipromosikan di Indonesia dari segi ekonomi, jangan
digunakan menjadi seperti itu. Untuk akuluturasi boleh, tapi ketika
digunakan untuk kepentingan ekonomi itu tidak beradab dan *fair*. Jangan
merugikan melalui tindakan itu," katanya.

Adoposi budaya, menurut dia bagus jika menjadi identitas negara lain yang
mengalami kemiskinan budaya. Bisa saja diinfakkan untuk diekspresikan.
"Tidak usah Pendet saja. Kalau perlu dari Papua atau bahkan perlu Rhoma
Irama, kasih saja semua. Tapi orang di dunia juga tau, Pendet dari mana,"
tuturnya.

Klaim Malaysia atas Pendet, lanjut dia, merupakan refleksi dalam menyikapi
kebudayaan itu sendiri. Sebab, ternyata Indonesia lemah dan mengecilkan
peran kebudayaan yang di negara lain ternyata justru diagungkan. "Kebudayaan
jangan dijadikan senjata untuk menyerbu daerah asalnya. Ini tidak etis,"
pungkasnya. [mvi/nuz]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke