FYI. Tanggapan dari Kepala Dinas Pariwisata, Budaya,
Pemuda dan Olah Raga, Kab. Solok Selatan ini, cukup menarik untuk disimak. Kab.
Solok Selatan sekarang sedang bersiap utk meluncurkan dalam waktu dekat Olah
Raga ARUNG JERAM dan KAYAK ARUS DERAS. Eksibisi pertama nanti akan diikuti oleh
LANTAMAL/ARMABAR/SATLAK PB dan Umum. Termasuk keterlibatan para pehobby
fotografi nanti tentunya... Sol-Sel berniat utk leading dalam olah raga ini...!
Sorry, agak promosi dulu dikit...:)

 

Skl lagi, mohon saudara-saudara kandung ku dari Malaysia yg ada di milis
ini tidak merasa terganggu dg hal ini. Kita coba liat esensinya secara lebih
bijak. Krn Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina, Asutralia, dan sekitarnya,
semua adalah tetangga yang merupakan PANGSA PASAR BESAR yang sangat kita
harapkan masuk sbg wisatawan ke Sumbar. Jadi harus berangkulan lah kita satu
sama lain dan tetap saling menjaga azas hormat menghormati. Kalau ada bbrp
oknum yg berbeda, itulah demokrasi...:)

 

Saya pribadi sengaja memanfaatkan isu ini utk terus membangkitkan
kepedulian kita bersama agar bisa memberikan perhatian lebih kepada kekayaan
seni budaya kita yang masih terlalu banyaknya. Memang tidak mudah ngurusinnya
dan sekaligus mempromosikannya agar bisa jadi daya tarik utk menarik wisatawan
masuk... 

 

Semoga kontribusi kita dari para pehobby fotografi akan membantu
meningkatkan kepedulian berbagai pihak dan mempercepat proses promosi Industri
Pariwisata Sumbar. Insya allah... 

 

Salam,

Nofrins

www.solok-selatan.com

www.west-sumatra.com
--- On Sun, 8/30/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
To: "Y. Napilus" <[email protected]>
Date: Sunday, August 30, 2009, 6:56 AM

   Silahkan, dengan senang hati.
Utuh saja.
Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "Y. Napilus" 
Date: Sat, 29 Aug 2009 16:48:19 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
Pak Yul,
Setuju banget. Itulah yang coba kita lakukan dg West-Sumatra.com, agar 
kebanggaan thd diri sendiri tsb bisa muncul kembali. 
Boleh saya share ke milis scr utuh atau perlu saya simpan namanya? Tapi isinya 
sangat penting nih utk memotivasi yang lain jg. Thanks.
Wass,Nofrins

--- On Sun, 8/30/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
To: "Y. Napilus" <[email protected]>
Date: Sunday, August 30, 2009, 6:40 AM

   Nofrin, menurutku kanak-kanak yang normal tdk mengenal sikap inferior.  

Sungguh, dalam sergapan gemerlap budaya popwestern kita melupakan local art and 
culture yg tanpasadar kita marginalkan sendiri. Entah kita begitu terkesima dg 
yang datang dari barat atau gengsi di tengah pergaulan global. 

Lalu, apabila sesuatu milik kita diambil orang utk dikemasulang, kita meradang. 
Merasa dilecehkan, kita kebakaran jenggot bereaksi bak nasionalis sejati. Kita 
gagap, terkesan kekanak-kanakan. 

Sesungguhnya kita tak pernah mengurus serius warisan2 itu.
Warisan kita terlalu banyak. Ini dibuktikan secara meyakinkan oleh jelajah 
nusantara farid gaban. Ternyata Otonomi daerah tak cukup menolong, karena 
daerah masih berkutat dengan kemiskinan dan infrastruktur dasar menuju 
Millenium Development Goals. 

Juga, Para pialang seni entertaint tidak tertarik mempromosi local traditional 
art. Mungkin, tidak punya nilai jual. Indikatornya, lihat saja hampir tidak ada 
pentas seni tradisi yang digelar seperti seheboh  pagelaran musik Inul 
daratista atau groupband dewa di tanah air ini. Kalaupun ada pagelaran, hanya 
pagelaran amatiran di festival-festival sepi pengunjung.

Bila ingin memajukan local traditional art ini, agaknya stereotype traditional 
harus dicampakkan jauh-jauh. Agar spektrum marketnya lebih besar. Sehingga 
entertaint bisa memiliki ruang sustain colaboration. Biar dunia tahu bahwa 
local art n culture kita juga tdk kalah dari western pop art n culture. Jangan 
salah kaprah lagi, yang datang dari luar itu modern dan yang datang dari negeri 
adalah traditional, yang dimaknai sebagai harus diposisikan duduk manis di 
pinggir-pinggir.  

Kami, akan tetap mengapresiasi local art n culture. Menghindar menggunakan kata 
tradisi agar tdk terjebak dalam makna sesuatu yang irasional.

Yul Amri,
Head of Agency of Culture and Tourisme, Youth & Sport.
Kabupaten Solok Selatan, West Sumatra.Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  
"Y. Napilus" 
Date: Sat, 29 Aug 2009 10:22:55 -0700 (PDT)
To: WSTB<[email protected]>; MAPPAS<[email protected]>
Subject: Fw: Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
FYI sbg salah satu bentuk otokritik dan bahan kita utk bergerak lebih cepat ke 
depan. Bukan buat bahan renungan lagi. Kelamaan merenung mulu ntar...:) 
Wass,Nofrins 

--- On Sat, 8/29/09, Muljadi Ali Basjah <[email protected]> wrote:

From: Muljadi Ali Basjah <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
To: [email protected]
Date: Saturday, August 29, 2009,  9:36 PM


Assalamualaikum Wr. Wb. dunsanak di Palanta RN!

Dari teman saya,muntuk dibaca.

Selamat membaca,
Wassalam,
Muljadi


XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia


Farid  Gaban
WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM EKSPEDISI 
ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id)



Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan budaya 
Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai bangsa. Emosi 
menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat, misalnya, hanya 
menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua berlangsung. 
Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada hal-hal yang 
menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam ini tidak akan 
menolong. 

Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam  dan budaya. 
Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi 
Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah seni 
budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang hilang 
jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian.  

Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu 
rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan 
pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka 
(enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui 
kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan. 

Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara, kota 
pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana legendaris 
Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia juga merupakan 
salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau  fanzur dalam 
bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal Hamzah Fanzuri yang 
lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota tua), Makam Mahligai di 
perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan ulama, hanya tersisa batu-batu 
berinskripsi Arab tak terurus. Hampir  tidak ada informasi bermakna di kota 
kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat. 

Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah 
menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu besar 
dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin 
Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi 
tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari. 

Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten 
Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk renovasi. 
Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan Malaka berharap  
penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu situs sejarah ini. 

Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri yang 
punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri. Sebagian 
koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara,  lain buku karya Nurruddin 
Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh yang 
dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak bisa 
membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. Dia 
merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei ketimbang 
pemerintah Indonesia maupun Aceh. 

Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati 
pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit 
menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh. Omo Hada, rumah 
tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia 300  
tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan gempa. 
Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk daftar 100 
situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun 2000. 

Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau  di Pulau 
Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs, sejarah, 
dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat merupakan 
mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat ketekunan Raja 
Ali Haji (1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi surat-surat dagang 
kuno yang kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, antara 
lain kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, Malaysia, 
bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19 masih 
terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar jejak sebuah 
kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah  ambisi Malaysia untuk menjadi 
pusat peradaban Melayu dunia di alam modern. 

Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada 
khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan (ecotourism). 
Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan  hayati yang hebat, 
namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan banyak 
flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya 
Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi 
Charles Darwin. Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh 
UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan kantornya 
rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007. 

Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai 
(Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak 
diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah.  Belasan 
anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam dan budaya 
Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu. 

Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah alam, 
sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri  kepulauan 
terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar, minimnya 
kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya, menjadikan negeri 
ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa, 
Jakarta. 

Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan mengelola 
informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku, dan produk 
multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet sudah demikian 
maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media, kita masih 
keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan Indonesia itu. 

Negeri-negeri kecil  seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak memiliki 
kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak perlu 
memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka 
menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis wisata 
besar, sementara  mereka menjadi koki dan pemilik restorannya. 

Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki 
kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan makin 
konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah untuk 
mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan sejarah sendiri 
serta kemampuan untuk mengemasnya.
-- 
GRATIS für alle GMX-Mitglieder: Die maxdome Movie-FLAT!
Jetzt freischalten unter http://portal.gmx.net/de/go/maxdome01



      
     


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke