Waalaikuim Salam WR WB mak Lembang Alam YTH

Terima kasih banyak atas penjelasan mak LA tentang malam Lailatul Qadar yang 
sempat menjadi topik diskusi kami di palanta beberapa waktu yang lalu. Tulisan 
ini telah menjawab pertenyaan hanifah juga telah menjawab pertanyaan mak ngah. 


Wass

Hanifah

--- On Sun, 9/27/09, Muhammad Dafiq Saib <[email protected]> wrote:

From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Ketupat Lebaran 1430H
To: [email protected]
Date: Sunday, September 27, 2009, 7:58 AM



Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
 
Katupek Rirayo nan agak talambek saketek pado nan biaso......
 

KETUPAT LEBARAN (1430) 
   
Sepertinya akan terjadi sesuatu yang luar biasa. Sepertinya Hari Raya Aidil 
Fitri tahun ini tidak akan mengikuti hari yang tertera di kalender. Sepertinya 
kita akan berhari raya lebih cepat satu hari. Menteri Agama sendiri yang 
memberi keterangan tentang kemungkinan itu. Bahwa boleh jadi 1 Syawal akan 
jatuh pada hari Ahad. Kami pengurus masjid bersiap-siap untuk menghadapi 
kemungkinan hari raya lebih awal, meskipun ini bukan yang pertama kali kami 
alami. Beberapa tahun yang lalu, ketika sebagian umat Islam sudah yakin akan 
berhari raya sesudah berpuasa dua puluh sembilan hari, kami juga menyiapkan 
pembagian zakat pada sore hari ke dua puluh sembilan bulan Ramadhan.  
   
Sesudah shalat zhuhur kami bergotong royong memasukkan uang ke dalam amplop 
yang nanti akan dibagikan kepada para mustahiq. Yaitu mereka yang berhak 
menerima pembagian zakat. Sambil berbincang-bincang santai.  
   
’Saya yakin telah mendapatkan malam lailatul qadar tahun ini,’ kata pak Marwan, 
salah satu di antara kami.  
   
’Kok bisa?’ tanya pak Kus pendek. 
   
’Tadi menjelang sahur saya diterpa kantuk bersangatan, setelah bertadarus sejak 
sehabis tarawih tadi malam. Akhirnya saya tertidur sebentar dan bermimpi. Ada 
cahaya sangat terang menunjam masuk ke dalam tubuh saya. Saya terbangun, badan 
saya berkeringat.’ 
   
’Dari mana datangnya cahaya itu? Maksudnya, apakah cahaya itu datang dari arah 
langit?’ tanya pak Sulaiman. 
   
’Saya tidak tahu. Saya hanya melihat tiba-tiba seberkas cahaya datang ke arah 
saya,’ jawab pak Marwan. 
   
’Lalu?’ tanya pak Kus dengan mata tak berkedip. 
   
’Saya yakin itu isyarat bahwa saya telah mendapatkan malam lailatul qadar,’ 
jawab pak Marwan pula. 
   
’Mungkinkah itu, pak?’ tanya pak Kus kepada pak Hasbullah. 
   
Pak Hasbullah hanya tersenyum. Beliau tetap asyik meneruskan pekerjaan 
memasukkan uang ke dalam amplop. Mata jamaah yang lain bergantian mengamati pak 
Marwan dan pak Hasbullah. 
   
’Tolonglah jelaskan lagi tentang lailatul qadar itu pak Hasbullah.  Mungkinkah 
yang dialami pak Marwan itu betul-betul merupakan isyarat?’ pinta pak Kus. 
   
’Baiklah,’ kata pak Hasbullah setelah menarik nafas. 
   
’Sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah pak Marwan pernah mendengar cerita 
orang lain yang mendapatkan malam lailatul qadar pula?’ tanya pak Hasbullah. 
   
’Pernah, pak. Kakak ipar saya. Dia juga bermimpi didatangi  cahaya di 
malam-malam terakhir bulan Ramadhan sekitar lima tahun yang lalu. Setelah itu 
dia jatuh sakit. Demam panas selama beberapa hari. Sesudah sembuh, dia merasa 
bahwa dia mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit.  Dia benar-benar 
menjadi dukun sesudah itu. Banyak orang datang berobat kepadanya. Dan banyak 
pula dari orang yang datang berobat itu sembuh dari penyakitnya. 
Saudara-saudaranya, termasuk istri saya, yakin bahwa dia mendapatkan malam 
lailatul qadar.’ 
   
’Sepertinya pak Marwan sangat terpengaruh oleh cerita itu dan sangat 
berkeinginan untuk mendapat pengalaman yang sama,’ kata pak Hasbullah. 
   
’Sejujurnya, benar demikian itu, pak. Saya bertanya kepada kakak ipar saya 
amalam apa yang diperbuatnya waktu itu. Dia mengatakan agar pada sepuluh malam 
terakhir bulan Ramadhan lebih rajin berdiam di mesjid, banyak berzikir dan 
banyak mengaji al Quran. Sayapun mencoba mengikuti sarannya dan berharap agar 
saya mendapatkan malam lailatul qadar. Sampai saya bermimpi tadi pagi itu, 
pak,’ pak Marwan menjelaskan. 
   
’Apakah pak Marwan berharap untuk menjadi dukun pula?’ tanya pak Hasbullah 
tersenyum. 
   
Pak Marwan hanya tersenyum tapi tidak menjawab. 
   
’Begini. Sebenarnya ayat Allah tentang lailatul qadar itu sangat tegas dan 
jelas dan mudah difahami. Cobalah simak! ’Sesungguhnya Kami telah menurunkannya 
(al Quran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam 
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat 
dan Jibril dengan seizin Rabb nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu 
sejahtera sampai terbit fajar.’ 
   
Ayat al Quran pertama kali turun bertepatan dengan malam kemulian atau yang 
sering kita sebut sebagai lailatul qadar karena bahasa aslinya di dalam al 
Quran memang seperti itu. Malam kemuliaan itu dianugerahkan Allah untuk umat 
nabi Muhammad SAW, dan dihadirkan Allah setiap tahun di dalam bulan yang sama 
yakni bulan Ramadhan. Rasulullah SAW mengingatkan kita umatnya untuk  beribadah 
secara bersungguh-sungguh pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan agar 
memperoleh bahagian dalam malam kemuliaan itu. Keistimewaan beribadah pada 
malam itu, seperti yang dijelaskan pada salah satu ayat tadi, adalah lebih 
utama dari ibadah selama seribu bulan. Artinya lagi, bila seseorang 
melaksanakan shalat maghrib dengan sebaik-baiknya pada malam itu, nilainya 
setara dengan seribu bulan shalat
 maghrib. Begitu pula dengan shalat isya. Begitu pula dengan shalat tarawih. 
Begitu pula dengan shalat subuh di penghujung malam. Begitu pula dengan 
amalan-amalan lain yang dilakukannya pada malam hari itu. Tentu saja semua amal 
ibadah itu harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena ingin mendapatkan 
ridha Allah, dilakukan dengan khusyuk. Dilakukan dengan sebaik-baiknya. Amalan 
yang mana saja, termasuk shalat tarawih dan mentadarus al Quran.’  
   
Yang mendengar terdiam semua. Termasuk pak Kus dan pak Marwan. 
   
’Tapi, pak. Bagaimana dengan keterangan Nabi SAW bahwa kita dianjurkan untuk 
mencarinya pada sepuluh malam terakhir? Karena harus mencari, tentu tidak semua 
orang mendapatkannya,’ pak Sulaiman bertanya. 
   
’Benar sekali. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan; 
Dari Ibnu Umar r.a., katanya beberapa orang sahabat Nabi SAW bermimpi melihat 
malam qadar dalam tidur mereka pada tujuh hari yang terakhir bulan Ramadhan. 
Maka bersabda Rasulullah SAW; ’Aku juga bermimpi seperti mimpimu itu, melihat 
malam qadar jatuh bertepatan pada tujuh yang terakhir bulan Ramadhan. Maka 
siapa yang mencarinya, carilah di tujuh yang akhir itu.’ 
   
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyuruh cari pada malam-malam yang ganjil 
pada sepuluh malam terakhir. Nabi SAW dan para sahabat beliau bahkan melakukan 
i’tikaf, yakni berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir dalam ikhtiar 
untuk mendapatkannya. 
   
Timbul pertanyaan kemudian, siapa yang mendapatkannya? Adakah tanda-tanda bagi 
orang yang mendapatkan malam qadar itu? Jawabannya jadi sulit. Karena tidak ada 
tanda-tanda itu. Kakak ipar pak Marwan yang menjadi dukun tidak bisa dibuktikan 
sebagai tanda bahwa beliau mendapatkan malam qadar. Keutamaan dari malam qadar, 
malam kemuliaan itu, bukanlah untuk dilihat hasilnya di dunia ini, karena itu 
merupakan pahala dari Allah yang insya Allah baru akan diterima nanti di 
akhirat. Siapa yang mendapatkannya? Kalau kita simak kembali ayat ketiga surat 
tentang lailatul qadar tadi, semua yang beramal pada malam itu insya Allah akan 
mendapatkan keutamaannya. Tentu bersesuaian pula dengan ibadah yang 
dilakukannya. Yang beramal sedikit akan mendapatkan keutamaan seribu bulan 
untuk amal yang sedikit itu. Yang beramal banyak pada malam hari
 itu akan mendapatkan setara dengan seribu bulan untuk setiap amalannya,’ pak 
Hasbullah menerangkan secara rinci. 
   
’Bagaimana pula dengan tanda-tanda alam yang terjadi pada saat datangnya malam 
qadar itu, pak?’ tanya pak Kus. 
   
’Tanda-tanda alam yang mana? Dalam salah satu hadits yang lain disebutkan bahwa 
pada suatu malam qadar, terjadi hujan pada malam itu. Dijelaskan pula bahwa 
sesudah shalat subuh terlihat tanah basah menempel di kening dan hidung 
Rasulullah SAW. Namun hujan pada malam hari itu bukanlah dikarenakan malam 
qadar. Malam qadar adalah malam istimewa yang ditetapkan Allah untuk 
orang-orang yang beriman pengikut Rasulullah SAW. Sementara hujan yang turun 
adalah rahmat Allah untuk semua makhluk Nya. Malam itu sejahtera sampai 
terbitnya fajar, seperti kita simak pada ayat terakhir surat al Qadar itu. 
Sejahtera karena malaikat turun menebarkan rahmat atas perintah Allah untuk 
hamba-hamba Nya yang beramal shaleh.’ 
   
’Maksud saya, ada keterangan yang mengatakan bahwa pada saat turunnya lailatul 
qadar itu, pohon-pohon sujud ke tanah, air membeku, ombak di laut berhenti 
menghempas, dan banyak lagi tanda-tanda yang lainnya,’ pak Kus menambahkan. 
   
’Wah.... Kalau itu saya tidak tahu. Maksudnya selama semalam itu pohon-pohon 
pada sujud, rebah ke tanah? Belum pernah saya melihatnya. Dan sepertinya agak 
mustahil cerita itu. Atau adakah bapak-bapak yang pernah melihatnya?’ pak 
Hasbullah balik bertanya. 
   
’Katanya lagi, itu hanya terlihat oleh orang yang mendapatkan lailatul qadar 
itu saja.’ 
   
