Alaikumsalam ww Kanda Jamaludin, Terima kasih banyak atas tanggapannya. Inilah yang saya mau tahu dan dengar dari saudara kandung saya di negara tetangga. Skl lg, saya tak mau terjebak dg polemik yg beredar diluar sana. Tetapi proses yang dilakukan sampai ketahap ini yang mau saya pahami untuk introspeksi kita. Banyak hal positif yang bisa dipetik dari 'staging' tsb. Saya tak akan mengupas satu persatu... Seperti kata Bung Edi, seniman kita lebih dihargai diluar kandang dari pada di kandang sendiri... Tadi siang saya tergelitik thd status salah satu dunsanak kita di Facebook yang akan reuni dan akan menyajikan Organ Tunggal. Saya katakan, kenapa kok Organ Tunggal sih...? Kenapa bukan Kesenian Tradisional kita? Kenapa gak bangga dg kekayaan sendiri...? Setelah diangkat orang lain baru kita ribut... Jawabannya: "Walaupun organ Tunggal, tapi lagu-lagunya lai lagu Minang Da... Kalau kesenian tradisional, tolong lah Uda sponsori...". Alamaakkk... Itulah dilema-dilema yang kita hadapi saat ini. Terlalu banyak untuk diurai. Tapi satu hal dari paparan Kanda Jamaludin ini, harus ada REGULASI yang mengharuskan agar masyarakat menguasai atau mendalami kesenian dan budaya lokalnya. Kalau dilepas ke pasar dg gaya neolib, pasti akan begini terus... Budaya barat yang akan menghabisi kita...! Skl lagi, terima kasih Kanda Jamaludin. Tulisan ini akan saya jadikan referensi untuk membantu "sorak-sorak" agar local art & culture kita juga bisa eksis di tanah air. Ada proses panjang dan usaha disitu... Pertanyaannya, seberapa keras kita akan berusaha untuk itu...? Seberapa pedulinya Pemerintah mendukung usaha-usaha itu...? Mohon maaf kalau saya salah menangkap insightnya... Wassalam,Nofrinswww.west-sumatra.com
--- On Mon, 8/31/09, jamaludin mohyiddin <[email protected]> wrote: From: jamaludin mohyiddin <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Tidak Perlihatkan KeberpihakanterhadapBudaya To: [email protected] Date: Monday, August 31, 2009, 7:34 PM Assalamu alaikum warahmatulLahi wabarokatuh, Bung Nofrins, Bang Edy Utama dan dunsanak yang di hormati sekalian, Saya akan mencuba serengkas mungkin membicara dan sekaligus menafsir perancangan dasar/policy planning membangun semula kehidupan dan penghayatan kesenian di Malaysia. Semenjak merdeka 1957, Malaysia giat sekali dalam usaha pembangunan ekonomi sebagai usaha tuntutan mengisi kemerdekaan. Muafakat siyasah memusat kepada perancangan pembangunan ekonomi Negara. Pimpinan politik Negara berpendapat bahwa dengan membangun perekonomian negara mertabat tanah air dan saksiyyah rakyatnya terjamin. Di awal tahun 70an sudah ada kesedaran bahwa muafakat politik membangun negara atau mengisi kemerdekaan dengan bersandarkan dimensi perekonomian semata mata sahaja tidak menjamin keamanan dan keutuhan Negara. Memperlengkapkan kejayaan pembangunan perekonomian agar negara berdaulat aman damai, dimensi nonekonomi/noneconomic dimension dalam filsafah, perumusan dan perancangan pembangunan negara mesti mengambil kira noneconomic factors ini. Tanpanya, Malaysia kan terus menerima kerugian yang merosakkan ekoran dari dasar pembangunan yang tempang dan salah kaprah. Rusuhan 13 Mei 1969 telah menyadarkan elit dan masyarakatnya untuk mencari jalan keluar dari penerusan dasar pembangunan ekonomi yang tempang dan bercirikan neo-economic feudalism. Dasar yang membazirkan ini mesti diberhentikan atau diubahsuaikan dan diganti dengan satu dasar gantian/alternative policy yang akan memberi keamanan, kesejahteraan dan bermanfa’at kepada majoriti rakyat. Secara urutan dasar/policy wise, perancang negara berhadapan dengan satu dilemma perumusan dasar/policy formulation dilemma. Yang manakah diantara banyaknya dimensi nonekonomi dalam pembangunan negara yang patut di utamakan? Akhirnya, pemerintah dan elit negara memilih perkara penghayatan jati diri dan rasa kebangsaan/national identity adalah yang paling di utamakan dan tidak boleh dipandang remeh dan tidak boleh di tangguh tangguhkankan lagi pelaksanaannya. Hasilan dari muafakat siyasah/political will, kerangka dasar gantian/alternative policy framework telah mulai dirumusteliti dan dimasukkan kedalam pelan induk Dasar Ekonomi Baru(DEB). Secara urutan program/program wise,para perancang negara berhadapan dengan dua cara program penghayatan jati diri dan citarasa kebangsaan: melalui pendekatan kesokanan (di Indonesia dipanggil olahraga)atau pendekatan kesenian. Kalau pendekatan kesokanan, oriantasinya kehadapan, dan sudah jelas kebaratan dan ongkos agenda bertindaknya begitu besar. Kesokanan tidak asli/native atau tidak dari sini. Wal hal pendekatan seni lebeh serasi dan jelas ketimurannya. Dan, ianya telah berakar rumbi, sebati dan bukan satu tempelan dari luar. Kesimpulannya, kerajaan membulat azam menerima pendekatan seni. Muafakat siyasah inilah yang kemudian mendukung pendanaan dalam perancangan induk raksasa membangun semula kesenian rakyat Malaysia. Seni Melayu di jadikan teras seni negara sambil itu memberi luang dan ruang kepada seni kaum lainnya. Alhamdulil Lah, kemakmuran(ekonomi)negara telah di gunakan sebaik baiknya dalam pendanaan rancangan induk raksasa ini. Peruntukan kesenian dalam DEB di gunakan untuk memajukan kesemua aspek penghidupan dan penghayatan kesenian kerawitan setempat/local traditional arts di Malaysia. Tahap demi tahap sasaran pelaksanaan DEB dalam bahagian kesenian di pertingkatan dan semakan dasar/policy review di ikutsertakan untuk menjamin kejayaan penterapan sasaran di lapangan. Saperti yang kita semua tahu bahwa keragaman seni kerawitan di Malaysia berpunca dari bermukimnya ratusan suku dari segala pelosok Wilayah Nusantara. Selain dari ni’at peribadi berhijrah, perantau ini menghayati kedinamikaan Nusantara itu sendiri yang bertunjangkan amalan merantau dan berdagang. Pendatang kemudian menjadi pemukim bermastautin tetap di Semenanjung Tanah Melayu. Ramai diantaranya datang dibekali dengan seni kerawitan masing masing memperkaya kesenian setempat. Secara politis, warga ini orang Melayu dan berugama Islam. Telah di terima dan ditakrif sebagai Melayu, dan telah menjadi warga asli bukan berstatus pendatang lagi. Mereka telah menjadi bumiputra walaupun berlain suku. Kemaraan kemodenan (baca kebaratan)dan pelaksanaan dasar adu domba penjajah British telah dapat mempengaruhi proses pengabaian keatas penghayatan seni kerawitan tempatan. Lama kelamaan kegersangan amalan berseni kerawitan cukup amat dirasai oleh masyarakat Semenanjung. Menyonsang arus pengabaian penghayatan seni kerawitan hanya mampu di usahakan dan dibangunkan secara tersusunrapi dan berkesan hanya selepas peristiwa rusuhan kaum 13 Mei 1969. Sekarang, pimpinan politik dan masyarakatnya bersefakat bahwa penyuburan seni kerawitan perlu di gandingkan dalam pembangunan Negara. Kerna, saperti yang telah saya jelaskan diatas, jati diri boleh di perjelaskan lagi dengan kehadiran unsur unsur seni. Ingin saya pertegaskan di sini bahwa sanya ugama juga patut diberi pertimbangan yang sewajarnya dalam pembaikan syaksiyyah manusia dan warga. Selain itu, perancang telah dapat membedakan antara faktor kebaratan dan kemodenan dalam membina mengembang semula penghayatan dan kehidupan seni kerawitan Melayu. Titik tolak pertimbangan ini, yakni, kearah kejelasan jati diri Malaysia dalam berseni kerawitan itu lah yang melayari perkembangan seni Malaysia sekarang ini. Dukungan politis, yakni, dari galakan dan pendanaan dari