Skenario Runtuhnya WTC  Kutipan dari Harian Republika

*Oleh : *Hasan Syukur
(Wartawan)


Setip 11 September, rakyat Amerika mengenang tragedi runtuhnya menara kembar
World Trade Centre (WTC) di New York, AS, yang memakan banyak korban. Gedung
kembar itu hancur luluh bagaikan gedung tua yang diledakkan oleh bahan
peledak dari dalam setelah ditabrak dua pesawat terbang komersial. Hari itu,
jaringan televisi AS meliput secara *live* dari lokasi peristiwa. Tayangan
itu terbidik dari beberapa sudut dan terlihat langsung oleh jutaan pemirsa
televisi. Pers AS lalu seperti menyanyikan lagu koor, mengutip keterangan
resmi: 'Menara itu runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh
Usamah Bin Laden dari Afghanistan'. Tapi, tak semua pers mengikuti koor itu.

Theiry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis mencoba melihat peristiwa itu
secara objektif. ''Saya akan menjungkirbalikkan seluruh versi resmi serangan
11 September 2001,'' katanya.
Hasil  *investigative reporting* -nya itu kemudian ia tuangkan ke dalam
sebuah buku berjudul  *9/11 The Big Lie America* , diterjemahkan penerbit
Jalan Lurus dengan judul,  *Bohong Besar Amerika* , Bandung, 2003.

Inilah cerita versi Thierry Meyssan: Kedua pesawat itu diidentifikasikan
oleh FBI sebagai Boeing 767. Pesawat itu menghantam tepat pada sasarannya.
Peristiwa ini sangat musykil. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah
kota akan tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim
menjadi hilang. Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada
ketinggian sangat rendah. 'Karya' itu merupakan prestasi luar biasa bahkan
pilot yang sangat berpengalaman pun sulit melakukannya. Konon yang
melakukannya adalah pilot yang baru lulus latihan.

Namun, ada satu cara untuk mendapat hasil demikian, yakni memakai rambu
tuntun dari radio. Suatu sinyal yang dipancarkan dari sasaran, menuntun
pesawat itu. Tak perlu banyak orang di pesawat dalam kendali pilot otomatis.
Bahkan, pembajak sama sekali tidak dibutuhkan. Pesawat itu berada di bawah
kendali  *remote control* , mengendalikan pesawat tanpa pilot.

Setelah ditabrak, Menara Kembar runtuh sendiri. Sebuah komisi penyidik
menyimpulkan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang
melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Teori ini disangkal keras
oleh Assosiasi Pemadam Kebakaran New York dan Journal Profesional, Fire
Engineering bahwa struktur bangunan tersebut tahan api. Para petugas pemadam
kebakaran malah mendengar ledakan di lantai dasar bangunan. Pakar terkenal
dari Institut Pertambangan dan teknologi, Van Romero pun mengamininya.
''Keruntuhan itu diakibatkan oleh bahan peledak,'' katanya.

Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan mengeluarkan pengumuman singkat
''Pentagon diserang teroris pada pukul 09.38,'' kata Menteri Pertahanan
Donald H. Rumsfeld. Pers AS pun heboh. Namun, ketika mau meliput peristiwa
itu, para wartawan diusir dari tempat kejadian dengan alasan agar tidak
menghalangi operasi penyelamatan. Toh, wartawan AP, Tom Horan, berhasil
mendapatkan foto-foto ekslusive dari sebuah gedung dekat lokasi kejadian.

Kepala Staf Gabungan, Jenderal Richard Myers, mengindikasikan bahwa pesawat
terbang bunuh diri itu adalah Boeing 757-200. Pukul 08.55 waktu setempat,
Boeing itu turun ke ketinggian 29.000 kaki. Dua pesawat tempur F-16 segera
melesat untuk mencegat Boeing itu, tapi katanya kehilangan jejak.

Menurut Meyssan ini tak masuk akal. ''Bagaimana percaya sebuah pesawat jet
berbadan tambun bisa mengecoh dua pesawat tempur yang memburunya?''
Seandainya si Boeing berhasil mengatasi rintangan pertama pun, dengan mudah
akan ditembak jatuh saat mendekati Pentagon. Pasalnya, di pangkalan udara
Saint Andrew di sekitar Pentagon, berpangkalan Wing Tempur 113 Angkatan
Udara dan Wing Tempur serang 321 Angkatan Laut. Masing-masing dilengkapi
pesawat tempur F-16 dan F/A-18. Di atap gedung itu pun dipasang penangkis
serangan udara dan rudal-rudal supercanggih. Mereka tentu tak akan pernah
membiarkan sang Boeing menghampiri Pentagon.

Pesawat raksasa itu tiba-tiba mendekati tanah, seperti akan mendarat,
langsung menabrak Gedung Pentagon. Anehnya tanpa merusak tiang lampu dan
bangunan-bangunan di sekitarnya. Moncong pesawat masuk ke pintu gerbang yang
tengah direnovasi. Keterangan resmi ini, menurut Meyssan, meragukan.
Tabrakan keras itu pastilah menimbulkan kebakaran besar, lalu pesawat
menjadi onggokan gosong.

''Jika merujuk pada foto dari AP, Anda akan melihat tidak dijumpai bangkai
pesawat di sana. Bahkan, sebuah gir roda pesawat pun tak tampak. Padahal
pemotretan itu dilakukan di menit-menit pertama ketika mobil pemadam
kebakaran tiba dan petugas belum menyebar,'' tulis Meyssan dalam bukunya
itu. Diduga suara berdesing dan runtuhnya atap salah satu pintu gerbang
Pentagon itu disebabkan oleh rudal tipe AGM. Jenis rudal ini menyerupai
sebuah pesawat terbang sipil kecil, memang. Tapi, bukan pesawat terbang.
Demikian Meyssan.

Lepas dari kontroversi itu, Presiden AS, George W Bush, segera mengumumkan
bahwa serangan itu dilakukan oleh teroris Muslim, pimpinan Usamah bin Ladin.
Maka, tanpa memerlukan penyelidikan seksama, dengan alasan memburu pimpinan
Alqaidah itu, Bush memerintahkan penyerbuan ke negara Muslim Afghanistan.
Gilirannya, Irak diduduki dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal
(yang kemudian ternyata tidak terbukti).

Kenapa Bush menuding Muslim? Rupanya Bush mendapat bisikan dari Samuel
Philip Huntington. Pandangan negatif penasihat gedung putih terhadap Islam
ini tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat di media  *Foreign
Affairs*yang terbit pada musim panas 1993 dengan judul ''The clash of
Civilization''. Artikel yang memancing polemik ini kemudian diterbitkan
dalam bentuk sebuah buku pada 1996. Menurut Huntington, setelah Uni Sovyet
(ideologi komunis) runtuh, musuh berikutnya adalah Islam. Sudut pandang
negatif terhadap Islam inilah yang rupanya diyakini Presiden Bush. Bush lalu
mendeklarasikan perang atas nama membasmi teror.

Sejak dulu Indonesia negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini adalah
negeri yang aman. Bangsa yang yakin bahwa agama adalah rahmat bagi sekalian
alam. Tapi, sejak deklarasi Bush itu, tiba-tiba bom-bom canggih berledakan
merobek ketenangan negeri 'jamrud Khatulistiwa' itu dan memakan banyak
korban orang tak berdosa. Lalu pesantren dituding biang teror. Orang-orang
berjenggot, berpakaian gamis dengan celana menggantung dicurigai.
Ujung-ujungnya, kegiatan dakwah harus diawasi. Mungkinkah malapetaka ini
bagian dari skenario global untuk menyudutkan Islam?

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke