Pak Suheimi dan Dunsanak Sapalanta

 

Sebelum puasa tahun 2007, di internet ada beberapa diskusi tentang "berbuka
dengan kurma atau". "berbuka dengan yang manis2" 

 

Menurut mereka, itu pemahaman yang keliru.

 

Menurut mereka, benar Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek),
tapi bukan kurma kering seperti yang biasa kita makan di Indonesia. Menurut
beberapa penulis, kandungan gula Rutab itu beda dengan kurma kering. Jadi
bukan "dengan yang manis2"

 

Iko salah satu artikel yang memuat diskusi itu:
http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/09/jangan-berbuka-dengan-yang-manis-
manis.html

 

Benar atau tidaknya saya juga tidak tahu

 

Riri

 

 

 

 
<http://suluk.blogsome.com/2007/06/19/pernikahan-mengasah-diri-melalui-pasan
gan/> Jangan Berbuka Dengan Yang Manis-manis
Oleh Herry Mardian

 

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat
'Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya. Konon,
itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau
berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau
meneguk air". (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah
berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah
dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau
berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan 'yang manis-manis'? Tidak.
Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) . Sebaliknya, gula
yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita
konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple
carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas.
Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa
dengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'. Sebenarnya
tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis
yang penuh dengan gula karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa 'disunnahkan'
minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah
mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan
buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak
menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke
Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa
'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah
kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan
ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan
belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat
mahal. 

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan? Ketika
berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan
Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana).
Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan
waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan
melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks
seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index
(GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin
tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah
menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons
insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa?
Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak.
Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula
(makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon
insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat
cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah
'ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka
puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat
maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang
manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia
adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya
sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk
diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak
melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk
menabung lemak juga rendah. Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan
puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak:
perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu
karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang
manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil
karena puasa. 

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti
'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat
yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah 'sunnah', maka
puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru
menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula.
Karena salah memahami hadits di atas, maka
efeknya 'rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.'

Nah, saya kira, "berbukalah dengan yang manis-manis" itu adalah kesimpulan
yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma
rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan
yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan
budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas,
'berbukalah dengan yang manis' itu disosialisasikan oleh slogan advertising
banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan. 
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits
yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang
manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para
sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum 'berbukalah dengan yang manis'. Atau lebih
baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu
kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: "Makanlah hanya ketika lapar,
dan berhentilah makan sebelum kenyang." Juga, isi sepertiga perut dengan
makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

"Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah
makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang," kata
Rasulullah.

"Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada
perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang
belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah
sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga
lagi untuk nafasnya." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam
Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma'di Kasib)

Semoga bermanfaat..

Posted by Arief Takafulat
<http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/09/jangan-berbuka-dengan-yang-manis
-manis.html> 6:48 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of suheimi ksuheimi
Sent: Wednesday, September 02, 2009 3:32 PM
To: [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]
Subject: [...@ntau-net] kurma

 


K U R M A

Oleh Dr.H.K.Suheimi

 

Saya teringat bahwa Nabi Muhammad SAW sewaktu  berbuka memakan dan menyantap
buah kurma terlebih dahulu dan menganjurkan memakan  makanan yang tak
dimasak. Artinya Nabi kita  mengajurkan sebelum memakan makan yang lain,
agar kita lebih dulu makan kurma atau  makan  buah-buahan. Kurma memang
istimewa  yang  tumbuh  di padang  pasir yang tandus dan bukit bebatuan,
pasir dan  tanahnya tidak  mengandungair, tapi buah kurma berair dan  makin
disimpan makin  manis.  Entah darimana dia memperoleh air  dan  dari  mana
datangnya  gula  yang rasanya manis itu, entahlah.  Belum  pernah terdengar
orang  sakit perut sesudah makan buah  kurma,  padahal kurma  yang sampai ke
negeri kita ini sudah melewati  waktu  yang lama dan jarak yang jauh. 

 

 

 

 

 

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke