Rabu, 26 Agustus 2009 , 11:50:00 Konflik Klaim Kebudayaan <http://www.padangekspres.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=10304##>
Setelah sempat menghilang beberapa waktu, konflik klaim kebudayaan antara Indonesia-Malaysia kembali muncul. Kali ini, konflik tersebut dipicu klaim Malaysia yang menampilkan tari pendet dalam promosi wisata mereka. Mengapa insiden itu bisa terjadi? Rawan Konflik Uppsala Data Conflict (2007) menyatakan, konflik antarnegara yang berbatasan geografis masih menjadi ancaman stabilitas internasional kontemporer. Akar masalah yang bersumber pada sengketa perbatasan dan wilayah geografi membuat konflik rentan terjadi. Konflik bisa bertambah akut ketika melibatkan banyak isu yang terkait dengan dinamika kehidupan masyarakat di masing-masing negara. Maklum, gerak manusia dan masyarakat yang dinamis kadang mampu mengganggu hubungan harmonis yang sebelumnya ada. Dalam konteks Indonesia-Malaysia, meski tidak sampai mengganggu stabilitas di Asia Tenggara, terakumulasinya potensi konflik di antara kedua negara bukan tidak mungkin bisa menjelma menjadi konflik nyata (manifest). Presedennya pun telah ada. Yaitu, ketika politik konfrontasi diterapkan Indonesia pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Konflik klaim kebudayaan hanyalah salah satu di antara sekian wajah konflik antara Indonesia-Malaysia. Beberapa isu sentral lain seperti tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, human-trafficking, illegal logging, serta kabut asap pun terus menghantui hubungan antara kedua negara. Ibaratnya, hubungan Indonesia-Malaysia menyimpan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan siapa pun bisa berpotensi menarik pelatuk detonatornya. Penyebab Klaim Kebudayaan Konflik klaim kebudayaan antara Indonesia-Malaysia sesungguhnya pun lahir dari kondisi geografis yang berdampingan. Maman Mahayana (2001) menyebut Indonesia dan Malaysia sebagai entitas kembar identik. Akar budaya dan karakter manusia yang hampir serupa, ditambah dinamisasi serta mobilitas manusianya dari waktu ke waktu, akhirnya melahirkan banyak produk budaya yang mirip (grey culture). Namun, sama halnya dengan manusia -yang meski sekembar apa pun- pastilah ada ciri tertentu masing-masing. Begitu pula bangsa. Tiap-tiap bangsa memiliki karakter khas yang membedakan satu dari yang lain. Karena itu, selama kedua pihak konsisten pada kekhasan masing-masing, niscaya potensi konflik pun akan jarang muncul. Jadi, mengapa konflik klaim budaya terjadi antara Indonesia-Malaysia? Pertama, adanya kemunculan pihak yang secara agresif dan tiba-tiba mengklaim sebuah identitas tertentu. Padahal, setelah sekian lama, identitas tersebut menjadi ciri khas ''kembarannya'' dan mereka hidup dalam situasi harmonis. Jauh sebelum terjadinya insiden tari pendet, tari itu telah dikenal publik Indonesia dan mancanegara sebagai bagian dari tradisi Bali. Karena itu, sangat mengagetkan publik Indonesia ketika tari pendet tiba-tiba dinyatakan sebagai bagian dari identitas Malaysia. Kedua, klaim dilakukan secara resmi oleh pemerintah. Dalam konteks politik, tindakan apa pun yang dilakukan pemerintah secara publik merepresentasikan pendapat resmi negara tersebut, tidak terkecuali iklan kunjungan wisata Malaysia kali ini. Akibatnya, respons yang muncul dari negara pemilik identitas sangat frontal. Ketiga, adanya kemampuan yang tidak imbang di antara kedua entitas dalam mendefinisikan dan melestarikan kebudayaan masing-masing. Tidak dimungkiri jika kini Malaysia berkembang menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di Asia Tenggara, baik di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, maupun ekonomi. Celakanya, keunggulan tersebut berbanding lurus dengan upaya Malaysia mengklaim beberapa identitas kebudayaan penting negara tetangganya. Kasus klaim atas batik, reog, dan lagu Rasa Sayange merupakan salah satu bukti atas asumsi tersebut. Menariknya, upaya Malaysia tersebut biasanya telah disertai dengan upaya legalitas hukum untuk mematenkan klaim yang dimaksud (de jure). Sementara itu, Indonesia biasanya hanya mengandalkan pada kondisi kepemilikan de facto tanpa banyak mempertimbangkan aspek hukum. Ketimpangan itu terjadi mengingat kurangnya anggaran pemerintah RI dalam melindungi aset nasional. Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari RI merupakan contoh konkret bahwa status de facto kini tidak menjamin status kepemilikan aset nasional. Langkah Indonesia Pemerintah Indonesia harus melakukan langkah strategis dalam mencegah kembali timbulnya konflik klaim budaya dengan Malaysia. Pertama, memaksimalkan peran diplomasi negara (state diplomacy). Jika selama ini diplomasi antara kedua negara lebih mengandalkan ''hubungan kekeluargaan'', sudah saatnya bagi pemerintah RI untuk menerapkan diplomasi yang berbasis profesionalisme. Artinya, diplomasi kekeluargaan tetap dilibatkan, mengingat identitas Indonesia dan Malaysia adalah satu rumpun bangsa Melayu. Namun, idealnya, itu harus diikuti kekuatan mumpuni diplomasi Indonesia. Akan sangat strategis jika diplomat yang bertugas di Malaysia adalah mereka yang merupakan diplomat karir unggulan yang sangat brilian di bidangnya. Langkah tersebut mendesak dilakukan mengingat rawannya potensi konflik kedua negara. Dengan pola kombinasi keduanya, harmonisasi hubungan atas dasar saling menghormati (mutual respect) antara Indonesia-Malaysia bisa dipertahankan. Bukan hanya itu, profesionalisme diplomasi RI juga harus didukung dengan payung hukum terkait perlindungan aset nasional. Bisa berbentuk hak paten atau dasar hukum lain atas bukti kepemilikannya. Dengan demikian, perjuangan diplomasi mempertahankan kepentingan nasional tidak akan sesulit seperti masa sebelumnya. Kedua, memaksimalkan peran diplomasi rakyat (citizen diplomacy). Selama ini, Indonesia-Malaysia telah memiliki semacam wadah kebudayaan bersama yang beranggota budayawan-budayawan penting kedua negara. Didirikan pada Januari 2008 pascakonflik klaim reog dan lagu Rasa Sayange, Eminent Group Person (EGP) tersebut berupaya meminimkan terjadinya sengketa serupa. Namun, dengan terjadinya insiden tari pendet ini, tampaknya, EGP harus lebih mengoptimalkan upaya mereka sebagai stabilisator kerja sama budaya Indonesia-Malaysia, termasuk menjalin komunikasi intensif di antara anggotanya. (*) * Siti R Susanto, pengajar Dept Hubungan Internasional, FISIP, Unair http://www.padangekspres.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=10304 ________________________________ From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Arman Bahar Sent: Wednesday, August 26, 2009 9:28 AM To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] Re: [...@ntau-net] --- In [email protected], Arman Bahar <armanba...@...> wrote: > > Assalamualaikum ww > > Mamak sarato dunsanak nan dirahmati Allah > > Tidak ada yang salah dengan Malaysia, kan kita sudah tahu juga bahwa sejak > ratusan tahun yang lalu orang Jawa sudah ada juga di Semenanjung Tanah > Melayu terutama dinegeri daulat Kesultanan Johor yang sekarang menjadi > negara bagian dari Kerajaan Malaysia, mereka urang2 Jawa ini sudah berurat > berakar dan beranak berpinak serta bercucu bercicit dinegeri jiran ini dan > so pastilah anak keturunan mereka saat ini sudah lama pula mejadi anak > bangsa dan warga Negara Malaysia yang dilindungi undang2 kerajaan > > Pastilah nenek moyang mereka membawa serta seni dan budaya mereka dari tanah > asal jadi kenapa mesti heran kalau di Malaysia saat ini juga ada kesenian > kuda lumping, alat2 musik gamelan, ukiran Jepara dan perabotan rotan > cirebonan maupun batik serta Reog Ponorogo yang tentu saja sama persis > dengan reog Ponorogo-nya Indonesia, lalu kemudian pemerintah Malaysia yang > mengayomi rakyat yang berbilang kaum ini mem-patent-kan kesenian ini sebagai > kesenian anak negeri Kerajaan Malaysia tidak perlu pula kita2 lantas sakit > gigi, iya kan? > > Begitu pula urang Minang alah sajak ratusan tahun nan lampau ado di negeri2 > Semenanjung Tanah Melayu seperti Kedah dan Perlis terlebih lagi diwilayah > Kedaulatan Sultan Negeri Sembilan Seremban yang beradat Datuak Parpatiah Nan > Sabatang yang sekarang juga sebagai Negara bagian dari Kerajaan Malaysia > maka tidak perlu pula kita kaget kalau kesenian Tari Piriang dan kesenian > lain-nya termasuk kuliner khas Minangkabau Samba Randang sudah pula menjadi > akar budaya anak negeri disana, lalu kemudian Pemerintah Malaysia > mem-patent-kan-nya, lha kan salah kita juga yang sudah terbiasa selalu kalah > cepat > > Bukan Minang Jawa Bugis saja, "Malaysia yang Truly Asia" itu memang > berbilang kaum juga dengan Hindustan, Pakistan, Srilanka, Arab dan China > jadi bakalan syusyah juga untuk urusan tuntut menuntut didaerah abu2 ini, > jadi gampangnya "pabia men lah, ano gan rang `awak juo du" > > Kecuali untuk produk2 kontemporer seperti dangdut dll, sangat dianjurkan > kita klaim yang jelas tampak pelanggaran hak > > wasalam > > abp57 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
