Publikasi Seni Budaya Banyak Karya Asing
Selasa, 1 September 2009 | 04:39 WIB
Jakarta, Kompas - Publikasi yang berkualitas tentang seni budaya Indonesia
sampai saat ini masih diwarnai oleh para peneliti dan sarjana asing yang
karyanya banyak tersebar di berbagai daerah. Adapun di dalam negeri karya
seperti itu masih terhambat minimnya dana dan minimnya apresiasi.
Buku-buku yang cukup standar secara akademis tentang Minangkabau, misalnya,
selama ini masih merujuk pada karya-karya sarjana asing, yang memang secara
mendalam dan sungguh-sungguh melakukan pekerjaannya.
Budayawan dan mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat, Edy Utama, mengatakan
hal itu ketika dihubungi Senin (31/8) di Padang.
”Kalau ada yang ingin melakukan penelitian tentang teater tradisional
Minangkabau, randai, misalnya, kita masih harus merujuk kepada karya Prof
Kirstin Pauka dari Hawaii University serta tentang silat Minangkabau pada karya
Dr Hiltrud Cordes dari Jerman. Atau, kalau mau mempelajari sijobang, sebuah
teater tutur dari Payakumbuh, kita masih terpaksa menggunakan hasil penelitian
Nigel Philyps dari SOAS Inggris,” katanya.
Edy menjelaskan, kita nyaris tak bisa menemukan karya-karya yang dipublikasikan
yang ditulis secara mendalam tentang seni budaya kita oleh orang Indonesia
sendiri. Jika mau mempelajari budaya masyarakat Mentawai, hampir 100 persen
buku rujukannya karya orang asing.
Dihubungi secara terpisah, sastrawan asal Bali, Tan Lioe Ie, mengatakan,
pemerintah harus memberi apresiasi lebih terhadap seni budaya, dengan mendorong
kalangan akademisi atau peminat kebudayaan untuk meneliti dan menulis buku seni
budaya.
”Upaya pendokumentasian berbagai seni budaya yang kita miliki perlu digalakkan,
termasuk di dalamnya penerbitan buku seni budaya, penerjemahan ke dalam
berbagai bahasa, dan pendistribusiannya ke berbagai negara,” katanya. ”Jika
seni budaya kita dikenal luas di dalam dan luar negeri, besar kemungkinan
rakyat akan bangga dan mencintainya,” ujar Lioe Ie.
Minim dana dan apresiasi
Menurut Edy Utama, kurangnya publikasi atau penerbitan buku-buku tentang seni
budaya di Indonesia, umumnya, dan Sumatera Barat, khususnya, selain dana sangat
kurang, juga disebabkan belum ada orang yang sungguh-sungguh mau mengabdikan
hidupnya untuk mengamati, meneliti, dan menulis seni budaya itu sendiri.
Kalau orangnya pun ada, ia juga akan terbentur dengan minimnya dana dan
apresiasi dari pemerintah serta masyarakat sehingga hasil karyanya tidak cukup
mendalam dan kurang komprehensif. Sebetulnya, berbagai bentuk penelitian awal
tentang seni budaya di Sumatera Barat telah banyak dilakukan, terutama untuk
keperluan akademis.
Banyak dosen yang telah membuat tesis dan bahkan juga disertasi tentang seni
budaya, tetapi belum banyak yang dipublikasikan, dengan alasan tidak adanya
dana penerbitan.
”Memang tidak semua hasil penelitian akademis punya kualitas, tetapi sebagai
bahan awal untuk menelusuri kekayaan khazanah seni budaya di daerah, dapat
dikatakan sudah cukup memadai. Tinggal lagi melakukan penelitian lanjutan
sehingga dapat dijadikan bahan publikasi dalam bentuk buku yang dapat
dikonsumsi oleh umum,” tutur Edy Utama.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat masih
menginventarisasi seni budaya yang ada di setiap kabupaten dan kota. Diharapkan
pada tahun 2010 seluruh seni tradisi yang ada bisa didaftarkan ke Direktorat
Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.
”Tahun ini tidak bisa karena tidak ada anggarannya,” kata Kepala Bidang
Kesenian dan Perfilman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Oden Effendi.
Berdasarkan pendataan tahun 2004, ada 398 kesenian tradisi yang ada di Jawa
Barat, mencakup seni tari, pertunjukan, hingga alat musik.
Ketergantungan
Dia berpendapat, minimnya publikasi tentang seni budaya kita, apalagi yang
berkualitas, telah menyebabkan kita terjebak ketergantungan terus-menerus
terhadap hasil pengetahuan orang asing (Barat).
Padahal, kalau mau memahami budayanya secara mendalam sebagai hasil pergulatan
kreatif anak bangsa, mau tidak mau, kita harus mendorong penelitian, kajian,
dan publikasi oleh bangsa sendiri.
Perspektif orang dalam di sisi lain akan bisa mengungkap banyak hal dari
karakteristik budaya kita yang unik, plural—yang orang luar belum tentu dapat
menangkap ruhnya sepenuhnya.
”Saya percaya, jika para sarjana, seniman, dan wartawan kita diberi peluang dan
dukungan pendanaan yang cukup, akan dapat menghasilkan karya-karya penulisan
tentang seni budaya kita, yang siap dipublikasikan ke dunia. Dengan cara itu,
kita telah menyatakan kepada dunia bahwa berbagai seni budaya yang sangat kaya
ini adalah milik kita meskipun belum dipatenkan atau didaftarkan,” katanya.
Selain untuk mempertahankan dari klaim bangsa lain, penelitian, kajian, dan
publikasi tersebut juga berguna bagi pewarisan budaya—salah satu masalah paling
krusial dalam kehidupan bangsa kita dewasa ini.
Lembaga kebudayaan
Tan Lioe Ie mengatakan, perlu peran media yang punya akses luas ke masyarakat
dalam memublikasikan berbagai hal menyangkut seni budaya. Pemerintah juga perlu
memberi apresiasi lebih kepada seni budaya kita, termasuk senimannya, begitu
pula dunia usaha, seperti sektor pariwisata yang ”diuntungkan” oleh seni budaya
kita.
”Perlu lembaga kebudayaan Indonesia di berbagai negara untuk mempromosikan seni
budaya kita, semacam Goethe Institute dan Erasmus Huis, mendukung penerbitan
karya seni, pengiriman seniman ke luar negeri, tradisional ataupun modern,
untuk ditampilkan kepada warga negara setempat, selain ditampilkan di berbagai
ajang festival seni budaya di dalam negeri sendiri serta
ditayangkan/dipublikasikan secara luas agar masyarakat kenal dan cinta seni
budayanya, baik yang tradisional maupun modern,” katanya.
Untuk teknis pelaksanaan, pemerintah bisa bermitra dengan swasta dan memiliki
kurator yang bagus sehingga festival itu bermutu dan layak berita, baik bagi
media dari Indonesia sendiri maupun media asing. Tentu upaya ini perlu
dilakukan terus-menerus karena sulit berharap hasilnya secara instan. (NAL/JON)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---