Assalamualaikum ww

Adi Dunsanak,

Saya ikut mendukung pernyataan para budayawan ini. Kalau hanya dilepas sepenuhnya ke Masyarakat, tidak mungkin seni budaya ini bisa bertahan apalagi berkembang. Dalam hal ini, peran Pemerintah dituntut untuk membantu mendorong mereka bertahan dan bertumbuh kembang dg fasilitas yang memadai. Apalagi Seni Tradisi, kita tahu semua siapa yg punya keahlian ini dan bagaimana kondisi ekonomi mereka...

Adanya Taman Budaya sih sudah bagus. Tapi itu lebih buat orang sekelas Edi Utama, Sofyani, Elly Kasim dan bbrp, yg telah mampu menghidupi Group nya. Walaupun tidak mudah dan harus total. Tetapi bgmn dg group-group kecil seni tradisi masyarakat lainnya? Gak mungkin tanggungjawab tsb diserahkan semua dan gak mungkin semua seni tradisi tsb dibebankan ke Edi Utama, Sofyani, Elly Kasim saja. 

Contoh yang cukup baik sebetulnya ada di Bukittinggi. Tapi baru satu itu doang...! Yaitu Tempat pertunjukkan Kesenian di Gedung Medan Nan Bapaneh, dibawah Jam Gadang, sebelah Hotel Jogja. Disubsidi sedikit oleh Pemko. Tiap malam dulu selalu ada penampilan Kesenian disana. Setiap malam, selalu group yang tampil bergantian, agar kebagian juga yg lain. Mulai dari Pasambahan sampai Tarian diatas kaca, dll. Cukup mewakili sebagian kesenian tradisi Minang. Setiap saya mampir kesana ngajak kawan2 fotografer yg berbeda, selalu mereka sangat senang sekali. Sehingga setiap ke Bukittinggi sudah ada aktifitas untuk malam hari yang berbobot dan menarik utk dinikmati. 

Kalau kita menginap di Padang...? Tak satupun tempat yang berani menyajikan kesenian tradisional ini. Kenapa Pemerintah tidak mengeluarkan regulasi agar Hotel2 berbintang bersedia menampilkan kesenian kita...? Minimal sekali seminggu. Maaf buat kawan2 PHRI. Anda tinggal tambahin aja ke harga kamar nanti. Tapi harus bersama-sama melakukannya. Ini akan menambah nilai jual Hotel juga. Malu dong kita, kalau tamu-tamu datang ke Ranah Minang lalu disuguhkan ORGAN TUNGGAL...! Seronok pula lagi. Seolah-olah kita gak punya budaya lokal yang bisa dibanggakan...

Kita beraharap, hal-hal seperti ini juga dikembangkan di kota-kota lainnya. Dan pasti bukan Edi Utama atau Sofyani yang harus membuat fasilitas dan mensubsidi ini... Jadi siapa dong...? Kalau begitu apakah masyarakat bisa dikatakan bersalah tidak mengapresiasi seni budaya sendiri..? Kalau untuk bertahan hidup aja sudah susah, bgmn mereka bisa menampilkan seni budaya tsb? Udah basi lah kalau alasannya gak ada dana. Kenapa dana tsb tidak direncanakan dan diajukan...? Kalau memang mau serius... 

Sekarang coba kita tanya saudara-saudara sedarah kita di Malaysia. Dunsanak kandung kita di Malaysia. Siapa yang mempromotori dan memfasilitasi seni budaya disana? Apakah hanya masyarakat saja atau dukungan kuat berupa fasilitas dari Pemerintah...? Mohon kita tidak terjebak dg diskusi soal paten mematen. Tolong lihat esensi diskusi kita ini. Krn cukup banyak dunsanak kita dari Malaysia yang ada di milis ini dan di west-sumatra.com yang membantu secara intensif promosi Pariwisata Ranah Minang. Justru kita perlu bantuan dunsanak-dunsanak kita yang telah bergabung dg kita ini utk mengangkat citra Ranah kita. 

Skl lg, mohon maaf sebelumnya. Ini pendapat pribadi saya yang hanya melihat dari luar arena saja. Saya yakin banyak masalah internal yang jauh lebih besar dari ini yg harus diselesaikan, mungkin... Belum isu Mentawai lagi...:) Maklum, penonton selalu merasa lebih tahu dari pemain. Terima kasih.

Wassalam,
Nofrins
(foto2 karya Sekretaris MENRISTEK, 
Prof.DR.Ir. Benyamin Lakitan, MSc., asli dr Sum-Sel)



--- On Fri, 8/28/09, Nofend St. Mudo <[email protected]> wrote:

From: Nofend St. Mudo <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Pemerintah Tidak Perlihatkan Keberpihakan terhadap Budaya
To: [email protected]
Date: Friday, August 28, 2009, 10:02 PM

http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/19/3460161p.jpg

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Penari dari Sanggar Tari Soeryo Soemirat Pura Mangkunegaran Surakartamembawakan tari Batik saat mengikuti Karnaval Budaya di JalanSlamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Selasa (18/8). Karnavalyang, antara lain, diikuti kelompok kesenian, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum ini diadakan dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Ke-64 RI.

/

Jumat, 28 Agustus 2009 | 21:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para budayawan memandang keliru penilaian Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang mengatakan kurangnya penghargaan dan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya Indonesia. Justru, pemerintah dinilai budayawan tidak memperlihatkan keberpihakan yang jelas terhadap budaya tradisi.

Pemerintah harus mendorong dan membantu secara konkret dan berkelanjutan bagaimana tumbuh-berkembangnya kantong-kantong kebudayaan di berbagai daerah. Adalah tanggung jawab pemerintah untuk memberi ruang hidup kepada seni budaya tradisi.

Demikian benang merah yang dikemukakan budayawan Radhar Panca Dahana (Jakarta), Edy Utama (Padang), dan budayawan Suryadi (Belanda), ketika dihubungi Kompas, Jumat (28/8), menanggapi pernyataan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, seperti dimuat Kompas edisi Jumat (28/8), halaman 12.

Radhar mengatakan, indikator yang menyebabkan Jero Wacik berkesimpulan demikian tidak jelas dan tidak terukur. "Seni budaya tradisi mengalami kemajuan yang sangat baik dan juga diapresiasi oleh publik. Hanya apresiasi oleh pemerintah yang kurang, tidak saja terhadap kesenian itu sendiri tetapi juga terhadap pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri," katanya.

Senada dengan itu, Edy Utama menilai pernyataan Jero Wacik tidak sepenuhnya benar. Begitu banyak kegiatan mandiri masyarakat untuk memelihara dan meneruskan tradisi budaya yang mereka wariskan. Justru perhatian dan apresiasi pemerintah yang kurang. "Misalnya seperti di Pariaman, Sumatera Barat, mereka membuat Alek Nagari, yang bisa berlangsung berhari-hari. Itu semua merupakan ekspresi kecintaan mereka terhadap seni budaya tradisi yang mereka warisi. Banyak suku bangsa lain di Indonesia yang berbuat seperti orang Pariaman," katanya mencontohkan.

Suryadi, budayawan Indonesia yang jadi peneliti dan dosen di Leiden University, mengatakan, pemerintah lupa membina berbagai aspek kebudayaan, termasuk kesenian yang berasal dari kita sendiri. "Unsur pemerintah yang terkait dengan pembinaan kebudayaan nasional tidak memiliki visi yang jelas. Tidak mempunyai cetak biru yang implementasinya terlihat dalam praktik. Saya kira harus ada revolusi dalam kementerian kebudayaan dan pariwisata," ungkapnya.

Beban berat

Perkembangan pesat kesenian di Indonesia tidak dibarengi kebijakan yang berpihak kepada seniman. Seniman dengan kreativitas dan kemandiriannya sulit untuk menampilkan karya-karyanya agar bisa diapresiasi masyarakat. Namun, untuk ke arah itu seniman harus memikul beban berat.

Radhar mencontohkan, jika dulu untuk pementasan teater pakai gedung pertunjukan tak bayar, sekarang jangankan untuk pertunjukan, untuk geladi resik saja juga harus bayar. Baliho pertunjukan juga demikian.

Kesenian, seperti seni tari, sastra, teater, dan seni pertunjukan lainnya, selama ini berkembang tanpa keterlibatan pemerintah. Pemerintah seperti melepaskan tanggung jawab konstitusional. Bahkan, seniman dan karyanya lebih banyak dihargai oleh public disbanding dihargai oleh pemerintah.

Bahkan, di Bukittingi, seperti yang sempat dialami Kompas, gara-gara jumlah pengunjung tidak menutup biaya produksi, pertunjukan kesenian tradisional batal dipertunjukkan. "Kita dibebani biaya sewa tempat, bahkan dari tiket pun dibebani pajak. Mestinya, untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan kesenian, pemerintah memberikan keringanan, bahkan kalau perlu menyubsidi. Membantu sanggar-sanggar kesenian, yang jelas-jelas peduli kesenian," kata Adek, seniman di Bukittinggi.

Edy Utama mengatakan, pemerintah tidak memperlihatkan keberpihakan yang jelas terhadap budaya tradisi. Pemerintah juga belum memiliki strategi untuk mengembangkan budaya tradisi yang kita miliki. Karena itu, kalau ada penilaian bahwa seni budaya tidak berkembang secara baik, terutama pada generasi mudanya, mungkin ini salah satu kendalanya.

Meskipun banyak program yang mereka lakukan atas nama budaya tradisi, hal itu mereka kemas menurut selera birokrasi sehingga budaya tradisi itu selalu mereka kreasikan dan pengelolaannya diserahkan kepada institusi baru seperti sanggar. Sementara pelaku dan pemilik budaya tradisi seperti seniman tradisional tetap saja ditinggalkan. "Akibatnya, semangat budaya yang dimiliki masyarakat kadang-kadang juga ikut melemah. Begitu juga dengan industri budaya yang dikembangkan, juga tidak memberikan ruang pada pelaku budaya tradisi itu sendiri," paparnya.

Lantas apa yang perlu dilakukan pemerintah? Menurut Edy Utama, pemerintah harus mendorong dan membantu secara konkret dan berkelanjutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kantong-kantong budaya tradisi yang ada di dalam masyarakat. Di kantong-kantong inilah budaya tradisi itu dikelola.

"Bayangkan kalau kegiatan-kegiatan kesenian dikelola secara otonom oleh masyarakat di setiap desa atau nagari, atau lagai di Mentawai, misalnya, dan ini difasilitasi secara baik oleh pemerintah, saya yakin budaya tradisi itu akan bergairah kembali dan akan diapresiasi oleh masyarakat," tambahnya.

Untuk itu, menurut Edy Utama, yang mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat, itu pemerintah harus melepaskan paradigma berpikir mereka yang bersifat sentralistik dalam pengelolaan budaya tradisi, terutama dalam membuat event-event budaya tradisi itu sendiri. Seharusnya program-program budaya tradisi seperti festival atau pekan budaya yang banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia harus diturunkan menjadi kegiatan masyarakat dan menjadikan kantong-kantong budaya tersebut sebagai tempat wadah kegiatannya.

Jadi harus menggeser paradigmanya dari sentralisasi menjadi desentralisasi kebudayaan sehingga pemilik budaya tradisi tidak lagi menjadi obyek, tetapi subyek dari kegiatan tersebut.

Sementara itu, menurut Suryadi, pemerintah membina ruang-ruang publik di mana seni budaya dapat dipertunjukkan oleh pendukungnya. Dengan cara begitu, secara langsung atau tidak langsung, masyarakat akan tertarik mengapresiasi seni budaya sendiri.

Di Kota Jakarta yang metropolis ini, misalnya, sulit ditemukan ruang-ruang publik tempat pertunjukan rakyat bisa ditampilkan. Ruang-ruang publik sudah diokupasi oleh kapitalis pemodal untuk mendirikan gedung-gedung dan mal-mal. "Dulu di zaman kolonial ada alun-alun kota tempat banyak kelompok seniman tradisi dapat mempertunjukkan berbagai macam kesenian," katanya.


NAL

http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/28/21002110/Pemerintah.Tidak.Perlihatkan.Keberpihakan.terhadap.Budaya..


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


Kirim email ke