’Begini!. Cerita seperti itu menurut hemat saya banyak kelirunya. Malam qadar 
itu adalah sepanjang malam, bukan sesaat dalam semalam. Tidak ada keterangan 
bahwa yang dihitung hanya sedetik atau beberapa saat di malam itu. Karena 
sepanjang malam, makanya saya bertanya, seandainya cerita bahwa pohon-pohon 
rebah bersujud pada waktu datangnya malam qadar, apakah pohon itu bersujud 
sepanjang malam?  Kalau benar demikian harusnya tentu banyak orang dapat 
menyaksikannya. Waktu kita berangkat ke masjid dari rumah kita, tentulah kita 
dapat menyaksikan pohon-pohon bertiarap. Ternyata tidak demikian. Paling tidak 
saya tidak pernah menyaksikannya.’ 
   
’Jadi menurut bapak keterangan tentang tanda-tanda alam seperti yang saya 
sebutkan tadi itu, pohon bersujud, air membeku, semua itu tidak benar?’ 
   
’Saya tidak pernah mendapat atau mendengar keterangan yang membenarkan cerita 
seperti itu. Memang di tengah masyarakat banyak terdapat cerita-cerita yang 
entah dari mana asal-usulnya. Cerita tentang ibu-ibu yang bangun tengah malam 
mau mempersiapkan makan sahur. Didapatinya air yang akan direbus untuk membuat 
teh ternyata beku. Lalu ibu itu bercerita bahwa dia telah mendapatkan malam 
qadar. Atau bapak-bapak yang pergi berwudhuk di tengah malam. Kopiahnya 
digantungkannya pada sebuah cabang pohon dekat tempat berwudhuk. Sesudah 
selesai berwudhuk, ketika akan mengambil kopiahnya, ternyata pohon itu bangkit 
dari sujud dan kopiah yang diletakkan di cabang pohon itu tiba-tiba sudah 
terletak di tempat yang tinggi. Atau cerita orang yang berjumpa dengan nabi 
Khaidir di tengah malam qadar itu. Entah bagaimana dia tahu bahwa orang
 itu nabi Khaidir. Jadi banyak sekali ragamnya. Dan biasanya lagi, orang-orang 
yang kononnya mendapat malam qadar ini berubah menjadi oarng yang memiliki 
kemampuan supra natural. Misalnya jadi mampu mengobati orang sakit atau menjadi 
dukun dan sebagainya. Tidak ada keterangan yang saya ketahui tentang ciri-ciri 
malam qadar seperti cerita-cerita menakjubkan itu.’ 
   
’Lalu? Bagaimana dengan mimpi, pak. Seperti mimpi pak Marwan didatangi seberkas 
cahaya itu?’ 
   
’Wallahu a’lam. Pada hadits yang kita sebutkan tadi, para shabat Rasulullah SAW 
dan bahkan beliau sendiri bermimpi tentang keberadaan malam qadar pada tujuh 
malam terakhir. Bukan memberi isyarat bahwa yang bermimpi itu secara khusus 
mendapatkan malam qadar untuk mereka saja.’ 
   
’Kalau begitu, mungkinkah arti mimpi pak Marwan itu bahwa tadi malam adalah 
malam qadar, pak?’ tanya pak Hamid. 
   
’Wallahu a’lam. Allah saja Yang Maha Tahu. Meskipun seandainya malam qadar itu 
tadi malam, cocok saja dengan keterangan lain bahwa keberadaannya di 
malam-malam ganjil. Tadi malam adalah malam ke dua puluh sembilan.’ 
   
’Dan ibadah setiap kita tadi malam nilainya lebih baik dari seribu bulan. 
Begitu pak?’ tanya pak Marwan. 
   
’Insya Allah demikian,’ jawab pak Hasbullah.  
   
Kami sudah selesai mempersiapkan amplop zakat yang nanti akan dibagikan sesudah 
shalat ashar.  
   
Jatibening, awal Syawal 1430H. 
   
   
                                                               ***** 
   
  Wassalamu'alaikum 
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir: Zulqaidah 1370H, 
Bekasi







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke