Alaikum salam warahmatullahi wabrakatuhu,

Artikel bagus, mungkin dapat membangunkan dan manyadarkan para 
pen-ganti-tetangga dengan pikiran-pikiran yang lebih luas dan kosntruktif. 

Sayangnyo referensi artikelnya tidak cukup. Kita hanya diberi "dari teman saya" 
dan rujukan umum ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id) yang belum 
pernah tereksposed di Lapau. Link Zamrud Khatulistiwa ini berisi banaak 
foto-boto bagus bernilai serta artikel-artikel laporan yang menearik. Namun, 
kita tidak menemukan di mana artkel asli ini dapat ditemukan.  Kita ingin 
membaca artikel itu dari sumbr aslinyo yang mungkin banyak foto-foto 
mengikutinya.

Mungkin ambo kurang taliti mancarinyo. Brangkali Angku Mulyadi dapek 
manambahkan rujukanno saketek lai?

Salam,
--MakAngah 

--- In [email protected], "Muljadi Ali Basjah" <mulj...@...> wrote:
>
> 
> Assalamualaikum Wr. Wb. dunsanak di Palanta RN!
> 
> Dari teman saya,muntuk dibaca.
> 
> Selamat membaca,
> Wassalam,
> Muljadi
> 
> 
> XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
> Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
> 
> 
> Farid Gaban
> WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM EKSPEDISI 
> ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id)
> 
> 
> 
> Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan budaya 
> Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai bangsa. Emosi 
> menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat, misalnya, hanya 
> menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua berlangsung. 
> Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada hal-hal yang 
> menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam ini tidak akan 
> menolong. 
> 
> Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya. 
> Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi 
> Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah seni 
> budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang 
> hilang jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian. 
> 
> Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu 
> rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan 
> pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka 
> (enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui 
> kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan. 
> 
> Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara, 
> kota pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana 
> legendaris Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia 
> juga merupakan salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau 
> fanzur dalam bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal 
> Hamzah Fanzuri yang lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota 
> tua), Makam Mahligai di perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan ulama, 
> hanya tersisa batu-batu berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak ada 
> informasi bermakna di kota kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat. 
> 
> Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah 
> menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu 
> besar dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin 
> Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi 
> tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari. 
> 
> Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten 
> Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk renovasi. 
> Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan Malaka 
> berharap penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu situs 
> sejarah ini. 
> 
> Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri yang 
> punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri. Sebagian 
> koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara, lain buku karya Nurruddin 
> Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh 
> yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak 
> bisa membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. 
> Dia merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei 
> ketimbang pemerintah Indonesia maupun Aceh. 
> 
> Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati 
> pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit 
> menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh. Omo Hada, rumah 
> tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia 
> 300 tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan 
> gempa. Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk 
> daftar 100 situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun 
> 2000. 
> 
> Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau 
> Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs, sejarah, 
> dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat merupakan 
> mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat ketekunan 
> Raja Ali Haji (1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi surat-surat 
> dagang kuno yang kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, 
> antara lain kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, 
> Malaysia, bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19 
> masih terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar jejak 
> sebuah kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah ambisi Malaysia untuk 
> menjadi pusat peradaban Melayu dunia di alam modern. 
> 
> Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada 
> khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan 
> (ecotourism). Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan hayati 
> yang hebat, namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan 
> banyak flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya 
> Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi 
> Charles Darwin. Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh 
> UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan 
> kantornya rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007. 
> 
> Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai 
> (Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak 
> diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah. Belasan 
> anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam dan 
> budaya Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu. 
> 
> Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah 
> alam, sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri 
> kepulauan terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar, 
> minimnya kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya, 
> menjadikan negeri ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di 
> Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. 
> 
> Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan 
> mengelola informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku, 
> dan produk multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet 
> sudah demikian maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media, 
> kita masih keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan 
> Indonesia itu. 
> 
> Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak memiliki 
> kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak perlu 
> memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka 
> menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis 
> wisata besar, sementara mereka menjadi koki dan pemilik restorannya. 
> 
> Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki 
> kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan 
> makin konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah untuk 
> mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan sejarah 
> sendiri serta kemampuan untuk mengemasnya.
> -- 
> GRATIS für alle GMX-Mitglieder: Die maxdome Movie-FLAT!
> Jetzt freischalten unter http://portal.gmx.net/de/go/maxdome01



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke