Temuan Kesehatan dan Ajaran Puasa

Komen :

ORANG AWAK KATA NYA  banyak dapat penyakit jantung, dan sering dikaitkab dgn
santan yg benyak , di RS HarapanKita, yg banyak sakit

jantung di sinyalir juga orang awak, untung di Padang sdh ada pendidikan
khusus jantung di FK nya. Pertanyaannya, Bisakah makan enak

di sejajarkan dgn berolah raga seimbang.? Secara personal yg saya alami,
memang payah, berolah raga itu selalu di undur, ach nanti lah,

sekarang apalagi, semuanya sdh dialami. Utk sanak2 yg masih sehat2 semoga
maintain kesehatannya, makan enak dan berolah raga banyak.

Wass. Muzirman Tanjung.

---------------------------------------------------------------


Rabu, 2 September 2009 | 03:52 WIB

*NINOK LEKSONO*

Ungkapan Latin di atas memang banyak pula digunakan sebagai slogan gerakan
pro-anoreksia dan bulimia, yang dianut orang-orang yang punya kelainan
kebiasaan makan. Anoreksia ditandai dengan tidak doyan makan sehingga badan
pun sangat kurus. Bulimia adalah gejala makan dalam jumlah banyak dalam
tempo singkat, tetapi lalu yang bersangkutan tidak ingin makanan yang ia
makan membuatnya gemuk. Ia pun lalu membuang lagi makanan tersebut, bisa
dengan memuntahkannya atau segera mengeluarkannya dengan obat pencahar
(laksatif).

Namun, di luar konteks anoreksia dan bulimia, ungkapan tersebut bisa juga
ditempatkan dalam konteks kesadaran bahwa makanan—jika tidak dikelola secara
bijaksana—betul-betul akan menghancurkan seseorang. Sekadar catatan, ada
orang yang menafsirkan ungkapan Latin di atas dalam konteks lebih luas,
dengan mengartikan ”makanan” sebagai serba hal yang terkait dengan
kenikmatan duniawi. Namun, dalam kaitan ulasan kali ini, tafsir dibatasi
seperti arti harfiahnya.

*Laporan kesehatan*

Dalam jurnal kedokteran modern, satu hal yang semakin banyak dilaporkan
adalah kaitan erat antara kesehatan dan santapan. Satu hal yang ditekankan
adalah bahwa semakin banyak makanan yang masuk ke tubuh, semakin besar
potensi kehancuran yang akan dialami.

Kebutuhan ideal sebenarnya sudah sering dikemukakan, bahwa untuk mencapai
keadaan kesehatan yang baik, dibutuhkan 19 vitamin, mineral, dan nutrien
lain. Namun, problem yang dihadapi sekarang ini, seperti dicatat
HealthSquare.com, bukan kekurangan, melainkan kelebihan. Bisa disebutkan:
terlalu banyak lemak, terlalu banyak garam, terlalu banyak gula, dan
lain-lain.

Sebagai akibatnya, satu ciri yang diamati luas adalah kegemukan, di mana
berat badan 20 persen melebihi berat ideal. Dengan kegemukan ini pula
meningkat risiko untuk terkena serangan jantung, diabetes, stroke, dan
sejumlah jenis kanker. Untuk yang terakhir ini, menurut Perhimpunan Kanker
Amerika, 50 persen kanker pada wanita dan 30 persen pada pria diduga terkait
dengan kebiasaan makan.

Sebagai bangsa yang selama ini dicitrakan sebagai bangsa yang berlebih
(affluent), Amerika dilanda kegemukan. Dari 67 juta penduduknya, satu dari
empat orang menderita sakit jantung dan punya faktor risiko utama untuk
sakit jantung, termasuk kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.

Solusi untuk problem di atas juga telah luas diketahui, yakni diet sehat
berimbang. Namun, untuk ini pun sering kali juga tidak mudah ketika setiap
hari ada informasi yang bermacam-macam dan sering kali bertentangan. Meski
demikian, sebagai pedoman umum, menu yang mengandung karbohidrat, protein,
lemak (mono tak jenuh), kolesterol rendah, dan vitamin dalam jumlah
berimbang banyak dianjurkan.

Namun, makan dalam jumlah berlebih, sementara gaya hidup minus olahraga,
tampaknya justru banyak dianut penduduk masa kini. Sebagai akibatnya,
fenomena kegemukan pun muncul luas. Sebagaimana disinggung dalam Sensus
Kesehatan Nasional, prevalensi obesitas tahun 1999 meningkat jauh
dibandingkan dengan angka 10 tahun sebelumnya, dan pada tahun 2004 angka ini
adalah 9,16 persen pada pria dan 11,02 persen pada perempuan (Kompas,
27/8/2009).

*Kearifan puasa*

Dalam ceramah Ramadhan untuk karyawan Kompas Gramedia, Ustaz Amir Faishol
Fath menjelaskan, ada satu organ dalam tubuh yang amat ”bergembira” pada
bulan puasa, dan itu adalah pencernaan. Sistem ini manakala tidak puasa
cenderung bekerja berat karena ada saja makanan yang dimasukkan oleh si
empunya pencernaan. Dengan pola makan yang ada, memang tidak heran apabila
angka kegemukan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dalam perspektif perkembangan kesehatan masyarakat yang tampak makin
diwarnai gejala obesitas, yang umumnya merupakan produk makan berlebihan,
upaya untuk mengganti haluan adalah menegakkan pengendalian.

Nafsu makan itu baik—karena bagaimana bisa makan tanpa ada selera—tetapi
kadarnya benar-benar harus dikontrol. Di sini pula bertemu antara temuan
ilmiah dan ajaran kearifan, yakni moderasi, atau secukupnya. Memang
dibutuhkan pemahaman lebih tajam menyangkut apa yang disebut sebagai prinsip
moderasi ini (Lihat situs Best Syndicates, misalnya).

Namun, untuk makan sehari-hari, pemahaman moderasi dapat diwujudkan dalam
kebiasaan ”berhenti makan sebelum kenyang” karena—kembali meminjam
pernyataan Ustaz Amir Faishol—yang ideal sebenarnya hanya sepertiga dari
perut yang untuk makanan. Sepertiga lainnya untuk minum dan sepertiga
lainnya untuk udara.

Seperti disinggung di atas, selain jumlah, faktor yang tidak kalah penting
selain moderasi adalah keseimbangan dan keragaman. Keragaman dibutuhkan
karena tidak ada satu makanan pun yang dapat memasok semua nutrien yang
dibutuhkan tubuh. Keseimbangan dibutuhkan agar setiap kelompok dari lima
sehat tersedia untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

*Kearifan Ramadhan*

Tampak bahwa makanan sungguh menjadi isu yang kompleks. Dokter ahli stroke
atau ahli jantung memperlihatkan dengan gamblang bagaimana pembuluh darah
tersumbat oleh plak yang terbangun sebagai produk hidangan nikmat yang
selama ini ditimbun oleh si pemilik tubuh.

Kehidupan menggariskan batas, seperti ungkapan Latin yang dikutip pada awal
tulisan ini, dan peranan makanan besar dalam menetapkan batas tersebut lebih
dini atau lebih kemudian.

Pada bulan Ramadhan, kearifan yang banyak disampaikan Pak Ustaz tampak
sinkron dengan apa yang ditemukan oleh ilmu kesehatan. Selain memberikan
kesempatan pada pencernaan untuk ”bersantai”, puasa juga mendorong
ditegakkannya moderasi.


Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini.
*hendra @ Rabu, 2 September 2009 | 13:10 WIB*
Berpuasa ini untuk melatih melawan hawa napsu(Lapar,haus marah dls), karena
menurut rosululloh perang yg yg besar adalah ketika kita perang melawan hawa
napsu.
*maftuh @ Rabu, 2 September 2009 | 09:01 WIB*
"berpuasalah, maka kamu akan sehat". (al-hadis)
*maftuh @ Rabu, 2 September 2009 | 08:53 WIB*
"puasalah maka kamu akan sehat." demikian ungkapan rasul lbh dr 1400 thun yg
lalu. sdkit dmi sdkit "keajaban" puasa akn trsingkp.tdk hnya skdr kbthan
spiritual.
*H. Shobar @ Rabu, 2 September 2009 | 08:44 WIB*
Sabda Rosululloh : Puasalah maka sehat kamu.....
*kc @ Rabu, 2 September 2009 | 05:27 WIB*
memang puasa adalah sebagai perisai.salah satu fungsi perisai itu adalah
pertahanan dari obeysitas.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke