29/08/2009 - 10:15
Ass Wr Wb Dalam menghadapi kasus tari Pendet, etc, ada yg berpendapat "untuk memobilisir emosional /dignity kebangsaan kita, dan tentu ada juga yg berpendapat kenak-kanakkan, ya begitulah variasi 2 pendekatan setiap individu/kelompok berbeda, malah sdh terbentuk grup Ganyang Malaysia". (baca inilah.com) Adalah jadi pertnyaan , krn di Malaysia relatif banyak orang Minang dan indonesia lainnya, apakah kita tak perlu (diam) berkomentar dlm menghadapi kasus ini? Disini kita berbeda pendapat, bagi saya kalau si padang pancilok, ya harus di hukum sesuai dgn kesalahannya dan tidak perlu didiamkan , begitu juga ada Malingsia, ini juga harus di pertanyakan, di tentang, dan di tuntut, ada sekitar 21 items karya intelektual/kebudayaan kita yg di caplok nya. Philosphy kita ; *"tibo di mato dipeciang kan, tibo di paruik di kampih kan" INI TIDAK BERLAKU DI sini tidak bisa di terapkan. Toleransi sesama serumpun memang perlu, tp bukan dalam bentuk kasus2 ini., tali badusansank memang tetap harus di jaga, tp kalau yg namanya salah ya salah. Tidak bisa standard ganda.* But anyway, segala pendapat yg menyarankan utk diam, krn banyak dunsanak kita di sana, serta berkomentar dgn stigma " kekanak-kanakan" kita hargai. Itulah indah dan rachmat nya perbedaan pendapat. " "Different opinion is ultimate right every individual" we highly appreaciate. Wass. Muzirman Tanjung ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Mahasiswa Malaysia Tak Ditolak di Padang *INILAH.COM, Padang – Meski Universitas Diponegoro (Undip) Semarang telah menolak menerima mahasiswa Malaysia, namun Universitas Andalas (Unand) tidak akan melakukan hal serupa. Unand akan tetap menerima mahasiswa asal Negeri Jiran yang ingin menuntut ilmu di kampusnya.* "Bagi Unand, kehadiran mahasiswa dari luar negeri, bisa mengangkat citra Unand sebagai universitas yang berkualitas," kata Rektor Unand Musliar Kasim di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (29/8). Musliar menjelaskan, pihaknya tidak akan mengikuti langkah Undip yang menghentikan penerimaan mahasiswa baru dari Malaysia dengan alasan rasa nasionalisme. Dia menilai kehadiran mahasiswa Malaysia juga sebagai perwujudan kedekatan budaya Malaysia-Sumbar. Menurut Musliar, persoalan yang terjadi antara Malaysia-Indonesia, mestinya dipilah-pilah dan dilihat secara proporsional. Dia pun mengimbau semua pihak di Indonesia agar tidak terlalu reaktif melihat persoalan yang terjadi belakangan ini, khususnya yang terkait hubungan Indonesia-Malaysia. "Masalah tari Pendet diklaim Malaysia bisa diselesaikan pemerintah. Begitu juga masalah lainnya seperti Ambalat, dan masalah TKI bisa dibicarakan melalui jalur diplomatik," jelasnya. Saat ini, lebih 300 mahasiswa asal Malaysia tengah menuntut ilmu di tiga fakultas di Unand yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik dan Fakultas Farmasi. Jumlah mahasiswa asal Malaysia terbesar terdapat di Fakultas Kedokteran, yaitu sebanyak 270 mahasiswa. Para mahasiswa itu kini duduk tingkat I hingga V di fakultas itu. Setiap tahunnya Unand menerima 50 mahasiswa dari Malaysia. Dekan Fakultas Kedokteran Unand, Masrul menyebut sejak 1981 terdapat 82 alumni Fakultas Kedokteran Unand yang berasal dari Malaysia. "Mahasiswa dari Malaysia mulai banyak masuk Unand sejak 2004," jelas Masrul. Masrul menjelaskan, Fakultas Kedokteran Unand digandrungi mahasiswa dari Malaysia karena merupakan satu dari 13 fakultas kedokteran di Indonesia yang memenuhi standar yang diakui Malaysia. Dia pun menilai kebijakan Undip yang menolak mahasiswa Malaysia sebagai bentuk otonomi perguruan tinggi. "Sekarang berlaku otonomi perguruan tinggi. Kalau Undip menghentikan penerimaan mahasiswa baru dari Malaysia, tentu mereka punya kewenangan dan alasan sendiri," ujarnya. Sebelumnya, Undip Semarang menyatakan tidak lagi menerima mahasiswa yang berasal dari Malaysia dalam penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2009-2010. "Kami melakukan itu sebagai wujud nyata dalam mengekspresikan rasa nasionalisme," kata Rektor Undip Susilo Wibowo usai upacara penerimaan mahasiswa baru di kampus Undip Semarang, Selasa 25 Agustus lalu. Susilo beralasan, selama ini Malaysia sering tidak menghargai harkat dan martabat bangsa Indonesia lewat berbagai cara, termasuk klaim Malaysia atas berbagai kebudayaan yang berasal dari Indonesia. [*/fiq] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