pemerintah, memang yang membelakangi gerakan berseni kerawitan. Sambutan rakyat cukup tinggi dan meriah. Saya tidak menafikan ada juga tandingan yang kurang sehat dengan kehadiran seni moden barat. Dan, sambutan anak muda Malaysia dengan selera serbamoden ini juga cukup hebat. Ini memang tidak dapat dielakkan. Kehadiran kedua dua amalan berseni kerawitan dan ala moden barat nampaknya beriringan. Tetapi satu hakikat patut direnungi bersama. Dilapangan sudah terwujud daya saingan yang tidak sehat dan berat sebelah menindih seni kerawitan. Daya magnet budaya serbabarat cukup kuat bagaikan badai perosak. Tanpa dukungan dan perancangan tersusunrapi dari kerajaan, tandingan dari kesenian serbamoden ini boleh menetralkan atau mengalah kesenian kerawitan. Maknanya, tanpa campurtangan pemerintah atau dibiarkan kepada pasar hiburan yang hanya mementingkan laba kebendaan bukannya nilai kemasyarakatan, maka kemungkinan tertewas daya saingan seni kerawitan cukup mencemaskan. Yang penting dan saya bersetuju dengan satu pandangan bahwa betapa mahapentingnya pendanaan dari pemerintah untuk menyediakan tapak landasan penyuburan dan penghayatan seni kerawitan. Penyuburannya dan pengukuhannya mesti dimulai dari awal awal lagi. Tempat terbaik menyalur ialah di sekolah sekolah. Tapak awal ini mesti diadakan untuk pengenalan atau pendedahan awal kepada pelajar pelajar. Dari kolam inilah nanti acuan acuan berseni dapat di bentuk dengan lebeh berkesan. Samaada pedekatan kesokanan atau kaedah seni, Malaysia telah bersiap sedia dengan pendanaan yang cukup lumayan. Segala aspek pengurusan moden yang bersangkutan dengan pendekatan seni di perkira dengan teliti. Sikap atau perkiraaan bernatijahkan barangkali/chance tidak dibenarkan. Nilai dan budaya perancangan/culture of planning(personal or national) dijadikan batu asas merancang dan merumus dasar pendekatan seni. Sasaran utama perancang boleh dikatakan berbentuk serampang dua mata, kedua dua nya berkaitan dan dilakukan serentak. Tumpuan terawal ialah alam persekolahan dari SD sampai univeriti. Mengwujudkan ko-kurikulam seni musik, lagu, tari dan yang mata pelajaran yang bersangkutan. Membina tapak sumberdaya manusia dalam bidang seni. Ramai pelajar pelajar di hantar keluar negeri mengambil kesemua jurusan yang beroriantasi seni, dari hal kepengurusan, pengelolaan dan penyeliaan, pemasaran, pengeluaran dan perdagangan, mempelajari metode terkini dalam mempelajari seni termasuk bermain alat alat musik dan dllnya, juga dibidang akademik seni sehinga ke S3. Maktab Maktab Perguruan menyediakan kuliah kuliah seni. Sekolah atau perguruan tinggi menyediakan jurusan akademik dalam bidang seni. Sebelum ini, ko-kurikulum seni belum wujud atau tidak pernah di utamakan. Sekarang calun calun guru di Maktab Maktab dan di sekolah tinggi di wajibkan belajar mata kuliah seni musik dan tari kerawitan. Serentak dengan tumpuan awal keatas sistem persekolahan, pendanaan dan peruntukan kewangan ditujukan membangun praktis berseni atau menyuburkan kegiatan berseni di kalangan masyarakat. Disini, peranan kerajaan negeri cukup membantu. Pertubuhan pertubuhan nirlaba dan sanggar seni tari, lagu dan musik di kembangkan. Galakan dari pehak swasta tidak kalah hebatnya dari galakan resmi. Pertandingan pertandingan seni senantiasa ada dengan bantuan penuh dari media aliran perdana apatah lagi dari pemerintah. Kumpulan kumpulan musik dan tari bercambah. Yang cukup menarik sekali ialah belajar seni dengan membaca nota musik bagi sipemusik, nota tari bagi si penari dan mengenal nota musik bagi sipenyanyi. Projek pelaksanaan pendekatan seni di Malaysia juga melibatkan sumbangan yang tidak kurang pentingnya dari abang dan kakak dari Indonesia. Ramai ahli kesenian dari Indonesia di jemput sebagai tanaga professional mengajar dan melatih meramaikan lagi bakal pelajar dan peminat seni musik dan tari. Dalam konteks inilah mengapa Universiti Utara Malaysia menjemput dan didatangkan khusus Pak Yusaf Rahman. Lantaran kehadiran beliaulah maka seni talempong telah menjadi salah satu mata kuliah seni yang wajib pada setiap calun guru. Jasa beliau begitu besar sekali memodenkan pendekatan pengajaran talempong siap dengan nota musiknya. Alat talempong telah menjadi sebahagian dari Simponi Orkestra di universiti tersebut. Gerakan seni Cak lempong di yang kini populer di Negri Sembilan dan di Semenanjung boleh di katakan dari usaha professional Pak Yusaf Rahman jua. Ramai pelajar pelajar Malaysia telah dan akan terus di hantar ke universiti dan akedemni seni di Indonesia. Ramai diantaranya telah pulang dan memberi khidmat bakti memperkayakan lagi seni kerawitan Malaysia. Malaysia tetapn mengenang khidmat bakti dan jasa Indonesia dengan kehadiran ahli ahli dan pelatih seni ini. Kehadiran mereka mereka ini sesungguhnya telah membantu menjayakan projek pendekat seni tersebut. Sayugianya di sebut disini bahwa Saudara Anwar Ibrahim tiada hentinya memberitahu rakyat di kedua pehak akan sumbangan, khidmat bakti dan jasa dari jiran tetangga Malaysia ini. Beliau selalu mengingati pimpinan Malaysia agar menjaga jalinan siraturrahim dan jalinan mesra kejiranan dalam konteks hubungan duahala Malaysia-Indonesia. Rakyat Malaysia masih ingat dan menjunjung tinggi bantuan keakraban persaudaraan yang dihulurkan oleh masyarakat dan Negara Indonesia di tahun 60an dan juga 70an dimana mendaulatkan penggunaan Bahasa Melayu dan menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di dalam sistem pendidikan persekolahan dan univeristi. Dimana, ketika itu, penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar ilmiyyah di sistem pendidikan begitu lemah. Dengan bantuan tenaga pengajar dan instruktur ilmiyyah dari Indonesia maka telah berjaya meletakkan sistem pendidikan berteraskan Bahasa Melayu sebagai Bahasa pengantar ilmiyyah di puncak persada pendidikan nasional. Khutub khanah telah di penuhi dengan buku buku terbitan Indoneisa. Ada satu perkara yang ingin saya nukilkan untuk pemahaman bersama. Gerakan panggung bangsawan telah bermula sebelum Semenanjung di jajah Jepun. Ramai dari penggerak dan pelakun panggung bangsawan datang anak Melayu yang berketurunan dari Seberang. Penglibatan seniman dari Seberang juga adalah diantara penyebab menjayakan seni panggung bangsawan. Selepas penjajahan militer Jepun, ramai dari mereka ini berhijrah ke Singapura. Saudagar filem dari Hong Kong, Runme Shaw telah melabur wangnya membuka studio perfileman di Pulau tersebut. Wang modalnya dari Cina Hong Kong membiayai bisnis perfileman untuk hiburan orang Melayu. Apabila Singapura merdeka, maka timbul isu siapa yang memegang hakcipta terpelihara/copy rights keatas filem filem terbitan Studio Filem jalan Ampas, Singapura. Pemerintah Malaysia terpaksa menerima kenyataan bahwa Runme Shaw lah yang mememang haknya. Cuba bayangkan saorang asing memegang hakcipta filem Melayu yang di hasilkan oleh pengarah filem anak tempatan. Untuk mendapatkan semula pemulangan hakcipta keatas filem filem dan termasuk hakcipta lagu dan sebagainya kepangkuan masyarakat Melayu, kerajaan Malaysia terpaksa berunding dengan Runme Shaw. Tukarannya cukup mahal. Akhirnya, Malaysia dapat hakcipta dan Runme Shaw dapat jaminan hakmilik kesemua panggung wayang kepunyaian beliau di Semenanjung dan diidzinkan penerusan hak perdagangan nya menayang filem keluaranya di Hong Kong. Sekarang hasil seni filem dan lagu Almarhum P. Ramlee dan yang lainnya adalah kepunyaan hakmilik bersama orang Melayu. Boleh lah kami dan anak cucu meni’mati hasil seni anak bangsanya. Episod ini telah memberi satu i’tibar yang cukup mahal nilainya kepada masyarakat dan pemimpin negara. Dengan bersenjatakan alat peralatan moden, kita kini mampu perkayakan seni kerawitan tanah air. Kalau dahulu peralatan moden(baca barat) telah membawa perubahan yang kurang enak kita untuk kita terus menikmati, kini senjata yang sama bisa di ketengahkan untuk maksuq murni kami. ________________________________________________________________ Bung Nofrins trims responnya terhadap pernyataan saya dan teman budayawan ylainnya yg dimuat di Kompas.com. Ada banyak masalah yg memang harus kita selesaikan dalam kehidupan seni budaya kita. Persoalan pertama adalah soal persepsi kita thdp seni budaya yg pemahamannya menurut saya campur aduk. Kalau kita bicara seni budaya tradisi, ini adalah media yg penting dalm sistem sosial masyarakat. Ini menyangkut dengn sistem nilai dan melekat dng struktur sosial masyarakat pendukungnya. Kalau kita mau mengembangkannya, ini tidak bisa dilakukan dgn pendekatan pragmatisme pasar atau kekuasaan. Ia memilik sistem dan mekanisme tersendiri, yang menjadi acuan bersma masyarakat pendukungnya. Seni budaya tradisi seperti ini antar lain bertungsi sbg media pendidikan budaya, media mengembangkan solidaritas dan silaturahmi diantar masyarakat pendukung, di samping tetap memiliki aspek hiburannya. Sedangkan kalau kita bicara soal sanggar atau seniman, spt sanggar syofyani dll serta eli kasim, ini kan produk dr masyarakat urban, dan bisa dikelola dng pendekatan pragmatisme. Artinya bisa disesuaikan dgn kebutuhan pasar. Mgkn grup saya "Talag Buni" mencoba mengisu ruang yang lain, yakni mencoba menafsirkan kembali prinsip musikal yg ada dlm musik tradisi Minang, dgn kesadaran tidak tergelincir mjd musik pop yg menjamur skrg ini. Menurut pengetahuan dan riset saya dan teman2 di talago buni, ada banyak perbedaan yg prinsipil atr musik pop yg bersunber dr Barat dng musik tradisi yg ada dalam budaya Minang. Misalnya soal sistem harmoni dan tangga nada. Terus terang grup musik spt talago tidak bgt laku dalam masyarakat kita yg sudah dilanda budaya pop ini. Grup spt ini daya hidup dan pendanaanya didukung lembaga2 festival baik yg ada di dalam maupun luar negeri, cukup banyak grup yg spt ini di Indoesia, yg dikategorikan sbg nusik kontemporer berbasis budaya etnik, atau sering juga disebut world musik. Ketiga pengelompokan ini memiliki petsoalan yg berbeda, dan masalah yg paling krusial adalah di kelompok seni budaya tradisi. Dari pengalaman 30 tahun berkecimpung dlm budaya tradisi Minang pendakatn yg mungkin kit kembangkan adalah pendekatan kultural. Itu kenapa salah satu pernyataan saya di kompas saya menganggap penting mendorong¤unculnya kantong2 seni budaya tradisi. Saya telah mencoba beberapa kali mendorong tumbuhnya kantong2 budaya tradisi ini dng menggunakan pendekatan Alek Nagari, ternyata bisa jalan dng dukungan semangat dr masyarakat. Nah kantong2 seni budaya tradisi inilah yg mungkin perlu kita support, dan berharap pemerintah daerah bisa melihat hal ini sebagai sebuah alternaif. Dan jika kantong2 ini bisa tumbuh agak 10 buah saja di Sumbar, mgkin para perantau yg pulang kampung jg punya pihan lain menghayati budaya di tingkat akar rumput, krn atmosfirnya pasti berbeda jika dihayati di hotel atau gedung pertunjukan. "Sakali2 kaki dunsanak di rantau baluluak atau kanai angin malam di kaki gunuang marapi, untuk mancaliak budaya. Minang, mungkin lain pulo seronyo"". Salam Edy Utama Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Y. Napilus" <[email protected]> Assalamualaikum ww Adi Dunsanak, Saya ikut mendukung pernyataan