/Home <http://oase.kompas.com/index.php> /Oase <http://oase.kompas.com> /Cakrawala <http://oase.kompas.com/cakrawala>
<http://oase.kompas.com/read/xml/2009/09/06/18282323/wujudkan.kepedulian.sis ihkan.kekayaan.untuk.penelitian.naskah.kuno..> / Minggu, 6 September 2009 | 18:28 WIB, Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi JAKARTA, KOMPAS.com - Terdapat puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu naskah kuno yang tersebar di masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Minat asing begitu tinggi untuk menelitinya, tidak demikian halnya di Indonesia. Jangankan untuk menambah koleksi naskah, atau mereproduksinya dari masyarakat dengan teknologi foto digital, dan lain sebagainya, naskah-naskah yang sudah tersimpan di perpusatkaan saja sering hilang. Kenyataan itu diungkapkan filolog Suryadi, peneliti dan dosen di Leiden University, Belanda, kepada Kompas hari Minggu (6/9). Pemerintah Indonesia perlu gugah orang-orang kaya untuk menyisihkan kekayaannya guna penelitian naskah-naskah kuno tersebut. "Di Inggris, ada jutawan sukses menyisihkan dana untuk yayasan Arcadia, yang digunakan untuk penelitian, pelestarian dan pemeliharaan kebudayaan tradisional," katanya. Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim mengungkapkan, pihak Malaysia dan Singapura sampai sekarang terus mengincar dan menawar naskah-naskah kuno yang dikoleksi warga di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pihak pembeli berani menawarkan harga Rp5 juta sampai Rp20 juta per naskah kuno. "Bahkan, ada naskah yang kalau mau dijual, pihak pembeli berani dengan harga berapa pun besarnya," katanya. Ia menjelaskan, naskah-naskah kuno di Kota Tanjungpinang banyak diincar, karena Tanjungpinang sarat akan sejarah, di mana terdapat banyak sekali naskah kuno peninggalan Kerajaan Melayu (Riau Lingga) pada kurun waktu 1722 sampai 1911. Ketika 200-an tahun lalu Pulau Penyegat menjadi Pusat Kerajaan Melayu, Tanjungpinang mencapai masa kejayaannya sebagai pusat perdagangan dan Pusat Budaya Melayu. Naskah-naskah yang banyak diincar adalah karya-karya Raja Ali Haji, Aisyah Sulaiman Riau, Haji Ibrahim, dan Rudian Club. Bahkan, untuk karya berjudul Syair Kadamuddin karya Aisyah Sulaiman Riau, berapa pun harganya, pihak pembeli berani bayar. Pemerintah Kota Tanjungpinang, kata Abdul Kadir Ibrahim, memberikan perhatian tinggi kepada masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah kuno. Bahkan, ada seorang warga mempunyai koleksi sampai 50 naskah kuno. Salah satunya Kitab Pengetahuan Bahasa, karangan Raja Ali Haji, yang ditulis abad ke-19. "Sebagian karya-karya yang merupakan warisan budaya Melayu yang tak ternilai harganya itu, disimpan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang diresmikan Januari 2009 lalu," jelasnya. Karena te rbatasnya dana perawatan dan dana pengganti bagi masyarakat yang mau menyerahkannya ke museum, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang itu berharap perhatian dari pemerintah pusat. Sebab, dengan keterbatasan dana, selain naskah kuno yang ada terancam hancur atau rusak, juga dikhawatirkan bisa berpindah tangan, dari masyarakat pemilik kepada pihak asing, yang kemudian bisa mengklaim sebagai warisan budaya milik mereka. Kenyataan yang sama, sebelumnya juga diungkapkan Mukhlis PaEni, ahli dan peneliti naskah kuno, dalam seminar Stra tegi Kebudayaan dan Pengelolaannya di Jakarta. "Manuskrip Nusantara, mengalir setiap hari ke tangan pembeli naskah/manuskrip yang berani membayar paling rendah Rp5 juta untuk jenis naskah yang apa adanya dan compang-camping hingga Rp50 juta untuk naskah-naskah utuh bahkan lebih," katanya. Naskah-naskah Nusantara dari berbagai daerah seperti Riau, Kepri, Palembang, Aceh, Sumatera Barat, Pontianak , Mempawa, Sambas, bahkan naskah-naskah Suluk Jawa, Lontar-lontar Bugis-Makassar dan Sasak, setiap hari jatuh ke tangan pembeli. Mukhlis menjelaskan, satu per satu manuskrip Nusantara seperti Hikayat Shahi Mardan, Hikayat Cekel Wanengpatih dan h ikayat-hikayat panji lainnya, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Riau, Hikayat Tumenggung Aria Wangsa, Hikayat Muhammad Hanafiah, Serat Ambiya, Serat Jaya Lengkara, Serat Centini, Serat Panji Kuripan, Serat Suluk Tambang Raras dan banyak lagi yang sudah mengalir ke negeri orang. Mukhlis mengungkapkan, 19 tahun lalu telah dilakukan upaya memikrofilm naskah-naskah Lontar Bugis-Makassar atas biaya The Ford Foundation. Upaya tersebut dilakukan selama dua tahun dan berhasil memicrofilm 4.000 naskah Bugis-Maka ssar. Sebanyak 3.000 naskah di antaranya sudah tersusun dalam sebuah katalog yang diterbitkan Arsip Nasional RI bersama Gadjah Mada University Press tahun 2002. "Apa yang terjadi setelah 19 tahun ialah, lebih dari separuh naskah yang sudah di mikrofilm itu saat ini tidak ada lagi di tangan pemiliknya. Sedang selebihnya rusak termakan usia, atau dijual sebagai barang antik," tambahnya. Menjadi penting Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat mengatakan, keberadaan lembaga kebudayaan di daerah, seperti Penilik Kebudayaan, menjadi penting guna menyelamatkan warisan budaya Indonesia tersebut. "Sejak era reformasi, lembaga itu tidak ada lagi. Lembaga tersebut harus dikembalikan. Ketika lembaga itu ada, hampir tak pernah terdengar naskah-naskah kuno Indonesia terbang ke luar negeri," katanya. Seandainya sudah terjual ke negara Jiran, maka Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah pengembalian. Karena otonomi daerah, kewenangan penyelamatan, pemeliharaan naskah-naskah kuno itu menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi/kabupaten/kota. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Depbudpar Tjetjep Suparman mengakui, bahwa konservasi barang-barang bernilai sejarah, belum dilakukan menyeluruh. Pemerintah provinsi/ dan atau ka bupaten/kota harus melakukan pendataan dan mendirikan museum untuk itu. Suryadi menjelaskan, naskah-naskah dari Kepulauan Nusantara kini tersimpan di beberapa perpustakaan negara di dunia, seperti Belanda, Inggris, Perancis, Portugal, Jerman, Denmark, Australia, dan Rusia. "Naskah-naskah kuno Indonesia itu dijaga baik di luar negeri dan ditempatkan di ruang khusus. Banyak peneliti asing dari berbagai negara yang memanfaatkan naskah-naskah tersebut," katanya. Menurut Suryadi yang kini meneliti manuskrip Kesultanan Bhuton atas bantuan dana dari proyek Endangered Archives dari The British Library, guna penelitian, konservasi, pemeliharaan, dan revitalisasi pemanfaatan naskah-naskah kuno yang ada di Indonesia, orang-orang kaya Indonesia perlu dan penting digugah kepeduliannya. http://oase.kompas.com/read/xml/2009/09/06/18282323/wujudkan.kepedulian.sisi hkan.kekayaan.untuk.penelitian.naskah.kuno.. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