para budayawan ini. Kalau hanya dilepas sepenuhnya ke Masyarakat, tidak mungkin seni budaya ini bisa bertahan apalagi berkembang. Dalam hal ini, peran Pemerintah dituntut untuk membantu mendorong mereka bertahan dan bertumbuh kembang dg fasilitas yang memadai. Apalagi Seni Tradisi, kita tahu semua siapa yg punya keahlian ini dan bagaimana kondisi ekonomi mereka... Adanya Taman Budaya sih sudah bagus. Tapi itu lebih buat orang sekelas Edi Utama, Sofyani, Elly Kasim dan bbrp, yg telah mampu menghidupi Group nya. Walaupun tidak mudah dan harus total. Tetapi bgmn dg group-group kecil seni tradisi masyarakat lainnya? Gak mungkin tanggungjawab tsb diserahkan semua dan gak mungkin semua seni tradisi tsb dibebankan ke Edi Utama, Sofyani, Elly Kasim saja. Contoh yang cukup baik sebetulnya ada di Bukittinggi. Tapi baru satu itu doang...! Yaitu Tempat pertunjukkan Kesenian di Gedung Medan Nan Bapaneh, dibawah Jam Gadang, sebelah Hotel Jogja. Disubsidi sedikit oleh Pemko. Tiap malam dulu selalu ada penampilan Kesenian disana. Setiap malam, selalu group yang tampil bergantian, agar kebagian juga yg lain. Mulai dari Pasambahan sampai Tarian diatas kaca, dll. Cukup mewakili sebagian kesenian tradisi Minang. Setiap saya mampir kesana ngajak kawan2 fotografer yg berbeda, selalu mereka sangat senang sekali. Sehingga setiap ke Bukittinggi sudah ada aktifitas untuk malam hari yang berbobot dan menarik utk dinikmati. Kalau kita menginap di Padang...? Tak satupun tempat yang berani menyajikan kesenian tradisional ini. Kenapa Pemerintah tidak mengeluarkan regulasi agar Hotel2 berbintang bersedia menampilkan kesenian kita...? Minimal sekali seminggu. Maaf buat kawan2 PHRI. Anda tinggal tambahin aja ke harga kamar nanti. Tapi harus bersama-sama melakukannya. Ini akan menambah nilai jual Hotel juga. Malu dong kita, kalau tamu-tamu datang ke Ranah Minang lalu disuguhkan ORGAN TUNGGAL...! Seronok pula lagi. Seolah-olah kita gak punya budaya lokal yang bisa dibanggakan... Kita beraharap, hal-hal seperti ini juga dikembangkan di kota-kota lainnya. Dan pasti bukan Edi Utama atau Sofyani yang harus membuat fasilitas dan mensubsidi ini... Jadi siapa dong...? Kalau begitu apakah masyarakat bisa dikatakan bersalah tidak mengapresiasi seni budaya sendiri..? Kalau untuk bertahan hidup aja sudah susah, bgmn mereka bisa menampilkan seni budaya tsb? Udah basi lah kalau alasannya gak ada dana. Kenapa dana tsb tidak direncanakan dan diajukan...? Kalau memang mau serius... Sekarang coba kita tanya saudara-saudara sedarah kita di Malaysia. Dunsanak kandung kita di Malaysia. Siapa yang mempromotori dan memfasilitasi seni budaya disana? Apakah hanya masyarakat saja atau dukungan kuat berupa fasilitas dari Pemerintah...? Mohon kita tidak terjebak dg diskusi soal paten mematen. Tolong lihat esensi diskusi kita ini. Krn cukup banyak dunsanak kita dari Malaysia yang ada di milis ini dan di west-sumatra.com yang membantu secara intensif promosi Pariwisata Ranah Minang. Justru kita perlu bantuan dunsanak-dunsanak kita yang telah bergabung dg kita ini utk mengangkat citra Ranah kita. Skl lg, mohon maaf sebelumnya. Ini pendapat pribadi saya yang hanya melihat dari luar arena saja. Saya yakin banyak masalah internal yang jauh lebih besar dari ini yg harus diselesaikan, mungkin... Belum isu Mentawai lagi...:) Maklum, penonton selalu merasa lebih tahu dari pemain. Terima kasih. Wassalam,Nofrinswww.blakitan.west-sumatra.com (foto2 karya Sekretaris MENRISTEK, Prof.DR.Ir. Benyamin Lakitan, MSc., asli dr Sum-Sel) --- On Fri, 8/28/09, Nofend St. Mudo <[email protected]> wrote: --- On Sat, 8/29/09, Y. Napilus <[email protected]> wrote: --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
